Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Merindukan Keluarga


__ADS_3

Ternyata Julian tidak membawaku ke kediamannya, melainkan ke sebuah rumah sederhana yang entah milik siapa. Julian tersenyum padaku ketika mobilnya sudah terparkir rapi di halaman rumah sederhana tersebut.


"Ini rumah siapa, Julian?!" tanyaku,


"Rumah kita untuk sementara waktu. Bagaimana... apa kamu menyukainya?" tanya Julian seraya menuntun ku keluar dari mobilnya.


Aku memperhatikan rumah sederhana yang berada tepat dihadapan ku. Walaupun rumah itu jauh lebih kecil jika dibanding kediaman Julian sebelumnya, namun rumah ini terlihat sangat nyaman dan begitu tenang.


"Aku suka." sahut ku sambil mengangguk pelan.


Julian pun tersenyum lega, kemudian kembali menuntun ku memasuki rumah sederhana miliknya. Julian menuntun ku hingga ke ruang tamu dan mendudukkan aku di sofa yang ada diruangan itu.


"Duduklah, Sayang." ucap Julian


"Sebenarnya ini rumah siapa, Julian?" tanyaku lagi sambil memperhatikan sekeliling rumah itu.


Julian menghela nafas berat kemudian menatapku dengan tatapan sendu.


"Sebenarnya aku sedang dalam masalah, Farissa. Para Wartawan sedang gencar mencari informasi tentang ku. Leo sudah membongkar semuanya, semua tentang masalalu ku. Itulah sebabnya aku mengajak mu tinggal disini untuk sementara. Maafkan aku..." lirih Julian.


"Ya, aku sempat membaca berita itu, Julian." sahut ku,


"Bukan hanya itu, Farissa. Usaha ku pun terkena imbasnya. Sekarang Butik ku sepi pengunjung. Aku bahkan harus mengurangi jumlah karyawan untuk menekan biaya pengeluaran." sambung Julian dengan wajah tertunduk.


Aku meraih wajahnya yang tertunduk hingga ia membalas tatapan ku. Akupun tersenyum kepadanya, "Julian... Aku berjanji, apapun yang akan terjadi kepadamu, aku akan tetap bersama mu." ucap ku.


"Walaupun nantinya aku akan jatuh bangkrut?!" sambung Julian,


"Ya, walaupun kamu jatuh bangkrut, aku akan tetap bersama dirimu, Julian. Kita bisa berjuang bersama dan memulai semuanya dari nol lagi." sahut ku.


Mata Julian kembali berkaca-kaca menatapku. Mungkin ia begitu terharu mendengar ucapan ku. Dan ini bukan hanya sekedar untuk menyenangkan dirinya tapi aku tulus ketika mengatakan hal itu dan semua itu lahir dari hatiku yang paling dalam.

__ADS_1


"Terimakasih, Farissa!" ucap Julian kemudian memeluk tubuhku dengan erat.


***


Aku dan Julian melewati hari-hari kami ditempat yang sangat sederhana ini. Walaupun begitu, disini jauh lebih nyaman jika dibandingkan kediaman Julian sebelumnya. Tempat ini begitu tenang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota.


Walaupun tempat ini membuat kami merasa nyaman, namun tidak bisa ku pungkiri jika aku merindukan keluarga kecilku. Aku merindukan Mama, merindukan Daddy dan juga dua saudaraku.


Tak terasa, sudah hampir sebulan aku tinggal disini. Dan hari ini aku memutuskan untuk menjenguk keluarga ku di kediaman mereka. Aku tau Daddy tidak akan menyukai kedatangan ku. Namun aku harus melakukannya karena aku sudah tidak sanggup menahan rasa rinduku kepada mereka terutama pada Mama.


Tanpa sepengetahuan Julian, aku memesan Taksi Online untuk mengantarkan aku menuju kediaman orangtuaku. Kebetulan saat ini Julian sedang tidak ada dirumah. Tadi pagi-pagi sekali, Julian pamit kepadaku untuk mengecek keadaan butiknya. Dan ku harap butiknya baik-baik saja.


Aku menunggu taksi online pesanan ku sambil menikmati pemandangan disekitar rumah. Setelah beberapa saat, akhirnya Taksi Online yang aku pesan pun tiba di halaman rumah.


"Mbak Farissa?!" tanya Sopir Taksi Online.


"Ya, Pak!" Aku pun segera masuk kedalam mobil itu.


