Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Rumah Sakit


__ADS_3

BRUGKKHH...


Tubuh Tuan Alessandro terlempar ke pinggir jalan. Tetapi bukan itu yang menjadi persoalannya sekarang. Walaupun Tuan Alessandro mengalami luka-luka akibat tubuhnya yang terlempar, namun Tuan Alessandro masih bisa bangkit dan menghampiri korban sesungguhnya.


Orang-orang mengerumuni tubuh Julian yang tergeletak tidak berdaya ditanah. Darah segar masih keluar dari mulut dan hidung nya. Dia sudah menyelamatkan nyawa Tuan Alessandro dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri.


Tuan Alessandro terkejut bukan main ketika mengetahui siapa yang sudah menyelamatkan dirinya dari kecelakaan itu. Tanpa disadarinya, tubuhnya jatuh dihadapan Julian dengan mata berkaca-kaca.


"J-Julian..." ucap Tuan Alessandro terbata-bata.


Tuan Alessandro bangkit kemudian berteriak meminta pertolongan warga untuk mengangkat tubuh Julian dan membawanya kerumah sakit.


"Siapapun tolong aku! Tolong bantu aku membawanya ke Rumah Sakit!" teriak Tuan Alessandro kepada orang-orang yang berkerumun di tempat itu.


Beberapa Pria bersedia membantu Tuan Alessandro mengangkat tubuh Julian dan membawanya ke Rumah Sakit setelah Tuan Alessandro mengakui bahwa yang sedang mengalami kecelakaan adalah menantunya.


Setibanya di Rumah Sakit, Julian segera mendapatkan pertolongan oleh tim medis. Tubuhnya yang sudah tidak berdaya langsung dibawa ke ruangan IGD. Tuan Alessandro sangat panik, ia bahkan tiada henti berdoa untuk keselamatan Julian.


"Ya, Tuhan! Semoga dia baik-baik saja!" gumam nya.


Tuan Alessandro menjatuhkan dirinya ditempat duduk yang ada diluar ruangan. Ia meraih ponselnya kemudian menghubungi seluruh keluarganya tentang berita buruk ini. Ge, Fariz dan Fiona.


Tak berselang lama, mereka pun tiba ditempat itu secara bersama-sama. Ge panik dan berlari kecil menghampiri suaminya.


"Bagaimana keadaan Julian?" tanya Ge kepada Alessandro yang masih duduk di kursi itu sambil menutup kedua matanya.


Alessandro menoleh kepada Ge kemudian menepuk ruang kosong di sebelahnya agar Ge turut duduk bersama dirinya.


"Aku tidak tahu, semoga saja tidak terjadi apa-apa kepadanya." sahut Alessandro sambil menghela nafas berat.


"Apa Farissa sudah diberitahu?" tanya Ge lagi.


Alessandro menggelengkan kepalanya pelan. "Belum. Aku tidak berani menyampaikan berita buruk ini kepadanya. Aku tidak ingin Farissa sampai down dan mempengaruhi kandungannya." sahutnya.


"Tapi biar bagaimanapun Farissa harus diberitahu. Kasihan dia, Sayang." ucap Ge.


"Fariz, segera jemput adik mu! Tapi ingat jangan gegabah ketika menyampaikan berita ini kepadanya." perintah Ge kepada Fariz yang berdiri disampingnya.

__ADS_1


"Baik, Ma!"


Fariz pun kembali ketempat parkir sambil berlari kecil. Sementara itu, dirumah sederhana milik Julian.


Farissa bolak-balik tak tentu arah. Perasaannya sangat tidak enak, ia terus teringat akan sosok Julian. "Oh, Tuhan... semoga saja Julian baik-baik saja!" gumam Farissa sambil memperhatikan halaman depan rumahnya, berharap Julian segera kembali.


Tidak berselang lama, terdengar suara mobil yang masuk kedalam halaman rumahnya. Farissa sumringah, ia bergegas menuju halaman depan dan berharap mobil yang baru saja tiba itu adalah mobil milik suaminya.


Farissa terdiam dan menatap sendu ketika mengetahui yang baru saja tiba bukanlah mobil milik suaminya, melainkan milik saudara kembarnya, Fariz.


Fariz keluar dari mobilnya kemudian menghampiri Farissa dengan wajah sendu. Entah mengapa Farissa sudah merasakan firasat buruk dengan kedatangan saudara kembarnya itu.


"Fariz?! Darimana kamu tahu alamat baruku?" tanya Farissa. Farissa sedikit curiga dengan kedatangan saudara kembarnya itu, apalagi ketika melihat ekspresi wajah Fariz yang begitu menyedihkan.


