Beda Usia Tapi Cinta

Beda Usia Tapi Cinta
Hari Pernikahan


__ADS_3

Hendrico dan Kristal bersiap untuk hari


pernikahan mereka. Kristal nampak cantik dengan gaun pengantin yang ia desain sendiri sementara Hendrico terlihat gagah dan tampan dengan jasnya. keduanya mengikat janji di upacara pernikahan yang sakral. semua terlihat bahagia. Armand berdampingan dengan Ana. ia terlihat bahagia, senyum cerah menghiasi wajahnya. meski ada kekhawatiran dalam benaknya tentang Kristal dan hendrico kedepannya nanti.


Kiano datang dengan asistennya. ia memandang Kristal dengan senang dan membayangkan ia juga akan menikah suatu saat nanti.


Kristal melempar buket bunganya dan Ana yang menerimanya. semua bersorak gembira.


Setelah ini Kristal dan Hendrico akan bulan madu ke eropa untuk waktu yang cukup lama.


***


Kiano minum di bar seorang diri. ia tidak mengajak asistennya dan meliburkannya untuk setengah hari saja. ia ingin menikmati hidupnya.


Ia minum karena gelisah tadi pagi ia menerima surat pengunduran diri Fania. dengan sedikit ancaman saja Kiano berhasil mempertahankan Fania untuk tetap bekerja di kantornya.


Ia mengatakan pada Fania jika sampai Fania mengundurkan diri dari kantornya makan Kiano bisa membuat Fania tidak akan mendapat pekerjaan.


***

__ADS_1


Fania membuka pintu apartemnnya. ia terkejut mendapati Kiano ambruk di hadapannya. Fania segera memapah tubuh tinggi Kiano menuju sofa di ruang tamu.


Sepertinya ia kebanyakan minum.


Fania mengambil segelas air putih dan memberikannya pada Kiano.


"Tuan kau tidak apa-apa?".


Kiano menatap lekat wajah Fania. dengan gerakan tangannya ia menarik dagu Fania dan mecium bibir gadis itu. Fania terkejut dan mendorong tubuh Kiano tapi percuma tenaganya tetap kalah.


Kiano bangun dari tidurnya. kepalanya pusing dan terasa berat sekali. ia mengerjap memandang sekitarnya. menyadari ia sedang tidak berada di kamarnya Kiano bergegas bangun dan duduk. ia mencari jasnya dengan panik.


Ia mencoba mengingat kejadian sebelumnya. Wajah Kiano memerah ia ingat tadi malam sudah mencium Fania. Kiano memakai jasnya dan melangkah pergi dari kamar Fania. ia mengenakan sepatunya tidak berani menatap Fania.


"Aku pergi dulu, selamat hari libur". Kata Kiano canggung. hari itu memang hari minggu jadi libur kerja.


"Tunggu". Suara Fania menghentikan langkah Kiano.


Kiano memejamkan matanya sebelum berbalik. ia bersiap kalau Fania akan menendangnya, memukul nya atau bahkan berbuat kekerasan padanya karena sudah kurang ajar menciumnya tadi malam.

__ADS_1


"Ini dompet mu". Kata Fania sembari mengulurkan dompet Kiano.


Kiano berjalan menuju mobilnya, di dalam mobil sudah ada asistennya yang mengemudi.


Kiano duduk di kursi belakang tanpa bicara sepatah kata pun.


Nampak nya terjadi sesuatu ya tuan, sampai kau bungkam begitu.


"Kenapa aku bisa seceroboh itu". Gumam Kiano sambil membenturkan kepalanya ke sandaran kursi. ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kiano mengingat dengan jelas ia sudah memaksa Fania untuk dia cium. bahkan Kiano sempat meninggalkan tanda merah di leher Fania.


"Apa anda baik-baik saja tuan?". Tanya asisten Kiano yang melihat gerak-gerik tuannya dari kaca spion mobil.


"Kau fokus mengemudi saja jangan pedulikan aku". Kata Kiano menunduk. ia juga tidak mau sampai asistennya tahu.


"Tuan besar sudah pulang dan menunggu anda di rumah".


"Jadi ayah ku sudah kembali dari luar negeri".


"Benar tuan".

__ADS_1


Kiano memandang nanar ke luar kaca jendela mobil. ia merapikan kemeja dan menyisir rambutnya yang berantakan dengan jemarinya. sampai di rumah pasti ia akan menghadap ayahnya.


__ADS_2