
Pemakaman berjalan lancar, semua orang penghuni rumah belakang turut berduka. Mereka benar-benar kehilangan sosok Aira yang sudah berubah menjadi sangat baik.
Waktu terus berlalu, sudah tiga bulan kepergian Aira.
"Sayang, Aku ada pekerjaan. Sepertinya beberapa hari Aku tidak bisa pulang" Dito yang baru saja selesai dengan aktivitas malamnya memeluk tubuh Bella yang masih polos tanpa menggunakan apapun.
"Benarkah? Kalau begitu jaga dirimu baik-baik Sayang"
Dito mengusap wajah Bella "Kenapa Kamu tidak pindah ke rumah utama? Aku jadi mudah saat harus pulang pergi bekerja"
"Aku masih belum siap Sayang, Aku merasa tidak enak dengan Aira"
"Aira sudah tidak ada, akan lebih baik jika Kamu dan Alexi tinggal di sana"
"Aku... Aku hanya belum siap, Aku tidak ingin dikatakan memanfaatkan kepergian Aira dan menggantikan posisinya"
Dito tampak menarik nafas panjang "Bukan seperti itu Bella. Aira sudah meninggal, sudah sewajarnya Kamu pindah dan menempati rumah itu. Itu saja"
"Kamu tidak tahu posisi ku, istri kedua"
Dito mengerutkan keningnya "Bukankah semua orang di rumah itu sudah tahu?"
"Lalu bagaimana dengan tetangga, selama ini Kamu selalu menyembunyikan Aku. Bagaimana jika Mereka tahu kalau Aku menikah dengan mu sejak lama, rumor yang beredar pasti tidak akan baik. Istri kedua tidak pernah baik di mata orang"
"Semua rumor akan hilang begitu saja, jika Kamu terus bersembunyi seperti ini, justru itu yang akan menciptakan rumor negatif"
Bella menarik nafas panjang "Aku belum siap dengan semua prasangka-prasangka ini"
"Sampai kapan?"
Bella menggelengkan kepalanya.
Dito menarik nafas panjang, "Terserah Kamu, untuk satu minggu ke depan Aku tidak akan pulang. Ada proyek besar yang sedang Aku tangani" Dito bergegas menuju kamar mandi.
Bella hanya diam saja melihat tubuh Dito yang menghilang di balik pintu.
Hari berganti hari, Dito sudah tidak pulang dalam beberapa waktu.
"Sayang, bagaimana kabar Alexi?" Dito menelpon Bella.
"Alexi sesang asik bermain. Beberapa waktu lalu dia menanyakan keberadaan mu"
"Maaf Aku belum bisa pulang. Setiap hari Aku pulang malam"
"Tidak apa-apa, istirahatlah di sana"
__ADS_1
"Oh ya Sayang, selesai proyek ini Kami ada acara berlibur. Kamu ikut ya?"
Bella tampak terdiam "Tapi Sayang..."
"Tidak bisa? Kenapa? Tidak enak dengan Aira? Kamu kenapa sih Bell? Sebelum Aira meninggal, Kamu baik-baik saja. Lalu sekarang?" Dito tampak kesal.
"Bukan begitu, Aku hanya belum siap..."
"Belum siap? Sampai kapan? Kapan Kamu akan siap? Sampai kapan Aku harus menunggu mu?"
"Beri Aku waktu..."
"Tiga bulan. Tiga bulan Aku sudah memberi mu waktu" Dito mengakhiri panggilannya dan meminum air yang ada di atas mejanya.
Bella terdiam, "Kita harus bagaimana Alexi? Mungkin terlalu lama Kita bersembunyi sehingga berat untuk Mama jika harus mempublish semuanya. Kamu tumbuh semakin besar, Mama tidak mau orang-orang membicarakan hal negatif tentang mu, tentang Kita" Bella memeluk Alexi, air matanya mengalir begitu saja.
Di rumah utama Dito tampak uring-uringan. Dia membawa jaket dan kunci mobil kemudian pergi menggunakan mobilnya.
Bi Sumi tampak kahawatir, dia segera menelpon Bella. "Bella, apa yang terjadi?"
Bella menceritakan semuanya, Bi Sumi menarik nafas panjang.
"Ini bukan sepenuhnya salah mu, tapi bukan berarti Kamu tidak bersalah. Hadapi semuanya. Sampai kapan Kamu akan bersembunyi seperti ini?"
"Iya sampai kapan nduk? Bibi khawatir justru ini akan berpengaruh buruk untuk Kalian"
Bella membelalakkan matanya "Memangnya apa yang terjadi pada Dito?"
"Tuan Dito baru saja pergi membawa mobilnya dalam keadaan marah"
"Aku akan segera menghubunginya" Bella mengakhiri panggilannya dan segera memanggil nomor Dito.
"Angkatlah, Aku mohon"
Dito tidak menjawab sama sekali, akhirnya Bella memanggil Oro.
"Selamat malam Nona"
"Maaf Tuan, Saya mengganggu waktunya. Apa Tuan Dito ada bersama mu?"
"Tuan Dito? Dia sudah pulang sejak sore tadi, dia bilang kalau dia sangat kelelahan dan membutuhkan istirahat"
Bella menarik nafas panjang.
"Ada apa? Apa ada sesuatu kepadanya?" Oro tampak khawatir.
__ADS_1
"Bi Sumi bilang kalau Tuan Dito pergi dalam keadaan marah"
Oro segera mengakhiri panggilannya dan pergi mencari Dito.
Dito tengah berada di sebuah klub malam, dia duduk sambil menyeruput kopi di gelasnya.
"Tuan..." Oro menghampirinya.
Dito mengabaikan kedatangan Oro, dia masih duduk dengan pikirannya yang kosong.
Oro memesan secangkir kopi dan duduk di hadapan Dito.
"Ini salah ku"
Oro duduk diam dan siap mendengarkan cerita Dito.
"Bella benar, dia akan dipandang negatif karena kematian Aira. Bella adalah istri kedua ku, dia akan mendapatkan imbasnya jika orang-orang mengetahui hal itu"
"Aku akan memotong lidah Mereka yang berkata demikian"
Dito tersenyum kecut "Kamu pikir Aku tidak bisa? Lalu bagaimana dengan hati dan perasaan Bella? Bagaimana dengan Alexi?"
Oro terdiam, dia tidak pernah melihat Dito serapuh ini selain saat Bella dinyatakan meninggal.
"Aku akan memastikan itu tidak akan pernah terjadi" Oro sudah pernah berjanji untuk tidak membuat Dito bersedih, apapun akan dia lakukan untuk mendapatkan kebahagiaannya.
"Bagaimana jika itu terjadi?"
Oro terdiam sejenak. "Aku akan membuat rumor lain untuk mengalihkan rumor Anda dengan Nona Bella"
Dito merasa mendapatkan ide, "Benar, siapkan rumor lain. Maka semua akan baik-baik saja"
Oro merasa lega saat melihat Dito kembali tersenyum. Namun hati Oro bertanya-tanya, "Adakah rumor yang bisa mengalihkan seorang CEO tampan, muda dan dikagumi banyak orang?"
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Maaf baru Up Zheyeeenk, Aku stuck nih sama alur ceritanya. Mana level novel ku nggak naik-naik hiks hiks...
...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komen dan vote Kalian yaa....
...Aku tunggu 😉😉...
__ADS_1