Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
S2. Pertemuan


__ADS_3

Setelah seharian berkutat di Toko kue, akupun melajukan mobil ku kembali ke rumah. Dan aku kembali mendengarkan musik favorit ku disepanjang perjalanan ku.


Tapi kali ini aku lebih berhati-hati dalam melajukan mobil ku. Takut kejadian tadi pagi terulang lagi. Dan akhirnya mobil ku pun tiba di halaman rumahku.


Aku segera memarkirkan mobil ku dengan benar, sebab jika Daddy melihat mobil anak-anaknya terparkir dengan sembarang, maka bersiaplah mendapatkan omelan dari Daddy.


Selesai memarkirkan mobil ku, akupun segera memasuki rumah. Saat melewati ruang utama, aku melihat Mama tengah berberes diruangan itu bersama Bibi.


"Hai, Sayang... sudah pulang?!" sapa Mama,


Akupun menghampiri Mama sambil tersenyum kepadanya, "Ya, Mah. Ngomong-ngomong ada acara apa nih? Tumben Mama berberes-beres rumah di jam-jam seperti ini?!" tanyaku keheranan.


Mama membalas senyuman ku sambil menatap wajahku lekat. "Apa kamu lupa, Sayang? Bukankah malam ini Tuan Joseph dan Anaknya Julian akan bertamu malam ini?" ucap Mama.


Aku membulatkan mataku, aku sangat terkejut mendengar penuturan Mama. Aku benar-benar melupakan apa yang diucapkan Daddy tadi pagi kepadaku.


"Astaga, Mah! Aku lupa!" seru ku,


Mama tersenyum lagi kemudian menyentuh wajahku sambil mengelusnya, "Segera bersiap!" ucap Mama.


Akupun mengangguk kemudian segera bergegas menuju kamarku. Setibanya didalam kamar, aku segera mandi dan memilih pakaian. Tiba-tiba Mama mengetuk pintu disaat aku masih bingung harus mengenakan pakaian apa untuk malam ini.


"Farissa, boleh Mama masuk?" ucap Mama,


"Ya, Mah! Masuk saja!" sahut ku.


Mama pun membuka pintu dan masuk kedalam kamarku sembari tersenyum. Ia menghampiri ku dan membantu ku memilihkan pakaian yang harus aku kenakan malam ini.


"Pakai ini saja, kamu pasti akan semakin cantik." ucap Mama seraya menyerahkan sebuah dress simple berwarna merah jambu.


Akupun menyambutnya kemudian mengenakannya dan dibantu oleh Mama.


"Mah, memangnya Mama setuju jika aku dijodohkan dengan lelaki yang bernama Julian itu?" tanyaku seraya berpaling kepada Mama yang sedang menaikkan retsleting dress ku dibelakang.

__ADS_1


Mama tersenyum hangat kepadaku, "Semua keputusan ada ditangan mu, Farissa. Mama akan mendukung semua keputusan mu walaupun kamu menolaknya." sahut Mama.


Tiba-tiba Fiona muncul dari balik pintu, "Mah, Kak! Ayo cepat... mereka sudah datang!" seru Fiona dengan semangat yang menggebu-gebu seolah-olah dia yang akan dijodohkan sama lelaki yang bernama Julian itu.


Mama kembali menatapku, "Semangat, ya!"


Aku terkekeh ketika Mama mengucapkan kata itu untukku. Aku dan Mama segera menuju ruang utama sambil bergandeng tangan. Sedangkan Fiona sudah berjalan didepan kami.


Beberapa kali Mama memperhatikan ekspresi wajahku padahal aku biasa-biasa saja. Aku bahkan tidak gugup sama sekali.


Setibanya diruangan itu, ternyata benar. Mereka sudah berkumpul disana. Daddy dan Tuan Joseph sudah duduk di sofa sambil menunggu kedatangan kami.


Dan kini mataku tertuju pada sosok lelaki yang tengah duduk disamping Tuan Joseph. Begitupula lelaki itu, matanya kini tertuju kepadaku dan akhirnya kami saling tatap kemudian sama-sama membelalakan mata kami.


"Kamu?!" seru ku dan lelaki itu secara bersamaan.


Semua orang diruangan itu segera menoleh kearah ku dan lelaki itu. Daddy dan Tuan Joseph saling melempar senyum. Dan Mama segera mengajakku bergabung bersama para lelaki itu.


Daddy duduk bersama Mama sedangkan aku duduk bersama Fiona. Entah mengapa si Bungsu itu ikutan nimbrung bersama kami.


