
Farissa dibawa ke ruang bersalin bersama Ge yang bersedia menggantikan posisi Julian untuk menemaninya melahirkan.
"Kamu pasti bisa, Farissa! Yakinlah!" ucap Ge menyemangati putri pertamanya itu.
Farissa menitikkan airmata, disaat suaminya tengah berjuang antara hidup dan mati disana. Disini, posisi Farissa pun sama. Dia harus berjuang melahirkan buah hati mereka tanpa dukungan sang suami.
"Ma, tetap disini ya!" pinta Farissa sambil meringis menahan sakit yang sungguh luar biasa dari perutnya.
"Tentu saja, Sayang! Mama akan tetap disini bersamamu!" sahut Ge.
Dokter spesialis kandungan segera memeriksa keadaan Farissa dan setelah diperiksa, ternyata Farissa memang sudah siap untuk melahirkan buah hati mereka. Dokter itu menjelaskan bagaimana cara mengejan yang baik dan sebagainya kepada Farissa. Farissa mendengarkan penuturan Dokter itu dengan baik walaupun sambil menahan rasa sakitnya.
Hingga akhirnya Bayi Farissa sudah siap untuk dilahirkan. Farissa bersiap dan mengikuti perintah dari Dokter dengan baik. Sedangkan Ge masih setia berada disampingnya sambil memberikan semangat untuk putrinya.
Farissa berusaha untuk tidak berteriak walaupun baru kali ini ia merasakan sakit yang sungguh luar biasa. Ge hanya bisa berdoa untuk keselamatan putrinya yang sedang melahirkan dan juga menantunya yang masih kritis diruangan lain.
"Ya Tuhan, selamatkan mereka! Sudah terlalu banyak cobaan berat yang mereka dapatkan selama ini. Biarkan mereka bahagia bersama keluarga kecil mereka..." batin Ge.
Hingga akhirnya,
"Ayo, Nona Farissa! Sedikit lagi! Kepalanya sudah terlihat!" seru Dokter, memberi semangat kepada Farissa yang sudah nampak kelelahan.
"Ayo, Sayang! Kamu pasti bisa!" seru Ge seraya menggenggam tangan Farissa erat.
Farissa yang masih menatap Ge, menganggukkan kepalanya kemudian kembali mengejan untuk yang terakhir kalinya. Hingga akhirnya,
"Oee... Oee..."
Terdengar suara tangisan pertama bayi laki-laki Julian yang begitu tampan. Setampan ayahnya, bermata sipit, hidung mancung dan rambut hitam tebal.
"Terimakasih ya, Tuhan! Engkau telah mendengarkan doaku!" gumam Ge namun masih terdengar di telinga Farissa yang masih terbaring lemah.
Farissa tersenyum kemudian kembali meraih tangan Ge. "Terimakasih, Mah!" ucap Farissa lirih.
__ADS_1
"Sama-sama, Sayang!" ucap Ge kemudian melabuhkan sebuah kecupan hangat di kening Farissa dan membelai rambutnya yang terlihat sedikit berantakan.
Setelah selesai membersihkan bayi laki-laki Farissa, Perawat membawanya kepada Farissa dan meletakkannya keatas tubuh sang bunda untuk diberikan Inisiasi Menyusui Dini (IMD).
Dan benar saja, bayi mungil yang tampan itu begitu antusias merayap diatas tubuh Farissa. Seketika perasaan sedih yang tadinya mendominasi hatinya kini perlahan tergantikan dengan rasa bahagia yang amat sangat.
Farissa bahkan tidak bisa menahan airmata kebahagiaannya ketika menyaksikan bayi mungilnya berhasil menuju puncak asi nya. Bayi mungil itu begitu lahap menikmati asi pertamanya.
Ge pun tak hentinya mengucapkan rasa syukur kepada yang Kuasa untuk keselamatan anak dan cucu pertamanya.
Setelah beberapa saat, akhirnya Dokter memperbolehkan Tuan Alessandro dan yang lainnya untuk menjenguk Farissa dan bayi mungilnya.
Tuan Alessandro tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya karena sudah menjadi seorang Kakek untuk seorang bayi tampan yang sedang berada didalam dekapannya.
"Dia sangat tampan, Farissa. Lihatlah mata dan hidungnya, persis seperti Julian." ucap Alessandro seraya melabuhkan ciuman hangat dikedua pipi si Bayi mungil yang masih memerah.
"Ya, Dad. Dia sangat mirip dengan Julian..."
