Beda Usia Tapi Cinta

Beda Usia Tapi Cinta
Pertentangan


__ADS_3

Sejak ayahnya pulang dari luar negeri Kiano memutuskan tinggal di apartemen mewah yang ia beli. ia ingin mandiri dan keluar dari bayang-bayang ayahnya meski itu tidak bisa.


Di meja makan Kiano dan ayahnya makan bersama, tidak ada percakapan di antara keduanya.


Selesai makan Kiano bergegas pergi, ia akan menjemput Fania di apartemen gadis itu. Ayahnya memanggil asisten setia Kiano dan menginterogasi sang asisten.


"Siapa gadis itu?". Ayah melemparkan dua lembar foto seorang gadis. sang asisten mengenali gadis itu adalah Fania.


"Jawab dengan jujur". Suara ayah santai tapi membuat bulu kuduk sang asisten berdiri.


"Nona Fania sekretaris tuan muda Kiano".


"Oh jadi dia sekretaris Kiano?".


"Benar tuan".


"Apa latar belakang gadis itu?".


"Ia berasal dari keluarga menengah tuan. nona Fania gadis yang mandiri dan cerdas dalam bekerja. usia tuan muda dan nona Fania terpaut delapan tahun".


"Apa si bodoh itu sudah kehabisan cara menemukan gadis berkelas hingga dia mengencani gadis dari kalangan biasa yang usianya lebih tua?!". Ayah meremas surat kabar yang di pegangnya. sang asisten terdiam tidak berani bereaksi.


"Sejak kapan Kiano menyukai gadis itu?".


"Saya kurang tahu tuan".


"Pergilah!, kau sama bodohnya dengan anak tidak tahu diri itu!".


Sang asisten pergi meninggalkan tuan besar nya. ia menuju mobil dan menyusul Kiano ke apartemen barunya.


Kiano sedang membereskan apartemen barunya di bantu Fania.


"Kau dari mana saja?, kenapa lama sekali baru tiba?". Kiano bertanya pada asistennya.


"Tuan besar memanggil saya tuan".

__ADS_1


"Ayah ku bicara sesuatu pada mu".


"Benar tuan".


"Beruntung sekali kau!, dengan ku saja ayah ku tidak pernah mau bicara". Kata Kiano tersenyum getir. Fania mengamati percakapan dua orang itu. ia tahu hubungan Kiano dengan ayahnya kurang harmonis.


"Apa ayah ku bertanya sesuatu tentang Fania?". Kiano mendekat pada asistennya dan berbisik. ia tidak mau Fania mendengar pertanyaannya barusan.


"Benar tuan".


Bersiaplah tuan muda, sepertinya kau akan menghadapi badai kali ini.


***


Pagi itu Fania izin tidak berangkat bekerja dengan alasan ada kepentingan. Kiano menghubungi ponsel Fania tapi tidak aktif. Fania pergi bertemu nyonya Marcia ibu Kiano.


"Jadi kalian saling menyukai". Tanya nyonya Marcia. Fania hanya mengangguk tidak berani menjawab.


"Berapa usia mu?".


"Kau tahu berapa usia Kiano?".


"Menjelang 25 tahun nyonya".


"Lalu kenapa kalian berani menjalin hubungan?, apa kau tahu ayahnya bisa sangat marah". Fania terdiam sepulang dari bertemu nyonya Marcia ia banyak memikirkan hubungannya dengan Kiano. mulai dari perbedaan kasta hingga usia yang terpaut jauh.


Fania terus menghindari Kiano. hingga membuat lelaki itu kesal dan marah padanya.


Hari itu Kiano sakit. ia tidak berangkat bekerja. asistennya memberi kabar pada Fania. sepulang bekerja Fania bergegas menuju apartemen Kiano. ia melihat Kiano terbaring di ranjangnya dengan infus menancap di pergelangan tangannya. Fania menunggui Kiano semalaman ia tertidur di lantai dekat ranjang Kiano.


Pagi hari Kiano terbangun, ia membuka mata dan melihat Fania tertidur di lantai. hatinya tenang memandang gadis itu. ia sudah merasa baikan setelah istirahat seharian. Kiano mencabut jarum infus di pergelangan tangannya. ia turun dari ranjang dan mencoba mengangkat tubuh Fania dengan sisa tenaganya. ia menyelimuti Fania dan Kiano ikut berbaring di samping Fania.


Nyonya Marcia datang ke apartemen Kiano dengan dua orang pengawalnya. ia ingin melihat kondisi putranya. setibanya di kamar Kiano ia terbelalak melihat pemandangan di hadapannya. sang asisten pun salah tingkah melihat tuannya dan Fania berbaring satu ranjang. Fania kaget lalu terbangun dan memandang Kiano yang sudah terduduk di sampingnya. Fania bergegas turun dari ranjang Kiano dan berdiri merapikan rambutnya.


"Jadi ini alasan mu pindah ke aprtemen?!". Nyonya Marcia terlihat sangat marah.

__ADS_1


"Ibu jangan salah paham". Kiano mencoba menenangkan ibunya.


"Bawa gadis itu keluar!". Pinta nyonya Marcia pada dua orang pengawalnya. dua orang lelaki itu memegangi lengan Fania dan bersiap membawa Fania keluar apartemen Kiano.


"Lepaskan dia!". Kiano terlihat marah. ia menghampiri dua pengawal itu dan memukuli mereka sampai mereka melepaskan lengan Fania.


"Antarkan Fania pulang". Pintanya pada sang asisten.


"Baik tuan". Asisten Kiano mengantar Fania pulang ke apartemnnya. sementara Kiano dan ibunya pulang ke rumah mereka karena ayahnya ingin bicara dengan Kiano.


Ayah Kiano memukuli putranya hingga babak belur. padahal Kiano baru saja sembuh dari sakitnya. Kiano tidak melawan ketika ayahnya menghajarnya.


"Kau memang keras kepala!". Kata ayahnya marah. ayahnya mengusap telapak tangannya yang terkena darah Kiano dengan saputangan.


Asisten Kiano tiba di rumah itu dan membawa Fania ikut serta. Fania terkejut melihat keadaan Kiano yang babak belur.


"Ooo kau Fania?".


"Benar tuan".


"Kemari dan duduklah, aku ingin bicara pada mu". Sementara Kiano masih berlutut di lantai di samping tempat duduk ayahnya. ia terdiam tidak memandang Fania.


"Apa kau mencintai Kiano?".


Fania terdiam menatap wajah tampan yang penuh luka itu. hatinya menangis iba ia tidak rela orang yang di cintainya samapai terluka karenanya.


"Tidak tuan!". Fania terpaksa berbohong. Kiano menatap tajam Fania. ia tidak terima gadis itu bilang tidak mencintainya.


"Saya berjanji tidak akan mendekati Tuan Kiano lagi. dan saya mohon jangan melukainya tuan".


"Hahahaha!, kau gadis yang sangat manis pantas putera ku menyukai mu". Kata ayah Kiano.


"Kiano kau sudah dengar Fania tidak menyukai mu dan ia akan menjauh dari mu!".


Kiano merasa lemas. semua tulangnya terasa lunak tidak berdaya. Fania akan meninggalkannya. pasti gadis itu tidak tega melihat ku babak belur karena ayah. pikir Kiano.

__ADS_1


Fania menangis di luar gerbang rumah Kiano yang tinggi. ia menata hatinya untuk mulai menjauh dari Kiano, pria yang ia cintai.


__ADS_2