Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Siapa Dia?


__ADS_3

Disaat aku sedang membuat kue, tiba-tiba ponsel ku berbunyi. Hmm, tenyata Alessandro yang kembali menghubungiku. Setelah ku terima VC darinya, ku letakkan ponsel itu tepat didepanku.


"Kamu terlambat, Alessandro. Mereka sudah tertidur." ucap ku sambil tersenyum ke layar ponsel.


Alessandro tersenyum, "Ehmmm, kalau begitu aku bicara sama Mami nya saja..."


"Tidak bisa, aku sedang sibuk!" goda ku,


Alessandro tergelak, "Ayolah, Ge! Jangan jual mahal padaku. Takutnya aku akan semakin tergila-gila padamu."


Aku cuma tersenyum tapi tidak menyahut ucapannya.


"Ge, aku dengar kamu sudah bertemu sama Mami. Bagaimana reaksi Mami padamu?"


"Fania pasti sudah menceritakan semuanya padamu, kan? Nyonya Liliana baik sama aku begitupula sama Fariz dan Farissa. Dia sangat senang hari itu karena bisa bermain bersama mereka." sahut ku sambil terus mengocok adonan kue dengan menggunakan mixer.


"Syukurlah, itu artinya kita sudah mendapatkan restu darinya, benarkan?!" Alessandro terkekeh ketika mengucapkannya.


Aku hanya bisa tersenyum kecut tanpa bisa mengatakan apa-apa.


Alessandro puas menggoda ku dengan bermacam-macam rayuan maut nya hingga akhirnya aku memutuskan panggilannya karena aku takut semakin melayang jauh kemudian melesat jatuh seperti dulu.


Selesai membuat berbagai kue, akupun segera menghampiri Nur yang sedang melayani para pembeli. Rupanya pengunjungnya sudah mulai berkurang, Nur pun bisa duduk bersantai diruangan itu.


"Sudah selesai bikin kue nya, Kak?" tanya Nur sembari tersenyum kepadaku.


"Sudah..." sahut ku.


Disaat aku dan Nur tengah asik membahas hasil penjualan hari ini, tiba-tiba ada dua orang laki-laki memasuki toko kecilku. Gerak-gerik mereka terlihat sangat mencurigakan.


Aku dan Nur sempat saling tatap. Rupanya Nur pun sama seperti ku. Mungkin dia juga curiga dengan gelagat kedua lelaki yang sedang memasuki toko kecilku.


Mereka menghampiri aku dan Nur yang sedang berdiri didepan meja kasir sambil celingak-celinguk. Nur memepet tubuhku, sepertinya dia sangat ketakutan.


"Kak..." ucap Nur dengan gemetar,


Yang benar saja, Nur berlindung dibalik tubuhku yang jelas-jelas lebih kecil darinya. Padahal akupun sama, aku takut tapi aku harus tetap tenang. Ku elus lembut punggung Nur agar gadis itu sedikit lebih tenang.


Salah satu dari kedua lelaki itu sekarang berdiri tepat didepan ku. Matanya melotot sempurna bahkan hampir seperti mau keluar dari kelopak nya.

__ADS_1


Nur makin ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat dibelakang ku. Aku terus menatap wajah sangar lelaki itu sedangkan lelaki itu menyeringai membalas tatapan ku.


"Heh, cepat serahkan semua uang mu!!!" ucap lelaki itu seraya mengeluarkan pisau lipat dari dalam jaketnya.


"Aku tidak mau!" sahut ku,


Lelaki itu sangat marah ketika aku mengatakan hal itu. Dia mengacungkan pisau lipat nya didepan wajah ku seraya mengancam.


"Serahkan atau kalian ingin merasakan bagaimana tajamnya pisau ku ini?!" bentaknya.


Nur menangis dibelakang ku sedangkan aku sudah tidak berdaya. Aku sangat takut, apa lagi pisau itu sangat dekat dengan wajahku.


"Tuan, saya mohon jangan ganggu kami!"


Aku memelas kepadanya, siapa tahu lelaki itu iba dan melepaskan kami. Namun ternyata aku salah, lelaki itu malah semakin beringas.


Dia menggebrak meja kasir dengan sangat keras dan nada suaranya terdengar sangat menakutkan. Tubuhku bahkan menggigil seketika saat mendengar suara berat dan menakutkan darinya.


