Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Julian Vs Leo


__ADS_3

POV AUTHOR


"Sayang, aku pamit dulu ya!" ucap Julian seraya mengecup kening Farissa yang sedang selonjoran diatas tempat tidur mereka.


Ya, kini Julian dan Farissa tidur bersama. Karena Julian ingin menjaga Farissa yang sering mual tanpa mengenal waktu. Bahkan kadang mual itu menyerangnya pada saat tengah malam, disaat dia sedang asik terlelap. Dan disitulah peran Julian, menemani Farissa sambil memijit punggung istrinya itu.


"Ehmmm..." Farissa menekuk wajahnya. Sebenarnya saat ini Farissa ingin Julian menemaninya. Tapi saat ini sang Suami ingin segera ke butik miliknya, ada customer nya yang ingin bertemu langsung dengannya.


"Oh Ayolah, Farissa sayang! Aku cuma sebentar saja. Setelah selesai bertemu dengan Consumer ku, aku akan segera pulang dan menemani mu seperti biasanya." ucap Julian lagi.


"Baiklah, tapi janji ya! Cepat pulang." sahut Farissa sambil menggenggam tangan Julian yang masih berdiri disampingnya.


"Iya, iya. Aku berjanji! Tapi lepaskan dulu tanganku. Bagaimana caranya aku bisa pergi kalau tanganku masih saja kamu genggam?!" ucap Julian sambil memperhatikan tangannya yang masih digenggam erat oleh Farissa.


Farissa terkekeh pelan, kemudian melepaskan tangan Julian. Julian pun segera beranjak dan pergi melangkah keluar dari kamar mereka.


Perlahan namun pasti, Julian sudah mulai mengubah kebiasaan anehnya. Jika biasanya ia suka mengenakan kemeja dengan corak yang menunjukkan sisi gemulainya, kini Julian lebih senang mengenakan kemeja yang cenderung menampakkan jiwa laki-lakinya.


Dan berkat latihan kerasnya, tubuh Julian sudah mulai berisi dan otot lengan maupun perutnya sudah mulai terbentuk. Bukan hanya latihan pembentukan otot, Julian juga rajin ikut latihan karate dan sudah mulai menguasai berbagai gerakan walaupun belum sepenuhnya.


Kini Julian melajukan mobilnya menuju butik miliknya. Ketika di perjalanan, Julian tersenyum sendiri tatkala ia teringat akan pertemuan pertamanya bersama Farissa. Farissa yang hampir saja menabraknya ketika ia bergegas menuju butiknya.


Setelah beberapa saat, mobil yang dikemudikan oleh Julian pun terparkir rapi ditempat parkirnya. Julian bergegas memasuki Butik nya dan seketika seluruh pasang mata tertuju padanya. Banyak karyawannya yang berdecak kagum lantaran perubahan Julian yang begitu jelas terlihat.


Mereka yang dulunya memandang Julian dengan sebelah mata, kini malah terpesona dengan aura ketampanan yang dimilikinya.

__ADS_1


"Selamat pagi, Tuan Julian." ucap Assisten nya.


"Pagi! Bagaimana janji hari ini, Customer nya jadi datang kan?!" tanya Julian.


"Ya, Tuan. Baru saja saya chat dan dia bilang, dia masih di jalan." sahut Assisten nya.


"Baguslah kalau begitu." ucap Julian seraya berlalu menuju ruang pribadinya.


Setibanya diruangan pribadinya, Julian segera menuju kursi kerjanya dan duduk disana. Selang beberapa saat, tiba-tiba saja pintu ruangannya dibuka oleh seseorang. Julian membulatkan matanya ketika mengetahui siapa yang sedang memasuki ruangannya.


"Julian, apa kabar?" sapa Lelaki itu sambil menyeringai.


Siapa lagi kalau bukan Leo. Lelaki itu gencar ingin menghubungi serta menemui Julian yang kini selalu menghindar darinya.


"Sekarang kamu mau apa lagi, Leo? Bukankah sudah ku bilang kita tidak punya urusan apapun lagi. Lagipula aku bukanlah Mrs. Julia mu lagi. Aku Julian, hanya Julian." tutur Julian sambil menatap Leo yang kini duduk di kursi depan mejanya.


"Julian... Julian! Memangnya semudah itukah kamu bisa menghindar dariku?! Aku akan terus mengganggu hidup mu sebelum kamu melakukan apa yang ku perintahkan! Kamu akan selalu menjadi Mrs. Julia ku, Julian!"


