
Pagi hari Bella membuka matanya, namun dia sangat terkejut saat mendapati dirinya tengah tidur di atas kasur.
Dicarinya Dito, ternyata Dito masih terlelap di atas sofa. Bella menyibakkan selimut yang dipakainya, ternyata pakaiannya masih lengkap. Bella merasa sangat lega.
"Kenapa Aku di atas kasur? Bukankah semalam..." Bella mengingat kembali bagaimana dia melihat Dito tertidur di atas kasur dengan lelap kemudian dia pun tidur di atas sofa.
"Apa semalam Aku bermimpi dan naik ke atas kasur?" Bella menutup mulutnya "Tidak, tidak mungkin. Bagaimana kalau kebiasaan lamaku timbul kembali"
Bella memang mempunyai kebiasaan berjalan sambil tertidur.
Bella bergegas menuju kamar mandi. Bella masih berpikir apa yang terjadi padanya tadi malam. "Jika memang Aku tertidur sambil berjalan bagaimana? Aku sangat malu"
Hampir satu jam Bella berada di kamar mandi. Bella lupa membawa pakaian karena kebiasaannya saat di desa.
"Aduh kenapa Aku tidak membawa baju ganti? Apa Tuan Dito masih disana?"
Bella mengintip ke arah sofa, tidak ada siapapun disana.
"Sepertinya Tuan Dito sudah keluar" Dengan santainya Bella keluar dengan handuk yang hanya menutupi bagian dada hingga paha nya.
Namun betapa terkejutnya, Dito tengah duduk di atas kasur.
"Aaarrrggghhhh..." Bella berteriak, tubuhnya melompat dan hampir terjatuh. Dito menangkap tubuh Bella.
"Te...Terimakasih Tuan. Maaf, Saya kira Anda sudah keluar" Bella segera berdiri.
Namun hal memalukan bagi Bella tidak berhenti sampai disana. Handuk yang digunakan Bella terbuka dan menampakkan bagian tubuhnya.
Bella membelalakkan matanya kemudian meraih handuk tersebut.
"Jangan lihaaaatttt" Bella berteriak.
Dito tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya.
"Kenapa Anda masih disini? Seharusnya Anda sudah keluar sejak tadi" Bella nampak mengomel.
"Ini rumah ku, Aku bisa tinggal dimana pun sesuka hati ku. Dan kenapa Kamu berteriak seperti itu? Aku sudah melihat semuanya sebelumnya"
Bella menutup mulutnya "Ya ampun Tuan, apa Anda tidak malu mengatakan itu di depan ku? Lagian bukankah saat itu Anda sedang mabuk?"
"Malu? Apa Kamu merasa malu juga saat mengatakan itu di kantor polisi? Dan satu lagi, Aku mabuk. Bukan gila. Jadi Aku bisa mengingat semuanya"
"A...Apa? Lalu kenapa Anda melakukan itu?"
"Aku mengingatnya, hanya sulit mengendalikannya. Lagi pula bukan kah Kamu juga melakukannya sebagai dasar pengabdian istri terhadap suami?" Dito mendekati Bella.
Bella mundur sedikit demi sedikit. "Ta...Tapi Tuan, Anda memaksa Saya saat itu"
"Lalu?" Dito semakin mendekati Bella saat tubuh Bella kini merada di balik lemari.
"Ba...Baiklah, Saya yang salah Tuan" Bella menundukkan kepalanya, dia benar-benar takut saat Dito semakin mendekatinya.
"Ada satu hal yang ingin Aku tanyakan. Apa malam itu pertama kalinya..."
Bella nampak salah tingkah. "Te...Tentu saja, Saya perempuan baik-baik. Saya berjanji akan menjaganya hingga Saya menikah..." Bella menatap Dito.
__ADS_1
"Dengan orang yang Saya cintai" Bella menundukkan kepalanya. Dito melihat ada kesedihan dalam mata Bella.
Dito menarik tubuhnya dan pergi meninggalkan Bella.
Aira hendak keluar kamar saat Dito keluar dari kamar Bella.
"Mas? Dari kamar Bella? Sudah ngapain?" Aira nampak marah dan hendak memasuki kamar Bella.
Dito mengingat Bella yang baru saja selesai mandi. Aira akan sangat marah jika melihat keadaan Bella saat ini.
Dito menahan Aira "Tidak apa-apa, ayo pergi sarapan"
"Tapi Aku ingin menemui perempuan itu dulu" Aira sedikit memaksa.
Bella keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi. "Ada apa Nona? Apa Anda mencari Saya?"
