Beda Usia Tapi Cinta

Beda Usia Tapi Cinta
Rencana Pernikahan


__ADS_3

Kristal dan Kiano sedang makan siang bersama. Kiano tadi mampir ke butik ibunya setelah dari rumah sakit.


"Kau dari rumah sakit?". Tanya Kristal heran karena Kiano terlihat sehat dan bugar.


"Aku mengantar seseorang".


"Siapa?". Kristal mengentikan makannya. sepertinya orang itu bukan staff biasa kalau sampai presdirnya yang mengantarkan ke rumah sakit. tadi Kristal mendengar sedikit percakapan Kiano dan ibunya. ia bilang pada ibunya habis mengantarkan staffnya ke rumah sakit.


"Dia sekretaris baru".


"Apa dia seorang gadis?". Tanya Kristal penasaran.


"Iya mungkin dia seorang wanita karena usianya lebih tua dari kita".


"Benarkah?". Kiano mengangguk.


"Seperti apa dia?". Tanya Kristal lagi.


"Dia bodoh, aneh dan kurasa di sedikit gila".


Kristal tertawa terbahak.


"Kenapa kau bicara begitu dia seorang gadis atau elien sampai kau bicara begitu!". Kristal meminum jusnya. Kiano tidak peduli komentar Kristal ia tersenyum dan melanjutkan makannya.

__ADS_1


"Apa dia cantik?". Tanya Kristal lagi sembari melirik asisten Kiano yang berdiri di belakang tuannya. sang asisten cerdas itu langsung paham jika pertanyaan itu di tujukan untuknya. ia mengangguk. sementara jawaban Kiano jelas "Tidak dia jelek sekali!".


Kristal hampir tersedak makanannya. ia tahu sepertinya sahabatnya sedang jatuh cinta dengan gadis itu.


Kiano menemani Kristal memilih bahan untuk gaun pernikahannya.


"Kenapa kau seyakin itu padanya hingga mau menikahinya".


"Hey kau jangan begitu, kak Hen cinta pertama ku".


"Ya kau sudah mengatakannya ratusan kali".


"Baiklah kalau begitu dengarkan aku akan berkata ribuan kali".


"Entahlah, yang ku tahu rasa itu tulus untuknya, aku tidak memandang usia dan kehebatannya. aku mencintainya sejak dulu sampai sekarang". Pandangan Kristal menerawang. ia tersenyum dan menemukan sebuah bahan yang sesuai untuk gaunnya nanti.


***


Kiano mengambil ponselnya di atas meja di dekat ranjangnya. Ia mengeyik pesan singkat pada Fania menanyakan kondisinya. tapi Kiano segera menghapus pesan itu sebelum dikirim ke nomor Fania.


Pasti aku sudah gila, kenapa aku peduli sekali dengannya.


Kiano berdiri di dekat jendela kamarnya di lantai dua. ia memandang keluar menikmati malam dengan udara yang seidkit dingin. ia mengingat kejadian saat pertama kali bertemu Fania.

__ADS_1


Sementara Fania sedang berbaring di sofa ruang tengah. ia sedang menonton tv sembari ngemil kripik kentang kesukaannya. ia teringat ucapan Kiano yang menyuruhnya diet. Fania meletakan bungkus kripik kentang di atas meja. ia memegangi perut dan pahanya bagian yang paling berlemak di tubuhnya.


Tapi kenapa dia baik sekali mau menggendong ku dan mengantar ke rumah sakit. mungkin ia tak seburuk yang ku pikirkan.


Ponsel Fania berbunyi, ada pesan masuk.


Besok waktu libur mu sudah habis. setumpuk pekerjaan sudah ada di atas meja mu.


-Mr.Kiano-


Fania menarik kembali kata-katanya. lelami itu tidak berperasaan. Fania melepas perbannya dan menggerakan kakinya. ia tak boleh malas harus segera sembuh besok ia masuk bekerja. jangan sampai ia di gantikan dengan sekretaris baru. ribuan irang mengantri untuk posisinyansekarang di perusahaan milik Kiano.


Sementara Kiano di kamarnya terlihat memegangi ponselnya.


Kenapa ia tidak membelas pesan ku. ia sudah membacanya.


Ponsel Kiano berbunyi ada oesan balasan dari Fania.


Baik tuan saya akan bekerja lebih baik setelah libur dua hari yang sangat hebat ini. terimakasih tuan atas kesempatannya.


-Fania-


Kiano tertawa senang. ia meletakan ponselnya dan tertidur pulas.

__ADS_1


__ADS_2