Julian hampir saja tidak percaya dan ternyata Farissa benar. Leo adalah lelaki jahat yang begitu terobsesi mengubah jati dirinya menjadi sosok Julia. Dan tujuan utama ia melakukan itu hanyalah mengincar harta miliknya.


"Katakan saja, Leo. Sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku? Dan berapa yang harus aku bayar agar kamu berhenti mengejar ku dan membiarkan aku dan Farissa hidup tenang." sahut Julian, dia tetap tenang walaupun Leo bersikap kurang mengenakkan kepadanya.


Leo meradang, ia menarik kakinya yang berada diatas meja Julian kemudian bangkit dan menghampiri lelaki kemayu itu.


"Dengar ya, Julian! Jangan main-main kepadaku! Aku bisa saja menghancurkan hidup mu jika aku mau! Tapi karena aku sedang berbaik hati, maka aku mengampuni mu dan lakukanlah apa yang aku perintahkan kepadamu!" ucap Leo dengan wajah memerah, mencengkeram kerah kemeja yang Julian kenakan.

__ADS_1


Julian tersenyum tipis kemudian menepis tangan Leo dengan kasar. "Aku tidak menyangka ternyata selama ini kebaikan mu hanya kedok semata. Kamu sengaja memanfaatkan kondisiku untuk meraup keuntungan pribadi. Aku sudah tahu siapa dan apa mau mu sebenarnya, Leo. Jadi menjauhlah dari hidup ku dan anggap saja kita tidak pernah saling mengenal. Dan jika yang kamu inginkan adalah biaya untuk pernikahan mu dengan kekasih mu, maka aku akan memberikannya. Aku akan menanggung seluruh biaya pernikahan mu bahkan jika perlu aku akan memberikan paket Honeymoon padamu, tinggal sebutkan saja, kamu ingin Honeymoon ke negara mana?!" sahut Julian.


Bukannya senang mendengar jawaban dari Julian. Leo malah semakin meradang. Ia yakin ini semua karena Farissa yang mempengaruhi Julian. Dan kebenciannya terhadap wanita itu semakin menjadi saja.


"Ini semua gara-gara Farissa, bukan? Kamu berubah karena Wanita sialan itu sudah berhasil mempengaruhi mu! teriak Leo.


"Jangan pernah bawa-bawa Farissa di permasalahan kita, Leo! Dia tidak ada sangkut pautnya dengan semua yang terjadi pada kita!" Akhirnya Julian pun naik pitam. Ia tidak rela jika Farissa ikut diseret-seret dalam permasalahan pribadi mereka.


"Ingat Julian, aku akan hancurkan wanita itu. Sehancur-hancurnya, sampai wanita itu tidak bersisa." ucap Leo sambil menyeringai kepada Julian yang kini ikut terpancing emosi.


Julian bangkit dan menyerang Leo. Terjadilah perkelahian sengit diruangan itu. Beberapa karyawan yang mengetahui kejadian itu segera melapor ke keamanan yang menjaga butik milik Julian.


Walaupun tubuh Julian belum sebesar tubuh Leo, dia tidak takut menyerang lelaki itu. Dan Begitupula Leo, iapun tak canggung-canggung membalas serangan dari Julian.


Hingga akhirnya para Keamanan tiba dan melerai perkelahian mereka. Hidung Julian masih mengeluarkan darah segar dengan wajah babak belur, begitupula Leo. Di sudut bibirnya terlihat membiru dan darah segar pun masih mengalir disana.


"Cuih! Ingat Julian, kamu akan menyesal karena telah melakukan ini kepadaku!" umpat Leo sebelum ia diseret dari ruangan Julian.


Julian diam dan tidak membalas umpatan Leo. Ia kembali duduk di kursi kerjanya sambil bersandar. Sedangkan beberapa karyawannya mulai merapikan kembali barang-barang Julian yang berserak akibat perkelahian mereka.


"Anda tidak apa-apa, Tuan?!" tanya Assisten Julian.


"Aku baik-baik saja. Oh ya, sebaiknya batalkan saja pertemuan ku dengan Consumer itu. Tidak mungkin aku menemuinya dengan keadaan yang seperti ini." ucap Julian sambil menyeka darah segar yang keluar dari hidungnya dengan tissue.


"Baik, Tuan." sahut Assisten nya.

__ADS_1


...^^^***^^^...


__ADS_2