"Cepat ku bilang! Apa kalian ingin cari mati?!" ancamnya lagi


"Heh, cepat! Nanti keburu ada yang datang!" ucap temannya yang sedang berjaga-jaga di dekat pintu toko.


Namun disaat aku berhasil membuka laci itu, seseorang memasuki toko kami dan menghajar lelaki yang sedang berjaga didepan pintu toko.


Karena merasa temannya sedang dalam masalah, lelaki beringas yang tadi mengancam ku dengan pisau, segera menghampiri temannya dan mencoba melawan lelaki yang baru saja masuk ke toko ku.


Aku segera menarik tangan Nur yang seperti boneka manekin. Terdiam tanpa bergerak sedikitpun karena sakit takutnya.


Aku mengajak Nur bersembunyi dibawah meja kasir. Nur memeluk tubuhku dan kamipun saling memejamkan mata.


Namun telingaku masih bisa mendengar dengan sangat jelas perkelahian diruangan sempit itu. Beberapa barang ku terdengar berjatuhan dan ada beberapa yang pacah.


Dan selang beberapa saat, akhirnya tempat itu terdengar hening. Aku masih belum berani membuka mata hingga kudengar langkah kaki yang mendekat kearah ku.


Tap... tap... tap!


Aku semakin mempererat pelukan ku ke tubuh Nur. Begitupula Nur, ia semakin erat mendekap tubuhku bahkan semakin langkah kaki itu mendekat, semakin erat pula dekapan nya hingga aku merasa kesulitan bernafas.


"Mari, Nona! Mereka sudah pergi!"

__ADS_1


Aku segera membuka mataku dan sebuah tangan mengulur tepat didepan wajahku. Aku menoleh kearah sang empunya tangan.


Ternyata seorang lelaki tampan, sambil tersenyum hangat, mengintip kami dari balik meja kasir.


"Benar, sudah aman?!" tanyaku,


Aku takut dia membohongi ku, siapa tahu lelaki ini hanya berpura-pura menolong kami dan ternyata dia bersekongkol dengan kedua lelaki tadi.


Dia kembali tersenyum sambil menggerakkan tangannya yang masih mengulur didepan wajahku.


"Mereka sudah pergi, percayalah padaku." sahutnya


Aku memberanikan diri menyambut uluran tangannya dan keluar dari kolong meja. Aku memperhatikan sekeliling toko ku, ternyata lelaki itu benar.


Kedua lelaki jahat yang tadi mengganggu kami, sudah pergi meninggalkan toko ku. Namun hasil dari perkelahian mereka, membuat aku bersedih.


Ada beberapa etalase ku yang pecah dan barang-barang lainnya berserak di lantai. Nur pun bangkit dan berdiri disamping ku.


"Kak, bagaimana ini?!" ucap Nur.


Aku hanya bisa menghela nafas berat, tapi tak apalah. Asalkan nyawa kami selamat, soal barang yang rusak, masih bisa dibeli lagi walaupun aku harus kembali menguras tabungan ku.


"Ehem!"


Seorang lelaki berdehem dibelakang aku dan Nur. Bodohnya aku, aku bahkan melupakan sosok yang sudah menyelamatkan nyawa kami dari kedua lelaki jahat itu.


Karena kami hanya fokus memperhatikan toko yang seperti kapal pecah, lelaki itupun terlupakan.


"Ehm, Maafkan kami, Tuan. Kami lupa berterimakasih kepada anda karena sudah menyelamatkan nyawa kami." ucap ku seraya membungkukkan badanku kepadanya.


Lelaki itu terkekeh dan terus memperhatikan ku juga Nur. Nur pun turut memperhatikan lelaki tampan yang sedang berdiri tepat dihadapan kami.


Lelaki itu terlihat sempurna dengan kemeja berwarna putih yang melekat erat ditubuh besarnya. Dan senyuman itu, aku serasa pernah melihatnya namun aku lupa dimana.


Atau cuma perasaan ku saja? Tetapi benar, senyuman itu tidak asing bagiku. Aku terus mengingat-ingat siapa dia. Namun tetap nihil, aku tidak dapat mengingatnya.


"Kamu tidak apa-apa kan, Ge?!" ucapnya sambil memperhatikan tubuhku,


***

__ADS_1


__ADS_2