
"Nur, tolong jaga Fariz dan Farissa, ya! Aku janji, aku tidak akan lama-lama. Setelah menjenguknya, aku akan segera pulang." ucap ku pada Nur,
Nur pun mengangguk pelan. Aku tahu sebenarnya Nur masih ketakutan akibat kejadian tadi siang. Tapi harus bagaimana lagi, aku tidak mungkin membawa Fariz dan Farissa kerumah sakit malam-malam begini.
Akhirnya dengan berat hati, kutinggalkan Nur bersama kedua anakku. Setelah berpamitan kepada Nur, akupun segera menuju halaman depan toko. Aku mencari-cari tumpangan yang bisa membawaku kerumah sakit.
Hampir limabelas menit aku berdiri, akhirnya sebuah Motor Sport berwarna hitam berhenti tepat dihadapan ku.
Aku bingung, mobil siapakah ini? Perasaan aku belum pernah melihat mobil ini sebelumnya. Aku masih memperhatikan mobil itu hingga akhirnya sang empunya mobil pun keluar.
Ia tersenyum padaku seraya menghampiri ku. Setelah mengetahui siapa empunya mobil, akupun membalas senyuman nya.
"Mau menemani ku jalan-jalan malam ini?!" tanya Fikri,
"Ehm... maaf, Fikri! Aku tidak bisa. Aku harus segera kerumah sakit. Seseorang sedang dirawat disana dan aku ingin menjenguknya."
"Benarkah? Mari aku antar!" ucap Fikri seraya membukakan pintu mobilnya untukku.
"Kamu serius, Fikri?!"
Fikri mengangguk pelan sambil tersenyum padaku. Aku merasa sangat senang, akhirnya aku mendapat tumpangan dan gratis pula. Aku segera menghampiri Fikri yang masih setia berdiri disamping mobilnya sambil memegang gagang pintu mobil.
"Terimakasih banyak, Fikri!" ucap ku seraya masuk kedalam mobilnya.
"Sama-sama, apapun kulakukan untukmu..." sahut Fikri sambil menutup pintu mobilnya.
Kemudian Fikri masuk dan duduk dibelakang kemudi seraya melemparkan senyuman manisnya kepadaku.
"Ehm, Fikri. Soal cek yang kamu tinggalkan diatas meja kasier, aku ingin mengembalikannya padamu..."
Fikri menoleh sebentar kemudian ia kembali fokus pada mobilnya lagi.
"Jika kamu mengembalikannya, aku pastikan hari ini, hari terakhir kita bertemu!" ancam Fikri.
Aku menoleh ke arahnya, "Tapi, Fikri..."
"Tidak ada tapi-tapian! Terima, atau kita tidak akan pernah bertemu lagi!"
Aku hanya bisa menghela nafas berat, "Ya, sudah... terimakasih banyak, Fikri."
Akhirnya Lelaki itu tertawa pelan sambil menepuk pundak ku pelan, "Nah, begitu donk!"
Di perjalanan, Fikri bercerita tentang kehidupannya. Sejak ia memulai peruntungannya di dunia bisnis yang sedang digelutinya, hingga usahanya berhasil seperti sekarang.
__ADS_1
Ia juga bilang, usahanya itu murni dari hasil kerja kerasnya tanpa melibatkan orangtuanya sedikitpun. Jujur aku sangat kagum akan sosoknya. Selain supel, Fikri memang laki-laki yang baik.
Setibanya dirumah sakit, akupun bergegas menuju ruangan dimana Fania sudah menunggu ku. Fikri pun masih setia menemani ku bahkan hingga memasuki ruangan itu.
Setelah melihat kedatangan ku, Fania segera menghampiriku dengan mata sembab.
"Dimana dia?" tanyaku,
Fania pun segera menuntun ku menemui sosok yang sedang tergolek lemah ditempat tidur pasien. Aku menghela nafas berat seraya menghampirinya.
"EL!"
Perlahan EL membuka matanya dan menoleh kepadaku. EL meneteskan air matanya kemudian perlahan mengulurkan tangannya kepadaku.
Aku menyambutnya seraya duduk disampingnya. EL tersenyum kecut sambil meneteskan airmata.
"Maafkan aku, Ge! Selama ini aku tidak jujur padamu dan sekarang aku sudah mendapatkan ganjaran nya. Karena terus membohongi mu dan mengkhianati pernikahan kita."
Aku terdiam. Aku tahu dia sudah membohongi ku dan akupun sudah menerima semuanya dengan ikhlas.
