
"Maafkan Daddy, Farissa. Bukan maksud Daddy membuat mu terjebak dalam situasi ini. Daddy butuh kamu, Farissa. Daddy butuh bantuan mu merubah Julian menjadi lelaki seutuhnya... Dia butuh seseorang seperti dirimu, Farissa. Luluhkan hatinya, buat dia jatuh cinta padamu. Agar dia sadar kalau selama ini, jalan yang ia pilih adalah jalan yang salah." ucap Tuan Joseph.
Aku mengerutkan kening ku, bagaimana caranya merubah jiwa seseorang seperti Julian? Dan rasanya, sangat tidak mungkin membuat seseorang seperti dia jatuh cinta pada seorang wanita.
"Kenapa harus aku, Dad?!"
Tuan Joseph menghampiri ku kemudian meraih tanganku dan menggenggam nya. "Karena Daddy yakin hanya kamu yang bisa merubahnya. Daddy mohon, Farissa..." bujuk
Ya, Tuhan... apalagi ini? Disaat aku ingin melepaskan diri dari lelaki itu, Sang Ayah malah ingin aku tetap bersamanya dan berjuang merubah haluan nya.
"Sepertinya Farissa tidak bisa, Dad! Maafkan aku..." ucap ku lirih.
Setelah mendengar jawaban ku, tiba-tiba wajah Tuan Joseph memucat. Ia memegang dadanya dan sepertinya ia sangat kesakitan.
Aku ketakutan saat itu, aku berlari ke sembarang tempat sambil berteriak meminta pertolongan.
"Tolooong!!! Ku mohon, tolong aku!!!" teriak ku,
Para Pelayan berbondong-bondong menghampiri ku dan menanyakan perihal yang sedang terjadi.
"Ada apa, Nona?" tanya mereka bersamaan,
"Tolong, sesuatu terjadi kepada Tuan Joseph! Ku mohon, cepat selamatkan dia!" ucap ku seraya menunjuk kepada Tuan Joseph yang masih memucat di sofa mewahnya.
Beberapa Pelayan segera menghampiri Tuan Joseph dan satu diantaranya memanggil Dokter pribadi Tuan Joseph.
Beruntung Dokter itu siaga, dengan cepat ia menuju kediaman Tuan Joseph hingga akhirnya Lelaki tua itu terselamatkan walaupun dia masih lemah.
Tuan Joseph terkulai lemah diatas tempat tidur mewahnya. Sedangkan aku duduk disampingnya sambil menggenggam tangan tua nya yang sudah keriput.
"Daddy, Maafkan Farissa..." ucap ku sambil terisak.
Tuan Joseph mengangkat tangannya dan meletakkannya keatas kepalaku. Dia tersenyum sambil mengelus puncak kepalaku dengan lembut.
__ADS_1
"Tidak apa, Farissa. Daddy lah yang harusnya meminta maaf padamu karena sudah memaksakan kehendak Daddy. Lagipula penyakit Daddy memang sudah semakin parah seiring bertambahnya usia Daddy." sahut Daddy sambil menitikkan airmata nya.
"Daddy! Daddy... Daddy kenapa? Apa Daddy baik-baik saja?!"
Tiba-tiba lelaki kemayu itu datang sambil setengah berlari menghampiri Tuan Joseph. Nampak sekali kecemasan di wajahnya. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan Ayahnya.
Aku sempat melihat kearah nya, begitupula Julian, dia juga menatapku. Namun aku segera mengalihkan pandangan ku, aku sangat membencinya ketika mengingat kejadian tadi siang.
"Julian... Daddy rasa, Daddy tidak akan bertahan lebih lama lagi. Daddy sudah tidak sanggup melawan penyakit yang semakin hari, semakin menyiksa Daddy..." ucap Tuan Joseph, masih menitikkan airmata nya.
"Tidak, Daddy! Jangan bilang begitu! Julian mohon, Dad..." sahut Julian sambil terisak.
Akupun turut menitikkan airmata ku, aku tidak tega melihat keadaan Tuan Joseph yang begitu lemah.
Tuan Joseph mengidap penyakit jantung kronis dan kematian selalu mengintainya setiap waktu. Itulah sebabnya Tuan Joseph tidak bisa lagi melakukan pekerjaannya seperti dulu. Ia lebih banyak diam dan beristirahat dirumah mewahnya. Sedangkan perusahaan miliknya sudah diambil alih oleh anak keduanya, adik dari Julian, August Alexander.
"Julian, berubahlah... Daddy mohon!" ucap Tuan Joseph sambil terisak.
