Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
First Kiss


__ADS_3

Aku kembali ke kamar ku sambil menahan malu. Setibanya dikamar, aku segera mandi dan bersiap-siap pergi ke toko kue. Rencananya aku ingin kembali bekerja hari ini.


Setelah selesai bersiap-siap, aku segera menuju ruang makan. Namun ketika aku melangkah menuju ke ruangan itu, aku melihat sebuah mobil sedang terparkir halaman depan. Aku tahu pemilik mobil itu adalah Leo.


Aku bergegas menaiki anak tangga menuju kamar Julian. Aku yakin sekali Leo tengah berada dikamar Julian. Dan benar saja, Leo tengah duduk di tepi tempat tidur Julian sambil merayu lelaki itu. Aku kesal dan emosi ku kembali memuncak ketika melihat lelaki itu kembali merayu Julian.


"Mau apa lagi kamu kesini?" ucap ku kesal,


Julian dan Leo serempak melihat kearah ku. Raut wajah Leo mendadak berubah ketika melihat aku menghampiri mereka.


"Farissa, Leo hanya menjenguk ku." sahut Julian, mencoba menenangkan aku.


Aku tersenyum sinis, namun mataku masih menohok kearah Leo. Leo pun membalas tatapan ku, sepertinya kali ini ia sangat marah padaku.


"Sebaiknya aku pulang saja, Julian. Oh ya, jangan lupa transfer ya..." ucapnya seraya bangkit dari duduknya kemudian melangkah dengan santai nya keluar dari kamar Julian.


Aku membulatkan mataku dan kini mataku tertuju kepada lelaki gemulai disamping ku. Julian nampak serba salah ketika aku menatapnya seperti itu.


"Transfer? Apa lagi yang ia minta padamu, Julian?" ucap ku kesal.


"Bukan apa-apa, Farissa." sahut Julian sambil membuang pandangannya.


Aku duduk disamping nya dan menatapnya lekat. Julian tetap membuang pandangannya, ia tidak mau membalas tatapan ku sama sekali. Aku meraih wajahnya dan akhirnya kamipun saling tatap.


"Julian, dengar kan aku. Leo hanya memanfaatkan dirimu. Dia menginginkan sesuatu dari mu dan jika keinginannya sudah ia dapatkan maka ia akan mencampakkan dirimu. Percayalah kepadaku!" ucap ku mencoba meyakinkan lelaki kemayu itu.


Raut wajah Julian berubah menjadi sendu. "Tapi selama ini hanya dia yang mengerti aku, Farissa. Dia selalu ada disaat aku membutuhkannya." sahut Julian.


"Tapi ia punya niat terselubung, Julian. Leo menginginkan harta mu saja!"


Aku mencoba meyakinkannya namun lelaki kemayu itu sepertinya tidak mempercayai kata-kataku. Dia tersenyum tipis padaku seraya menyentuh pipiku dengan lembut.


"Cobalah untuk berpikir positif kepada Leo. Dia tidak seperti yang kamu pikirkan, Farissa!"

__ADS_1


Aarrghhh!!! Hih, aku kesal! Bagaimana caranya meyakinkan Julian kalau Leo itu memang tidak setulus yang ia pikirkan. Tapi rasanya percuma karena Leo sudah berhasil mencuri hati Julian sepenuhnya.


"Ya Sudahlah, Kalau kamu tidak percaya!"


Aku melangkahkan kakiku keluar dari kamar Julian dan sebelum aku meraih gagang pintu kamarnya, Julian kembali memanggil ku.


"Ehm, Farissa! Apa kamu menemani ku jalan-jalan hari ini?" tanya Julian


Aku berbalik kemudian menatap lelaki yang masih bersandar di sandaran tempat tidurnya. Dia tersenyum hangat padaku tapi aku masih kesal dan tidak ingin membalas senyuman nya.


"Kemana?"


"Kemana saja, selama kamu mau ikut bersamaku..." ucapnya, senyuman Julian terlihat semakin manis saja.


"Baiklah!" sahut ku,


"Tunggulah di ruang utama, nanti aku akan segera menyusul mu."


Aku kembali meneruskan langkah ku kemudian melangkah menuju ruang utama. Aku duduk disana sambil menunggu Julian bersiap-siap. Tidak berselang lama, Julian datang dan menghampiri ku.


