Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Julian Menjemput


__ADS_3

POV AUTHOR


"Ma, sebaiknya aku pulang." ucap Farissa seraya melepaskan pelukan sang Bunda.


Ge mengangguk pelan namun ia masih mencemaskan keadaan putrinya. Bahkan dari raut wajahnya begitu sekarang, begitu jelas terlihat kecemasan itu.


"Farissa, biar Mama suruh Sopir untuk mengantarkan kamu, ya?!" bujuk Sang Bunda.


"Tidak usah, Mah. Aku bisa pulang sendiri. Lagipula aku sudah pesan taksi online, kok!" sahut Farissa.


Farissa melangkahkan kakinya menjauhi sang Bunda yang masih memperhatikannya dengan mata berkaca-kaca. Sedangkan Daddy nya sudah masuk kedalam rumah. Namun tanpa disadari siapapun, Alessandro mengintip dari balik jendela.


Walau sebesar apapun rasa kecewanya terhadap Farissa, tidak bisa ia pungkiri, ia begitu menyayanginya. Hati kecilnya sakit ketika melihat keadaan putrinya yang harus hidup bersama lelaki yang tidak jelas seperti Julian.


Alessandro terus memperhatikan Farissa yang sedang berjalan menjauhi kediamannya. Sedangkan Ge hanya bisa menangis menatap kepergian anak perempuannya itu.


Farissa terus melangkah sambil sesekali menoleh kebelakang kemudian tersenyum serta melambaikan tangan kepada Mamanya.


Tepat disaat itu, mobil milik Julian berhenti tepat disamping Farissa. Julian bergegas keluar dari mobilnya kemudian menghampiri Farissa.


"Farissa! Farissa! Aku begitu mengkhawatirkan dirimu!" ucap Julian dengan wajah panik sambil memeluk tubuh Farissa dengan erat.


"Maafkan aku, Julian..." sahut Farissa.


"Jangan seperti ini lagi ya, Farissa. Aku tidak ingin kamu kenapa-napa!" sahut Julian. Julian melepaskan pelukannya dan kini ia memegang kedua pipi istrinya sambil menatap tajam kepadanya.


"Maafkan aku, Julian. Aku memang sengaja tidak memberitahu mu jika aku ingin menjenguk kedua orangtua ku. Aku tidak ingin merepotkan mu. Aku tahu kamu sedang banyak masalah dan aku tidak ingin menambah masalah mu lagi." sahut Farissa.


"Jangan pernah berkata seperti itu, Farissa sayang! Kamu tidak pernah merepotkan aku. Kamu tidak pernah membuat masalah dalam hidupku. Malah sebaliknya, aku yang membuat hidup mu selalu dalam masalah." ucap Julian.

__ADS_1


Alessandro terus memperhatikan pasangan itu dari kejauhan. Walaupun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Alessandro merasa iba kepada pasangan itu namun ia masih tidak bisa mempercayai ucapan Julian. Ia masih tidak percaya kalau Julian benar-benar sudah berubah.


Julian mengajak Farissa menghampiri Ge yang masih setia berdiri didepan rumahnya, memperhatikan anaknya dari kejauhan.


"Nyonya Ge, maafkan aku. Maafkan semua kesalahan ku selama ini. Tapi aku berjanji padamu, Nyonya. Aku akan membahagiakan Farissa bahkan hingga nafas terakhirku." ucap Julian.


Ge menyeka airmata nya. "Aku percaya padamu, Julian. Aku yakin Farissa akan bahagia bersama mu." sahut Ge sambil menepuk pundak Julian.


"Terimakasih, Nyonya." ucap Julian lagi.


Ge tersenyum walaupun matanya masih berkaca-kaca, "Jangan panggil aku Nyonya, Julian. Panggil saja aku Mama sama seperti Farissa memanggil ku." sahut Ge.


"Baiklah, Ma." ucap Julian penuh semangat. Walaupun ia belum meraih restu dari Daddy Alessandro, paling tidak ia sudah berhasil merebut hati Mama Ge.


Julian pun segera pamit bersama Farissa kepada Ge. Julian menuntun Farissa hingga memasuki mobilnya. Dan ketika Farissa sudah duduk manis didalam, Julian pun segera melajukan mobilnya menuju rumah sederhana mereka.


"Bagaimana keadaan Butik mu, Julian?" tanya Farissa sambil memperhatikan wajah Julian yang terlihat sangat fokus mengemudikan mobilnya.


