Because One Night

Because One Night
Perasaan Dito


__ADS_3

Bi Sumi meminta pelayan yang lain untuk menjaga Alexi sacara bergantian.


"Mbak, anak siapa ini?"


"Ini cucu ku, cucu Siti di desa".


Dua orang pelayan yang sedang mengobrol bersama Bi Sumi saling pandang.


"Mirip Tuan Dito ya?".


"Iya benar" Mereka berbisik.


"Ssttt jangan bilang sembarangan. Nanti Tuan Muda dan Nona Aira marah loh. Sudah ya titip saja dulu, Aku mau beres-beres rumah utama" Bi Sumi pergi menuju rumah utama.


Bi Sumi segera pergi menuju rumah utama.


Beberapa menit kemudian Dito menghampiri rumah belakang. Para pelayan nampak terkejut.


"Dimana Bi Sumi?"


"Bi Sumi sedang di rumah utama Tuan." Seorang pelayan yang tengah menjaga Alexi menjawab.


"Papapapapa..." Alexi merentangkan tangannya.


Dito melihat ke arah suara, para pelayan tampak ketakutan. Mereka takut Dito marah karena Bi Sumi membawa seorang anak kecil saat bekerja.


Dito menghampiri Lexi dan meraih tangannya.


Lexi terlihat bahagia, dia tertawa dan menggenggam tangan Dito. "Papapapapa..."


"Mau ikut dengan ku?" Dito berjongkok di depan Lexi.


Lexi tertawa dan menyentuh wajah Dito.


Dito menggendong Lexi dan membawanya ke luar.


Para pelayan mulai bergosip.


"Lihatlah, Mereka terlihat mirip bukan? Kalau tidak tahu, orang akan mengira Mereka adalah ayah dan anak kandung".


"Benar, kenapa Mereka mirip sekali ya?"


"Itu biasa, Aku pernah melihat orang yang benar-benar mirip padahal tidak ada ikatan darah sama sekali. Bahkan Mereka berada di belahan dunia yang berbeda".


"Benar, Aku juga pernah dengar itu".


"Tapi, andai saja Nona Bella masih ada, mungkin anak Tuan Dito akan sebesar Lexi"


Semua orang terdiam mendengar perkataan itu.


"Jangan katakan itu lagi, jangan sebut nama Nona Bella di rumah ini atau Nona Aira akan marah kepada Kita"


"Iya benar, itu adalah nama terlarang di rumah ini"


Di taman, Dito sedang menggendong Lexi.


"Lihatlah, ada burung. Cantik bukan?"


"Buuung?"


"Iya burung".


Lexi tertawa senang saat melihat burung-burung hinggap di atas ranting pohon.


"Kamu tau tidak? Kamu mengingatkan ku pada seseorang" Dito duduk dan memangku Lexi di pangkuannya.


"Andai kecelakaan itu tidak terjadi, mungkin anak ku akan sebesar Kamu"


Lexi menatap Dito dan meraih wajahnya.

__ADS_1


Dito tersenyum "Aku tidak sedih, jangan khawatir".


Lexi kembali tertawa. "Buuuung..."


"Pintar sekali, benar itu burung"


Di tempat bekerja Bella merasa perasaannya sedang tidak baik-baik saja.


"Tapi pagi, Aku merasa sesak di dada. Aku terus memikirkan Lexi. Tapi sekarang, Aku merasa sangat bahagia, entah karena apa".


"Coba saja Kamu hubungi Lexi". Cindy dan Bella tengah duduk beristirahat.


"Aku tidak bisa menghubunginya, Aku menjual ponsel ku saat Aku pergi bekerja. Untuk modal pergi ke Kota".


"Pakai saja ponsel ku".


Bella tertawa "Aku tidak tau nomor Mereka. Nanti Aku akan meminta nomor Bi Siti dan menuliskannya".


"Oh ya apa Kamu masih tertarik bekerja di sana?" Cindy menunjuk R Bakery.


"Entahla, Aku tidak mempunyai modal untuk bekerja di sana. Bahkan sekolah menengah atas pun Aku tidak selesai. Karena masalah biaya".


"Benarkah? Aku pun sama. Tapi Aku baru selesai mengikuti paket C. Coba saja Bell, sepertinya Kamu akan berhasil"


Bella menarik nafas panjang. "Biayanya mahal Dy. Aku memilih menggunakan biaya itu untuk kebutuhan anak ku dari pada mengikuti paket C".


"Daftar beasiswa saja Bell, Kamu sepertinya pintar dan Aku yakin Kamu akan berhasil. Jika Kamu bisa menyelesaikan tes awal, Kamu akan gratis seratus persen mengikuti paket C".