"Iya, Aku ingin menemui mu. Apa yang dilakukan suami ku di dalam? Sejak kapan dia berada di sana? Jangan bilang kalau Kalian semalam tidur bersama"
"Apa? Saya tidak tau kalau Tuan Dito memasuki kamar Saya. Mungkin Tuan Dito masuk saat Saya sedang di kamar mandi Nona"
"Benar, Aku barusan mencari mu. Memastikan Kamu tidak kabur lagi. Tapi Aku mendengar suara air dari dalam kamar mandi, maka dari itu Aku kembali"
Aira menatap Bella dan Dito secara bergantian. "Aku tidak akan memaafkan Kalian jika Kalian membohongi ku"
Aira berjalan menuju dapur. Bella menatap Dito kemudian segera berbalik badan dan menutup pintu.
Dito dengan santainya segera menuju kamar dan membersihkan dirinya.
Di meja makan nampak Aira sedang makan sendirian sesaat sebelum Dito menghampirinya.
"Aku tidak mau mood makan ku rusak gara-gara melihat gadis kampung itu"
Bella nampak tengah berdiri di dekat tangga mendengar ucapan Aira dan segera berbalik arah. Dito melihat Bella kembali menuju kamarnya.
"Aku akan pergi ke kantor duluan ya Mas. Jangan lupa Kita ada meeting siang ini"
Dito tidak menjawab perkataan Aira, dia merasa muak saat Aira semakin gila kerja. Padahal sebelum pernikahan terjadi, Aira berjanji akan melepaskan pekerjaannya sedikit demi sedikit. Namun Aira melupakan janjinya.
Aira pergi menuju kantor. Dito melihat ke arah kamar Bella. Namun Bella masih belum keluar kamar.
Dito membawa beberapa makanan dan mengetuk pintu kamar. Tanpa menunggu jawaban, Dito memasuki kamar Bella.
"Makanlah..." Dito meletakkan makanan di atas meja.
Bella melihat ke arah Dito dengan berbagai pertanyaan "Kenapa dia melakukan ini?" Batin Bella bertanya-tanya.
"Makanlah. Jangan berpikiran macam-macam, Aku hanya tidak ingin berhutang budi padamu"
"Hu...Hutang budi?" Bella nampak kebingungan.
"Malam tadi Kamu membawakan makanan untuk ku. Jadi Kita impas"
Bella membelalakkan matanya "Tidak Tuan, tidak seperti itu. Saya tidak berpikir..."
"Ssstt, sudahlah makan saja makanan ini dan..."
__ADS_1
Bella menatap Dito dengan penuh tanya "Dan apa Tuan?"
"Terimakasih sudah tidak melaporkan kejadian pagi ini kepada Aira"
"Ten...Tentu saja Tuan, mana mungkin Saya menceritakan kepada Non Aira. Non Aira akan sangat sedih dan patah hati. Saya tidak bisa membiarkan itu terjadi. Saya sudah membuatnya sedih dan patah hati sebelumnya. Saya tidak boleh mengulangi kesalahan itu lagi" Bella menundukkan kepalanya.
Dito pergi meninggalkan Bella tanpa sepatah katapun.
"Gadis desa" Dito bergumam di dalam kamarnya.
Dito bergegas menuju kantor sebelum meeting benar-benar dimulai. Dito memang orang yang cenderung tepat waktu, hanya saja Aira selalu membuatnya merasa terlambat.
"Mas? Baru datang? Aku kira Kamu sudah di ruangan mu" Aira menghampiri Dito di saat Dito hendak menaiki lift.
Dito mengabaikan Aira dan segera memasuki lift, namun Aira segera mengikutinya "Mas... Aku tanya. Kenapa Kamu datang terlambat seperti ini?"
Dito melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya "Ini pukul delapan. Sejak kapan Aku memberlakukan jam kerja sebelum pukul depalan"
"Tapi Kamu pimpinan Mas, Kamu harus menunjukkan sikap positif. Kalau Kamu datang pukul delapan, karyawan mu datang pukul berapa?" Aira terus saja mengomel.
"Urus saja urusan mu sendiri" Dito keluar dari lift dan diikuti oleh Aira
Ponsel Dito tiba-tiba berdering menunjukkan panggilan masuk.
"Ada apa?"
Oro yang berada di seberang telpon nampak panik "Tuan... Tuan Hendra baru saja meninggal"
"Apa?"
"Saya baru saja mendapat kabar dari salah satu orang Kita"
Dito segera berbalik arah "Kemana Mas? Kenapa Kamu kembali lagi?"
Dito membalikkan badannya "Urus pekerjaan kantor hari ini. Jangan lupa pimpin rapat dengan baik"
"Ta...Tapi ada apa Mas?"
Dito pergi tanpa berkata apapun.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Haii Zheyeeenk... Maaf baru Up......
...Ada kerjaan mendesak di real life Ku......
...Oh ya ada sedikit (agak banyak) revisi di Bab 1, jangan lupa mampir dulu ke Bab 1 yaa....
...Yang belum like dan klik tanda favorite, jangan lupa klik sekarang....
...Aku tunggu dukungan Kalian... Yuukk komen yuuukkkk 🥰🥰...
__ADS_1