
Hati ku masih berperang antara mempertahankan atau melepaskan. Aku tidak tahu pilihan mana yang tepat untuk ku ambil.
Hari ini untuk menghibur hatiku yang sedang dilema, aku memilih untuk menenangkan diri. Aku jalan-jalan di taman yang ada dipusat kota, sendirian.
Fariz dan Farissa bersama Nur dirumah. Sedangkan aku memilih untuk duduk sendirian di taman itu.
Aku menatap kosong kearah jalan. Memperhatikan setiap kendaraan yang berlalu-lalang. Tak terasa airmata ku pun kembali menetes.
Tiba-tiba sebuah mobil menghampiri tempat duduk ku. Aku kenal dengan mobil itu dan juga pengemudinya. Siapa lagi kalau bukan Tuan Alessandro, ia keluar dari mobil sambil tersenyum hangat dan segera menghampiriku.
"Boleh aku duduk bersama mu?" tanyanya,
"Tentu saja!" ucap ku sambil menyeka sisa airmata yang masih menggenang di pelupuk mataku.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Alessandro lagi,
Aku menatap wajahnya, ternyata lelaki ini tahu kalau aku baru saja habis menangis. Dia melempar senyum padaku namun aku tidak bisa membalas senyuman nya.
"Aku tidak menangis, tadi mataku kemasukan sesuatu." sahut ku
Alessandro tersenyum kecut, "Sudahlah, Ge! Tidak usah bohong!" sahut Alessandro.
Aku menghela nafas panjang kemudian mencoba mengontrol emosi ku.
"Aku sudah bertemu Arini." ucap ku,
"Benarkah? Lalu..." tanya Alessandro,
Aku terdiam, mencoba menahan airmata ku agar tidak kembali jatuh.
"Aku ingin melepaskan EL dan membiarkannya kembali bersama keluarga kecilnya." ucap ku lirih,
Kudengar Alessandro menghela nafas panjang. Ia meraih tanganku dan akupun menoleh ke arahnya.
"Ge, coba pikirkan lagi dan ajak EL bicara baik-baik, siapa tahu kalian bisa menyelesaikan permasalahan kalian tanpa harus berpisah." ucap Alessandro,
Aku tersenyum padanya, tumben sekali lelaki ini berkata bijak. Biasanya mulutnya itu selalu saja egois. Kemudian aku mencoba mengalihkan topik pembicaraan,
"Oh ya, Alessandro. Bagaimana kelanjutan cerita mu dengan Sarra?" tanyaku,
"Aku sudah resmi bercerai dengannya. Itu sebabnya mengapa dalam beberapa hari terakhir, aku tidak bisa menjenguk Fariz dan Farissa. Karena aku sibuk mengurus perceraian kami." jawab Alessandro,
Ah ya. Aku sampai lupa jika dalam beberapa hari terakhir Alessandro tidak berkunjung kerumah EL. Padahal biasanya dia selalu mengunjungi Fariz dan Farissa.
__ADS_1
"Ehmm... berarti sekarang kamu jadi duren, donk! Duda Keren!" goda ku,
Alessandro terkekeh pelan ketika mendengar perkataan ku, tanpa ku sadari tanganku masih berada dalam genggaman nya. Aku tersentak kaget ketika menyadarinya kemudian ku tarik kembali tangan ku.
"Maaf!"
Sepertinya Alessandro pun tidak menyadari hal itu. Iapun nampak salah tingkah disaat aku menarik tangan ku kembali.
"Apa kamu sudah punya calon, Aley?!" tanyaku sambil melemparkan senyum kepadanya.
Aku sengaja menggodanya untuk mencairkan suasana. Karena baik aku maupun Alessandro benar-benar merasa canggung saat ini.
"Aku sudah tidak memikirkannya dan aku rasa aku tidak akan menikah lagi." sahutnya dengan wajah serius sambil menatapku.
Aku segera memalingkan wajahku ketika Alessandro menatap ku lekat. Kemudian membuang pandanganku kearah lain.
"Aku akan menikah... tapi denganmu!" ucapnya dengan senyuman khas nya.
Aku kembali menatapnya sambil tersenyum kecut. Alessandro ada-ada saja, disaat aku dilema seperti ini. Dia malah berkata yang bukan-bukan.
