Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Kembali Kerumah


__ADS_3

Dokter segera memeriksa keadaan Julian saat itu. Setelah selesai melakukan pemeriksaan kepada Julian, Dokter itupun tersenyum puas. Ternyata Julian sudah bisa memberi respon pada sentuhan serta suara-suara yang ia dengar di sekelilingnya.


Setelah memastikan keadaan Julian sudah mulai membaik, Dokter segera meninggalkan ruangan itu.


Ge bahkan tidak bisa membendung air matanya ketika mendengar kabar baik itu. Benar-benar suatu keajaiban yang diberikan oleh Tuhan kepada keluarga kecil mereka.


Bayi mungil itupun seolah mengerti dengan keadaan yang terjadi di sekelilingnya. Ia menghentikan tangisnya dan menatap wajah Ge yang sedang menggendongnya.


"Kamu lihat, Sayang! Daddy mu sudah sadar!" seru Ge sambil menciumi wajah cucunya sambil terisak.


Sedangkan Farissa tidak putus asa mencoba berbicara dengan suaminya. "Julian sayang, ini aku... " lirih Farissa yang masih menggenggam tangan suaminya dengan erat.


"Farissa..."


Perlahan Julian membuka matanya dan menoleh kepada Farissa yang masih terbaring lemah disampingnya. "Farissa sayang..." ucapnya, walaupun masih terbata-bata.


"Lihatlah, Sayang... bayi kita sudah lahir, bayi kita laki-laki dan dia begitu mirip denganmu..." ucap Farissa.


Ge segera menghampiri tempat tidur Julian dan memperlihatkan bayi mungil yang tampan itu kepada Julian. "Ini bayi mu..." ucap Ge seraya meletakkan bayi mungil itu disamping tubuh Julian.


Julian memperhatikan bayi mungilnya sambil menangis penuh haru. "Terimakasih Tuhan, engkau sudah memberikan aku kesempatan untuk menjadi seorang Ayah." batin Julian penuh syukur.


Julian berusaha sekuat tenaganya hanya untuk memberikan sebuah ciuman kepada bayi mungilnya. "Daddy sayang kamu, Nak!" ucap Julian setelah ia berhasil memberikan ciuman pertamanya kepada bayi mungilnya.


Ge menghampiri tempat tidur Julian kemudian kembali meraih bayi mungil itu kedalam pelukannya. "Bayinya Mama bawa keluar, ya. Biar kalian bisa ngobrol." ucap Ge


Julian pun menganggukkan kepalanya perlahan. Kemudian menatap Farissa yang juga terbaring lemah di sebelahnya. Sedangkan Ge sudah keluar dari ruangan itu dan meninggalkan mereka berdua.


"Farissa, aku mencintaimu..." lirih Julian, seraya membalas genggaman tangan Farissa.


"Ya, Sayang! Aku juga mencintai mu dan terimakasih sudah menyelamatkan Daddy dari kecelakaan itu." ucap Farissa.


Julian pun tersenyum. "Sudah seharusnya aku menyelamatkan Daddy karena dia adalah mertuaku." sahut Julian.

__ADS_1


"Maafkan Daddy, Julian! Selama ini Daddy sudah salah menilai mu. Daddy selalu berpikiran buruk tentang mu. Dan sekarang, apakah Deddy terlambat untuk meminta maaf padamu?" ucap Tuan Alessandro tiba-tiba masuk kedalam ruangan itu dan segera menghampiri tempat tidurnya Julian.


Julian tersenyum lebar ketika mendengar ucapan Tuan Alessandro. Dia begitu bahagia, akhirnya Tuan Alessandro percaya bahwa dirinya benar-benar sudah berubah.


"Daddy tidak perlu meminta maaf padaku. Akulah yang seharusnya meminta maaf padamu, Dad. Karena aku sudah membohongi kalian dengan menutupi aibku yang sebenarnya." sahut Julian.


Tuan Alessandro tersenyum kemudian menepuk pundak Julian dengan lembut. "Sekarang, jagalah Farissa dengan baik! Aku serahkan Farissa kepadamu, Julian. Karena aku percaya hanya kamu yang dapat membahagiakan nya." ucap Tuan Alessandro.


Julian membalas senyuman Tuan Alessandro kemudian berpaling menatap Farissa yang matanya kembali berkaca-kaca.


"Tentu saja, Dad! Aku pasti akan menjaga dan menyayangi Farissa melebihi diriku sendiri." sahut Julian yakin.


***


Setelah beberapa hari dirawat untuk memulihkan kondisinya, akhirnya Dokter membolehkan Julian untuk pulang.


