Because One Night

Because One Night
Hamil???


__ADS_3

Hari berlalu seperti biasanya. Aira yang tidak peduli dengan keadaan dan Bella yang mulai terbiasa dengan pekerjaan rumah. Hanya Dito yang berubah, dia nampak seperti pengantin baru.


"Non Bella, jangan kecapean Non. Istirahat saja" Bi Sumi melihat Bella dengan tatapan khawatir. Wajahnya kini sangat pucat.


"Tidak Bi, Aku baik-baik saja"


"Tapi wajah Non Bella terlihat sangat pucat. Non Bella harus istirahat. Biarkan Bibi yang menyiapkan makan malam"


"Aku hanya merasa aroma makanan hari ini cukup menyengat"


"Itu karena Non Bella kurang istirahat, Non Bella bekerja setiap hari. Mulai dari membersihkan kamar, membersihkan pakaian Tuan hingga menyiapkannya untuk bekerja, ditambah Non Bella sibuk memasak makanan" Bi Sumi bagaikan seorang Ibu yang mengomel kepada anaknya.


Bella hanya tersenyum "Baik Bi, Aku duduk sebentar ya"


"Apa benar Kamu melakukan itu semua?" Dito nampak menghampiri ruang makan.


Bi Sumi nampak terkejut, dia hanya menundukkan kepalanya.


Bella pun tidak kalah terkejut, dia hanya menundukkan kepalanya.


"Aku menyukai pakaian ku yang rapi dan aroma yang berbeda, Aku menyukai makanan ku yang Kamu hidangkan setiap hari. Tapi Kamu tidak perlu bekerja seperti itu. Kamu bisa meminta Bi Sumi untuk membantu mu"


Bella merasa kepalanya sangat pusing, dia tidak fokus dengan apa yang dibicarakan oleh Dito. Dalam hitungan detik, Bella telah kehilangan kesadarannya.


Dito nampak sangat panik, "Bella, bangunlah. Bella. Maafkan Aku, Aku tidak bermaksud memarahi mu" Dito mengangkat tubuh Bella dan membawanya ke dalam mobil.


Aira nampak baru memasuki gerbang rumah, dia melihat mobil Dito pergi meninggalkan halaman rumah.


"Ada apa Bi? Kenapa Dito pergi?"


"Emm anu Non Aira. Non Bella pingsan, Tuan Dito membawanya ke ruamh sakit"


"Ck hanya pingsan dan harus ke rumah sakit? Biarkan saja, dia akan bangun dengan sendirinya" Aira pergi menuju kamarnya.


"Oh ya Bi, jangan ada yang mengganggu ku. Aku sudah makan malam bersama teman-teman ku"


"Baik Non"


Di rumah sakit nampak Dito tengah menggendong tubuh Bella.


"Dokterrr, tolong bantu istri ku"


"Tuan, Kami membawakan blankar ini, Anda bisa menyimpan istri Anda di atasnya"


Dito mengabaikan perkataan perawat tersebut dan pergi menuju IGD.


"Istri Anda kenapa Tuan?" Seorang dokter menghampiri Dito dan memeriksa Bella.


"Dia pingsan"


Dokter tersebut tersenyum "Saya tau istri Anda pingsan, tapi apa yang terjadi sebelumnya? Apa sebelumnya dia pernah pingsan seperti ini?"


Dito nampak bingung, Dito benar-benar tidak mengetahui bagaimana Bella sebelumnya.


"Saya minta istri Saya diperiksa secara keseluruhan, bisa saja dia mempunyai riwayat penyakit yang Saya tidak tahu. Tolong periksa seluruhnya"


Dokter muda tersebut tersenyum "Baik Tuan, tetapi alangkah baiknya Kita menunggu pasien bangun terlebih dahulu untuk mengetahui riwayatnya" Dokter tersebut memasang selang infus di lengan Bella.


"Lalu pemeriksaannya? Saya akan membayar berapa pun itu"


"Maaf Tuan, Kita tidak bisa melakukan tindakan seperti itu dan sepertinya istri Anda hanya kelelahan, mungkin makannya tidak teratur sehingga membuatnya pingsan seperti ini"


Dito mengingat kembali pembicaraan Bi Sumi sebelum Bella pingsan.

__ADS_1


"Lalu bagaimana?" Dito nampak ketakutan.


"Maaf Tuan, sudah berapa lama Anda menikah?"


Dito mengingat kembali kejadian malam itu, "Empat... Empat bulan"


"Kalau begitu tolong Anda tunggu di luar dan Saya akan melakukan pemeriksaan"


Dito mengikuti perkataan dokter tersebut walaupun perasaannya nampak tidak karuan.


Dito nampak cemas selama Bella berada di dalam ruangan.


Beberapa kali Dito melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Tuan..." nampak Oro menghampiri Dito.


"Bella pingsan, bagaimana ini?"