Aku memperhatikan wajah lelaki menyebalkan dihadapan ku, begitupula dirinya. Dia juga membalas tatapan ku dengan wajah masam. Mungkin sama halnya diriku, dia pun sebenarnya tidak pernah menyukai ku.


"Ya, Tuan Alessandro! Kami sudah saling kenal. Benarkan, Farissa?!" ucap Julian sambil menyeringai kepadaku.


Aku hanya bisa menyunggingkan sebuah senyuman aneh kepada Daddy yang terus menatap wajahku.


Setelah cukup lama berbasa-basi dengan berbagai macam cerita tentang kehidupan Julian, akhirnya pertanyaan paling mendebarkan itupun terucap dari bibir Tuan Joseph.


"Bagaimana, Nak Farissa? Apa kamu setuju menjadi pasangan hidup Julian Alexander, anak pertama ku?" tanya Tuan Joseph sambil tersenyum hangat kepadaku.


Deg-deg-deg!!!


Irama jantungku berpacu dengan sangat cepat. Bahkan aku gemetar dan aku mencoba menyembunyikan kegugupan ku dengan tersenyum seperti orang bodoh. Padahal saat ini tanganku saja terus mengeluarkan keringat dingin.

__ADS_1


Aku mencoba mengedarkan pandangan ku kepada keseluruh orang yang berada diruangan itu. Mama, Daddy, Tuan Joseph, Julian kemudian Fiona yang menempel di tubuhku seperti perangko.


Semua pasang Mata kini hanya tertuju kepadaku, seolah meminta jawaban dariku secepatnya. Kulihat dimata Tuan Joseph, ia begitu mengharapkan kata Ya dariku.


"Jawab Ya, Kakak!" seru Fiona setengah berbisik kepadaku. "Apa Kakak tidak lihat? Tuan Julian itu setampan Lee Min Ho!" sambungnya,


Aku segera menoleh kearah adikku yang gila Drakor itu sambil melotot tajam. "Bisa diam tidak sih?! Masa depan ku sedang dipertaruhkan!" sahut ku.


"Bagaimana, Farissa?!" tanya Daddy, karena sejak tadi aku tidak juga menjawab pertanyaan Tuan Joseph.


"Ya!" teriak ku tiba-tiba,


Semua orang menghela nafas lega. Nampak senyuman menghiasi wajah semua orang. Daddy, Mama, Tuan Joseph dan juga Julian.


Kenapa tiba-tiba saja aku berkata Ya? Itu karena adik konyol ku mencubit pinggul ku dengan sangat keras hingga akhirnya kata-kata itu keluar begitu saja dari bibir ku.


Astaga! Aku ingin menarik kata-kata tadi, boleh? Sepertinya tidak mungkin, aku tidak berani membuat hati mereka kecewa.


"Awas kamu, Fiona!" bisik ku, geram.


Fiona malah terkekeh ketika aku memasang wajah marah kepadanya. "Nanti juga kamu akan berterimakasih padaku, Kak!" sahutnya


"Jika kamu menyukai Julian, kenapa tidak kamu saja yang menikah dengannya?!" ucap ku, masih setengah berbisik. Padahal saat ini kedua orangtuaku dan Tuan Joseph sedang merundingkan tanggal pernikahan ku dengan Julian.


"Aku sih oke-oke saja, Kakak. Tapi Tuan Julian nya hanya maunya sama Kakak, gimana donk?!" sahut Fiona sambil cengengesan.


"Baiklah, semua sudah diputuskan. Dan kalian tenang saja, kami yang akan mengurus segalanya. Kalian hanya perlu mempersiapkan diri kalian saja. Terutama untukmu, Nak!" ucap Tuan Joseph sambil tersenyum hangat kepadaku.


Eh, apa? Kapan? Astaga... Ini semua gara-gara adikku ini. Aku bahkan tidak mendengar hadil keputusannya. Sekarang mataku tertuju kepada Julian, lelaki itu menyunggingkan sebuah senyuman tipis kepadaku.


Jujur, aku akui. Dia memang tampan, seperti yang Fiona katakan. Wajahnya memang ala-ala aktor drakor dan penampilannya benar-benar modis. Dan semoga saja sifatnya manis sama seperti wajahnya.


Tak berselang lama, Tuan Joseph dan Julian pun pamit. Julian begitu sopan terhadap kedua orangtua ku juga kepada kedua saudaraku. Dia juga sempat pamit padaku walaupun ku rasa tatapan nya sangat dingin terhadap ku.

__ADS_1


***


__ADS_2