
Disaat aku dan Mama masih berbincang-bincang, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari luar. Yang sangat jelas terdengar adalah suara Daddy yang tengah berteriak-teriak kesal.
"Apa itu?" gumam Mama seraya bangkit dari posisi duduknya.
Begitupula aku, aku segera mengikuti langkah kaki Mama yang berjalan menuju asal suara, dimana keributan tengah terjadi. Mama mempercepat langkahnya ketika mendengar suara teriakan Daddy yang semakin jelas terdengar.
Dan benar saja, Daddy sedang marah besar sambil memaki-maki seseorang. Entah siapa yang sedang Daddy maki-maki karena aku tidak bisa melihat lawan bicaranya.
"Alessandro, sudahlah!" ucap Mama mencoba menenangkan Daddy yang semakin terlihat emosi.
"Tidak, Ge! Manusia seperti ini harus diberi pelajaran!" sahut Daddy dengan wajah memerah.
"Sudahlah..." ucap Mama lagi sambil memelas dan mencoba menahan tubuh besar milik Daddy dengan tubuhnya yang kecil mungil itu.
Aku mencoba melihat siapa yang sudah berani berurusan dengan Daddy ku. Mataku membulat sempurna ketika menyaksikan siapa yang tengah bertekuk lutut dihadapan Daddy dengan wajah tertunduk.
"Juliannnn...!!!" teriak ku dan mencoba menghampirinya, namun Daddy menahan tubuhku dan melarang ku untuk menghampiri suami kemayu ku.
"Daddy, ku mohon lepaskan aku!" ucap ku sambil menangis lirih.
"Tidak! Daddy tidak akan membiarkan kamu kembali padanya!" sahut Daddy dengan setengah berteriak kepadaku.
Mama menghampiri ku dan mencoba menenangkan aku. "Farissa..." ucap Mama kemudian memeluk tubuhku. Aku kembali terisak dalam pelukan Mama sambil menyaksikan Daddy yang masih marah kepada Julian.
"Julian, buktikan jika kamu memang benar-benar seorang laki-laki! Lawan aku!" ucap Daddy sambil mendorong tubuh Julian hingga ia terjungkal kebelakang.
Aku lihat sudut bibir Julian membiru dan sedikit mengeluarkan darah. Aku sangat yakin, Daddy lah yang sudah memukul Julian ku. Tidak hanya mendorong Julian, kini Deddy benar-benar ingin mengajaknya berduel.
Tentu saja Julian menolak, tidak mungkin ia melawan mertuanya sendiri. Daddy sudah keterlaluan, dia bahkan tidak bisa berpikir jernih lagi karena hatinya sudah tertutup oleh kemarahannya.
"Daddy, ku mohon! Berhenti menyakiti suamiku!" teriak ku sambil menangis lirih.
"Suami kamu bilang? Mahluk yang tidak jelas jenis kelaminnya ini kamu sebut sebagai suami mu, Farissa?! Yang benar saja!" sahut Daddy sambil terkekeh mengejekku.
Julian mengangkat kepalanya yang tertunduk kemudian kembali memohon kepada Daddy yang masih berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Saya mohon Tuan Alessandro... biarkan Farissa ikut bersama saya. Saya berjanji tidak akan mengecewakan kalian. Saya berjanji akan membuktikan bahwa saya sudah berubah..." ucap Julian sambil menangkupkan kedua tangannya.
Bukannya kasihan melihat Julian yang seperti pengemis di hadapannya, Daddy malah semakin emosi melihat tingkah suami kemayu ku.
Daddy mencengkeram kerah kemeja Julian dan ingin melayangkan sebuah tamparan ke wajahnya lagi. Melihat hal itu, aku bergegas melepaskan pelukan Mama dan berlari kearah Julian kemudian memeluknya.
"Sudah, Daddy! Sudah cukup!" teriak ku sambil memeluk erat tubuh Julian.
Seketika Daddy menghentikan aksinya kemudian melepaskan cengkeraman nya dengan kasar.
"Bagus, Farissa! Ternyata otak mu sudah dicuci oleh Waria ini! Kamu lebih memilih dia dibandingkan Daddy mu sendiri!" ucap Daddy kesal.
Mama kembali menghampiri Daddy kemudian memeluk tubuh besarnya. "Alessandro, ayolah..." bujuk Mama.
"Sekarang kau lihat anak perempuan mu, Ge! Dia sudah menjadi pembangkang setelah mengenal Waria ini!"
