Because One Night

Because One Night
Kondisi Aira


__ADS_3

Seluruh penghuni rumah belakang tampak panik.


"Cepat panggilkan ambulance!"


"Beri tahu Bi Sumi"


Seorang pelayan menghubungi Bi Sumi.


"Hallo"


"Bi Sumi, Nona Aira..."


"Kenapa Nona Aira?" Bi Sumi mulai panik.


"Nona Aira tidak sadarkan diri"


"Bawa Nona Aira ke rumah sakit. Aku akan menghubungi Tuan Dito"


Bi Sumi mencoba menghubungi Dito, namun ponselnya tidak aktif.


"Bagaimana ini?" Bi Sumi bergegas menuju rumah sakit.


"Bella. Bella pasti sedang bersama Tuan Muda"


Bi Sumi mencoba menghubungi Bella.


"Hallo Bi, ada apa?"


"Emm Bella. Apa Tuan Dito ada?"


"Ada, dia sedang bersama Alexi. Oh iya Kami baru saja sampai, maaf Kami belum mengabari"


"Syukurlah, tapi bolehkan Bibi bicara dengan Tuan Dito. Ini penting"


Bella tampak bingung, apa yang penting hingga Bi Sumi ingin bicara langsing dengan Dito.


"Baiklah, tunggu sebentar" Bella menghampiri Dito di kamar Alexi.


"Panggil Papa kembali. Paaaa Paaaa" Dito sedang mengajarkan memanggilnya kepada Alexi.


Alexi tertawa dan menyentuh wajah Dito, "Paaa Paaa"


"Hebat, jagoan Papa" Dito menggelitiki tubuh mungil Alexi.


"Emm Sayang, Bi Sumi menelpon. Dia ingin bicara dengan mu"


"Bi Sumi?" Dito meraih ponsel yang diberikan Bella.


"Hallo Bi, ada apa?"


"Maaf Tuan. Anuu..."


"Kenapa?"


"Nona Aira, kembali tidak sadarkan diri"


Dito tampak terkejut "Bawa dia ke rumah sakit Bi. Aku akan segera menemuinya. Tolong jaga Aira ya Bi"

__ADS_1


"Sudah Tuan, Nona Aira sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Bibi akan menjaganya Tuan"


Bella tampak bingung "Rumah sakit? Aira? Ada apa? Kenapa Non Aira?"


"Sejak kejadian hari itu. Aira sering tidak sadarkan diri"


Bella tampak terkejut "Apaa sudah diperiksakan? Aku kira Non Aira baik-baik saja"


"Aira selalu meyakinkan ku kalau dia baik-baik saja. Tapi akhir-akhir ini Aira jadi lebih sering tidak sadarkan diri"


"Kalau begitu cepat temui Non Aira, kasian dia"


"Emm... Apa Kamu tidak apa-apa..."


"Tidak, Kami akan baik-baik saja. Pergilah sekarang, jika sudah sampai kabari Aku"


"Baiklah Sayang, Aku pergi dulu ya" Dito mengecup kening Bella.


Dito menghampiri Alexi dan mengecup kedua pipinya "Jaga Mama ya Boy"


"Mamamamama..."


"Iya, jaga Mama"


Alexi tersenyum senang.


Dito pergi menuju rumah sakit.


Di rumah sakit, Aira sedang ditangani oleh beberapa dokter.


"Bagaimana keadaannya?" Dito tiba di rumah sakit.


"Semoga dia baik-baik saja"


Beberapa saat kemudian seorang dokter menghampiri Dito.


"Maaf Tuan, Anda..."


"Saya suaminya"


"Bisa Kita bicara di ruangan?"


Dito menganggukkan kepalanya dan mengikuti dokter yang diketahui bernama John tersebut.


"Maaf Tuan..."


"Dito" Dito memperkenalkan dirinya.


"Baik Tuan Dito. Saya ingin membicarakan mengenai kondisi pasien Saya bernama Aira. Sudah beberapa bulan terakhir Aira mulai menemui Saya dan berkonsultasi"


Dito terlihat bingung "Maaf Dok, maksud Anda?"


"Iya, Aira berkonsultasi kepada Saya masalah kondisinya. Aira meminta Saya merahasiakannya dari Anda, tapi Saya tidak bisa lagi"


Dito masih terlihat bingung.


"Aira mengidap kanker pada rahim nya. Saya tidak tau penyebabnya, tapi dia sudah mengidap kanker stadium empat"

__ADS_1


"Apa? Bagaimana mungkin?" Dito terlihat sangat panik. "Aira terlihat baik-baik saja sebelumnya. Penyakit ini tidak mungkin menyerangnya begitu saja kan? Pasti ada gejala sebelumnya. Anda pasti salah"


"Tenang dulu Tuan Dito. Tentu saja ini tidak terjadi begitu saja. Sepertinya Aira tidak terlalu memperhatikan kesehatannya. Bisa jadi dia dulu sangat sibuk sehingga lupa dengan keadaanya, lupa dengan makannya atau mungkin dia bisa mengkonsumi apapun asal perutnya terisi, mungkin. Tapi yang pasti, penyakit itu sudah bersarang dalam tubuhnya"


Air mata Dito menggenang di pelupuk matanya "Dasar gila kerja, sampai-sampai dia tidak tau apa yang menimpa dirinya. Aku sudah mengatakannya berkali-kali untuk tinggal di rumah, jangan memikirkan pekerjaan. Sekarang apa yang harus Aku lakukan?"


"Tidak ada. Hanya saja saran ku, tolong bahagiakan masa-masa terakhirnya"


"Aira akan baik-baik saja" Dito tampak emosi.


"Anda bisa meluapkan emosi Anda jika Anda mau. Tapi bayangkan posisi Aira, apa yang bisa dia lakukan? Emosi? Apa itu akan meringankan bebannya?" Dokter John menggelengkan kepalanya.


"Apa yang harus Aku lakukan?" Dito mulai menangis. "Aku terlalu menyakitinya"


"Minta maaf lah, buat dia bahagia. Biarkan dia bahagia"


Aira sudah tiba di ruang rawat. Dia sudah mulai sadarkan diri.


"Kenapa? Kenapa Aku di sini?" Aira melihat sekitar dan mendapati tangannya terpasang jarum infus.


"Kamu harus istirahat, istirahatlah" Dito mencoba menenangkan.


"Istirahat? Kita bisa melakukannya di rumah Mas. Tidak perlu seperti ini. Ayo Kita pulang, Kamu pasti lelah setelah pulang bekerja" Aira menggenggam tangan Dito.


Dito tampak menangis "Maafkan Aku Aira, maafkan Aku"


"Kenapa minta maaf? Kamu tidak bersalah, ayo Kita pulang Hon"


"Aku mohon, tenanglah" Dito memeluk tubuh Aira. Aira menangis dalam pelukan Dito.


"Tidak ada gunanya Aku di sini, Aku ingin pulang Hon. Aku ingin menghabiskan sisa hidup ku bersama mu, di rumah Kita"


Dito menggelengkan kepalanya "Semua akan baik-baik saja. Semua akan baik-baik saja"


Aira masih saja menangis namun dia mulai tenang.


"Semua akan baik-baik saja"


Aira menganggukkan kepalanya. "Tetaplah di sini bersama ku"


Dito diam sejenak, "Tentu, tentu saja"


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...Huft Aira nya sakiiit.......


Oh ya teman-teman, jangan lupa dukung karya ku.


👍🏻 Like


📝 Komentar


❤ Favorite

__ADS_1


dan Vote yaa 😁😁


Terima kasiiiih 🥰🥰


__ADS_2