"Farissa! Sini, Nak! Bisakah Daddy meminta satu hal kepada mu, juga Julian?" tanya Tuan Joseph sambil meraih tanganku kemudian menggenggam nya lagi.
Aku menatapnya kemudian mengangguk pelan. Tuan Joseph juga meraih tangan Julian dan meletakkannya keatas tanganku. Aku sempat terkejut dan ingin menarik tanganku namun ditahan oleh Tuan Joseph. Kini tanganku dan tangan Julian berada dalam satu genggaman Tuan Joseph.
"Julian, Farissa, bolehkah Daddy meminta sesuatu pada kalian untuk yang terakhir kalinya?" tanya nya
Aku sempat bersitatap dengan Julian, namun hanya sesaat. Setelah itu perhatian kami kembali kepada Tuan Joseph yang masih menunggu jawaban dariku dan juga Julian.
"Katakanlah, Daddy!" sahut Julian sambil terisak,
"Daddy minta pertahankan lah pernikahan kalian dan untukmu Julian, berubah lah... Jadilah suami yang baik dan bertanggungjawab untuk Farissa. Jangan sakiti hatinya, Julian..." ucap Tuan Joseph.
Julian tidak menjawab ya ataupun tidak, dia hanya menangis sesenggukan sambil mencium punggung tangan Ayahnya. Dan sebenarnya akupun tidak bisa menerima permintaan terakhir Tuan Joseph, tapi aku juga tidak bisa menolaknya.
Aku dalam dilema besar sekarang. Aku bingung harus bagaimana. Hubungan kami benar-benar sangat rumit.
__ADS_1
Karena tidak tega melihat keadaan Tuan Joseph yang semakin melemah, akupun terpaksa mengiyakan keinginannya. Begitupula Julian, iapun dengan terpaksa mengangguk. Ia berjanji kepada Tuan Joseph akan berubah dan mempertahankan pernikahan kami.
Selang beberapa saat, kondisi Tuan Joseph semakin menurun. Aku merasa sangat bersalah. Aku rasa ini adalah karena kesalahan ku, karena aku menolak keinginannya, kondisinya langsung down hingga akhirnya ia harus dilarikan ke Rumah Sakit.
Aku dan Julian menjaga Tuan Joseph di Rumah Sakit. Keadaannya semakin memprihatinkan. Julian pun nampak frustasi melihat keadaan sang Ayah.
Lelaki kemayu itu terus menangis di kursi tunggu diluar ruangan. Sebenci-bencinya aku dengannya, aku tetap merasa iba ketika melihat dia hancur seperti itu.
Aku menghampirinya dan kini duduk bersebelahan dengan Julian yang masih terisak sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Julian... " Aku mengelus punggungnya dengan lembut, mencoba menenangkan dirinya yang sedang kacau saat ini.
Tiba-tiba Julian menoleh kearah ku kemudian memeluk tubuhku dengan erat. "Farissa! Maafkan aku..." ucapnya sambil menangis tersedu-sedu memeluk tubuhku.
Aku berusaha melepaskan pelukannya. Entah mengapa aku selalu teringat dirinya dengan dress itu dan membuatku ilfil dibuatnya. Tapi aku rasa usaha ku untuk melepaskan pelukannya hanya sia-sia saja, pelukannya malah semakin erat mengikat di tubuhku.
Sekarang aku pasrah dan membiarkan dia terisak sepuasnya sambil memeluk tubuhku hingga ia sendiri akan melepaskan pelukannya.
"Bagaimana jika Daddy meninggalkan aku, sebelum aku berubah? Bagaimana jika Daddy meninggalkan aku disaat keadaanku masih seperti ini, Farissa?!" ucap Julian lirih sambil melepaskan pelukannya.
Huft! Akhirnya lelaki kemayu itu melepaskan pelukannya. Akupun akhirnya bisa bernafas lega.
"Jangan begitu, berdoalah agar Daddy baik-baik saja, Julian." sahut ku.
Tepat disaat itu, seorang Dokter baru saja keluar dari ruangan Tuan Joseph. Setelah melihat Dokter yang menangani Ayahnya keluar dari ruangan itu, Julian segera menghampirinya.
"Bagaimana Daddy saya, Dok?!" tanya Julian dengan wajah cemas.
"Sebaiknya temui Ayahmu, Julian. Kondisinya sudah semakin menurun." ucap Dokter itu.
Dengan tergesa-gesa, Julian bangkit dari tempat duduknya kemudian segera memasuki ruangan Ayahnya.
***
__ADS_1