"Ikutlah denganku, Farissa..." ajak Fariz,


"Apa ada hubungannya dengan suamiku?!" tanya Farissa panik,


Fariz menghela nafas berat kemudian mengangguk pelan. Setelah melihat Fariz menganggukkan kepalanya, Farissa bergegas kembali untuk mengunci pintu rumahnya dan meminta Fariz untuk segera membawanya menemui suaminya.


Tangis Farissa pecah ketika di perjalanan. Ia tidak sanggup lagi membendung air matanya.


"Sudahlah, Farissa... berdoalah agar suamimu baik-baik saja." sahut Fariz seraya mengelus lembut pundak saudara kembarnya itu.


Tiba-tiba Farissa menghentikan tangisnya kemudian menatap tajam kepada Fariz yang masih fokus menyetir mobilnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi padanya, Fariz? Dan bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Farissa


Fariz kembali menghembuskan nafas berat. "Julian menyelamatkan Daddy dari kecelakaan dengan mengorbankan dirinya, Farissa. Dan kami tidak tahu bagaimana keadaan Julian sekarang karena Dokter masih menanganinya." sahut Fariz


Tangis Farissa semakin menjadi. "Sekarang kalian lihat kan bagaimana sifat Julian yang sebenarnya?! Dia itu baik dan sangat tulus tapi kalian memperlakukan dirinya seolah dia adalah makhluk paling menjijikkan dibumi ini!" hardik Farissa sambil menyeka air matanya yang tiada henti keluar.


"Maafkan kami, Farissa. Karena tidak mempercayai kata-kata mu selama ini..." ucap Fariz,


Disepanjang perjalanan, Farissa hanya menangis bahkan hingga mobil yang dikemudikan oleh Fariz tiba di halaman depan Rumah Sakit.


Setelah mobil yang dikemudikan oleh Fariz terparkir rapi, Farissa bergegas keluar dari mobil itu dan melangkah dengan cepat sambil memeluk perutnya.

__ADS_1


"Dimana ruangannya, Fariz?!" tanya Farissa


Fariz begitu khawatir karena Farissa berjalan dengan sangat cepat. Ia meraih tangan Farissa kemudian menuntunnya berjalan bersama dirinya.


"Ikuti aku. Dan berhentilah berjalan seperti itu! Apa kamu tidak takut tersandung dan akhirnya membuat kamu terjatuh?!" ucap Fariz kesal.


"Iya, maafkan aku..." lirih Farissa,


Fariz menuntun Farissa hingga ke ruangan dimana Julian masih mendapatkan perawatan dari tim medis. Disana sudah berkumpul Mama, Daddy dan juga Fiona.


"Farissa!" Ge menghampiri Farissa kemudian memeluknya dengan erat.


"Bagaimana keadaannya, Mah?" tanya Farissa


"Kami belum tahu, Sayang! Bahkan sampai sekarang, tak ada satupun Dokter atau perawat yang keluar dari ruangannya." sahut Ge,


Tepat disaat itu, seorang Dokter keluar dari ruangan Julian. Semua orang bergegas menghampiri Dokter itu untuk menanyakan keadaan Julian.


"Bagaimana keadaannya, Dok?!" tanya Tuan Alessandro cemas,


"Pasien mengalami cedera yang cukup parah di kepalanya dan dia masih tidak sadarkan diri. Kita berdoa saja yang terbaik untuknya." sahut Dokter itu,


"Julian..." Tangis Farissa kembali pecah ketika mengetahui kondisi Julian. Ge segera memeluk tubuh Farissa dan mencoba menenangkan nya.


"Sudahlah, Sayang! Sebaiknya kita berdoa saja untuk kesembuhannya." ucap Ge seraya mengelus rambut Farissa dengan lembut.


Tiba-tiba,


"Aakh..." Farissa meringis sambil memegang perutnya.


"Farissa kamu kenapa, Nak?!" tanya Ge panik. Ge melepaskan pelukannya kemudian memperhatikan Farissa.


"Astaga, Farissa! Kamu akan melahirkan!" sambung Ge setelah melihat cairan keruh yang mengalir dikedua kakinya.


Semua orangpun panik, Dokter yang masih berada disana segera memerintahkan Para Perawat untuk membawa Farissa ke ruang bersalin.


"Sakit, Mah!" lirih Farissa dengan wajah pucat pasi menahan rasa sakitnya.

__ADS_1


"Yakinlah, kamu pasti bisa, Farissa!" sahut Ge yang masih setia mengikuti Farissa.


...***...


__ADS_2