
POV AUTHOR
Tidak berselang lama, Dokter pribadi Julian pun tiba di tempat Gym tersebut. Dokter bergegas memeriksa keadaan Farissa yang masih tidak sadarkan diri. Sedangkan Julian masih terlihat cemas, mencemaskan keadaan Farissa.
"Bagaimana, Dok?!" tanya Julian,
Dokter itu menautkan kedua alisnya setelah memeriksa keadaan Farissa. Ia menatap Julian lekat dengan kepala yang terus berpikir.
"Julian, kemarilah. Aku ingin bicara berdua denganmu." ucap Dokter seraya mengajak Julian keluar dari ruangan itu.
Julian pun mengangguk pelan dan mengikuti Dokter yang menuntun langkahnya keluar dari ruangan pribadi Bian. Kini tinggal Bian yang masih menjaga Farissa didalam ruangannya.
"Julian, bolehkah aku bertanya sesuatu yang bersifat pribadi kepadamu?" tanya Dokter itu.
Julian menatap wajah Dokter yang sepertinya sedang kebingungan. Julian mengangguk pelan kemudian berucap,
"Tanyakan saja, Dok." sahut Julian.
Dokter itu bingung bagaimana menanyakan hal yang ingin ia tanyakan kepada Julian tetapi tanpa membuat Julian merasa tersinggung.
Dokter itu menghembuskan nafas dalam, "Apakah kamu dan Farissa pernah berhubungan?" tanya Dokter
Julian tersipu malu ketika mendengar pertanyaan Dokter. Pipinya yang mulus terlihat merah merona.
"Melakukan hal itu kan, Dok?" tanya Julian malu-malu.
Dokter pun mengangguk pelan, "Ya, itu..." sahut Dokter.
"Hehe iya, Dok. Kami pernah melakukannya." ujar Julian sambil menggaruk tengkuknya karena malu.
"Huft!" Dokter itu menghela nafas lega kemudian tersenyum lebar sambil menepuk pundak Julian.
"Syukurlah! Aku hampir saja ketakutan." ucap Dokter itu sambil tergelak.
Julian kebingungan melihat Dokter yang tiba-tiba saja tergelak. Disaat istrinya sedang terbaring lemah, Dokter itu malah terlihat bahagia. Apalagi Dokter itu malah bertanya hal yang aneh itu kepadanya.
"Sebenarnya ada apa sih, Dok?" tanya Julian keheranan.
Dokter itu kembali tersenyum hangat sambil menepuk pundak Julian dengan lembut. "Selamat Julian, sebentar lagi kamu akan jadi seorang Ayah." sahut Dokter.
__ADS_1
Mata Julian membulat sempurna, mulutnya menganga karena saking terkejutnya mendengar penuturan dari Dokter.
"A-ayah?!" tanya Julian terbata-bata.
"Ya, Julian. Farissa hamil dan sebentar lagi kalian akan menjadi Ayah dan Ibu." sahut Dokter itu lagi.
Ekspresi wajah Julian terlihat aneh. Entah dia bahagia atau malah sebaliknya. Dokter pun sempat memperhatikan wajah Julian yang seperti orang bodoh.
"Kenapa, Julian? Apa kamu tidak menginginkan hal ini?" tanya Dokter.
"Bukan begitu, Dokter. Aku senang, bahkan sangat senang. Tapi aku masih tidak percaya, apakah ini nyata atau aku sedang bermimpi." sahut Julian.
Dokter kembali tersenyum kemudian mencubit perut Julian dengan keras. "Bagaimana, sakit tidak?!"
"Aww! Iya, Dok. Sakit!" pekik Julian.
"Sakit bukan, nah berarti kamu tidak sedang bermimpi. Ini nyata dan kamu akan menjadi seorang Ayah!" ucap Dokter.
Dokter kembali menuntun Julian masuk kedalam ruangan pribadi Bian. Dan ternyata Bian masih setia menunggu Farissa.
"Bagaimana keadaan Farissa, Dok?!" tanya Bian penasaran.
"Farissa baik-baik saja. Dia hanya kelelahan dan berita baiknya, Farissa positif hamil." sahut Dokter.
Bian tersenyum lebar ketika mendengar berita baik itu. "Wah, Om Alessandro dan Tante Ge akan segera menjadi Kakek dan Nenek. Mereka pasti sangat bahagia mendengar kabar gembira ini." ucap Bian.
