Behind The Mask

Behind The Mask
Menemukanmu


__ADS_3

Di salah satu ruangan yang ada di Perusahaan Diamond Garfield—aula menjadi tempat pelaksanaan seleksi ujian dengan bantuan komputer. Terdapat 50 kursi, meja dan komputer yang telah menyala dan bertuan—siap untuk digunakan. Noah sendiri tidak main-main dalam melakukan seleksi, sekalipun harus mengeluarkan banyak biaya.


Kaylee yang baru saja tiba di ruangan tersebut, sedikit menciut kala melihat sekitar—baik pria dan wanita yang sudah siap dalam seleksi ini. Begitu banyak yang akan tersingkir. Kaylee sendiri tidak tahu berapa kandidat yang akan lolos ke tahap akhir.


Namun, Kaylee mencoba untuk tetap tenang. Sembari menggenggam map berwarna gold yang disana tertulis angka 45. Map ini Kaylee ambil saat memasuki Perusahaan. Di sana terdapat staf yang menanti setiap peserta untuk ujian. Melangkahkan kedua kakinya, Kaylee menoleh untuk mencari nomor miliknya yang akan ia tempati ujian.


Tidak terlalu sulit karena tempatnya berada di bagian belakang. Ia langsung duduk seraya menyimpan map berwarna gold tersebut lalu menantikan instruksi selanjutnya. Lagipula, masih ada 5 menit sebelum ujian berlangsung.


Kaylee lantas memejamkan mata. “Ya Tuhan, kumohon bantu aku ....”


Kemudian, tidak berselang lama, terdengar sebuah instruksi. Para peserta diharapkan memasuki web ujian dengan mengisi nama serta nomor peserta sebagai kata sandi. Kaylee melakukannya dengan cermat, tidak lama deretan soal kita muncul.


Terdapat soal matematika, ekonomi, akuntansi, bahasa inggris dan psikotes.


Kaylee menghembuskan napas setelah melihatnya. “Kenapa aku seperti nostalgia dengan ujian sekolah menengah atas dan ketika memasuki awal perkuliahan?” Bagi Kaylee, Noah Garfield yang mencetuskan ide ini memang tidak bisa ditebak.


Sementara Noah Garfield saat ini memainkan penanya seraya menyandarkan kepala pada bantalan kursi kekuasaannya. Pikirannya masih berkelana setelah pertemuan buruk tadi.


Kaylee Mercier. Nama itu terus saja mengusiknya.


Hanya saja, untuk beberapa saat, pikirannya harus teralihkan saat seseorang begitu saja masuk ke dalam ruangannya. Itu adalah Sebastian. Tentu membuat Noah berdecak seraya melempar pena itu ke arah Sebastian yang kini berdiri di hadapannya. Sebastian terkejut respon dari atasannya.


“Saya minta maaf, Tuan—“


“Di mana etikamu? Kenapa masuk tanpa mengetuk pintu dan menunggu perintahku?” Noah berujar begitu dingin—tatapan ingin menerkam seseorang saat ini.


Sebastian yang mendengarnya ingin sekali mengutuk, tetapi semua itu ia tahan untuk kelangsungan hidupnya. “Saya sudah mengetuk pintu sejak tadi, Tuan. Saya kira terjadi sesuatu setelah Tuan sebelumnya memencet tombol seperti biasanya. Sekali lagi, mohon maaf atas kelancangan saya,” ucap Sebastian seraya menundukkan kepala.


Noah membisu setelahnya. Ia tidak menyadari jika pada dasarnya Sebastian sejak tadi mengetuk pintu ruangannya. Sial. Semua itu karena pikiran bodohnya. Kepalanya pening setelah itu, pun alasan memencet tombol memiliki kaitan dengan wanita itu. Tentu, Noah tidak ingin dirinya dianggap salah karena pada dasarnya Sebastian harus tetap menunggu.


“Kali ini kumaafkan. Kau harus belajar etika itu, paham?”


