Beda Usia Tapi Cinta

Beda Usia Tapi Cinta
Berkebun Di Rumah Si Bos


__ADS_3

Weekend...!


Jangan harap liburku hari ini akan bersantai, mandi siang, nonton acara gosip dan bermalas-malasan lainnya. Liburku kali ini di isi kegiatan berkebun di rumah pak Elwan. Pagi-pagi Yoga susah menjemputmu untuk membeli bibit tanaman dan pupuk. Secara kalau Yoga memang sudah biasa tidak libur karena dia sejenis robot.


"Kenapa tokonya tutup?" Yogya bersandar di mobilnya sembari memandang toko yang menjual segala keperluan berkebun masih terlihat tutup.


"Pak Yoga mana ada toko buka di jam setengah tujuh pagi di hari libur seperti ini?" omelku kesal.


"Memang jam berapa seharunya toko buka?"


"Jam 8 " jawabku singkat. Yoga diam dan melirik jam tangannya,masih cukup lama jika harus menunggu sampai jam 8.


"Kamu sudah sarapan?" akhirnya ia bertanya sesuatu yang masuk akal padaku.


"Belum" jawabku penuh harap.


"Saya sudah"

__ADS_1


Mendengar jawabannya kepalaku serasa mendidih. pastas pak Elwan memilihnya sebagai asisten setia karena selain mirip robot ia juga benar-benar...mirip robot yang tidak berperasaan!


"Kalau begitu Anda tunggu disini saya mau makan" kataku sambil melangkah ke kedai cepat saji. Aku memesan big burger dan segelas capuccino panas.


Yoga terdiam duduk di depanku sambil menikmati kopi hitamnya. Ia memandangiku makan burger dengan beringas.


Selesai sarapan kami kembali ke toko perlengkapan berkebun. Aku membeli delapan buah bibit Bungan anggrek bulan dan pot cantik untuk di gantung. Aku juga membeli sekarung tanah yang sudah di campur pupuk kompos untuk menanam Bunga matahari dan aku juga membeli bibit mawar. Masa bodoh kalau pak Elwan bilang di rumahnya ada kebun mawar.


"Sudah" kataku sambil melenggang ke mobil. Yoga terlihat kesal, dia mengangkat sekarung kecil tanah, pot dan bibit-bibit tanaman ke bagasi mobil mewahnya.


Kami segera menuju kediaman pak Elwan dan ibunya. Yoga membelokkan mobilnya di depan sebuah pintu gerbang tinggi. Seorang satpam membuka pintu gerbang dan mempersilahkan Yoga untuk masuk.


Aku berdiri mengagumi rumah mewah pak Elwan. Yoga menyenggol lenganku dan mengajakku segera masuk ke rumah. Aku membawa pot dan bibit sementara Yoga membawa karung berisi tanah yang cukup berat.


Pak Elwan menyambut kami. Ia mengenakan kaos polo berwarna army dan celana panjang berwarna putih. topi berwarna putih juga menghias di kepalanya yang semakin membuatnya terlihat tampan dan menawan.


Elwan melihat belanjaan kami, dan mengangguk senang. Tidak berapa lama keluar dari sebuah ruangan seorang wanita paruh baya yang terlihat masih cantik. Wajahnya ramah dan kalem. Ia terlihat begitu elegan dengan penampilan dan tatanan rambut. Mirip di serial telenovela yang biasa kulihat di tv.

__ADS_1


"Hai siapa ini?" tanyanya ramah.


"Saya Lula nyonya" jawabku gugup karena insecur dengan kecantikan wanita berumur di hadpanku ini.


"Lula dan Yoga sudah makan pagi?"


" Sudah nyonya"


"El ajak Lula ke kebun kita, mama ganti baju dulu"


Elwan menggerakkan kepalanya memberi isyarat kami untuk mengikutinya ke kebun.


"Apa anda akan pergi main golf pak?" tanya Yoga.


"Tadinya aku berencana main golf tapi apa aman jika aku meninggalkan mamaku dengan dia saja?" Elwan memandangku remeh.


Memangnya aku anak kecil yang tidak bisa menjaga ibunya. Lagi pula kami hanya mau berkebun bukan berperang! Aku kesal dan melampiaskan dengan membuka karung berisi tanah. ku tuang tanah itu dan mengaduknya dengan skop. Aku sudah memakai sarung tangan jadi aman tidak akan terkena kuman atau bakteri jahat.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2