Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Tidur Bersama


__ADS_3

Setelah kedatangan August hari itu, keadaan Julian semakin memburuk dan akhirnya ia jatuh sakit. Kini ia tergolek lemah diatas tempat tidurnya.


Aku sudah sering mengajak Julian untuk memeriksakan keadaannya ke Rumah Sakit namun Julian terus menolak. Julian hanya ingin dirawat dirumah dan diperiksa oleh Dokter pribadinya.


Sudah tiga hari aku menemaninya dikamar ini. Seperti sekarang, aku tengah membersihkan dirinya, seperti dua hari sebelumnya. Aku mengelap seluruh tubuhnya dengan air hangat.


Saat pertama kali melakukannya, Julian menolak ku dengan alasan malu. Tapi aku tetap bersikeras melakukannya karena dia suamiku dan akhirnya dia mengalah dan membiarkan aku melakukannya.


Beruntung, setelah beberapa kali Dokter memeriksakan keadaannya, kondisi Julian kini sudah agak mendingan. Walaupun ia masih belum bisa melakukan aktivitasnya.


"Terimakasih, Farissa. Aku tidak tahu bagaimana caranya membalas kebaikan mu padaku." ucap Julian sambil memperhatikan aku yang sedang membersihkan tubuhnya.


Aku tersenyum simpul. "Aku ini istri mu, Julian. Ini sudah kewajiban ku." sahut ku.


Julian terdiam, namun matanya tetap tertuju kepadaku. Wajahnya masih murung seperti biasanya. Sudah berbagai cara aku mencoba menghiburnya namun masih tetap sama.


Akhirnya aku selesai membersihkan tubuhnya dan sekarang tinggal memasangkan piyama tidur untuknya. Aku membantu Julian duduk dan bersandar di sandaran tempat tidurnya. Setelah itu aku memasangkan baju serta celananya.


"Julian, aku ingin kembali ke kamar ku. Nanti jika kamu perlu sesuatu, panggil saja aku. Oke?!" ucap ku seraya menyelimuti nya hingga batas pinggang, karena saat itu Julian posisi Julian masih duduk bersandar.


"Terimakasih banyak, Farissa." sahut Julian seraya tersenyum padaku.


Akupun membalas senyuman nya kemudian segera beranjak dari kamar itu. Sebelum menutup pintu kamarnya, aku sempat melambaikan tanganku kepadanya dan Julian pun membalasnya.


Setibanya dikamar, aku segera merebahkan tubuhku diatas tempat tidur. Aku benar-benar kelelahan namun aku tidak ingin memperlihatkannya kepada Julian. Aku harus tetap semangat walaupun kadang hatiku ragu akan keberhasilan ku memulihkan kondisi Julian.


Mataku terasa sangat berat hingga akhirnya aku memejamkan mataku. Namun baru saja aku terlelap, ponsel ku tiba-tiba bergetar. Aku terkejut dan segera meraih ponsel yang ku letakkan diatas meja, disamping tempat tidur ku.


Ku tatap layar ponsel ku dan ternyata, Julian lah yang sedang menghubungi ku. Dengan segera ku terima panggilan darinya kemudian ku letakkan ponsel ku ke telinga.


"Ya, Julian?"


"Ehm, Farissa... Bisakah kamu menemui ku sekarang?" tanya Julian, sepertinya dia ragu-ragu saat mengatakan hal itu kepadaku.

__ADS_1


"Oke, aku aku akan segera keatas!" sahut ku,


Akupun segera bangkit seraya mematikan panggilan itu. Walaupun sebenarnya mataku terasa sangat berat akibat ngantuk yang sudah tidak bisa ku tahan, aku tetap melangkahkan kakiku menuju kamar milik Julian yang terletak di lantai atas.


Perlahan aku menaiki anak tangga dengan berpegangan disisi tangga. Aku takut terjatuh karena mata ini masih sangat ngantuk. Dan dengan penuh perjuangan, akhirnya aku tiba didepan pintu kamarnya.


Julian tersenyum ketika aku memasuki kamarnya. Ternyata dia masih pada posisinya, bersandaran ditempat tidur sambil mengotak-atik laptop nya.


"Ehm... Farissa, maaf mengganggu mu. Aku cuma ingin minta pendapat mu. Coba sini deh, duduk disini." ucap Julian seraya menepuk ruang kosong disampingnya.


Aku cuma bisa tersenyum dan mengikuti keinginannya. Kini aku duduk disampingnya sambil ikut bersandar di sandaran tempat tidurnya.


"Coba kau lihat, Farissa. Lebih bagusan yang mana, yang A atau yang B?" tanya Julian sambil memperlihatkan desain baju kebaya pengantin yang baru saja selesai ia buat di laptop miliknya.


Aku yang sudah sangat mengantuk ini menjawab pertanyaannya dengan sembarang.