Perkataan Daddy benar-benar menusuk sampai kehati yang paling dalam. Bahkan Julian pun sempat menelan saliva nya dengan susah payah setelah mendengar ucapan Daddy.
"Begini saja, Farissa! Sekarang putuskan, kamu pilih kami, orangtua mu, atau Waria ini?!" ucap Daddy,
Seketika tangisku pecah. Aku tidak menyangka Daddy akan memberikan pilihan sesulit ini kepadaku. Aku bingung harus memilih siapa, mereka sama-sama berharga nya buatku. Mereka adalah orang-orang penting dalam kehidupan ku.
"Daddy, ku mohon..." ucap ku.
Julian meraih tanganku dan menatap ku lekat. "Farissa, aku sangat mencintaimu. Tapi cinta tidak harus selalu memiliki, bukan?! Tetaplah bersama keluarga mu. Aku berjanji, Farissa. Aku tidak akan pernah kembali lagi ke dunia menjijikkan itu. Aku akan menjadi Julian seutuhnya walaupun tanpa dirimu disisiku." ucap Julian sambil tersenyum kepadaku.
Senyuman yang begitu menyayat hati. Dia boleh tersenyum seperti itu kepadaku namun ia tidak bisa menyembunyikan airmata kesedihannya yang terus mengalir dikedua pipinya.
"Julian, ku mohon!"
Perlahan Julian melepaskan tanganku dan berjalan menjauhi ku selangkah demi selangkah.
Aku bingung, aku harus memilih siapa? Keluarga ku atau suamiku. Aku menghembuskan nafas dalam kemudian perlahan mundur kebelakang.
"Maafkan Farissa, Dad! Mah... Farissa lebih memilih Julian..." ucap ku dengan deraian airmata.
__ADS_1
"Farissa, Mama mohon!" teriak Mama sambil menangis histeris.
Mama memeluk tubuh Daddy sembari memohon kepada Daddy yang semakin meradang setelah mendengar jawaban ku.
"Baiklah, Farissa! Kejar suami banci mu itu! Dan mulai saat ini, jangan pernah perlihatkan batang hidung mu lagi dirumah ini! Dan sejak saat ini kamu bukanlah..."
"Cukup, Alessandro! Jangan katakan itu! Cukup..." teriak Mama sambil menangis histeris.
Mama berbalik kemudian menatapku dengan tatapan sendu, "Pergilah, Farissa! Mama merestui mu..." ucap Mama,
"Terimakasih, Mah!"
Daddy mendengus kesal kemudian masuk kedalam rumah dengan wajah yang masih memerah. Sedangkan Mama segera menyusul Daddy dan mencoba menenangkan nya.
Aku berlari kecil menuju Julian yang masih melangkah gontai menuju mobilnya. Julian tidak tahu jika aku sudah memilihnya. Sambil menyeka airmata nya, suami kemayu ku membuka pintu mobilnya.
"Julian!"
Aku memeluk tubuhnya dari belakang sambil terisak. Bahkan kemejanya kini basah terkena airmata ku.
"Fa-Farissa?!" Julian terperanjat dan segera meraih tanganku yang melingkar di perut six pack nya.
Julian berbalik dan kini aku dan dirinya terdiri dengan posisi saling berhadapan. Julian tersenyum bahagia, "Terimakasih, Farissa! Aku berjanji tidak akan pernah menyia-nyiakan pengorbanan mu!" ucapnya dengan airmata yang kembali membanjiri pipi mulusnya.
"Mari kita pulang..." ucap ku
Julian melabuhkan sebuah kecupan hangat di kening ku kemudian menuntun ku memasuki mobilnya.
Julian melajukan mobilnya sambil menggenggam tanganku dengan erat. Sesekali ia melabuhkan ciuman di punggung tanganku sambil tersenyum hangat.
Semoga saja pilihan ku adalah pilihan yang tepat untuk aku dan bayi yang ada didalam kandungan ku. Aku juga berharap suatu saat nanti Daddy akan memberikan restunya untuk aku dan Julian.
"Apa ini sakit?" tanyaku sambil menyentuh sudut bibirnya yang membiru.
"Tidak, lagipula aku pantas mendapatkannya." sahut Julian.
__ADS_1
"Tapi tenang saja, Sayang! Aku akan buktikan kepada Daddy, bahwa aku sudah berubah. Dan aku layak untuk hidup bersama mu lagi." sambung Julian.
...***...