Julian hanya bisa nyengir sambil menatap wajah Farissa yang masih tak sadarkan diri. Julian menghampirinya dan duduk disamping Farissa sambil mengelus puncak kepalanya dengan lembut.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu. Oh ya, Julian jangan lupa untuk memeriksakan kehamilannya ke Dokter spesialis kandungan, ya! Biar kalian mendapatkan informasi lebih jelas seputar kehamilan dan perkembangan janin." ucap Dokter itu sambil menepuk pundak Julian.
"Baik, Dokter. Terimakasih." sahut Julian.
Setelah kepergian Dokter itu, kini tinggal Bian dan Julian yang masih setia menemani Farissa.
"Bian, maukah kamu membantuku?" tanya Julian tanpa menoleh sedikitpun kepada Bian. Matanya hanya fokus kepada Farissa dan terus membelai puncak kepala istrinya.
"Tentu saja, katakanlah apa yang bisa aku bantu." sahut Bian.
Julian membalikkan badannya dan sekarang ia duduk berhadapan dengan Bian. "Bantu aku berubah, Bian. Aku tidak ingin terus seperti ini, apalagi sekarang aku akan menjadi seorang Ayah. Aku malu jika nanti anakku tahu kalau Ayahnya hanyalah seorang banci kaleng." ucap Julian yang tak sanggup membendung air matanya.
__ADS_1
Beruntung Bian sudah mengerti dengan keadaan Julian. Farissa pernah bercerita tentang Julian dan keinginannya untuk mengubah suami kemayu nya menjadi suami yang sesungguhnya.
"Tentu saja, Julian. Dengan senang hati, aku pasti akan membantu mu. Tapi jika kamu benar-benar ingin berubah, tanamkan semua itu dari dalam hatimu. Karena yang mampu merubah dirimu hanyalah dirimu sendiri. Sedangkan aku dan Farissa hanya berperan pendukung mu saja." sahut Bian
Julian menganggukkan kepalanya dengan perlahan. "Ya, Bian. Aku ingin berubah demi Farissa dan calon anak-anakku nanti." ucap Julian seraya menyeka air matanya.
Bian kembali tersenyum dan tepat disaat itu Farissa mulai sadarkan diri.
POV FARISSA
Aku mulai tersadar dan dengan perlahan ku buka mataku. Kulihat Julian dengan mata sembab menatapku sambil tersenyum hangat. Begitupula Bian, lelaki itupun tersenyum padaku.
"Farissa..." ucap Julian sambil mengelus puncak kepalaku.
Kulihat ada kebahagiaan di raut wajah Julian saat ini. Dan aku tidak tahu kebahagiaan apa yang sedang ia dapatkan.
"Sepertinya kami baru saja habis menangis, Julian? Ada apa?!" tanyaku keheranan.
Perlahan aku bangkit dan duduk bersandar di sandaran sofa dengan dibantu Julian.
"Farissa, aku punya berita bahagia untuk kita!" seru Julian dengan mata berkaca-kaca.
Begitulah suami kemayu ku ini, hatinya tidak berbeda jauh dari seseorang wanita. Sedikit-sedikit, dia mewek.
"Berita apa?" tanyaku
Julian menggenggam tanganku dan melabuhkan sebuah ciuman disana. Kemudian tangannya kini tertuju kearah perutku dan mengelusnya dengan lembut.
"Farissa, kita akan menjadi Mommy dan Daddy! Kamu hamil, Farissa!" seru Julian kemudian meraih tubuhku dan memeluk ku dengan erat.
"Apa?!" pekik ku,
Aku masih tidak percaya dengan apa yang Julian katakan padaku. Aku bingung harus bahagia atau harus bersedih. Bahagia, karena aku akan memiliki seorang bayi mungil yang akan melengkapi kehidupan ku. Dan bersedih karena saat ini Julian belum juga berubah. Apa yang akan dikatakan oleh anakku nanti, jika ia tahu bahwa Ayahnya adalah seorang lelaki kemayu?!
"Apa kamu tidak senang mendengar berita ini, Farissa?" tanya Julian balik.
"Ah, bukan begitu Julian. Sebenarnya aku bahagia, aku hanya terkejut saja." kilah ku.
Julian kembali tersenyum hangat seraya memeluk tubuhku dengan erat. "Terimakasih, Farissa! Aku sangat bahagia karena akhirnya apa dikatakan oleh August tidak jadi kenyataan. Ternyata aku masih bisa menjadi sosok Ayah." ucap Julian lagi.
__ADS_1
...***...