Setelah membayar jasa Sopir taksi online tersebut, aku segera keluar dari mobil kemudian memperhatikan kediaman orangtuaku. Perlahan aku melangkah memasuki halaman depan rumah hingga akhirnya aku berdiri tepat didepan pintu depan.


Yang tadinya aku begitu menggebu-gebu ingin menemui penghuni rumah ini secara langsung, namun sedetik kemudian aku malah mengurungkan niatku dan memilih untuk memundurkan langkah ku, menjauhi rumah yang selama ini menjadi tempat bernaung ku.


"Farissa?!"


Aku mendengar seseorang memanggil namaku dan aku sangat mengenali siapa pemilik suara itu. Dengan secepat kilat aku berbalik dan menghadap ke arahnya.


"Mama..."


Aku menghambur ke arahnya kemudian memeluk tubuhnya dengan erat. Tangis ku pun pecah, aku sudah tidak sanggup lagi menahan kerinduan ku kepadanya.


"Farissa, Sayang! Mama sangat merindukan mu! Mama sudah sering mengunjungi rumah kalian tapi tak ada seorangpun disana. Memangnya selama ini kalian kemana, Nak?!" tanya Mama, sambil mengelus rambutku dengan lembut.

__ADS_1


Aku melerai pelukan ku kemudian menatap wajah Mama yang nampak sedih.


"Kami sudah tidak tinggal di tempat itu lagi, Mah. Julian mengajakku tinggal disebuah rumah sederhana miliknya yang letaknya jauh dari keramaian kota. Dan tujuannya melakukan itu karena ia ingin menghindari wartawan-wartawan yang terus mengejarnya." sahut ku,


Mama pun mengangguk pelan. Aku rasa Mama mengerti apa maksudku.


"Bagaimana kabar kalian, kalian semua baik-baik saja, kan?!" sambung ku.


Mama tersenyum kecut kemudian menyentuh kedua pipiku dengan lembut.


"Sebaiknya kita bicara didalam saja, Farissa. Jangan pernah dengarkan perkataan Daddy mu. Dia tidak pernah serius dengan ucapannya. Termasuk ucapannya saat itu kepadamu." sahut Mama.


Mama mencoba menarik tanganku agar aku ikut masuk kedalam rumah bersamanya, namun aku menolaknya. Perlahan ku tarik tangan ku dari genggaman Mama dan menahan kakiku agar tidak ikut melangkah bersamanya.


"Tidak, Ma. Aku rasa Daddy serius ketika mengucapkan hal itu. Aku tahu bagaimana Daddy. Daddy tidak akan pernah main-main dengan perkataannya apalagi ketika ia sudah marah." ucap ku.


"Kamu salah, Farissa. Daddy mu tidak akan sekejam itu pada anaknya sendiri." sambung Mama.


"Dia benar, Ge! Aku tidak akan pernah main-main dengan ucapan ku." sahut Daddy yang tiba-tiba keluar dari rumahnya.


Mama segera menghampiri ku dan merengkuh tubuhku dengan wajah cemas. Sedangkan Daddy masih menatap tajam ke arahku. Wajah Daddy terlihat masam, apakah Daddy benar-benar sudah membenci ku karena aku lebih memilih suamiku sendiri daripada menuruti keinginannya.


"Sudahlah, Alessandro! Tidakkah kamu kasihan melihatnya? Dia tengah mengandung cucu kita, cucu pertama kita!" sahut Mama,


"Aku sudah memberikan pilihan kepadanya, Ge! Dan dia sudah memilih si Banci itu daripada keluarganya sendiri. Jadi terima saja akibatnya!" ucap Daddy kesal, wajahnya pun kembali memerah.


"Maafkan Farissa, Dad!" ucap ku sambil memelas kepada Daddy.


Daddy tersenyum sinis sambil menatap ku, "Kenapa? Apa karena si banci itu sudah mengkhianati mu?! Dia pasti kembali ke alamnya, kan? Heh, sudah ku duga!" ucap Daddy.


"Tidak, Dad! Julian sudah berubah. Dia tidak akan pernah kembali lagi ke dunianya yang menjijikkan itu. Dia masih bersamaku, dia bahkan menjadi suami yang begitu sempurna untukku. Dan aku kemari bukan karena Julian mengkhianati ku, tapi karena aku benar-benar sudah merindukan kalian. Aku merindukan keluargaku. Apakah itu salah, Dad?!" ucap ku.

__ADS_1


...***...


__ADS_2