"Yang A..." ucap ku setelah itu aku tidak tahu lagi apa yang terjadi padaku.


POV AUTHOR


Tiba-tiba kepala Farissa jatuh di pundaknya. Julian sempat terkejut dan langsung menoleh kearah gadis yang duduk disampingnya.


"Farissa?!"


Julian menggerakkan bahunya perlahan, namun Farissa tetap tidak bergerak. Ternyata gadis itu tertidur. Julian menyingkirkan laptop nya dan meletakkan kembali laptop itu keatas meja, disamping tempat tidurnya.


Perlahan, Julian menurunkan tubuh Farissa dan membenarkan posisi gadis itu. Kini Farissa tidur seperti bayi diatas tempat tidurnya, tepatnya disamping tubuhnya.


"Kasihan... kamu pasti kelelahan merawat ku. Maaf kan aku ya, Farissa!" gumam Julian seraya ikut berbaring disampingnya.


Julian masih memperhatikan wajah Farissa yang terlihat jauh lebih cantik ketika ia tertidur. Tidak sampai disitu, Julian memberanikan diri untuk menyentuh wajahnya.


Kini jari-jari mulus Julian menjelajahi wajah itu. Mulai dari keningnya, pelupuk matanya, hidung mancung nya, kemudian bibir merah muda yang terlihat sangat menantang.

__ADS_1


Seketika hasrat Julian sebagai seorang lelaki bangkit. Ia ingin mencicipi bibir merah muda nan seksi milik Farissa.


Ia terus menyusuri bibir itu dengan jari-jarinya. Hingga akhirnya ia tidak bisa lagi menahan keinginannya untuk mencoba bibir itu.


Julian mendekatkan bibirnya dengan bibir Farissa kemudian menautkan keduanya. Kini Julian teringat lagi akan rasa itu. Rasa yang sudah lama ia lupakan. Semenjak ia merasa kecewa terhadap kekasihnya.


Setelah puas menikmati bibir itu, perlahan Julian melepaskannya. Ia tersenyum sambil mengelus bibirnya sendiri. Farissa yang sangat kelelahan bahkan tidak menyadari perbuatan Julian kepadanya.


Farissa menggeliat kemudian memeluk tubuh Julian selayaknya guling kesayangannya. Bahkan gadis itu mengusap-usapkan wajahnya ke dada Julian. Hasrat Julian semakin membara ketika Farissa berbuat seperti itu padanya.


"Astaga?! Apa ini... Ternyata aku salah, hasrat ku kepada wanita ternyata tidak pernah sirna selama ini! Semua itu hanya tertutup oleh rasa kekecewaan ku saja! Buktinya aku masih merasakan hal ini, sama seperti ketika aku bersama Melinda..." batin Julian


Semalaman Julian terjaga. Ia tak ingin melakukan sesuatu yang akan membuat Farissa kecewa kepadanya. Julian menahan dirinya agar tidak berbuat tidak senonoh kepada gadis itu.


Dan Julian pun sedikit tenang sekarang. Buktinya, ia masih memiliki hasrat seorang laki-laki terhadap seorang wanita. Padahal ia mengira dirinya sudah seratus persen berubah, ia yakin tidak mempunyai rasa lagi terhadap lawan jenisnya. Namun ternyata ia salah dan iapun merasa lega.


Jarum jam terus berjalan hingga akhirnya pagi pun menjelang. Julian masih tetap terjaga, ia masih menatap gadis yang tengah tertidur dengan sangat nyenyak disampingnya.


Raut wajah tenang Farissa membuat Julian betah berlama-lama menatap wajah itu. Dan akhirnya mata indah itupun perlahan terbuka. Mata indah milik Farissa kini saling bertatap dengan mata Julian yang tengah berbaring disampingnya.


"Aaakh!" Farissa terkejut bukan main. Ia bahkan melompat dari tempat tidur milik Julian.


Julian pun tidak kalah terkejutnya. Iapun segera bangkit dan duduk di tepi tempat tidurnya sambil menatap wajah Farissa yang nampak pucat.


Farissa berdiri tepat dihadapan Julian dan gadis itu mencoba menutupi tubuhnya dengan kedua tangan. Padahal saat itu Farissa masih mengenakan pakaian lengkap.


"Ka-kamu melakukannya, ya?!" tanya Farissa


Julian terkekeh pelan ketika mendengar ucapan gadis polos itu.


"Pakaian mu masih lengkap, Farissa." sahut Julian.


Farissa memperhatikan dirinya dan apa yang dikatakan oleh Julian ternyata benar. Ia malu sendiri setelah menyadarinya. Wajahnya memerah menahan malu sambil memperhatikan Julian yang masih tersenyum memperhatikan dirinya yang nampak bodoh.

__ADS_1


...***...


__ADS_2