
Hari berganti hari, kondisi Aira tidak kunjung membaik. Berbagai pengobatan telah dilalui.
"Mas... Ikhlaskan Aku, Aku sudah tidak kuat..." Air mata Aira membasahi pipinya.
"Lihatlah Mas..." Aira memperlihatkan bagian tangannya, "Tubuh ku tinggal tulang, rambut ku mulai rontok Mas. Aku tidak akan bisa melayani mu dengan baik, malah Aku menghambat pekerjaan mu" Aira tersenyum dengan air mata yang masih membasahi pipinya.
"No Honey, Kamu harus bertahan. Kamu kuat, bukan kan itu yang selalu ingin Kamu tunjukkan? Kamu wanita kuat, Kamu wanita hebat" Dito menggenggam tangan Aira dan mengecupinya.
"Aku ingin bertemu Mommy dan Daddy..." Aira terus saja menangis.
Kedua orang tua Aira meninggal beberapa waktu lalu karena kecelakaan saat kembali dari perjalanannya ke luar negeri.
"Sssttt, Honey. Ada Aku, Kamu akan baik-baik saja" Dito memeluk tubuh Aira yang bergetar hebat karena tangisnya.
"Honey..." Aira mengangkat wajahnya menatap Dito.
"Ya Honey?" Dito mengusap air mata di wajah Aira.
"Ada satu permintaan ku sebelum Aku meninggal..."
"Ssstt jangan katakan itu. Kamu boleh minta apapun, tapi Kamu tidak akan meninggal secepat ini"
"Aku sudah tidak kuat Honey. Aku ingin Kita pulang, menghabiskan waktu bersama. Tidak di rumah sakit"
"Kamu akan pulang saat kondisi mu membaik" Dito mengecup kening Aira.
"Honey?"
"Ya Honey?"
"Bagaimana kabar Alexi?"
Dito terdiam sejenak, dia bingung apa yang harus dia lakukan. "Alexi?"
"Iya, Alexi. Anak mu dengan Bella kan?"
Dito menjauhkan tubuhnya dari Aira, dia menatap Aira.
Aira tersenyum, "Kamu harus berterima kasih kepada ku Honey. Rencana mu memang berhasil, tapi tidak akan berhasil tanpa adanya campur tangan ku"
Flash back saat Alexi datang ke kediaman Dito.
Aira terkejut begitu melihat Dito sedang menggendong Dito. Mereka terlihat sangat mirip.
"Siapa anak itu?" Aira bertanya kepada salah seorang pelayan di rumahnya.
"Maaf Nonya, itu Alexi. Cucu Bi Sumi"
"Cucu Bi Sumi?" Aira tidak percaya mengingat Bi Sumi tidak mempunyai anak. Setelah suaminya meninggal, Bi Sumi mengabdikan dirinya ke keluarga Pratama.
"Maksudnya Cucu Siti, adik dari Bi Sumi"
Aira terdiam dan meminta pelayan itu pergi.
"Siti? Bukankah anaknya berada di luar kota? Jika benar, mana mungkin cucu nya ingin pergi bersama Bi Sumi?"
Aira menghubungi seseorang, "Temukan informasinya sebanyak mungkin"
"Aku beri waktu satu hari"
Aira segera menghampiri Dito.
Keesokan hari Aira mendapatkan panggilan dari orang suruhannya.
"Saya tidak menemukan informasi apapun. Tapi anak itu memang tinggal bersama Siti dan diketahui anak Siti tinggal di Kota B bersama anak dan suaminya"
__ADS_1
"Begitu ya? Awasi terus, jika ada informasi lagi. Kabari Aku"
Satu minggu berlalu, Aira kembali mendapatkan panggilan dari orabg kepercayaannya.
"Saya menemukan seorang wanita menemui anak itu"
Aira tampak terkejut "Wanita? Bagaimana ciri-cirinya?"
Aira mendengar penjelasannya.
"Saya juga menanyakan siapa wanita itu kepada salah satu warga. Wanita itu bernama Bella, dia tinggal di sana sekitar satu tahun yang lalu. Diketahui dia mengalami kecelakaan dan dia sedang mengandung anak itu"
Aira menutup mulutnya tidak percaya, air matanya mengalir begitu saja.
"Dimana dia sekarang?"
"Bella?"
"Iya dia..."
"Dia sedang bersama anaknya, sepertinya dia bekerja di Kota dan pulang setiap akhir pekan"
"Ikuti terus!"
Aira duduk dan memegangi dadanya "Bella masih hidup? Lalu kenapa dia tidak kembali? Bi Sumi? Bi Sumi mengetahuinya? Sebenarnya apa yang terjadi?"
Aira semakin terkejut saat pikirannya menerka-nerka, "Jangan-jangan Dito mengetahui semuanya? Bi Sumi sengaja membawa anak itu karena permintaan Dito?"
Aira terus menggali informasi mengenai Bella dan Dito.
