
Kaylee hampir tersedak akan makanannya saat ini setelah melihat sebuah email yang muncul. Berita mengenai dirinya yang lolos ke tahap akhir.
Dengan cepat, Kaylee menyingkirkan makanannya terlebih dahulu dari hadapannya lalu kembali memeriksa email dengan jelas.
Benar saja. Kaylee ternyata berada di peringkat dua teratas yang memiliki nilai ujian yang sangat baik. Kaylee terkejut, ia tidak menyangka akan lolos ke tahap selanjutnya dengan nilai yang segitu. “Wow, aku sangat tidak mempercayainya!” Sambil menutup mulut dengan sebelah tangan, sebelah lainnya terus menggulir layar ponsel hingga satu pemberitahuan yang membuat kedua matanya membulat sempurna.
“Tahap wawancara akan dilakukan besok? Sial, aku belum mempersiapkan apapun,” ucap Kaylee frustrasi. Kebahagiaan yang semula munculnya, membuatnya perlahan hancur. Waktu yang begitu singkat, ia tidak berpikir jika ternyata akan diberi waktu sangat pendek. Itu bisa saja Perusahaan Diamond Garfield sangat mendesak—segera ingin mengisi posisi yang kosong.
Terlebih dahulu, Kaylee meraup banyak oksigen—menetralkan dirinya sebelum kembali berkutat pada ponselnya. “Aku sedang tidak bermimpi. Oh Tuhan ....”
Kaylee kesal. Akan tetapi, pada faktanya, ia tidak bisa melakukan kehendaknya. Oleh karena itu, ia menghabiskan terlebih dahulu makanannya, membersihkan piring setelah selesai lalu beranjak ke kamarnya.
Kaylee akan bersemedi untuk beberapa waktu ke depan, mempersiapkan banyak hal karena ia tidak ingin memberikan kekecewaan—harap besar terhadap perusahaan ini.
Sementara di tempat lain, Noah membaca map berisi lembaran-lembaran yang disusun oleh Sebastian. Tentang Kaylee—teman masa kecilnya. Malam kian larut, tidak menghentikan aksi Noah untuk memperkerjakan kedua matanya membaca setiap deretan kata yang membuatnya diam tidak berkutik.
Garis besar yang dijabarkan Sebastian sebelumnya sepenuhnya benar. Kaylee sudah pernah menikah, tetapi pernikahan mereka tidak seperti pernikahan pada umumnya yang bahagia setelah menikah dengan sang pujaan hati. Adanya pengkhianatan dan penderitaan, itulah yang Kaylee terus dapatkan hingga memilih mengubah beberapa hal.
Akan tetapi, bagi Noah, Kaylee masih cantik pada umumnya. Wanita yang ia anggap cantik setelah ibunya. Perlahan, ia sadar akan apa yang ia pikirkan. Noah menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran aneh yang mengelilinginya.
Lantas, Noah kembali berkutat pada lembaran dan lembaran foto sewaktu Kaylee masih kecil, terus saja membuat kedua bibirnya ingin membentangkan. Hanya saja, ia terlalu enggan untuk melakukannya.
“Kau ternyata memiliki masa kelam setelah kepergianku, Kaylee ....” Noah bergumam dengan amatan yang fokus pada foto itu hingga harus terputus kala ponselnya berdering—seseorang meneleponnya malam yang larut. Ia akan membuat perhitungan jika tidak penting. Namun, melihat nama sang kakek di layar ponselnya, Noah membuang banyak napas. Terlebih dahulu, ia menyimpan berkas itu lalu memberikan fokus pada ponselnya setelah menekan tombol hijau.
“Ini Noah Garfield.” Noah memberikan sapaan sederhana, membuat di seberang sana terkekeh.
“Kau sangat kaku, cucuku.” Balasan yang membuat Noah tidak habis pikir saja. Jika bukan kakeknya, ia pasti sudah memaki-maki.
__ADS_1
“Jika tidak ada yang penting, lebih baik kakek pergi tidur saja. Ini sudah larut.” Dengan sekuat tenaga, Noah menahan sabar jika berurusan dengan sang kakek—Arthur Garfield.
“Kakek tidak bisa tidur dengan lelap karena terus memikirkan cucuku satu ini yang sampai sekarang masih betah sendiri. Kakek paham jika kau menolak perjodohan dari kakek, baik kalau begitu, perkenalkan kakek dengan wanita pilihanmu segera. Kakek hanya ingin melihat seseorang mendampingimu seumur hidup sebelum kakek tiada, Noah,” ucap Arthur disebelah sana membuat Noah merotasikan bola matanya dengan malas.
Andai semudah itu, tetapi Noah sampai sekarang belum mendapat pasangan yang cocok, belum ada yang membuatnya dirinya berdebar. Hanya muak saja kala beberapa wanita mencoba untuk berkenalan dan menggodanya.
Noah mengerti kekhawatiran sang kakek akan berita dirinya yang memiliki kelainan menyimpang. Noah masih normal, tetapi ia muak saja.
