Behind The Mask

Behind The Mask
Dia , Chalissa


__ADS_3

Cermin itu menampakkan seorang gadis yang kini sedang merapihkan seragamnya. Ya, ini adalah hari pertamanya bersekolah di Ibu Kota. Setelah permasalahan keluarganya selesai, ia mengikuti sang ayah dan terpisah dengan saudara kembarnya.


Mata indah itu berwarna coklat terang, dengan surai panjang terurai menutupi punggungnya. Tinggi 160cm dengan bentuk tubuh yang terbilang body goals sangat meyakinkan jika ia akan menjadi primadona disekolah barunya kali ini.


tok tok tok


"non... sudah bangun?" tanya Asisten rumah tangga yang baru dikenalnya beberapa hari ini bernama Bi Ipah .


"sudah bi" jawab gadis itu seraya membuka pintu kamar dengan memperlihatkan senyum manisnya.


"aduh non, meni geulis pisan" (sungguh cantik sekali)


"hihi.. makasih ya bi, oh ya, Ayah mana?"


"sudah nunggu di bawah non" jawab sang bibi dengan logat sundanya yang kental.


Gadis itu mulai menuruni tangganya dengan sedikit berlari . Ia tak ingin sang ayah menunggunya terlalu lama.


"ayahhhh... good morning"


"morning sayang... yuk sarapan dulu"


"okey yah" cup , kecupan pada pipi sang ayah sebagai salam yang selalu ia lakukan pada keluarganya.


Sang ayah tersenyum menanggapi tingkah putrinya yang sama sekali tak berubah.


Ah, sebelumnya , perkenalkan ayahku bernama Geovan Aditama . Beliau pemilik perusahaan furniture yang kini banyak berkembang di berbagai kota, salah satunya kota Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota lainnya.


"siap memulai hidup baru?"


sang gadis menatap manik mata pria dewasa dihadapannya dengan pandangan yang tak bisa di artikan.


"ya, Siap"


"good, yuk kita pergi"

__ADS_1


"ayo "


〰〰〰〰〰


RAMAI, itulah yang kini menggambarkan salah satu kelas yang terbilang semua siswanya pembuat onar dan tak pernah taat akan peraturan sekolah.


Para siswa dan siswi berhamburan mencari sasaran yang akan mereka jadikan tempat tidur di setiap sudut kelasnya, adapula yang duduk di lantai hanya untuk membuat lingkaran para penggosip dan para siswa yang berkumpul hanya untuk bermain bersama dengan ponsel milik mereka. Lontaran kata kasar yang keluar tak membuat mereka risih sama sekali, tapi itulah yang mereka sebut dengan kebebasan.


*Tak ada guru


Tak ada tugas


Dan* ...


Tunggu, ada yang kurang disini.


"woy... Pak Ketu kemana oy??" teriak salah satu siswa bernama Baron . Saat mendengar seruan itu, semua siswa didalam kelaspun langsung mencari keberadaan seorang siswa yang mereka sebut Pak Ketu. Namanya bukan Ketu , melainkan singkatan dari mereka untuk sang Ketua Kelas .


"kolong bangku gak ada!!!" teriakan satu.


"meja guru kosong!!!" teriakan dua.


"Tong sampah kosong!!!" teriakan empat yang membuat semua siswi di kelas menatap horor siswa itu dengan pandangan tajamnya .


"Omg, lo pikir my prince gue sampah ??" teriakan melengking dari salah satu cewek paling bermasalah di kelas ini.


"heheh... sorry sorry, neng brend emosi mulu"


"brend??? lo kira gue kaleng bear brend??"


"tuh kan , salah ngomong deui wae" ( tuh kan, salah ngomong lagi)


plak, pukulan itu tepat mengenai belakang kepalanya.


"iishhhhh...."

__ADS_1


"emang salah lo , unta" ucap Baron yang ikut kesal karena gebetannya di ejek.


"yaelah.. lo bukannya mihak ke gue malah ke cewe itu"


"terserah gue lah" ia termenung, kemudian menatap sekitar dengan pandangan bertanya.


"woyy.. cari lagi woyyyy" teriak Baron saat teringat akan tujuan utamanya.


Teriakan dari semua anak kelas yang membantu mencari sang ketua kelas saling bersahutan .


tok tok tok , suara ketukan pintu terdengar begitu mengerikan di telinga mereka.


Dengan segera mereka semua berlarian untuk duduk di bangkunya masing-masing. Wajah harap harap cemas dengan disertai doa yang mereka panjatkan agar guru tak jadi mengajar.


braakkkkk


"astagfirullah..." serempak ucapan itu terlontar dari mereka semua melihat seseorang yang kini tengah masuk dengan nafas ngos-ngosan dan baju yang sedikit berantakan.


"pak Ketu, ada apaan sih??" ucap Brenda yang sangat kasihan melihat gebetannya.


"iya, lo di kejar setan Le?" kini Baron yang bertanya pada pak ketu, sebelum menjawab pertanyaan dari sang sahabat, ia duduk terlebih dahulu di bangkunya.


"bukan setan, Bidadari ini mahhhhh" teriaknya begitu histeris dengan tampang penuh binar diwajahnya.


"wah asli nih bro?" ucap Baron yang tak percaya akan reaksi Leon.


"hm.. liat aja entar"


Tak menunggu lama , sepatu pentofel yang terlihat masih baru dan juga rok span berwarna hitam yang digunakan pas lutut serta blazer berwarna pink guna menutupi kemeja putihnya memasuki kelas dengan tegasnya .


"Selamat pagi anak-anak"


"pagi buuuu....."


"Maaf , Saya terlambat masuk kelas karena ada hal yang harus saya selesaikan. Hari ini , kalian akan mendapatkan teman baru . Silahkan masuk nak"

__ADS_1


Seseorang itu kini memasuki Kelas dengan percaya diri, tak lupa dengan wajah Cantik dan senyum menawan yang membuat siapapun tak dapat mengalihkan pandangannya.


"Hallo teman - teman, perkenalkan, namaku Chalissa..."


__ADS_2