Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Julian


__ADS_3

Beberapa hari setelah kepergian Tuan Joseph, keadaan Julian semakin menyedihkan. Ia hanya mengurung diri dikamar sambil termenung.


Aku tidak tega melihatnya. Setiap hari aku menemaninya, membawakan makanan dan minuman untuknya. Kini aku serasa merawat seorang bocah bertubuh besar.


"Julian, jangan seperti ini terus. Aku yakin Daddy tidak akan tenang jika melihat keadaan mu seperti ini..."


Julian menoleh kearah ku dengan wajah murung nya namun hanya sebentar, kemudian ia kembali lagi menatap keluar jendela kamarnya dengan tatapan kosong.


"Aku sudah tidak punya semangat hidup, Farissa... Selama ini aku bertahan hidup hanya untuk Daddy. Tapi sekarang aku hidup untuk siapa?"


Hatiku serasa dicubit disaat Julian mengatakan hal itu. "Sekarang hidup lah untukku, Julian. Aku masih membutuhkan mu. Kamu adalah suamiku dan aku adalah istri mu, apa kamu tega membiarkan aku menjadi janda diusia pernikahan yang begitu singkat?!" ucap ku seraya mengelus pundaknya dengan lembut,


Julian kembali menoleh kepadaku tapi kali ini dengan sebuah senyuman tipis.


"Apa kamu bersedia menerima diriku yang menjijikkan ini, Farissa?" tanya Julian sambil menatapku,


Sejenak aku terdiam sambil menatap wajahnya. Kemudian aku melemparkan sebuah senyuman hangat untuknya seraya mengelus wajahnya yang mulus itu.


"Jangan berkata seperti itu, Julian. Aku akan menerima dirimu tapi berusaha lah untuk berubah. Seperti janjimu pada Daddy."


Julian tertunduk lesu, kemudian kembali terisak.


"Kau tahu, Farissa! Kehidupan ku yang aneh ini terjadi karena rasa kekecewaan ku yang sangat dalam terhadap seorang wanita. Sejak saat itu aku memutuskan untuk menjadi seperti ini." ucap Julian seraya menyeka air matanya.


Aku mengerutkan kening ku, aku tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Julian. "Maksud mu?"


"Ya! Dulu aku adalah lelaki normal. Aku punya seorang kekasih, dia berjanji akan setia menunggu ku ketika aku masih meniti karir di luar negeri. Namun setelah aku kembali, aku hacur ketika mengetahui wanita itu sudah menikah. Dan yang lebih parahnya lagi, dia menikahi adikku sendiri, August."


Aku terkejut bahkan mataku membulat sempurna ketika mendengar penuturan Julian.

__ADS_1


"Jadi, istri August dulunya adalah kekasihmu?!"


Julian mengangguk pelan sambil melempar pandangannya keluar jendela. "Ya, sejak saat itu aku tidak percaya lagi dengan yang namanya wanita. Yang terlihat lugu dan polos seperti dirinya saja ternyata mampu membuat aku kecewa, apalagi yang lain."


"Heh, tidak semua wanita seperti itu!" protes ku kesal dan memukul pundaknya pelan, karena dia menganggap semua wanita itu sama saja.


Julian terkekeh pelan, walaupun wajahnya masih terlihat murung.


"Mengapa August begitu tega kepada mu, apa dia tidak tahu kalau wanita itu adalah kekasih mu?"


Julian menggelengkan kepalanya, "August tidak tahu dan akupun tidak ingin merusak hubungannya. Biarlah mereka bahagia, mungkin sudah takdir ku harus menjadi seperti ini."


"Lalu, apa kamu bahagia dengan kehidupan mu yang seperti ini?!" ucap ku serius sambil memperhatikan ekspresinya,


Julian menggelengkan kepalanya dan tatapan nya masih kosong.


"Kalau begitu berubah lah untukku, Julian. Aku berjanji tidak akan mengecewakan dirimu. Aku akan menjadi istri yang baik untukmu dan selalu menemani mu. Asalkan kamu mau berubah..." pinta ku,


Aku meraih tangannya kemudian menggenggam nya dengan erat. Julian menoleh kepadaku dan memperhatikan tanganku yang masih menggenggam erat tangannya.


