Behind The Mask

Behind The Mask
Mirror


__ADS_3

Chalissa dan Yuta tengah menghabiskan waktu bersama . Sesuai dengan perjanjian sang Ayah, akhirnya Chalissa meminta pulang pada Yuta dan mendapat anggukan dari lelaki itu.


Angin berhembus kencang , jalanan yang sedikit lenggang membuat Yuta sedikit menaikkan kecepatan motornya .


"Yuta, pelan - pelan" ucap Chalissa pada lelaki yang kini berada dihadapannya.


"Gak sayang, sebentar lagi hujan, jangan sampai kamu kehujanan , nanti sakit. Pegangan yang erat ya" setelah merasakan pelukan pada perutnya mengerat , Yuta langsung menaikkan lagi kecepatan lajunya.


brummm... brummm


Suara deruman motor berhenti setelah sampai tepat di depan pintu rumah Chalissa. Seseorang dari dalam langsung membuka pintu itu dengan tergesa.


"Sayang.. " Ucap sang ayah yang kini tengah merentangkan tangannya pada sang putri tercinta.


"Ayah... kok udah pulang? biasanya kan lembur"


"Iya, ayah sengaja pulang cepat. Ini kan hari pertama kamu disini"


"Makasih ayahhh... oh iya, Yuta sini" panggil Chalissa saat ingat ada seseorang dibelakangnya.


"Ayah.. ini Yuta"


Yuta pun memberikan salamnya pada sang Ayah yang dibalas dibalas dengan genggaman hangat pria dewasa di hadapannya ini.


"Saya Yuta om"


"Iya, saya tahu, tadikan dikasih tau sama Isa" Chalissa yang mendengar jawaban sang ayah langsung tertawa .


"Eh , iya ya om"


"Hell, baru kali ini gue bloon dihadapan orang lain." batin Yuta berteriak malu.


"hahah.. saking nervousnya ya kamu" ledek ayah Chalissa pada Yuta dan membuatnya merona karena malu.


"hehe ... maaf om"

__ADS_1


"Gak perlu minta maaf, kamu belum makan kan? yuk , kita makan bersama"


"Saya langsung pulang saja om"


"Loh? kenapa?"


"Saya sudah ada janji dengan ayah saya"


"Oh.. baiklah kalau begitu, lain kali , luangkan waktunya ya"


"Iya om, siap, Kalau gitu saya permisi"


"Iya hati - hati dijalannya"


"Iya om, " pandangan Yuta teralih pada gadis yang kini berada di hadapannya.


"Isa, Yuta pulang dulu ya... makan yang banyak, besok berangkat sekolahnya aku jemput "


"Iya , Yuta juga harus makan "


"Bye bye Yuta"


Akhirnya Yuta pun pergi meninggalkan kediaman Chalissa.


〰〰〰〰〰


Kamar gelap dan sunyi tanpa ada suara yang terdengar sedikitpun membuat suasana mencekam. Tak lama kemudian, satu lampu kecil dikamar itu menyala . Bukan menerangi semua ruangan, tapi sebuah cermin.


Cermin berbentuk oval dengan ukiran - ukiran halus di bagian sampingnya.


Seseorang itu mendekat, pandangan matanya tertuju lurus pada pantulan wajah yang kini memenuhi cermin dihadapannya saat ini.


Senyuman itu terukir , bukan senyum indah yang sedari tadi ia pertontonkan, tapi...


"Ini adalah awal dari segalanya.. selamat menikmati "

__ADS_1


hahahahahah.... suara tawa menggelegar yang begitu menakutkan tanpa peduli jika ada yang mendengarnya .


Cerminan itu memberikan tatapan tajam yang mampu menghunus apapun , bak pedang yang tengah diasah dengan begitu seringnya.


"Lakukan lagi, lakukan apapun yang membuat kamu puas, lakukan apapun yang bisa membuat hatimu bahagia akan apa yang telah kau lihat dengan mata hatimu"


"Jangan khiraukan mereka yang hanya bisa melihat sebelah sisi saja, bukan begitu?"


hahahahah.... tawa itu kembali terdengar di dalam kegelapan kamar .


.


.


Yuta kini telah sampai dimansionnya, suasana dingin tak ada suara sedikitpun terjadi dikediaman remaja lelaki ini. Orang yang berlalu lalang dihadapannya kini hanya bisa menunduk tak mampu mengeluarkan suaranya sedikitpun.


Mata tajam itu menelisik mencari seseorang .


"Panggil Hans" titahnya pada satu pelayan yang kini tepat dibelakangnya.


Tanpa banyak bicara, sang pelayan pergi untuk mencari Hans.


hufftttt.... Suara helaan nafas yang sepertinya terasa begitu berat tak mampu menghilangkan kekesalan dalam hatinya.


"selamat malam tuan muda"


"Hans... aku ingin kamu mencari data seseorang untukku" Yuta mengeluarkan ponselnya kemudian memperlihatkan sebuah gambar , bukan, lebih tepatnya foto seseorang.


"Baik tuan, akan saya laksanakan"


"Hm..."


Akhirnya, Hans pun meninggalkan Yuta yang kini duduk terdiam seraya menatap tajam tepat pada jendela di hadapannya.


"Kamu misterius, dan aku tak ingin hanya aku yang terjebak didalamnya. Karena kamupun harus merasakannya"

__ADS_1


__ADS_2