Disaat Julian dan Farissa ingin memasuki sebuah taksi online yang sudah dipesan oleh Farissa, tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti tepat didepan mereka.


"Julian, masuklah! Aku yang akan mengantarkan kalian pulang!" ucap sang pemilik mobil yang tidak lain adalah August, Adik kandung Julian yang usianya hanya terpaut satu tahun darinya.


August keluar dari mobilnya kemudian membukakan pintu mobilnya untuk pasangan itu. "Masuklah..." ucap August. Mau tidak mau, Julian pun mengikuti permintaan adiknya. Dia dan Farissa segera masuk kedalam mobil mewah milik August.


Sedangkan August menghampiri taksi online yang tadi dipesan oleh Farissa kemudian membayar kerugiannya. Setelah itu ia kembali ke mobilnya dan segera melajukannya menuju kediaman Julian.


"Terimakasih, August!" ucap Julian seraya menepuk pelan pundak August yang fokus menyetir mobilnya.


"Tidak masalah." sahut August.


"Dimana istri mu, August?" tanya Farissa tiba-tiba. Ia penasaran karena selama ini August selalu sendirian. Bahkan beberapa kali August menjenguk Julian di Rumah Sakit, tak pernah sekalipun sang istri menemaninya.


Julian menoleh kepada Farissa dengan tatapan aneh, sedangkan August terkekeh pelan setelah mendengar pertanyaan Farissa.


"Aku dan Melinda memutuskan untuk bercerai, Farissa." sahut August,

__ADS_1


"Bercerai?!" pekik Farissa, membuat Julian menutupi mulut istrinya itu dengan tangannya.


"Sudahlah, Farissa..." bisik Julian. Dia tidak ingin Farissa membahas masalah pribadi August. Julian takut August semakin terpuruk dengan keadaannya.


"Tidak apa, Julian. Lagipula tidak ada salahnya, Farissa hanya ingin tahu saja. Benarkan Farissa?!" sahut August.


Farissa menyingkirkan tangan Julian yang masih menutupi mulutnya kemudian tersenyum kepada suaminya itu.


Tak terasa mobil yang dikemudikan oleh August tiba di halaman depan rumah Julian. Namun Julian bingung, August malah mengantarkan mereka ke kediaman Julian yang pertama, bukan kerumah sederhana miliknya.


"Apa kamu sudah lupa, August? Aku sudah tidak tinggal disini lagi." ucap Julian.


Karena asik berbincang-bincang, Julian tidak memperhatikan jalan yang mereka lewati.


August tersenyum kemudian keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Julian beserta Farissa. "Rumah ini sudah menjadi milik mu kembali, Julian. Aku sudah melunasi semua pinjaman mu di bank." ucap August sembari merengkuh tubuh saudaranya itu.


Julian terdiam sambil menatap Farissa. Julian tidak pernah mengatakan yang sebenarnya kepada Farissa bahwa selama ini rumah itu sudah disita oleh Bank karena Julian tidak bisa membayar pinjamannya. Ia terpaksa meminjam uang di Bank untuk menutupi kerugiannya selama ini.


Farissa tersenyum kemudian memeluk tubuh Julian dari samping sambil menyandarkan kepalanya. "Tidak apa, Julian..." ucap Farissa.


"Tapi aku tidak bisa menerima semua ini, August. Aku tidak ingin menyusahkan dirimu. Biarlah aku dan Farissa tinggal dirumah sederhana kami." ucap Julian


"Menyusahkan? Tidaklah, bukankah seluruh harta kekayaan Daddy adalah milik mu? Aku hanya mengurusnya, Julian. Dan aku membayar semua itu dengan uang mu yang ada padaku!" ucap August sambil menepuk pundak Julian.


Julian mengerutkan keningnya kemudian menghembuskan nafas berat. "Terimakasih, August. Aku tidak tahu bagaimana cara membalas semua kebaikan mu." ucap Julian.


Tepat disaat itu, Tuan Alessandro tiba ditempat itu bersama Ge dan bayi Farissa.


"Nah, itu ponakanku yang tampan sudah tiba. Anggap saja ini adalah hadiah untuk menyambut kelahiran keponakanku. Aku tidak ingin keponakanku hidup dalam kekurangan, Julian." sahut August.


Ge menghampiri Farissa kemudian menyerahkan bayi mungil itu kepadanya. Farissa tersenyum lebar ketika menyambut bayinya. Baru setengah hari ia tidak bertemu dengan Bayinya, ia sudah merasakan rindu yang amat sangat.


"Dia tidak rewel kan, Ma?" tanya Farissa,

__ADS_1


"Tidak, Sayang! Dia anteng banget..." sahut Ge


...***...


__ADS_2