"Benarkah ada seperti itu?" Bella tidak percaya.


"Kalau Kamu mau, Aku daftarkan Kamu sekarang ya. Kamu bawa kartu identitas mu kan?"


Bella menganggukkan kepalanya "Bawa, Aku ambil dulu ya di kamar ku"


Bella mencoba mendaftarkan diri melalui ponsel Cindy.


"Terima kasih ya Dy, Aku sangat bersyukur bisa mengenal mu. Kamu memberikan ku angin segar".


Cindy tertawa "Apaan sih Bell, Aku tidak melakukan apapun".


Di kediaman keluarga Pratama, Aira sedang mencari keberadaan Dito.


"Di sana Kamu rupanya Mas?"


"Kenapa honey?" Dito mengecup kening Aira.


"Bukan kah Kamu sedang tidak sehat, seharusnya Kamu istirahat Sayang" Aira menyentuh bagian dahi Dito.


"Aku baik-baik saja, Aku baru selesai olah raga dan..."


"Siapa dia?" Aira menatap Lexi.


"Aku lupa lagi namanya, dia cucu Bi Sumi"


"Bi Sumi? Bukankah Bi Sumi tidak mempunyai anak? Bahkan suaminya sudah lama meninggal".


"Maksud ku ini cucu Bi Siti, anak dari Bi Sumi".


"Oh begitu. Haii..." Aira melambaikan tangannya.


Lexi nampak ketakutan, dia memalingkan wajahnya dan memeluk Dito.


Aira tertawa "Lucu sekali sih Kamu. Siapa nama mu nak?"


Lexi masih memeluk Dito, Dito pun tertawa "Kenapa Kamu memelukku seperti ini?"


Aira ikut tertawa "Andai saja kecelakaan itu tidak terjadi, mungkin anakku akan sebesar dia".


Dito tiba-tiba terdiam. Aira menyadari hal itu kemudian mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Makan dulu yuk, Bi Sumi sudah selesai memasak".


"Iya yuk. Aku akan mengantarkan dia dulu ke rumah belakang"


Aira menganggukkan kepalanya.


Setelah Dito pergi, batin Aira bergumam "Apa ini hanya perasaan ku saja? Anak itu mirip sekali dengan Dito".


Sore hari tiba, Bi Sumi memutuskan untuk pulang dan membawa Lexi.


"Apa dia tidak rewel?"


"Tidak mbak, tadi dia anteng diajak main oleh Tuan Dito".


"Tuan Dito? Bagaimana bisa?"


"Tadi Tuan Dito kemari, kemudian dia pergi mengajak Lexi bermain di taman depan".


Mata Bi Sumi tampak berkaca-kaca. Perasaannya begitu bahagia.


Sepanjang perjalanan Bi Sumi mengucap syukur.


"Syukurlah nduk, Kamu bisa bertemu dengan Papa mu. Apa Kamu senang bisa bertemu dengannya?"


Lexi tertawa sangat bahagia.


"Kamu tadi dibawa main kemana? Kamu pasti bahagia ya?"


Lexi memeluk Bi Sumi seakan mengatakan terima kasih.


"Tapi Kamu jangan terlalu sering ikut ya. Orang-orang akan menyadari kalau Kamu anak dari Tuan Dito. Kalian terlihat mirip" Bi Sumi tersenyum.


"Papapapapa..."


"Iya dia Papa mu"


Lexi tertawa kembali hingga akhirnya di tertidur di pelukan Bi Sumi.


"Sampai kapan ini akan terjadi? Akankah Bella dan Tuan Dito dipertemukan kembali? Kasihan Kamu 'le" Bi Sumi mengusap kepala Lexi.


Malam hari Aira tengah tidur di pelukan Dito.


"Mas..."


"Ya?"


"Apa ini hanya perasaan ku?"


"Kenapa?" Dito nampak penasaran.


"Anak itu terlihat mirip dengan mu. Orang akan mengira kalau Kamu adalah ayah dari anak itu. Kamu tidak tidur dengan perempuan lain kan Mas?"


Dito tampak terkejut, "Tidak, Aku tidak tidur dengan perempuan lain".


Batin Dito bergumam. "Aku tidak tidur dengan perempuan lain, selain Bella. Apa mungkin Bella selamat dari kecelakaan itu?"


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...Tolong selamatkan Alexi dari kejahatan Aira 🥺🥺🥺...


...Ceritanya agak-agak mellow nggak sih? Ko Aku merasa mellow seperti ini 🥺🥺...


...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan love Kaliaan zheyenk kuuu 🥰🥰🥰...


...Kalo komentar dan like banyak, rasanya pengen double up. Kalo nggak, yaaaa segini aja dulu hihi...

__ADS_1


__ADS_2