
Mulanya, Kaylee menganggap sang atasan hanya berkata omong kosong. Nyatanya, sang atasan—Noah Garfield benar akan perkataannya. Terbukti kala mereka kini berada di dalam mobil Lamborghini Veneno Roadster. Mobil yang tentu memiliki harga fantastis. Kaylee bisa menebak walau hanya melihat dan merasakannya. Ia malah jadi takut sendiri berlama-lama berada di mobil ini.
Terlebih, Noah tidak berujar setelah mengatakan ia tidak suka jika ucapannya berulang kali. Lucu sekali. Bahkan itu hingga sampai dipekarangan rumah bibinya yang sederhana. Mendadak ia meringis mengamati Noah yang melirik ke bangunan sederhana yang ia tempati. Pasti karena tidak sesuai dengan kehidupan mewah yang ia miliki selama ini.
Kaylee sungguh gugup setengah mati. Mencoba menetralkan diri lalu menoleh ke arah Noah dengan senyum lebar. “Terima kasih karena sudah repot mengantar saya pulang, Tuan.” Berharap Noah langsung meresponnya.
Untung, Noah langsung menoleh. Menatap mata indah miliknya. “Ini tidak gratis.”
Mulut dan kedua mata Kaylee membola. Tidak gratis? Lantas ia harus membayarnya dengan apa untuk pria kaya yang mengantarnya pulang? Kalau akhir akan seperti itu, Kaylee lebih baik naik bis saja.
Sekuat tenaga, Kaylee kembali pada ekspresi tenangnya. Walau ia merasa kesal dan mengumpat dalam hati. Terlebih Noah hanya menatapnya dengan ekspresi dingin.
“Tetapi saya tidak tahu harus membayarnya dengan apa, Tuan? Coba Tuan katakan.” Sembari Kaylee mengutuk Noah. Menyesali keinginannya yang menerima tumpangan itu.
Noah masih betah dengan wajah lempengnya. Itu membuat Kaylee takut. Rasanya sangat dingin, tetapi ia terkadang merasakan panas tiba-tiba.
“Sarapan itu. Mulai sekarang, kau yang menyiapkan sarapan dan makan siangku. Apa yang kumakan, akan Sebastian jelaskan kepadamu,” ucap Noah. Pria itu lalu kembali pada posisinya, menghadap ke depan. Bersiap untuk mengemudikan mobil kesayangannya.
Kaylee dibuat bingung setengah mati. Tugas macam apa lagi itu? Ingin bertanya, ia mengingat soal Noah yang tidak suka jika perkataannya yang diucapkan berulang kali. Memang sial!
Alhasil, kembali lagi. Kaylee menerima dengan hati yang meraung kesal. Akan tetapi, ia bisa bersikap seolah-olah tulus menerimanya. “Baik, Tuan. Akan saya konsultasikan dengan Tuan Sebastian. Sebelum terima kasih dan saya mohon izin pamit kalau begitu.”
“Pergilah.”
Rasanya kesal sekali mendengar obrolan yang begitu singkat. Kehidupan Noah Garfield terlihat sangat monoton sekali. Irit dan dingin kala sikap angkuh juga arogannya yang mendarah daging.
Itu ditambah kala Kaylee telah keluar, Noah langsung melesatkan mobilnya begitu saja dari sekitar rumah bibinya. “Huft, sangat menyusahkan sekali!”
Kaylee lalu menuntun kedua kakinya ke dalam rumah. Namun harus tertahan kala ponselnya tiba-tiba saja bergetar. Terdapat panggilan dari nomor tidak kenal. Walaupun sedikit takut mengangkat nomor yang tidak tahu pemiliknya, Kaylee tetap harus melakukannya. Bagaimana jika itu berhubungan dengan pekerjaan?
“Halo, ini Kaylee Mercier. Dengan siapa saya berbicara?” Sambil kembali menarik langkah, masuk ke dalam rumah.
Hari ini, sang Bibi tidak kembali. Ada lembur di kantor dan juga bibinya harus mengawasi para junior. Lagipula, Kaylee juga membawa kunci cadangan.
“Ini Sebastian. Sekretaris dan Asisten pribadi Tuan Noah Garfield.” Sosok sana memperkenalkan diri. Kaylee beroh ria. Hanya saja, cepat sekali Sekretaris Noah menghubunginya. Tidakkah membiarkan ia selesai membersihkan diri dulu?
“Ya, Tuan. Apa ini berhubungan dengan sarapan dan makan siang Tuan Garfield?” Walau Kaylee berharap bukan. Lebih bagus jika Noah tidak jadi menyuruhnya untuk mengurus sesi makan pria itu. Menambah pekerjaannya saja.
