Behind The Mask

Behind The Mask
Masa Depanku


__ADS_3

Kelas itu begitu riuh dengan datangnya Chalissa. Ya , siapa yang gak akan heboh saat siswi cantik bak bidadari sekelas dengan mereka.


"OMG....Chalissa... lo harus temenan sama gue" teriak Brenda yang ikut histeris dari semua siswa di kelas.


"Chalissa, kamu harus jadi pacar aku pokoknya"


"Chalissa, bagi no hp nya dong"


"Chalissa ..."


"Chalissa ..."


"Chalissa ..." dan banyak lagi dari mereka yang mengaguminya, namun... salah satu siswa bangkit dari tidurnya dan mulai melangkahkan kaki sampai berhenti tepat di hadapan Chalissa.


Laki - laki itu memiringkan kepalanya memperlihatkan mata biru yang selalu Chalissa inginkan. rambut rapi namun memiliki poni yang menutupi mata, membuat kesan menarik untuk Chalissa. Hidung mancungnya , bibir tipis berwarna merah alami itu kini menampilkan senyumannya.


"Chalissa" panggil siswa yang kini berada di hadapannya. Chalissa tak menjawab , ia masih terpaku pada manik mata biru lelaki itu.


"Chalissa..."


Keadaan kelaspun menjadi hening, tak ada suara yang keluar dari mereka sedikitpun termasuk sang guru yang menatap gemas perilaku muridnya . Merekapun menggenggam erat tangan mereka masing masing , menatap penuh harap bercampur cemas akan apa yang kini mereka saksikan.


Tlek tlek...


Suara petikan dari kedua jari siswa itu masih tak berfungsi menyadarkan Chalissa.


"Chall ...." cup


"*Aaarrrrgggghhhhhh"


"Aahhhkkkkk pangeran gue , bibirnya udah gak di segel lagi..."


"aahhhh.. sayang banget yaa... bidadari satu satu nya di kelas kita di ambil sama tuh anak"


"bejo banget tuh si Yuta*"


Iya, dia Yuta , Yuta Alzaer Greo si tampan berprestasi yang tak pernah mengeluarkan sepatah katapun . Saat di tanya pun ia hanya akan bersikap acuh atau membalasnya menggunakan kertas. Tatapan tajam dengan betuk wajah yang terpahat bak dewa. tinggi badan dan tubuh proposional membuatnya banyak di gemari para siswi di sekolah ini bahkan sekolah lain.


Ia adalah lelaki bebas yang tak pernah taat pada aturan. Namun semua orang tak bisa berkutik untuk memberikan teguran padanya.

__ADS_1


Kenapa?


Karena dia adalah lelaki dingin yang selalu menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan setiap masalah. tatapan matanya yang selalu mengunci lawan dan membuat mereka tak bisa berkutik sedikitpun. Juga, banyak nya rumor yang beredar bahwa Yuta termasuk dalam geng besar di Jakarta .


Yuta masih menatap gadisnya yang kini tengah shock karena apa yang ia lakukan tadi.


Chalissa mengerjapkan matanya tak percaya .


"Orang ini, menciumku ?" batin Chall berteriak.


Kecupan itu Yuta lepaskan, namun tidak dengan matanya yang tak pernah lepas sedari gadis ini memasuki kelas hingga kini berada dihadapannya.


"Chalissa..."


"i..i.iy..iya?"


"Kamu akan jadi partner untuk kehidupanku di masa depan " klik... kedipan mata yang begitu menggoda iman.


"eh.. ta.. tapi.. kenapa Isa?"


"eumm.. panggilan kesayangannya Isa?? Okey Isa ... tatap mataku"


"Kamu milikku"


"tapi .. "


"ssstttt... kata tapi itu hanya akan jadi penghalang kita " jari telunjuk itu pas menempel di bibir Chalissa .


"dan... kalian..." kini mata birunya teralih pada semua temannya yang menatapnya dengan tegang , mereka menunggu apa yang akan di ucapkan oleh Yuta.


"tidak boleh ada yang mengganggunya... jika ada, ..." tlek , petikan jarinya kembali berbunyi dengan memiringkan kepalanya yang berarti orang itu akan mengalami patah pada tulang lehernya.


Ekhemmm...


Suara deheman membuat mereka bernafas lega. "Chalissa, silahkan duduk di.."


"disebelahku..ayo"


tanpa menghiraukan amarah sang guru yang kini tepat dibelakangnya, Yuta menggandeng tangan Chalissa menuju ke arah tempat duduknya berada.

__ADS_1


"sini tas nya, biar aku aja" Chalissa menatap tak enak pada Yuta yang dibalas senyum manis miliknya.


"gapapa kok, sini" akhirnya Chalissa pun memberikan tasnya pada Yuta.


semua para siswi menjerit tertahan akan sikap Yuta si cool bad boy seantero sekolah menjadi begitu manis.


"gue juga mau diperhatiin dongg..." rengek Tiara yang sedari tadi envy melihat adegan live di hadapan matanya.


"tuh sama si somad"


Sang gadis yang mendengar itu langsung mendelik sebal menatap teman sebangkunya.


Somad si kutu buku dengan tompel hitam yang terpampang sangat jelas di samping halisnya.


"lo aja sono"


"enak aja, gue mah yayang Ketu aja "


"ck.. pak ketu yuh gak bakalan suka cewe kayak lo brend , lebih cocok tuh sama yang itu" tunjuk siswi itu pada gadis yang kini sedang fokus menulis penjelasan dari sang guru .


"ck... kalau di banding sama yang itu mah , gue juga minder "


"hahahaha.. ternyata ada yang ngalahin cewe yang katanya paling cantik di kelas ini"


"ekhemm.. sudah mengobrolnya Tiara?? Brenda??" suara itu menghentikan obrolan ringan mereka berdua, dengan gemetar mereka berbalik dan tepat di belakang mereka ada sang guru yang membawa kipas angin.


"ehh. .. bu... hehe ... maaf ya bu"


"gak ada maaf maaf, cepat ke depan dan isi soal yang ibu tulis di papan tulis"


Keduanya amat sangat benci pelajaran ini . Hufffttt , dengan perlahan mereka melangkah maju sesekali menatap teman temannya berharap ada yang bisa membantu mereka.


Gotcha...!!!!


Seseorang menegakkan bukunya menghadap ke arah dimana mereka berdiri saat ini.


"Thank's God"


"Ya Allah.. hatur nuhun pisaaannnn" (ya Allah, terima kasih banget) batin mereka bersorak senang karena ada yang membantunya kali ini.

__ADS_1


__ADS_2