Bolehkah aku menjenguk Julian, Dad?!" tanya Farissa sambil menyeka air matanya.
"Sebentar, biar Daddy tanyakan hal itu kepada Dokter." sahut Alessandro seraya menyerahkan bayi mungil itu kepada Ge yang masih setia duduk disamping tempat tidur Farissa.
Tuan Alessandro bergegas menemui Dokter yang menangani Julian kemudian menyampaikan keinginan Farissa untuk menemui sang suami. Dokter sempat terdiam dan memikirkan permintaan Alessandro karena saat ini kondisi Julian tak kunjung membaik.
Dengan penuh pertimbangan akhirnya Dokter mengizinkan Farissa menemui Julian. Alessandro bergegas menuju ruangan Farissa dirawat dan menyampaikan berita baik itu kepadanya.
"Farissa sayang, Dokter memberikan mu izin untuk menemui Julian tapi hanya sebentar saja." ucap Alessandro,
Farissa tersenyum lebar ketika mendengar penuturan dari Daddy nya. "Benarkah, Dad! Oh, syukurlah... tidak masalah walaupun hanya sebentar yang penting aku bisa menemuinya." sahut Farissa.
Beberapa Perawat membantu mendorong tempat tidur Farissa dan membawanya ke ruangan Julian dirawat. Ge pun turut serta dengan membawa serta cucunya.
Setibanya disana, Farissa tidak mampu membendung air matanya. Ia terisak ketika menyaksikan suaminya terbaring lemah dan tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Julian sayang..." lirih Farissa.
Perawat mendekatkan tempat tidur Farissa dan Julian hingga Farissa bisa meraih tangan Julian yang terasa dingin kemudian menggenggam nya dengan erat.
"Sayang, bangunlah... Bayi kita sudah lahir. Bayi kita laki-laki, Sayang! Dia sangat mirip denganmu, matanya, hidungnya dan rambutnya. Bangunlah, Julian sayang! Bukankah kamu sudah berjanji padaku, akan selalu bersamaku...." ucap Farissa disela isak tangisnya.
Ge bahkan tidak mampu menahan air matanya ketika ia harus menyaksikan kisah mengharukan anaknya. Dan mungkin bayi mungil itupun merasakan kisah sedih kedua orangtuanya. Ia menangis dengan keras diruangan itu.
Ge mencoba menenangkan cucunya dengan berbagai cara namun bukannya mereda, tangis si kecil itu semakin keras saja. Ge ingin segera membawa bayi itu keluar dari ruangan Julian namun tiba-tiba Farissa menahannya.
"Jangan, Mah! Tetaplah disini," ucap Farissa
Ge menghentikan langkahnya kemudian menoleh kepada Farissa. Farissa yang tadinya menangis tersedu, sekarang menghentikan tangisnya sambil terus memperhatikan wajah suaminya yang masih terlihat pucat dengan mata terpejam.
"Ada apa, Sayang?!" tanya Ge seraya menghampiri tempat tidur Farissa.
Beberapa Perawat yang tadinya membantu mendorong tempat tidur Farissa segera berdatangan karena mendengar tangisan bayi Farissa yang begitu nyaring. Mereka ingin memerintahkan Ge untuk segera membawa bayi itu keluar agar tidak mengganggu pasien. Namun, lagi-lagi Farissa menolaknya.
"Jangan, Suster! Biarkan bayiku menangis disini! Tadi aku sempat merasakan Julian menggerakkan jari-jarinya ketika mendengar suara tangisan bayiku." ucap Farissa sambil meremas-remas tangan Julian yang masih ia genggam.
"Benarkah?!" tanya Ge, sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya mencoba menenangkan bayi Farissa yang masih menangis.
"Ya, Mah! Aku merasakannya!" sahut Farissa yakin.
Tiba-tiba sebuah keajaiban terjadi diruangan itu. Apa yang dikatakan oleh Farissa benar-benar terjadi. Julian menggerakkan jari-jarinya. Kemudian tidak berselang lama, ia mulai menyebutkan nama Farissa walaupun masih terdengar sangat berat.
"Fa-Farissa..." ucap Julian yang masih belum bisa membuka matanya.
"Julian!" teriak Farissa, "Julian, ini aku! Bangunlah... lihat bayi kita sudah lahir, Sayang! Ku mohon bangunlah..." sahut Farissa dengan airmata yang kembali membanjiri pipinya.
Melihat pergerakan Julian, salah satu Perawat segera memanggil Dokter untuk segera memeriksa keadaan Julian.
...Bersambung......
__ADS_1