“Benar, Kaylee. Kau yang akan mengurus soal makanannya. Akan kukirim lewat obrolan apa saja yang biasanya Tuan Garfield konsumsi dan tidak bisa beliau konsumsi.” Sebastian langsung mengatakan tanpa basa-basi.
Kaylee menghentikan langkah setibanya di bagian dapur. “Akan tetapi—“ Panggilan itu langsung mati. Sebastian mematikannya secara pihak yang diikuti sebuah pesan masuk.
__ADS_1
“Apakah Tuan dan sekretarisnya tidak bisa santai dulu? Mereka sangat menjengkelkan!” umpat Kaylee. Beriringan dengan ia yang membuka pesan itu setelah ia memberi nama.
[Tuan Sebastian]: Tuan Garfield sebenarnya tidak terlalu memilih makanan, yang terpenting bukan berbahan dasar nasi. Hanya saja, Yorkshire pudding menjadi makanan yang sering menjadi sarapannya sejak dulu. Jika bosan, Tuan Garfield hanya sarapan Croissant atau sandwich dengan teh hijau tanpa gula.
[Tuan Sebastian]: Kau bisa membuat sejenis Yorkshire pudding jika ingin mengubah menu sarapannya. Untuk menu makan siang, Tuan Garfield lebih suka dengan soupe a l’oignon atau Bubble and squeak. Selama aku bekerja, Tuan Garfield sarapan dengan itu.
Kaylee membacanya dengan cermat. Tidak sulit juga. Mengingat, makanan yang di konsumsi Noah sudah pernah ia buat. Sepertinya, tidak akan menyulitkannya. Akan tetapi, Kaylee berharap Noah lebih sering ke luar untuk pertemuan bisnis. Sehingga ia bisa terbebas dari itu.
Dengan terpaksa, Kaylee berkutat lagi pada ponselnya. Menekan beberapa tuts di layar. “Apa ada yang lain, Tuan? Terus, kapan aku memulainya?” Kaylee langsung mengirimnya ke Sebastian. Tidak butuh waktu lama, Sebastian mengirimkan balasannya.
[Tuan Sebastian]: Hampir aku lupa. Tuan Garfield alergi dengan udang. Dan kau akan memulai besok.
[Tuan Sebastian]: Semoga berhasil! Terima kasih karena kau mengurangi pekerjaanku.
Kaylee hanya bisa menghela napas sembari mencibir. “Terima karena kau mengurangi pekerjaanku! Yang benar saja!” Pun Kaylee mematikan ponselnya.
Suasana hatinya begitu buruk. Jika ditelisik lagi, entah kenapa ia malah seperti asisten pribadi Noah. Sementara ia adalah staf divisi keuangan yang diberi tugas untuk menjadi ketua.
Kaylee lantas memegangi kepalanya. “Ya Tuhan, entah apa yang akan terjadi nanti! Aku hanya ingin hidup dengan semestinya. Membalas dendam dan mengambil kembali hakku!”
Hanya saja, Kaylee merasa itu terasa sulit.
Pada pagi hari, Kaylee akan berkutat di dapur kantor. Membuat sarapan untuk sang atasan setelah mendapat pesan dari Sebastian. Blus berwarna merah mudah yang dipadukan dengan celana kulot berwarna krim—harus ditutup sebentar oleh celemek. Kaylee juga yakin, ia pasti akan bau setelah ini.
“Ck! Ini masih pagi, dan suasana hatiku langsung buruk sekali!” umpatnya. Sedikit lagi, sarapan itu akan selesai.
Hanya saja, diwaktu yang ia mengerjakan tugasnya, seorang gadis dengan pakaian cukup terbuka. Belahan dada yang terekspos begitu saja. Rok yang hampir tersingkap dengan riasan yang begitu tebal menyenggol Kaylee dengan sengaja.
“Ops! Aku tidak sengaja,” ucapnya. Kaylee bisa melihat kartu identitas yang tergantung. Lovely—Sekretaris Direktur Personalia. Memiliki badan seperti gitar Spanyol. Seksi sekali.
Akan tetapi, Kaylee mencoba tak acuh. Kembali pada tugasnya yang sisa menyeduh teh hijau.
“Kau anak baru sombong sekali!” Lovely berteriak ke arah Kaylee yang sama sekali tidak peduli. Bahkan kala Kaylee yang langsung pergi begitu saja, membawa nampan itu setelah melepas celemeknya.
Bukannya sombong. Kaylee hanya merasa enggan untuk berurusan dengan siapapun pagi ini. Cukup dengan Tuan Garfield saja.
Hanya saja, itu membuat Lovely merasa jengkel. Tidak terima. Tangannya mengepal kuat yang beriringan dengan kehadiran seorang pria bernama Peter—rekan dari Kaylee. Pria itu mengamati Lovely yang fokus pada Kaylee. Kemudian menghela napas. Lovely langsung menoleh.
“Kenapa kau?”
