
Kiano duduk diam di depan ayahnya. ia punya dua pilihan. tetap menjadi presdir di perusahaan dan melepaskan gadis itu atau ia melepaskan kedudukanya di perusahaan dan tidak akan menerima sepeser pun dari ayahnya jika masih nekat mengejar Fania.
Kiano tersenyum getir. ia tidak menyangka ayahnya bisa berbuat sekejam itu padanya. jelas Kiano memilih melepas kedudukannya di perusahaan. ia keluar dari rumah tanpa membawa uang ayahnya. ia seorang diri tinggal menempati apartemennya. bahkan asistennya tidak boleh mengikutinya.
Fania mulai menata hidupnya tanpa Kiano. ia pindah apartemen agar Kiano tidak bisa menemukannya. Fania bekerja sebagai editor di sebuah majalah wanita. ia tampak menikmati pekerjaannya sekarang. hari berlalu Fania mengira Kiano sudah bahagia bersama keluarganya. Fania menyangka hubungan Kiano dengan ayah nya pasti sudah membaik. ia menatap layar ponselnya. ada fotonya bersama Kiano sedang tertawa lepas dan terlihat bahagia. Fania mendekap ponselnya dan air matanya menetes.
***
Kiano mencari beasiswa ia meneruskan pendidikannya. Kiano ingin mengejar mimpinya sebagai seorang dokter. Kiano mulai giat belajar dan ia bekerja sampingan di laboratorium kampusnya. ia juga bekerja paruh waktu di perpustakaan pusat sebagai karyawan. selama ia menempuh pendidikannya dengan susah payah selama itu pula ia tidak bertemu dengan Fania. ia begitu merindukan Fania. sesekali Kiano mengirim email pada Kristal sahabatnya untun meminta saran.
***
__ADS_1
Siang itu Kiano lulus dari kuliah kedokterannya dan berhasil di wisuda. ia juga sudah mendapat rumah sakit untuk tempatnya bekerja nanti. Kiano menemui mantan asistennya.
"Apa ayah dan ibu ku baik-baik saja?". Tanyanya pada mantan asistennya. lelaki kaku di hadapan Kiano itu terlihat meneteskan air mata. ia haru sekaligus bangga pada tuan mudanya.
"Tuan dan nyonya besar baik-baik saja tuan,anda tidak perlu cemas".
"Apa kau tahu kabar Fania?".
Ku harap kau bahagia Fania dengan hidup mu yang sekarang meski tanpa aku. aku akan selalu merindukan mu.
Kiano bekerja di rumah sakit milik Hendrico Wijaya suami Kristal. hari-harinya disibukan dengan profesinya sebagai dokter spesialis dalam.
__ADS_1
Kiano duduk di kantin rumah sakit. ia menikmati makan siangnya. Kiano sekarang berusia 30 tahun dan Fania berusia 38 tahun. Kiano mengira Fania pasti sudah menemukan tambatan hatinya.
Kiano kembali le ruang kerjanya. ada satu pasien lagi yang harus ia periksa sebelum ia pulang.
Kiano mengenali wanita paruh baya di hadapannya. ia adalah ibu Fania, tak berapa lama Fania masuk ke dalam ruang pemeriksaan ia ingin menemani ibunya. Fania tertegun berdiri mematung menatap lelaki di hadapannya yang mengenakan jas putih dan terlihat memeriksa ibunya.
Air mata Fania menetes tak bisa di bendung. ia melihat Kiano berdiri di hadapannya. lelaki itu terlihat semakin dewasa dan ia tetap tampan seperti dulu. Kiano menoleh ke arah Fania. keduanya bertatapan. ada rasa rindu yang terpendam lama di antara keduanya.
"Kenapa kau menangis?". Ibu Fania bertanya karena melihat puterinya menangis. Fania menggelengkan kepalanya dan membantu ibunya setelah pemeriksan. Kiano mempersilahkan Fania duduk dan memberi keterangan seputar sakit yang di derita ibunya.
Diantara Fania dan Kiano tidak ada yang berbicara tentang masalalu mereka. tidak ada yang bertanya tentang rindu yang di pendam lama.
__ADS_1
Kau tetap cantik seperti dulu Fania, tidak ada yang berubah dari mu. dari debar jantung ku bisa kupastikan aku masih mencintai mu.