
Elwan dan Yoga pergi untuk main golf. Sementara aku dan nyonya Amru berkebun di halaman samping.
Kami mengaduk tanah dengan pupuk lalu menuangkannya kedalam pot putih untuk menanam bunga matahari. Selanjutnya aku dan nyonya Amru memakai media tanam arang dan serabut kelapa untuk menanam bunga anggrek bulan.
"Kau pintar berkebun ya..." kata nyonya Amru sembari menata arang ke dalam pot gantung.
"Saya senang saja nyonya"
"Panggil saja ibu Amru kita kan teman sekarang"
"Teman?" tanyaku heran. bagaimana aku bisa dianggap teman oleh wanita elegan di hadapanku.
"Iya teman, kenapa? kamu tidak mau jadi teman saya?"
"Oh bukan begitu nyonya...eh maksud saya ibu. Saya tentu senang sekali" kataku salah tingkah.
"Kamu sekretaris baru Elwan ya?"
"Iya bu"
"Berapa usia kamu? kelihatannya masih muda sekali"
"24 tahun bu"
"Selisih jauh ya sama Elwan"
Aku hanya tersenyum, kenapa ibu pak Elwan bertanya soal umur seolah mau menjodohkan aku dengan anaknya.
__ADS_1
"Elwan itu susah sekali kalau di tanya soal pernikahan, ibu mau lihat dia itu menikah dan bahagia"
"Mungkin belum ada yang pas bu"
"Iya jawabannya memang selalu seperti itu. Tapi mau sampai kapan dia sendiri kesepian menunggu Dona yang nggak pasti itu!"
"Dona?"
Ibu Amru merasa keceplosan karena sudah bercerita banyak padaku. Karena mungkin merasa tanggung akhirnya ia bercerita tentang sosok Dona yang tadi ia sebut dengan kesal.
"Dona itu dulu tunangan Elwan. Mereka sempat merencanakan pernikahan di usia 28 tahun. Tapi Dona membatalkan semua karena ia memilih pergi ke Paris untuk mengejar karirnya sebagai desainer"
"Oh, apa pak Elwan masih menyukai Dona bu?" tiba-tiba pertanyaan lancang itu keluar dari mulutku. Aku jadi menyesal dan takut kalau Elwan datang dan mendengar percakapan kami tentang masa lalunya.
"Ibu rasa masih. Elwan itu tipe setia jadi kalau sudah menyukai satu orang yang dia akan benar-benar tulus"
"Dingin dan arogan? hahahaa" ibu Amru tertawa lepas. Ia bahkan tidak marah anak lelakinya di katai begitu.
"Memang Elwan itu dingin, kaku dan arogan. Coba kamu rubah dia"
"Merubahnya?"
"Iya...kalian kan bisa berteman. Kamu orang yang menyenangkan dan ceria sepertinya kalau Elwan berteman dengan kamu ia akan tertular keceriaan dari kamu"
"Saya mana berani berteman dengan pak Elwan bu, beliau kan bos saya di kantor, pemilik perusahaan pula"
"Memangnya kenapa? cuma berteman ini, apa kamu takut pacarmu marah?"
__ADS_1
Wajahku sedikit memerah karena aku memang belum memiliki pacar seperti kata ibu Amru tadi.
"Ma sudah selesai berkebunnya? ayo kita makan siang"
Elwan dan Yoga tiba dari bermain golf. Benar juga, matahari sudah mulai terik. Ibu Amru mengajakku untuk membersihkan diri sebelum makan siang.
Di meja makan yang mewah itu berderet berbagai makanan enak. Di rumah itu punya koki pribadi yang mengatur menu setiap harinya.
"Elwan nanti kamu antar Lula pulang ya"
"Ada Yoga ma"
"Yoga mau mama mintai tolong untuk menata pot-pot tanaman di depan"
"Kan ada tukan kebun ma"
"El ..." Ibu Amru meletakkan sendoknya dan menatap kesal pada Elwan.
"Iya mam" Akhirmya Elwan menyerah dan bersedia mengantarku pulang.
Sebelum pulang ibu Amru memberiku bingkisan untuk oleh-oleh keluarga di rumah. Dengan srnang hati aku menerima bingkisan itu sebagai tanda persahabatan kami.
Setelah berpamitan, Elwan mengantarku dengan mobilnya.
"Maaf pak jadi merepotkan" kataku basa-basi.
"Hmmm"
__ADS_1
Mendengar gumamannya pertanda malas padaku, aku segera diam dan memandang keluar jendela. Karena lelah berkebun tadi dan perutku yang kenyang aku mulai tertidur di sepanjang perjalanan pulang.