Tapi Farissa tahu, Julian tengah berbohong. Farissa yakin pasti ada sesuatu yang sedang disembunyikan Julian darinya.


"Jujurlah, Julian. Aku tahu kamu pasti tengah membohongi ku. Mata mu mengatakan kalau kamu sedang tidak baik-baik saja," ucap Farissa lagi.


Julian menghela nafas berat, "Ya, Farissa kamu benar. Butik ku sedang dalam masalah. Pelanggan ku terus merosot turun setelah berita tentang ku semakin viral. Kalau terus seperti ini, aku yakin Butik ku akan mengalami kebangkrutan." sahut Julian dengan wajah sendu.


Farissa mengelus lembut lengan Julian yang masih memegang setir mobilnya. "Akan ada pelangi setelah badai, Julian. Dan akupun yakin, setelah berbagai macam cobaan yang menghampiri kita, akan ada kebahagiaan yang tengah menanti kita didepan." ucap Farissa,


Julian menoleh kepada Farissa kemudian tersenyum. "Kamu manis sekali, Farissa." ucap Julian.


Setibanya dirumah, Julian kembali menuntun Farissa keluar dari mobil dan memasuki rumah sederhana mereka. Farissa memperhatikan garasi mobil di halaman depan rumah dan dia merasa ada sesuatu yang kurang disana.

__ADS_1


"Julian, dimana mobil sport mu?" tanya Farissa, ketika menyaksikan mobil sport kesayangan Julian tak lagi terlihat di garasi mobilnya.


Julian tersenyum kecut sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Setelah itu ia menghembuskan nafas beratnya sekali lagi, "Mobil itu sudah ku jual, Farissa. Uangnya ku gunakan untuk menutupi kerugian yang terjadi di Butik ku. Maafkan aku..." sahut Julian


"Owh, Julian!"


Farissa menghambur kepada suaminya dan memeluknya dengan erat.


"Tidak apa-apa, Julian. Seperti yang aku ucapkan padamu sebelumnya. Aku akan tetap bersama mu walau apapun yang terjadi. Kita bisa memulainya lagi dari nol. Kita bisa berjuang bersama-sama. Kamu dan aku..." sahut Farissa dengan mata berkaca-kaca.


"Terimakasih, Farissa! Dukungan mu lah yang sangat aku butuhkan saat ini!" ucap Julian lagi.


***


Setelah hari itu, Farissa tidak berani lagi mengunjungi keluarganya. Walaupun ia sangat merindukan sosok Sang Bunda dan juga Daddy-nya, Farissa hanya bisa menahan rasa kerinduan nya kepada kedua orangtuanya tersebut.


Kini Farissa hanya fokus pada kehidupan suami kemayu nya yang ditimpa banyak masalah. Julian sangat membutuhkan dukungan dari Farissa untuk melewati masa-masa yang paling menyakitkan di kehidupannya.


"Farissa, semalam Assisten ku bilang kepadaku, sebaiknya aku mengadakan konferensi pers dan mengumpulkan beberapa wartawan untuk menyelesaikan masalah ini Aku ingin mengakui kesalahan masa lalu ku dan kemudian meminta maaf kepada semuanya. Dan setelah itu aku pasrah, apapun yang akan terjadi kepadaku ataupun karier ku selanjutnya, aku akan terima semuanya dengan ikhlas." ucap Julian sambil menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa.


Farissa yang sejak tadi duduk bersama Julian sambil mengelus perutnya yang sudah mulai membesar, sontak menoleh kepada suaminya. Farissa menatap iba kepada Julian yang masih menerawang menatap langit-langit ruangan itu.


"Aku setuju, Julian. Dan kita berdoa saja, semoga kehidupan kita dan calon bayi kita akan lebih baik setelah ini." sahut Farissa sambil mengelus pipi Julian yang masih bersandar di sandaran sofa nya.


Julian menoleh kepada Farissa kemudian tersenyum seraya meraih tangan Farissa yang masih mengelus pipinya. Julian melabuhkan sebuah kecupan hangat ke punggung tangan Farissa kemudian menggenggam nya.


"Terimakasih Farissa, karena sudah bersedia menemaniku disaat aku sedang berada di titik Nol seperti sekarang ini." ucap Julian dengan mata berkaca-kaca.


Farissa tersenyum, "Bukankah itu janji ku kepadamu, Julian. Aku akan selalu bersamamu, walaupun kamu berada di titik terendah dalam hidup mu."

__ADS_1


......***......


__ADS_2