"Ehmm, Ge! Aku mendapatkan tawaran kontrak kerja selama dua tahun di Amerika. Sebenarnya aku masih ragu menerima kontrak itu. Karena aku takut meninggalkan Fariz dan Farissa terlalu lama. Aku takut mereka akan menolak ku jika aku kembali nanti." ucap Alessandro
"Tidak mungkin. Mereka tidak akan pernah melupakan mu karena kamu adalah Ayahnya. Dan lagipula, kamu masih bisa menghubungi mereka via VC." sahut ku
Tepat disaat itu, mobil EL lewat didepan ku. Mungkin ia melihat keberadaan ku bersama Alessandro di taman itu, hingga akhirnya mobilnya pun berhenti dan tampaklah sosok EL yeng melangkah menghampiri kami.
"Ge, sedang apa kamu disini?!"
EL menatapku dan kemudian beralih kepada Alessandro. Ia sepertinya mencurigai kebersamaan ku dan Alessandro.
"Aku hanya bersantai disini dan tidak sengaja aku bertemu sama Alessandro, benarkan Alessandro?!" ucap ku sambil melirik Alessandro yang masih duduk disamping ku.
Alessandro pun mengangguk. EL sepertinya masih tidak mempercayai kata-kata ku. Ia meraih tanganku dan mengajakku pulang.
"Sebaiknya kita pulang!" titah EL,
Akupun melangkahkan kakiku mengikuti langkah EL dan meninggalkan Alessandro sendirian di kursi taman. EL membukakan pintu mobil dan membiarkan aku masuk.
EL segera melajukan mobilnya dengan wajah menekuk dan tak menoleh sedikitpun padaku.
"EL, Alessandro bilang dia mendapatkan kontrak kerja di Amerika selama dua tahun..."
Belum selesai aku berkata-kata, EL sudah memotong pembicaraan ku sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
"Terus, apa masalah mu?! Apa kamu merasa sedih karena tak bisa lagi bertemu dengannya?!" ucap EL dengan nada ketus,
Aku mengerutkan kening ku. Aku tidak percaya EL bicara seperti itu padaku. Apakah ia sedang cemburu karena melihat kebersamaan ku dengan adiknya?
"EL! Kenapa kamu bicara seperti itu padaku?! Alessandro itu adik mu! Itu artinya ia adalah adik iparku!" sahut ku,
Akupun tidak mau kalah, aku menaikan nada bicara ku kepadanya.
"Heh! Adik ipar atau..."
"Atau apa, EL?! Apa kamu kira aku dan Alessandro berselingkuh?"
EL menghembuskan nafas berat namun ia masih fokus dengan mobilnya tanpa melirik ku sedikitpun.
Aku menatap EL. Semarah apapun aku kepadanya, EL tetap lelaki ku. Orang yang selama ini selalu ada buat ku bahkan ia rela menggantikan sosok Alessandro untuk Fariz dan Farissa.
"EL, bagaimana keadaan Arini?!"
Ku pegang tangan EL yang sedang memegang stir mobil. Seketika EL menoleh kepadaku kemudian tersenyum,
"Masih sama seperti kemarin. Aku ingin sekali melihat dia pulih, aku tidak tega harus melihatnya seperti itu, Ge." ucap EL
"Arini pasti pulih! Yakinlah... Lagipula dia anak yang hebat, EL"
Ku usap lembut tangannya kemudian kuberikan senyuman manisku. Sebenarnya aku ingin sekali mengungkapkan keinginan ku kepada EL.
Namun ku rasa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengatakannya. Mungkin lain kali saat EL sudah mulai tenang.
"Ge, tadi Arini merengek. Ia ingin sekali aku dan Bella menemaninya jalan-jalan ke taman bermain besok lusa. Arini bilang, ia ingin seperti teman-temannya, bisa jalan-jalan bersama kedua orangtuanya." ucap EL,
Ku lihat EL serba salah saat menyampaikan hal itu padaku.
"Temani Arini, EL." sahut ku,
"Benarkah? Kamu mengijinkan aku untuk menemaninya?!"
EL begitu antusias ketika mendengar aku mengijinkan nya menemani Arini.
"Tentu saja, EL! Kamu adalah Ayahnya, dia berhak atas dirimu."
EL mengelus lembut pipiku kemudian dia tersenyum padaku, "Terimakasih, Ge!"
***
__ADS_1