Beda Usia Tapi Cinta

Beda Usia Tapi Cinta
Makan Siang Bersama


__ADS_3

Elwan Baruna usianya menjelang 40 tahun, berwibawa, tampan, cerdas dan mapan. Berperawakan atletis dengan kulit putih bersih. Ia belum menikah dan belum juga bertunangan.


Elwan selalu berangkat pagi ke kantor dengan Yoga yang menjadi sopirnya. Ia selalu sarapan di ruang kerjanya. Ia biasa membawa sandwich dan satu gelas kopi racikan.


Ia suka dengan pekerja yang pintar dan penuh semangat. Sayangnya aku tidak memiliki kedua kriteria itu. Kemampuanku tergolong biasa saja dan semangatku juga kurang membara.


Pagi itu seperti biasa selesai mandi aku duduk di depan meja rias. Kurang lebih setengah jam untukku merampungkan riasan. Selesai merias aku siap dengan stelan kerjaku dan berangkat ke kantor dengan taxi online.


Setibanya di kantor aku segera memulai pekerjaanku. Memeriksa email yang masuk dan menyiapkan materi meeting untuk siang nanti.


Hari ini ada kolega perusahaan yang datang. Karena masih baru jadi aku belum pernah bertemu mereka. Ku dapat informasi dari Yoga dan ia mengajariku ketika nanti presentasi di depan mereka jika pak Elwan meminta bantuanku.


"Permisi pak..."


"Duduk" Elwan sedang sibuk dengan laptopnya, seperti biasa ia mengacuhkan keberadaanku dan aku duduk cukup lama di depannya, mematung dan canggung.


Ia menoleh memandangku, aku segera meletakkan materi meeting nanti siang yang sudah ku print di hadapannya.


"Oke tidak ada masalah, segera kamu ke ruang meeting dan persiapkan semua"


"Baik pak"..

__ADS_1


"Lula.." ku hentikan langkahku, Elwan memanggilku dengan halus. Aku jadi berdebar mendengarnya. Aku menoleh ke arahnya perlahan.


"Iya pak..." kataku di buat-buat secantik mungkin.


"Tolong kamu ganti parfum, saya tidak suka baunya bikin pusing!"


***


Makan siang tiba, aku pergi ke warung ketoprak mang Yan yang terkenal diantara para pegawai kantoran. Siang cukup terik, di warung ketoprak penuh pembeli yang menunggu pesanan mereka di buat.


Aku mengambil tempat duduk di luar di bawah pohon besar yang cukup rindang. Angin semilir meniup rambutku. Setidaknya aku tidak kepanasan dan berkeringat terlalu banyak ketika duduk di bawah pohon itu.


Di kejauhan kulihat pak Elwan dan Yoda duduk tenang di meja yang khusus di sediakan untuk mereka berdua.


Aku makan dengan lahap. Ketoprak mang Yan memang juara tiada bandingnya. Aku mengunyah cepat dan meminum es teh manis yang tinggal separo di gelas. Tanpa kusadari ternyata pak Elwan memandangiku dari tadi. Entah apa maksudnya.


Cepat ku habiskan makan siangku dan bergegas kembali ke kantor. Aku sengaja tidak lewat di depan pak Elwan dan Yoga karena canggung.


"Lula!" Aku menghentikan langkahku begitu seseorang memanggil namaku. Ku toleh ke belakang dan ternyata ada pak Elwan dan Yoga yang berjalan di belakangku.


"Iya pak..."

__ADS_1


"Saya mau bicara sebentar, kamu ke ruang kerja saya" kata pak Elwan. Ku lirik Yoga yang terlihat cuek saja.


Aku bergegas menuju ruang kerja pak Elwan, penasaran juga kenapa ia memanggilku ke ruangannya padahal jam istirahat masih belum selesai.


"Duduk Lula..." katanya mempersilhkanku duduk.


"Oh ya apa kau suka dengan tanaman?"


"Tanaman? maksud bapak tanaman apa?"


"Ya lumayan pak" pak Elwan pasti melihat meja kerjaku yang ada pot mini berisi kaktus dan bunga hias lainnya.


Aku sengaja meletakkan bunga hias itu di meja kerjaku agar terlihat nyaman dan adem aja.


"Saya mau memberi kado pada mama saya. Mama sangat suka bercocok tanam bunga. Menurut kamu bunga apa yang bagus?"


"Ummm..... apa di rumah bapak sudah ada mawar?"


"Ah mama saya punya kebun mawar di rumah"


"Oh...apa ya..." aku mencoba berpikir keras bunga apa yang mudah di tanam tapi bunganya indah.

__ADS_1


"Kalau anggrek apa sudah ada di rumah bapak?"


"Anggrek boleh juga".....


__ADS_2