“Kasihan sekali Nona Kaylee. Dia harus mengambil tugas untuk menyiapkan sarapan dan makan siang Tuan Garfield.” Seketika membuat Lovely menampilkan tatapan tajamnya.
__ADS_1
“Apa maksudmu? Kau membual?”
Peter menggeleng dengan senyum canggung. Lupa jika di depannya adalah seorang senior yang cantik dan seksi. “Kami rekan setim. Beberapa hari ini, Nona Kaylee memang melakukannya dan itu perintah dari Tuan Garfield. Semua orang tahu itu.” Lalu Peter kembali sibuk dengan kegiatannya yang hendak membuat kopi. Akibat menganalisis transaksi yang keluar dan masuk membuatnya mengantuk. Pun Lovely menggeram sekali. Kedua tangannya semakin mengepal.
“Wanita sialan itu! Beraninya dia mengincar posisi sebagai Nyonya Garfield!”
Sementara Kaylee yang mulai terbiasa dengan tatapan aneh dari para staf yang ada. Mengingat ia yang keluar masuk ruangan Tuan besar. Lagipula, Kaylee melakukannya karena memiliki kepentingan. Bukan bermaksud apa-apa.
Tepat setelah tiba di pintu ruangan Noah. Kaylee menekan bel.
“Masuk!” Dengan pelan Kaylee membuka pintu. Berjaga-jaga agar sarapan yang di bawahnya tidak jatuh.
Kaylee dengan sekilas bisa melihat terdapat Noah dan Sebastian yang ada di ruangan itu. Seperti biasanya, Kaylee akan menaruhnya di atas meja.
“Konsultasikan dengan bagian pemasaran. Setelah itu, agendakan rapat!” Suara itu terdengar begitu jelas memberikan perintah pada Sebastian yang mengangguk. “Kau bisa ke ruanganmu, Sebastian.”
Kembali memerintah. Namun Kaylee diabaikan. Noah memang seperti itu. Hanya saja, tidak sopan jika ia langsung pergi setelah menyiapkan makan siangnya. Barangkali sang atasan memerlukan hal yang lain.
“Kau sudah sarapan?” Pertanyaan itu menyentak Kaylee dari lamunannya. Menoleh sejenak, hanya terdapat ia dan Noah. Hal itu membuat Noah menghela napas. “Apa kau tuli?”
Sarkas sekali. Dengan cepat, Kaylee mengangguk. “Sudah, Tuan.” Kemudian kembali hening. Noah bahkan tidak menyuruhnya segera pergi. Pria itu hanya menghentikan sejenak pekerjaannya lalu menuju ke arah di mana makanan itu berada.
“Duduk dan temani saya makan.”
Ingin kembali memastikan pendengarannya, Kaylee takut membuat suasana hati Noah hancur. Ia dengan pasrah mendudukkan diri—tepat di samping Noah, ia membuat sedikit jarak.
Noah hanya menoleh sekilas lalu kembali pada makan siangnya. Noah tidak bisa membohongi diri kelihaian Kaylee dalam memasak. Ia tidak percaya saja, mengingat Kaylee adalah seorang wanita karir walau dia sempat menikah. Sangat jarang wanita menyentuh dapur. Di keluarga Garfield hampir semua menggunakan jasa pengurus rumah tangga. Semua serba instan.
Fokus yang ditujukan Noah pada makanan, membuat amatan Kaylee juga berada di sana. Kaylee tidak bisa membohongi dirinya. Ia melihat diri temannya dalam diri Noah. Hanya saja, apakah itu mungkin? Pun jika mungkin, kenapa Noah tidak mengenali ia dari namanya? Apakah mereka benar-benar asing? Itulah yang bersarang dipikiran Kaylee. Hingga ia tersentak kala seorang pria paruh baya tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan Noah.
Kaylee spontan bangkit dan menunduk memberikan hormat walau ia tidak mengenal pria itu. Lalu Noah terlihat tidak peduli. Noah asik mengisi perutnya.
Pria dengan rambut beruban yang datang juga terkejut, menatap Kaylee secara selidik. Matanya menyorot dari atas hingga ke bawah—begitu terus menerus. Tanpa mengeluarkan sepatah kata yang membuat Kaylee merasa tidak nyaman.
Noah paham dengan itu. Sembari meraih minumannya, ia menoleh ke arah pria tua itu.
“Berhenti menatap wanitaku seperti itu, Kakek!” Dengan tatapan dingin mengarah ke pria yang tidak lain adalah Arthur Garfield.
Arthur mengerutkan dahi. “Wanitamu?”
Sementara Kaylee terkejut bukan main. Kedua matanya serasa ingin menggelinding keluar. Dalam hati terus bertanya: sejak kapan dirinya menjadi wanita seorang Noah Garfield? Atau ia salah dengar?
__ADS_1