Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Setelah Pernikahan


__ADS_3

Malam ini aku dan Alessandro akan menghabiskan malam pertama kami disebuah hotel mewah, didalam Suite Room yang sudah disewa olehnya. Kamarnya dihias begitu indah. Diatas tempat tidurnya berhamburan kelopak bunga yang begitu wangi. Belum lagi cahaya lilin yang menambah nuansa romantis dikamar ini.


Alessandro membantu ku melepaskan gaun pengantin yang masih melekat erat ditubuh ku. Dia terus menatapku dari balik bayangan cermin sambil sesekali melabuhkan ciuman di pundak ku.


Aku tidak pernah membayangkan sosok Alessandro yang selama ini menjadi idola ku kini benar-benar menjadi suamiku.


"I love you, Ge!" ucap Alessandro disela ciuman nya.


Akhirnya gaun pengantin ku pun lepas dan hanya menyisakan pakaian dal*m ku saja. Aku malu, aku segera berbalik dan memeluk tubuhnya agar ia tidak melihat tubuhku yang sudah setengah telanj*ng.


Alessandro terkekeh kemudian segera menuntun ku dan mendudukkan ku di tepi tempat tidur. Aku menutupi tubuhku dengan selimut sedangkan lelaki itu perlahan melepaskan pakaian satu persatu sambil tersenyum padaku.


Jujur, aku sangat gugup. Kami memang pernah melakukannya namun waktu itu terjadi karena ketidak sengajaan. Alessandro bahkan tidak pernah menyadari hal itu.


Melihat Alessandro yang sudah setengah telanj*ng, aku jadi teringat masa lalu ku dengannya. Dimana aku pernah melakukan kesalahan paling fatal dalam hidupku. Paling menjijikkan dan sungguh memalukan.


Alessandro menghampiri ku, perlahan namun pasti. Dia menatapku sambil menyelipkan rambut ku kesamping telinga. Dan terus melemparkan senyuman manisnya kepadaku.


"Apa kau sudah siap, Ge?" tanya Alessandro,


Aku menganggukkan kepalaku perlahan. Siap tidak siap, aku harus siap. Karena sekarang aku sudah sah menjadi istrinya.


Alessandro mendorong tubuhku perlahan kemudian menaiki tubuhku sambil melabuhkan kecupan-kecupan kecil diseluruh tubuhku. Hingga akhirnya ia melabuhkan sebuah kecupan hangat di bibirku sambil melum*tnya.


Ini pertama kalinya aku dan Alessandro melakukannya dalam keadaan sadar dan tanpa adanya keterpaksaan sedikitpun.


❤❤❤


Pagi-pagi sekali aku sudah terbangun karena aku terus teringat akan Fariz dan Farissa. Aku yakin sekali, kedua bocah itu pasti rewel. Ini pertama kalinya aku dan kedua bocah itu terpisah.


Aku mengucek mataku yang masih agak kabur kemudian memperhatikan sosok lelaki yang tengah tertidur disampingku sambil melingkarkan tangannya di perutku.

__ADS_1


Parlahan aku bangkit kemudian menuju kamar mandi. Selesai mandi, berpakaian dan memoleskan bedak, lipstik dan lain-lainnya. Setelah itu, aku mulai berkemas-kemas karena kami akan pulang hari ini juga.


"Sayang, bangunlah... bukankah kita akan kembali hari ini?" ucap ku sambil menggoyang-goyangkan tubuh Alessandro yang masih betah meringkuk diatas tempat tidur mewah itu.


"Hmmm..." sahutnya, namun bukannya ingin bangkit, Alessandro malah memeluk guling.


"Fariz dan Farissa sudah menunggu kita, Sayang!" ucap ku lagi.


"Hmmm..."


"Oh, Astaga! Aku tidak percaya ternyata kau sulit untuk dibangunkan!" aku mencoba menarik tubuh besarnya agar segera bangkit namun sia-sia saja. Dia malah menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.


Selang beberapa saat, akhirnya Alessandro berhasil ku bangunkan. Aku menuntunnya ke kamar mandi kemudian membiarkan lelaki itu melakukan ritualnya paginya. Setelah itu kamipun kembali ketempat tinggal kami.


Sekarang aku beserta anak-anak dan juga Nur, tinggal di kediaman Alessandro. Kamipun masih melakukan aktivitas seperti biasanya. Alessandro dengan dunia Modelling nya dan aku dengan dunia Kue ku.