"Bella bekerja di sebuah catering dekat perusahaan R"
Aira menarik nafas "Benar, Dito pasti tau"
"Tuan Dito tidak mengetahuinya sama sekali Nona. Tidak ada pertemuan ataupun saling menghubungi. Bahkan diketahui bahwa Bella sama sekali tidak memiliki ponsel"
Aira tampak berpikir, "Aku harus menyatukan Dito dengan Bella sebelum penyakit ini benar-benar menggerogoti tubuh ku. Tapi bagaimana caranya? Kalau Mereka tiba-tiba bertemu, Bella mungkin akan menghindar dan pergi jauh"
Aira mendapatkan panggilan kembali dari orang kepercayaannya "Bella ingin mengambil Paket C"
"Paket C? Tapi untuk apa?"
"Sepertinya Bella tertarik bekerja di R Bakerry"
"Bagus. Berikan padanya, Bayarkan biaya pendidikannya dan tolong atur supaya dia bisa bekerja di R Bakerry"
"Bagus Bella, Kamu melancarkan rencana ku" Aira tersenyum. Aira kini tengah berada di rumah sakit untuk mengontrol penyakitnya.
Pesta perusahaan tiba, Aira menghubungi Tiara sang mantan kekasih Dito.
Beruntung Tiara mau diajak bekerja sama.
Tidak lupa Aira juga meminta bantuan Oro, awalnya Oro menolak namun akhirnya dia menyetujuinya.
"Lakukan rencana ini dengan sangat baik. Jangan sampai Dito ataupun Bella menyadarinya"
Aira yang sedang berada di meja operasi memberikan aba-aba kepada Tiara dan Oro.
"Rencana ini harus berhasil, Aku tidak tau apakah setelah selesai operasi Aku masih bisa bertemu Dito atau tidak."
Operasi berjalan dengan lancar, namun penyakit itu sudah menggerogoti seluruh tubuh Aira.
Aira merasa bahagia saat Oro mengatakan kalau rencananya berhasil.
"Semua berjalan baik Nona"
__ADS_1
"Terima kasih Oro, Aku tidak akan melupakan jasa mu"
Oro hanya menganggukkan kepalanya.
Begitupun Tiara, Tiara menghampiri Aira yang tengah berbaring di dalam kamarnya.
"Kenapa Kamu menginginkan itu?"
"Lihatlah Aku, Aku bahkan tidak tahu apakah Aku bisa sembuh?"
Tiara tersenyum, "Kamu bahkan memaksa ku untuk meninggalkan Dito, dan sekarang Kamu ingin menyerahkannya kepada perempuan itu?"
"Dia berbeda dengan mu Tiara" Aira tertawa.
"Dasar" Tiara mengusap kepada Aira.
Aira tersenyum "Terima kasih Tiara"
"Untuk apa?"
"Semuanya. Dulu Aku meminta mu menjauhi Dito, Kamu mengikutinya. Dan sekarang Aku meminta mu mengantarkan Dito kepada Bella, Kamu pun mengikutinya"
Tiara tersenyum "Aku ingin Dito bahagia, karena Aku pun yakin akan menemukan kebahagiaan dengan laki-laki lain".
"Terima kasih" Aira memeluk Tiara.
"Awas saja kalau sampai ada surat dari pengadilan karena masalah penculikan" Tiara tertawa.
"Oro sudah mengurus semuanya. Semua akan baik-baik saja"
"Bukan Oro, Kamu. Kamu yang membuat semuanya baik-baik saja. Kamu perempuan hebat yang pernah Aku temui"
Air mata Aira mengalir begitu saja "Aku sakit saat mengetahui semuanya. Tapi akan sangat sakit jika Aku pergi meninggalkan Dito sendirian. Aku akan merasa bersalah karena membuatnya kesepian"
"Semua akan baik-baik saja Sayang, Dito akan baik-baik saja berkat mu" Tiara menggenggam tangan Aira.
Flash back berakhir.
"Jadi? Kamu yang melakukan semuanya?"
"Maafkan Aku Honey" Aira tersenyum.
Dito memeluk Aira dan menangis "Maafkan Aku. Maafkan Aku karena selalu menyakiti mu. Aku laki-laki yang tidak pantas Kamu bahagiakan, Aku selalu memandang mu dengan pandangan yang salah. Maafkan Aku Honey"
"No Honey, Kamu menyempurnakan hidup ku. Kamu tau Aku bersalah dan Kamu tetap mempertahankan ku".
Pintu terbuka, Bella dan Alexi berada di balik pintu.
Dito dan Aira melihat ke arah Mereka, Aira tersenyum "Masuklah, Aku sudah lama menunggu mu".
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Aduuuuh bombay ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜...
...Jangan lupa like dan komentarnya yaa......
...Vote juga boleh 🤗🤗...
...Maaf kalo Kalian nangis gegara karya ku ðŸ˜ðŸ˜...
...Nyesek yaa Zheyeeeenk 😢🥺...
__ADS_1