Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Baby Fiona, Happy Ending


__ADS_3

Delapan Bulan kemudian,


"Bagaimana, Dok?" tanya Alessandro kepada Dokter Kandungan langganan ku, Dokter Rima.


"Bayinya sehat dan semuanya normal. Tapi, Nona Ge harus tetap melakukan Operasi Cesar. Karena untuk melakukan kelahiran normal, resiko sangat besar." tutur Dokter Rima.


Alessandro tersenyum padaku sambil merengkuh kedua pundak ku. "Semangat ya, Sayang! Aku yakin, kamu pasti bisa!" ucap Alessandro menyemangati ku.


Akupun membalas senyumannya kemudian mengelus tangannya yang sedang berada di pundakku dengan lembut. "Terimakasih, ya!"


"Oh ya, Dok. Bagaimana jenis kelaminnya? Cowok atau Cewek?!" tanya Alessandro lagi.


Dokter Rima tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Melihat Dokter Rima menggeleng, Alessandro pun menepuk keningnya. Ia tidak percaya ternyata Bayinya masih tidak mau memperlihatkan Jenis kelaminnya.


Ya, Bayi ku kali ini benar-benar pemalu. Sudah beberapa kali aku melakukan USG di tempat praktek Dokter Rima, dia selalu saja menyembunyikan jenis kelaminnya.


Dokter Rima bahkan sudah melakukan berbagai macam rayuan agar Bayiku mau memperlihatkan jenis kelaminnya, namun tetap sama. Dia enggan memperlihatkannya.


Bahkan bukan hanya di tempat Praktek Dokter Rima saja, aku sudah mencobanya ke beberapa Dokter lain, hasilnya tetap sama. Dia enggan memperlihatkannya.


Berbeda dengan kehamilan pertama ku, Fariz dan Farissa. Sejak usia kandungan memasuki bulan ke Lima, jenis kelamin mereka sudah dapat dipastikan.


Setelah selesai berkonsultasi dengan Dokter Rima, kamipun segera pamit. Alessandro ingin mengajak kami ke toko perlengkapan bayi. Karena masih banyak perlengkapan si Debay yang belum dibeli.


Alessandro juga mengajak Nur dan kedua bocil kami yang usianya sudah hampir 4 tahun. Mereka sudah sangat ramai, apalagi Farissa. Dia sebagai anak perempuan, mulutnya bicara terus, selalu ingin tahu, sampai-sampai yang diajak bicara kewalahan menjawab berbagai pertanyaanya.


Berbeda dengan Fariz, anak laki-laki ku itu agak pendiam. Ia hanya bisa tersenyum ketika kembaran nya bicara tanpa henti.


Eits! Jangan Lupakan Nur. Nur sudah resmi berpacaran dengan lelaki yang dulu menabraknya ketika di acara pernikahan Fania dan Fikri.


Nama lelaki itu Zian Maliki atau yang biasa disebut Malik. Malik adalah seorang pemilik Rumah Makan yang terkenal di kota kami. Dia seorang Duda beranak satu. Istrinya meninggal disaat melahirkan putra pertamanya.

__ADS_1


Malik lelaki yang baik, dia sering berkunjung ke kediaman kami. Dia juga sangat sopan dan ramah, bahkan disaat ia ingin mengajak Nur jalan pun, ia akan minta ijin kepadaku.


Ternyata Malik adalah sahabat baik Fikri. Itulah sebabnya ia juga di undang disaat pernikahan Fania dan Fikri. Malik dan Nur sudah merencanakan hari pernikahan mereka.


Seluruh keluarga Malik juga sudah merestui hubungan mereka. Karena Nur adalah gadis yang baik dan supel. Ia mudah menyesuaikan diri dimanapun ia berada. Dan Nur juga sudah sangat dekat dengan anak semata wayang Malik.


***


Setibanya di Toko perlengkapan bayi, aku, Nur, Alessandro dan kedua anakku segera memasuki toko itu dan mulai menjelajahinya. Aku sampai kebingungan ingin beli apa, padahal sejak dirumah sudah direncanakan dengan matang, hanya ingin beli ini dan beli itu.


Tetapi setibanya disana, otakku malah ngeblank. Semuanya ingin dibeli, habisnya semua barangnya bagus-bagus dan lucu-lucu.


Alessandro bahkan sampai geleng-geleng kepala melihatku dan Nur yang begitu antusias memilih berbagai macam peralatan bayi.


"Kak, yang ini bagus banget!" ucap Nur sambil memperlihatkan sebuah sepatu bayi mungil berwarna Pink.