Sebastian tidak punya pilihan selain mengangguk. Walau ia ingin sekali menimpali jika Noah berarti harus melakukan hal sama. Mengingat, Noah langsung masuk ke dalam ruangannya jika perlu. Sial sekali hidupnya memang.


“Akan saya ingat dengan baik, Tuan.” Tentu, Sebastian masih mencintai pekerjaannya selama delapan tahun jika harus menolak. “Lantas, apa yang Tuan titahkan sekarang?” Sebastian mencoba melupakan masalah itu dan kembali pada mode alasan dirinya dipanggil.


Sejenak, Noah diam dengan amatan fokus pada Sebastian yang menanti jawaban. “Kaylee Mercier. Cari tahu tentang wanita itu secara detail.”


Perintah itu, membuat Sebastian mengerutkan dahi. Ia tidak lupa nama itu. Nama kenalan dari Oliv—rekan kerjanya. Hendak bertanya alasan mencari tahu, ia langsung disuguhkan tatapan tajam khas dari pria itu.


“Jangan banyak tanya dan kerjakan! Aku butuh secepatnya!”

__ADS_1


Hanya itu. Sebastian mengangguk paham. Beruntung ia belum sempat bertanya. “Saya akan mencari tahu semua tentang Nona Kaylee Mercier, Tuan.”


Noah yang mendengarnya, sedikit mendapatkan ketenangan. Lagipula, ia tidak ingin terus berlarut dan harus memastikan sesuatu dengan segera.


Alhasil, Sebastian meminta izin untuk undur diri setelah tidak lagi pembicaraan. Sekretaris CEO itu langsung bergegas untuk mencari informasi mengenai wanita tadi, walau rasanya sangat aneh. Mengingat, atasannya tidak pernah terlihat dekat ataupun terlibat skandal dengan seorang wanita. Hanya skandal yang mengatakan Noah tidak normal karena sampai diumurnya yang akan menginjak angka 29, Noah belum memperlihatkan kedekatan atau ketertarikan dengan seorang wanita.


Jika wanita ini memang spesial bagi Noah, Sebastian akan dengan senang hati melakukannya. Mengingat ia ingin terbaik untuk sahabat karibnya itu. Mereka berteman sejak memasuki perkuliahan—sama-sama berada di program studi Manajemen dan berjuang mati-matian. Sebastian dulunya tidak terlalu tahu soal Noah yang ternyata yang akan mewariskan jabatan CEO, dan dengan gamblang Noah menjadikannya sebagai sekretaris sekaligus asisten pribadi dengan upah yang besar.


Sebastian tidak menolak, karena ia membutuhkan pekerjaan untuk keluarganya. Sampai sekarang, walaupun kadang kesal dengan sikap arogan dan angkuh Noah, Sebastian tetap akan mengabdikan diri kepada Noah dikarenakan Noah telah melakukan hal banyak untuk ia dan keluarganya. Hal yang tidak bisa Sebastian lupakan kala Noah dengan suka rela membiayai operasi dan pemulihan ibunya yang sakit keras. Kini, ibunya sudah sehat dan merasakan pundi-pundi uang yang telah didapatkan selama ini.


Bagi Sebastian, Noah memiliki hati seperti malaikat, walau terkadang sisi iblis lebih mendominasi dalam tubuhnya.


...****************...


Kaylee meregangkan ototnya di salah satu kafe yang ada di dekat halte bis—jaraknya tidak jauh dari Perusahaan Diamond Garfield. Ia memilih untuk bersantai sembari menunggu jadwal keberangkatan bis ke halte dekat rumahnya.


Ujian tadi sudah selesai. Waktu yang diberikan sekitar 60 menit untuk menjawab 50 soal. Benar-benar membuat otak berpikir keras. Kaylee mengetahui dan memahami hampir semua soal, tetapi ia juga tidak terlalu yakin. Semoga saja, jawaban yang ia berikan membawa keberuntungan. Sisanya, Kaylee harus menunggu pengumuman selanjutnya. Mereka belum memberitahu secara pasti kapan akan keluar sehingga masing-masing peserta diharapkan rajin membuka website.