"Ayo, Farissa!"


Julian meraih tanganku dan membawaku menuju mobilnya yang terparkir di halaman depan. Aku masih terbengong saat ia menarik tanganku. Terbengong karena ketampanan lelaki kemayu itu.


"Apa kamu ingin menyetir nya sendiri?" tanyaku,


Karena selama aku bersamanya, aku tidak pernah melihat dia membawa mobilnya sendiri.


"Ya, apa kamu tidak yakin jika aku yang menyetir?" sahut Julian sambil tersenyum manis kepadaku.


Julian pun segera melajukan mobilnya. Aku tidak tahu dia akan membawaku kemana, lagipula ini bukanlah jalan-jalan romantis seperti pasangan-pasangan lain. Ini hanya jalan-jalan biasa, sama seperti aku sedang jalan bersama Fiona.


Disepanjang perjalanan, otakku terus memikirkan bagaimana caranya membuat hubungan ku dengan lelaki kemayu ini mengalami kemajuan.

__ADS_1


Aku juga sempat terpikirkan hal yang tidak senonoh, seperti mengajaknya tidur. Haha, aku tidak yakin dia setuju. Lagipula aku juga sedikit jijik kalau aku ingat bagaimana hubungannya dengan Leo. Jangan-jangan mereka pernah melakukan itu?!


"Julian, apa kamu dan Leo pernah melakukan hal itu?"


Oupss! Tiba-tiba saja bibir ku mengucapkan kata-kata itu tanpa ku sadari!


"Hah? Melakukan apa?!" tanya Julian,


Julian menginjak rem secara mendadak ketika mendengar pertanyaanku. Beruntung saat itu kondisi jalanan sedang sepi. Aku menoleh kepadanya dan melihat raut wajahnya saat ini. Dia sepertinya sangat terkejut ketika mendengar pertanyaanku.


"Maaf ya, Farissa! Aku memang lelaki aneh tapi aku masih punya harga diri! Aku bahkan tidak pernah berpikir untuk melakukan hal menjijikkan seperti itu!"


Julian marah padaku. Dengan emosi berapi-api, ia mengatakan hal itu. Hah, biarlah dia marah, yang penting sekarang aku sudah bisa tenang. Ternyata suami kemayu ku ini masih suci!


Setelah puas memarahi ku, Julian kembali melajukan mobilnya dan ternyata ia mengajakku ke sebuah Taman.


Aku mengikuti langkah Julian menuju tempat duduk yang ada di taman itu. Untuk sesaat, tempat terasa itu hening. Baik aku maupun Julian tidak ada yang memulai pembicaraan kami.


Hingga akhirnya aku memberanikan diri menggenggam tangan Julian yang berada tepat disamping tanganku. Julian kaget dan ia ingin menarik kembali tangannya, namun ku tahan.


Julian menatapku, ia terlihat salah tingkah saat itu. Aku membalas tatapan nya dan entah aku terlalu berani atau karena aku sudah bosan dengan hubungan kami yang tidak ada perubahan sama sekali, aku memberanikan diriku melabuhkan sebuah kecupan hangat di bibirnya.


Untuk sesaat, aku terlena dengan ciuman yang kulakukan. Julian mematung namun ia tidak menolak dengan apa yang aku lakukan kepadanya. Dan ketika ciuman ku selesai, aku rasa Julian sempat membalas ciuman ku.


Setelah selesai dengan ciuman ku, aku menatapnya sambil tersenyum. Sedangkan Julian masih tertegun, mungkin ia terkejut karena mendapatkan ciuman mendadak dariku.


"Apa yang kamu lakukan, Farissa?" tanya Julian,


"Kenapa? Apa kamu tidak menyukainya?" tanyaku balik,


Akhirnya lelaki kemayu itu menampakkan sebuah senyuman tipis di wajahnya. "Kau benar-benar nekat, Farissa." sahutnya,


"Tidak masalah, kan? Bukankah kamu itu suamiku. Bahkan aku punya hak yang belum kamu berikan kepadaku!" sahut ku

__ADS_1


Seketika Julian terdiam, ia mencoba mengalihkan pandangannya kearah lain. Aku sempat terkekeh, apa aku harus berbuat lebih nekat lagi untuk membuat lelaki kemayu ini kembali ke kodratnya sebagai seorang laki-laki?


...***...


__ADS_2