"Eh, Nur. Bukannya kamu sudah dengar, baby nya saja belum tau cewek atau cowok. Bagaimana bisa kita beli warna Pink? Kalau Baby nya Cowok, kan bakal gak bisa dipake?!" sahut Alessandro,


Nur pun terkekeh mendengar ucapan Alessandro. "Benar juga, ya..." gumam Nur,


Aku masih bersemangat menjelajahi toko itu bersama keluarga kecilku. Alessandro bahkan tidak mau jauh-jauh dariku. Ia terus melangkah dibelakang ku. Sedangkan Nur dan kedua anakku sudah berjalan mendahului ku.


"Sayang, bisakah kamu jalannya pelan-pelan saja? Aku kok jadi ngeri lihat kamu jalan seperti itu." ucap Alessandro dengan wajah cemas,


Ya, karena saking semangatnya, aku sampai melupakan perut besar ku yang tinggal beberapa hari lagi, menurut HPL dari Dokter.


"Tenang saja, Sayang! Aku baik-baik saja, kok!" sahut ku sambil terkekeh.


Namun baru saja aku mengatakan kalau aku baik-baik saja, tiba-tiba perutku sakit. Sakit sekali bahkan sakitnya sampai ke ubun-ubun.


"Aww!!!"

__ADS_1


Aku memeluk perut besar ku sambil meringis kesakitan. Alessandro panik dan segera menghampiriku.


"Kenapa, Sayang?! Tuh kan, apa ku bilang!" ucap Alessandro seraya mengangkat tubuhku dan membawaku berlari menuju tempat parkir.


Begitupula Nur dan kedua anakku, mereka terkejut dan berlarian mengejar langkah Alessandro.


Semua orang memperhatikan kami. Wajah mereka keheranan menatap kami. Beruntung para karyawan dan keamanan di Toko itu sigap. Mereka segera menolong Alessandro membukakan pintu mobil dan mengamankan jalan yang dilalui oleh Alessandro.


"Tahan dulu ya, Sayang!" ucap Alessandro sambil melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Beruntung letak Rumah Sakit tidak jauh dari Toko itu.


Setelah tiba dirumah sakit, Alessandro kembali mengangkat tubuhku dan membawaku memasuki Rumah sakit. Para Perawat berdatangan menghampiri Alessandro kemudian menyambut tubuhku.


Setelah beberapa jam akhirnya bayiku lahir dengan selamat. Walaupun aku kembali melakukan Operasi Cesar.


Ternyata bayi yang pemalu itu adalah seorang bayi cantik. Alessandro bahkan tak sanggup membendung airmata nya ketika menyambut kelahiran bayi mungilnya.


"Dia bayi perempuan, Sayang!" seru Alessandro sambil menyeka airmata nya.


Aku dan Alessandro tidak mempermasalahkan jenis kelamin bayi kami. Yang penting dia lahir selamat dan sehat tanpa kurang apapun. Alessandro memperlihatkan bayi mungil kami kepadaku. Aku menciumnya untuk pertama kali sambil menitikkan airmata.


Begitupula Fariz dan Farissa, mereka sangat senang menyambut adik bayi mereka. Walaupun Farissa sempat menekuk wajahnya karena adiknya seorang perempuan.


"Mama, nanti Farissa akan tetap disayang, kan?!" ucap Farissa sambil menekuk wajahnya seraya menatap adiknya yang sedang berada di pelukan Alessandro.


Kamipun tergelak setelah mendengar penuturan dari bibir mungil Farissa. Ia takut tersaingi karena adiknya seorang perempuan sama seperti dirinya. Berbeda dengan Fariz, dia tenang-tenang saja, dia bahkan terus berdiri disamping Alessandro yang tengah menggendong adik barunya.


"Tentu saja, Sayang. Farissa akan tetap menjadi anak gadis Mama dan Daddy yang paling disayang. Ya kan, Dad?!" ucap ku sambil mencium pipi Farissa yang menggemaskan itu.


"Iya, Sayang!" sahut Alessandro sambil meraih tubuh Farissa dan memeluknya dengan sebelah tangan, sedangkan tangan sebelahnya masih menggendong Bayi mungil kami yang diberi nama Fiona.


\=\=\=\=END\=\=\=\=

__ADS_1


Cerita Ge dan Alessandro sudah berakhir sampai disini. Karena keluarga mereka sudah bahagia dan tak akan ada lagi yang mengganggu kebahagiaan keluarga kecil mereka. EL sudah bahagia bersama keluarga kecilnya begitupula Sarra dan suaminya.


Lanjut Season dua...


__ADS_2