Sedangkan Nur, aku sudah berjanji padanya, kemanapun aku pergi, aku akan membawanya bersama ku. Beruntung Alessandro tidak mempermasalahkan hal itu. Karena ia juga tahu kalau kedua anaknya begitu lengket kepada gadis itu.


❤ Dua Bulan Kemudian ❤


Hari ini, hari pernikahan Fikri dan Fania. Aku, Alessandro, Nur dan kedua anakku bersiap menuju tempat diselenggarakannya acara pernikahan mereka.


Disebuah Hotel berbintang dimana acaranya dilaksanakan secara besar-besaran seperti halnya pernikahan Alessandro dan Sarra dulu.


"Ayo anak-anak, cepat! Kita sudah terlambat..." ucap Alessandro sambil mengejar kedua anaknya yang terus berlarian mengelilingi rumah.


Aku tersenyum melihatnya. Alessandro memang Ayah yang patut diacungi jempol. Ia begitu sabar menghadapi kelakuan kedua anaknya. Bahkan sekarang, aku dan Nur bisa lebih fokus ke bisnis kami karena Fariz dan Farissa lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Ayahnya.


Dia juga sering mengajak kedua bocah itu ketempat kerjanya. Dan sekarang kedua bocah itu ikutan menjadi terkenal karena sering mengekor kepada Ayah mereka.


"Ayo, Nur!"

__ADS_1


Aku mengajak Nur yang sudah siap sedari tadi untuk segera memasuki mobil. Setelah berhasil mengejar kedua anaknya, Alessandro segera memasuki mobil kemudian melajukan nya.


"Kak Ge! Wajah Kakak kok nampak pucat, apa Kakak sedang sakit?" tanya Nur


"Hah?!"


Aku kaget dan langsung bercermin lewat kaca spion mobil. Aku memperhatikan wajahku dan ternyata Nur Benar. Wajahku nampak pucat, tidak seperti biasanya.


Alessandro segera meraih wajah ku dan memperhatikannya, "Nur benar, wajahmu pucat sekali, Sayang." ucap Alessandro sambil memasang wajah cemas.


"Aku baik-baik saja, kok! Aku tidak sedang sakit... Beneran!" ucap ku, masih memperhatikan wajahku.


Nur dan Alessandro pun terdiam. Hingga akhirnya kamipun tiba ditempat acara. Ternyata seluruh keluarga dari pihak Fania maupun Fikri sudah berkumpul dan para tamu undangan pun sudah memenuhi ruangan.


"Wah, Sayang... Kamu itu ya, benar-benar Kakak yang tidak patut dicontoh! Masa di pernikahan adik sendiri, datangnya paling akhir?!" goda ku kepada Alessandro.


Alessandro terkekeh, "Ini akibat kedua bocah-bocah ku itu! Mereka terus saja berlarian ketika diajak bersiap-siap."


Tiba-tiba saja para wartawan berdatangan menghampiri kami. Beruntung aku lebih dulu menyadarinya. Aku segera menghampiri Nur kemudian mengajaknya menjauh dari Alessandro.


Alessandro sempat mendengus kesal ketika aku dan Nur pergi meninggalkannya. Namun dia mengerti karena sejak awal menikah, aku sudah katakan padanya kalau aku tidak ingin ikut menjadi sorotan media.


Aku dan Nur memilih untuk duduk disebuah kursi tamu dan menikmati hidangan yang sudah disediakan. Sedangkan Alessandro masih diwawancara bersama Fariz dan Farissa.


"Kak, aku ingin ke kamar kecil dulu, ya!" ucap Nur seraya bangkit dari duduknya kemudian melenggang pergi tanpa menunggu jawaban dariku.


Baru beberapa langkah ia meninggalkan aku, tiba-tiba saja Nur ditabrak oleh seorang lelaki tampan yang sedang memegang gelas berisi minuman.


Minuman itu tumpah ke tubuhnya hingga membasahi dress cantik yang sedang dikenakannya. Nur sepertinya sangat kesal sedangkan lelaki itu mencoba membantu Nur dengan menyerahkan sebuah tissue untuk mengeringkan dressnya.


Akupun turut bangkit dan berniat ingin menenangkan Nur yang sedang marah-marah. Namun baru saja aku mendekat, tiba-tiba penglihatan ku kabur dan kepalaku terasa berputar-putar. Akupun jatuh ke lantai dan kudengar Alessandro meneriakkan namaku sebelum aku benar-benar tidak sadarkan diri.

__ADS_1


***


__ADS_2