Kali ini, Kaylee memesan matcha latte khas dengan rasa sedikit pahit, tetapi lembut akan perpaduan susu dan sedikit gula. Minuman kesukaan Kaylee selain cokelat panas. Hanya saja, untuk saat ini, ia menginginkan matcha latte.


Minumannya pun sudah tinggal sedikit, hampir 15 menit ia berada di tempat ini dan belum niat hengkang—menanti bis di halte. Ia akan benar-benar ke sana jika bisanya sudah tiba.


Akan tetapi, Kaylee tiba-tiba saja memikirkan suatu hal ketika berpapasan buruk dengan CEO Diamond Garfield. Mata cokelat indah itu, mengingatkan Kaylee dengan seseorang yang memiliki nama yang sama Noah Garfield.


Katakan dirinya tidak waras dengan menyamakan CEO Diamond Garfield, tetapi ketika melihatnya sekilas, Kaylee merasa bertemu dengan teman kecilnya yang selalu melindunginya. Kaylee bisa mengingat kala hanya temannya itulah yang menemaninya main—lebih tepat Kaylee yang memaksa. Sungguh manis sekali.


“Entah kau di mana, tetapi kuharap kita akan bertemu.” Harapan terbesar Kaylee. Walau mereka tidak akan seperti kemarin, setidaknya ia bisa melihat dan berbicara dengan temannya itu, menanyakan alasan ia ditinggal.


Kaylee mengembuskan napas kasar. Kepalanya melirik ke arah siaran televisi untuk hiburan, tetapi ia malah mendapatkan kejutan kecil.


Breaking News: CEO Davidson Corp--Erland Davidson mengumumkan kehamilan istrinya, Liliana Hulmet.


Seketika ia membeku. Semenjak ia melihat Erland di taman, ia tidak lagi tahu atau bertemu dengan pria itu karena kesibukan akan kehidupannya yang baru. Kaylee tidak terkejut Erland akan menikahi Liliana dan akan memiliki anak, itu sudah seperti akhir yang seharusnya.


Akan tetapi, Kaylee akan sedikit membelokkan akhir yang bahagia itu. Sedikit permainan yang tentu tidak akan lama lagi ia lakukan.


“Nantikan saja permainannya, Tuan Davidson!”


...****************...


Noah memperhatikan layar Ipad yang menampilkan grafik keuangan Perusahaan yang mulai stabil dalam perjalanan menuju mansion pribadinya. Sebastian tentu berada di bagian pengemudi, sebab sudah menjadi tugasnya. Bahkan, Sebastian juga tinggal di mansion milik Noah sebagai jaga-jaga akan pekerjaan yang biasanya mendadak. Hal itu menjadi permintaan dari Noah sendiri.

__ADS_1


Keduanya fokus pada pekerjaan dan pemikiran masing-masing. Hanya sementara, karena setelahnya, Noah mengingat satu hal.


“Bagaimana perkembangan soal yang kuminta tadi?” Pertanyaan itu, membuat Sebastian merinding tetapi ia mencoba untuk tetap tenang.


“Saya sudah mendapatkan semua informasinya, Tuan. Akan saya jabarkan terlebih dahulu di laptop sebelum memberikan—“


“Langsung berikan informasinya sekarang!” Noah memotong perkataan Sebastian yang membuat pria itu mengerutkan dahi.


“Sekarang, Tuan?”


Noah merotasikan kedua bola matanya. “Apa perlu kuulang perintahnya?” Sebastian langsung menggelengkan kepala, Noah tipikal enggan untuk mengucapkan perintah atau pertanyaan lebih dari sekali.


Alhasil, Sebastian menghembuskan napas pelan, mencoba untuk fokus sembari bersiap untuk memberikan informasi yang di dapat. “Kaylee Mercier adalah yatim piatu yang sekarang tinggal bersama Bibinya. Akan tetapi, sebelumnya, Kaylee adalah mantan istri dari Erland Davidson—pemilik Davidson Corp.” Perkataan sederhana yang membuat pekerjaan Noah yang mengamati Ipad terhenti.