"Tenanglah Tuan, Non Bella akan baik-baik saja"


Dito menatap Oro dengan tatapan tajamnya "Bagaimana Kamu mengatakan seperti itu padahal Kita tidak tau apa yang terjadi padanya"


"Maaf Tuan" Oro menundukkan kepalanya.


"Tuan Aldito" terdengar nama Dito dipanggil oleh bagian resepsionis. Dengan sigap Oro menghampirinya.


Pintu ruang pemeriksaan terbuka, Dito segera menghampiri dokter yang menangani Bella.


"Bagaimana dok?"


"Selamat Tuan, Anda akan segera mempunyai seorang bayi"


"Bayi? Bayi dari siapa?" Dito nampak kebingungan.


Dito membelalakkan matanya tidak percaya "Benarkah? Bella benar-benar hamil?"


"Benar Tuan, Saya harap Kalian bisa menjaga kandungannya. Jangan sampai Istri Anda kelelahan dan mengalami pingsan lagi. Saya akan memindahkan istri Anda ke ruang rawat, tolong selesaikan administrasinya terlebih dahulu"


"Dimana Bella? Aku akan menemuinya"


Setelah berada di ruang rawat, Dito dengan sabar menjaga Bella. Bella nampak membuka matanya.


"Dimana ini? Kenapa Aku di sini?"


"Kamu sedang di rumah sakit Sayang, Kamu harus banyak istirahat" Dito mengusap kepala Bella.


"Tidak, Aku tidak perlu dirawat seperti ini" Bella nampak keberatan.


Dito menahan lengan Bella "Heii, tenanglah. Kamu perlu istirahat"


"Tapi..."


"Demi anak Kita"


Bella membelalakkan matanya "A...Anak?"


"Iya, demi anak Kita, dia ada di dalam perut mu" Dito mengusap bagian perut Bella.


"Tidak, tidak mungkin. Bagaimana mungkin ini terjadi?" Bella nampak menangis. Dito merasa heran dengan reaksi Bella, Dito pikir Bella akan sangat bahagia.


"Kenapa tidak mungkin? Kita melakukannya hampir setiap malam, sangat wajar kalau..."


"Non Aira? Bagaimana dengan perasaannya? Dia pasti akan sangat sakit jika mengetahui Aku hamil" Bella masih menangis.

__ADS_1


"Aira?" Dito seakan baru menyadari keberadaan Aira.


"Aku pasti akan menyakiti perasaannya, bagaimana ini?"


"Aku akan menyelesaikannya" Dito menggenggam tangan Bella.


"Menyelesaikan?"


"Aku akan mengakhiri hubungan ku dengannya"


Bella segera menggelengkan kepalanya "Tidak, jangan lakukan itu. Itu akan semakin menyakitinya. Aku mohon jangan lakukan itu demi Aku. Bukan hanya Nona Aira yang tersakiti, tapi Aku dan bayi ini" Bella menggenggam bagian perutnya.


Dito nampak prustasi "Aku harus bagaimana? Kenapa ini terjadi kepada ku"


Oro yang mendengar teriakan dan tangisan segera menghampiri Mereka berdua.


"Maaf Tuan..."


"Bella hamil dan dia tidak ingin Aku meninggalkan Aira"


Oro nampak kebingungan.


Dito kembali menghampiri Bella dan mencoba menenangkannya. "Tenanglah, tenangkan dirimu. Semua akan baik-baik saja. Aku mohon, jaga anak Kita"


"Seharusnya Aku tidak hadir di antara Kalian, Aku benar-benar menyesali ini" Bella terus saja menangis.


"Aku minta maaf, tapi Aku akan bertanggung jawab dengan apa yang Aku lakukan, jadi tolong jangan berkata seperti itu" Dito memeluk tubuh Bella.


Waktu berlalu dan Bella dibolehkan untuk kembali ke rumah. Aira masih belum mengetahui kehamilan Bella.


"Sepertinya Tuan Putri selesai berlibur" Aira mencibir Bella saat Bella kembali ke kediaman Mereka.


Dito nampak kesal, namun Bella menahannya. Bella menggelengkan kepalanya.


"Istirahatlah" Dito meminta Bi Sumi untuk mengantarkan Bella ke dalam kamarnya.


"Jangan berani menyakiti Bella"


"What? Kenapa? Memang apa yang Kamu harapkan darinya Mas?" Aira nampak kesal.


"Aku mencintainya" Dito meninggalkan Aira sendiri di pintu depan.


Aira nampak membelalakkan matanya. Air matanya mengalir begitu saja, tubuhnya nampak sulit untuk digerakan.


Tubuhnya terjatuh di atas lantai, air mata terus saja mengalir di pipinya.


"Dito, mencintainya?"


Oro yang melihat dari jauh nampak sangat prihatin melihat keadaan Aira.


"Cara Anda mencintai Tuan Dito sangat salah Nona" Oro bergumam dalam hati.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...Yeeeyy akhirnya Bella hamil......


...Tapi gimana dengan Aira? 🥺🥺...


...Ya ampuuun Aku aja sedih nulisnyaa 🥺🥺🥺...

__ADS_1


__ADS_2