"Bantu aku, Farissa!" ucap nya lirih,


Aku kembali melemparkan senyuman hangat ku kepadanya, "Tentu saja! Kita berjuang bersama, Julian."


Julian membalas senyuman ku, kemudian menarik tangannya yang masih aku genggam. Aku sempat terdiam ketika dia menarik kembali tangannya. Mungkin saat ini Julian masih tidak bisa menerima kehadiran ku, tapi aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku akan berjuang seperti permintaan terakhir Tuan Joseph.


Setelah puas berbincang-bincang dengan Julian di kamarnya, akupun pamit untuk kembali ke toko. Sudah beberapa hari semenjak kepergian Tuan Joseph, aku tidak pernah menjenguk toko kue ku.


"Kamu tidak apa kan, aku tinggal sendiri?" tanya ku kepada Julian yang masih enggan keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Julian mengangguk seraya tersenyum kepadaku, "Tidak apa-apa. Pergilah..." sahut Julian.


Aku menghampiri Julian kemudian memberanikan diriku memberikan sebuah ciuman hangat di pipinya sebelah kanan. Julian tertegun bahkan hingga aku meninggalkannya.


Sebelum aku menutup pintunya, aku melihat Julian menyentuh pipinya yang sudah aku cium. Aku tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan saat itu. Tapi semoga saja, dia sadar bahwa masih ada aku yang mengharapkan dirinya.


Aku melajukan mobil ku menuju toko kue ku. Sama seperti dulu, aku masih suka mengendarai mobil ku sambil mendengarkan musik kesukaan ku. Untuk sejenak, aku bisa melupakan masalah yang tengah terjadi pada diriku.


Setibanya di halaman Toko, aku sudah disambut oleh karyawan ku. Mereka tersenyum hangat ketika melihat aku memasuki ruangan ini. Sudah beberapa hari aku tidak menangani toko ini dan untungnya aku punya seorang karyawan sekaligus sahabat yang bisa ku andalkan untuk mengurus toko kue ku untuk sementara.


Setelah berada disana, aku segera membantu para karyawan ku. Disaat aku tengah melayani beberapa orang pengunjung tiba-tiba mataku tertuju kepada salah satu pengunjung di Kafe milik Om Fikri yang berada tepat di seberang toko kue ini.


Aku menghentikan pekerjaan ku kemudian melangkah menuju depan Toko. Aku ingin memperhatikan orang itu lebih dekat. Dan ternyata benar, orang itu adalah Leo. Ia tengah berkencan dengan seorang wanita cantik sambil menikmati makanan dan minuman yang tersedia diatas meja mereka.


Jujur, aku penasaran. Sebenarnya laki-laki seperti apa Leo itu, bukankah dia dan Julian memiliki hubungan. Lalu apa hubungannya dengan Wanita cantik itu? Ku rasa hubungan mereka lebih dari sekedar teman ataupun saudara. Beberapa kali aku melihat Leo melabuhkan kecupan di punggung tangan Wanita itu sambil tersenyum hangat.


Aku melangkah dan menghampiri kafe tersebut. Kemudian tanpa sepengetahuan nya, aku duduk berdekatan dengan tempat duduk Leo. Apapun yang ia bicarakan bersama Wanita itu, aku bisa mendengar nya dengan sangat jelas dari tempat duduk ku.


"Leo... Jadi kapan kamu melamar aku?! Tidak mungkin kan, selamanya kamu harus menemani si Julian itu?!" rengek si Wanita.


"Tenang saja, Sayang! Aku akan segera menikahi mu tapi setelah urusan ku dengan Julian selesai." sahut Leo,


"Tapi kapan?! Jangan lama-lama, ya..." ucap Wanita itu lagi,


"Aku juga tidak ingin berlama-lama bersama mahluk jadi-jadian itu. Aku hanya ingin melorotin hartanya, lagipula kita juga yang akan menikmatinya?!" sahut Leo,


Astaga! Aku sangat kesal mendengarnya. Aku tidak menyangka Leo hanya memanfaatkan kelemahan Julian.


...***...

__ADS_1


__ADS_2