"Sudahlah, EL. Aku sudah memaafkan mu walaupun kau tidak mengucapkannya padaku. Dan akupun sudah mengikhlaskan semuanya..."
EL kembali terisak sambil menggenggam tanganku erat. "Aku sangat menyesal, Ge!"
Tiba-tiba Fikri menghampiri ku dan berdiri tepat dibelakang ku. Sebelumnya, aku sempat melihat lelaki itu berbincang-bincang bersama Fania diluar ruangan.
EL menatap heran pada sosok Fikri. Namun tidak Fikri, dia mungkin sudah tahu siapa EL sebenarnya.
"Fikri... ini EL, mantan suamiku. Dan EL, ini Fikri..."
"Calon?!" potong EL,
"Ya!" sahut Fikri,
EL tersenyum kecut sambil menyambut uluran tangan Fikri.
Astaga, kedua lelaki itu bicara apa?! Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain membiarkan mereka dengan pikiran mereka masing-masing.
"Bagaimana ini bisa terjadi, EL?" tanyaku,
EL menghela nafas berat, "Aku dan Bella berniat mengajak Arini jalan-jalan kemarin sore, namun ditengah perjalanan sebuah Truck pengangkut alat berat oleng dan menabrak mobil yang aku kemudikan." ucap EL.
"Lalu bagaimana keadaan Bella sekarang, juga Arini?!" potong ku,
__ADS_1
Aku terkejut bukan main. Aku tidak menyangka ternyata Bella serta Arini juga ikut dalam kecelakaan yang menimpa EL.
Saat Fania menghubungi ku, ia hanya menyebut nama EL tanpa menyebut nama Bella ataupun Arini.
"Kata Dokter, Bella kehilangan bayinya dan rahimnya diangkat karena saat kecelakaan itu tubuh Bella terhempas keluar dari mobil dan perutnya membentur jalan. Hingga mengakibatkan rahimnya rusak parah dan mau tidak mau, Dokter harus mengangkat rahimnya."
(Ish, ish, ish... kejamnya Author...)
"Lalu bagaimana keadaan Arini?"
"Arini baik-baik saja. Dia hanya mengalami luka ringan." sambung Fania yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
"Apa kau ingin menjenguk mereka, Ge?" tanya Fania.
"Ya, aku ingin menjenguk mereka." sahut ku.
Setelah berpamitan sama EL, Fania segera mengantarkan aku ke ruangan Bella dan Arini. Kini diruangan itu hanya tinggal EL dan Fikri. Entah pembicaraan seperti apa yang akan mereka bahas dan aku harap Fikri tidak akan bicara yang aneh-aneh kepada EL.
Sesampainya diruangan Bella,
Ternyata Bella masih terisak ditempat tidurnya sambil terus mengelus perutnya.
"Bella..."
Perlahan aku mendekatinya dan duduk disampingnya. Sedangkan Fania memilih untuk menunggu ku diluar.
"Ge! Kau lihat aku? Nasib ku begitu menyedihkan, aku kehilangan bayiku dan sekarang rahimku pun diangkat. Aku tidak akan bisa memberikan adik lagi untuk Arini..." ucap Bella sambil terisak.
"Yang sabar ya, Bella... Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang melebihi batas kemampuan umatnya. Dan aku yakin, akan ada pelangi setelah hujan."
Aku genggam tangannya sambil ku elus dengan lembut.
Perlahan Bella mulai bisa tersenyum padaku. "Terimakasih, Ge. Sudah bersedia menjenguk kami. Dan aku juga ingin minta maaf padamu. Karena selama ini, aku dan EL begitu sudah tega bermain dibelakang mu dan..."
"Shttt! Sudahlah, jangan pernah bahas masalah itu lagi. Itu adalah masa lalu dan aku tidak ingin mengingatnya lagi. Dan aku sudah memaafkan kalian walaupun kalian tidak memintanya." ucap ku.
Bella menundukkan kepalanya sambil menyeka air matanya. "Terimakasih banyak, Ge!"
Tidak berselang lama, Fania masuk dan mengajakku untuk menemui si kecil Arini di ruangannya.
Arini tersenyum manis ketika melihatku mendekatinya. "Tante Ge..." ucapnya,
Segera ku peluk dan ku kecup puncak kepalanya. Entah mengapa aku juga menyayangi Arini walaupun ia bukan siapa-siapa ku.
__ADS_1
***