“Mantan istri Erland?” Noah tahu Erland yang dimaksud, salah satu rekan bisnis—mungkin lebih tepat saingan, tetapi Noah hanya menganggapnya sebagai hama.


Sebastian mengangguk. “Mereka menikah, tetapi informasi yang kudapat kurang lebih dari 10 hari sebelum Erland mengeluarkan surat cerai. Menurut penelusuranku, alasan Erland menceraikannya karena Kaylee memiliki tubuh yang begitu berisi, tidak ideal dan jelek. Kaylee yang saat ini, memiliki banyak perubahan karena telah melakukan operasi plastik dan diet. Bagusnya, saya mendapatkan foto Kaylee sebelum operasi dan foto masa kecilnya Tuan. Jika Tuan berkenan, bisa melihat di Ipad yang Tuan genggam. Di bagian penyimpanan foto KM,” ucap Sebastian menjelaskan. Ia tidak bisa melakukannya kala saat ini sedang menyetir.


Noah yang notabenenya penasaran, langsung membuka penyimpanan foto yang dimaksud Sebastian dan ia bisa melihatnya. Kedua mata Noah menatap begitu lekat, memberikan perbandingan dengan foto sekarang. “Hanya sedikit yang berubah dari wajahnya sebelum ia melakukan operasi. Ini hanya seperti melakukan penurunan bobot di wajah dan sekarang dia mulai merawat dirinya, begitu kentara memiliki kulit yang sehat sekarang.” Noah memberikan kesimpulan dari apa yang dilihatnya.


Anggukan sekali lagi dilakukan oleh Sebastian. “Saya juga berkesimpulan seperti itu, Tuan, dan menurutku, Nona Kaylee cantik-cantik saja setelah mendengar alasannya perpisahannya, seperti mata Erland sedang tidak baik-baik saja.”


Dengan kilat, Sebastian mendapatkan tatapan mengintimidasi dari Sebastian. Akan tetapi, Noah tidak berkata apa-apa, karena menurutnya Sebastian memang benar. Kaylee sebelumnya cantik dan tepat setelah Noah menggeser slide foto, sebuah foto membuatnya terdiam membeku.


Foto seorang anak perempuan yang memeluk boneka beruang kecil berwarna pink. Foto yang membuatnya teringat akan kenangan mengenai ia yang memberikan sebuah boneka beruang berwarna pink sebagai hadiah ulang tahun kepada seorang anak perempuan dan ia pula’lah yang memotretnya. Sangat kebetulan sekali. Anak kecil yang sekiranya berusia 10 tahunan itu nyatanya adalah Kaylee yang sempat ia temui.


“Berapa umur Kaylee Mercier?” Pertanyaan tiba-tiba yang membuat Sebastian berpikir keras. Hampir saja ia melupakan soal ini, entah kenapa, ia menduga Noah akan mempertanyakannya.


“Yang kulihat di bagian identitasnya, akhir tahun dia berusia 24 tahun, Tuan.”


Kembali, Noah menatap lekat foto anak kecil itu lalu memejamkan mata. “Bagaimana hasil seleksi tadi?”


“Ya?”


“Katakan, Kaylee berada di peringkat berapa?”


Pertanyaan-pertanyaan aneh yang membuat Sebastian bingung, tetapi jika tidak menjawab Noah akan menyemprotnya dengan amarah. “Dia berada di posisi kedua—“


“Umumkan nanti malam dan pilih 20 peringkat teratas untuk mengikuti wawancara besok!” Lalu Noah mematikan Ipad dan mengamati Sebastian yang terkejut—mulut dan kedua matanya membulat.


“Mendadak sekali?”

__ADS_1


“Kau mencoba mengaturku?” Dengan cepat, Sebastian menggelengkan kepala. Sial, mulutnya keceplosan mengatakan hal tersebut. Tentu, semua perintah Noah adalah mutlak—harus dikerjakan.


 


__ADS_2