“Sudah malam, jangan berkata seperti itu. Aku akan menikah jika waktunya sudah tiba.” Berharap sang kakek berhenti untuk mendesaknya.
“Kapan? Kakek harap kau tidak hanya memberikan semua harapan, Noah!’
Sekali lagi, Noah mencoba menahan emosi yang bergejolak. “Mungkin tidak akan lama lagi, akan kukabari jika menemukan yang ingin kunikahi. Tidurlah kakek dan selamat malam.”
Noah langsung mematikannya tanpa menanti balasan dari sang kakek yang tiada habisnya. Pembahasan ini, membuatnya tidak nyaman sehingga ia berusaha untuk keluar. Tidak tinggal di mansion utamanya juga karena itu, sehingga kehidupannya menjadi terusik karena desakan untuk menikah.
“Lagipula, apa salahnya jika melajang seumur hidup?”
Perusahaan Diamond Garfield pagi ini terlihat sibuk. Sekalipun hanya mempersiapkan keperluan tahap akhir—wawancara penerimaan staf baru, mereka harus lebih detail karena Sang CEO turut andil dalam pemilihan akhir. Mereka masih mencintai pekerjaan mereka, sehingga melakukannya dengan hati-hati.
Tahap akhir tetap akan dilakukan di aula, setelah pihak perusahaan menata ulang kembali sehingga hanya menyisakan empat meja dan kursi yang akan diduduki oleh para penilai dan tepat di empat kursi itu terdapat satu kursi untuk diduduki peserta.
Sejak tadi, satu persatu peserta yang berjumlah 20 telah berada di sekitar perusahaan, mereka menunggu di depan ruang aula. Termasuk Kaylee juga berdiri tidak jauh dari depan aula. Kali ini, ia berada di urutan tujuh dan itu tidak lama lagi. Sebelumnya, Kaylee kembali memperhatikan riasannya di cermin bedak yang ia bawa. Lalu merapikan rambutnya yang ia ikat setengah lantas memberikan di ikatan tersebut pita berwarna putih. Pakaian yang ia kenakan sekarang adalah blouse berwarna putih yang terdapat pita di tengahnya, kemudian dipadukan dengan rok hingga lutut. Memberikan Kaylee kesan elegan.
Kaylee sedikit cemas, ini wawancara setelah sekian lama. Ia berharap, semuanya akan berjalan lancar. Hingga, tidak lama, namanya kini menguar keudara. Kaylee bergegas masuk ke dalam sana dan langsung mendapat arahan untuk duduk di satu kursi yang berhadapan dengan empat penilai yang jelas akan melayangkan banyak pertanyaan.
Di sana, Kaylee bisa melihat senyum lebar dari Oliv. Nyatanya, mereka benar-benar bertemu dan yang membuatnya terkejut, Oliv menjabat sebagai Direktur Keuangan. Kaylee tidak berpikir sampai sana dan lagi, ia melihat eksistensi seorang pria pemilik ruangan Sekretaris CEO waktu itu. Kaylee mengingatnya. Sebastian, itu namanya dan di sebelahnya, terdapat pria arogan dan angkuh yang membuat semua orang takut—Noah Garfield. Mendadak, Kaylee mengingat kesan buruk mereka dan untuk sebelah Noah, Kaylee tidak mengenalnya. Akan tetapi, itu adalah Giffrey Garfield, Direktur Personalia.
__ADS_1
“Baik, Nona Mercier. Kau bisa memperkenalkan dirimu terlebih dahulu,” ucap Sebastian yang membuat Kaylee gugup. Ia mencoba menghapus rasa gugupnya mati-matian. Menganggap semua yang di depannya adalah temannya.
Kaylee mengangguk dengan senyumannya. Kepalanya sedikit menunduk. “Terima kasih kesempatan yang berharganya. Perkenalkan nama saya Kaylee Mercier. Usia saya 23 tahun. Saya telah lulus dari Program Studi Akuntansi di LV University. Selama kuliah, saya belajar mengenai teknik audit dan juga perhitungan ekonomi baik. Hal tersebut membuat pengalaman dan kemampuan saya semakin berkembang. Selain itu, saya sebelumnya sempat menjadi staf keuangan di Perusahaan Media Star yang beroperasi di bidang properti,” jelas Kaylee panjang lebar dalam memperkenalkan diri.
Semua orang mengangguk paham, tetapi Noah memilih diam—mengamati begitu lekat sosok wanita di hadapannya ini. Kaylee tentu memahami jika dirinya sedang ditatap, tetapi ia mencoba untuk percaya diri dan tidak peduli.
“Sudah memiliki pengalaman di bidang yang sama ternyata, lantas apa alasannya hingga Nona Kaylee berhenti di sana dan sekarang melamar di sini?” Oliv bertanya—mewakili pertanyaan tiga orang di tempat tersebut. Akan tetapi, pada dasarnya mereka memiliki masing-masing kesempatan untuk bertanya.
“Saya berhenti waktu itu karena ingin fokus setelah menikah, tetapi karena pernikahannya sudah berakhir, saya mencoba kembali mencari peruntungan untuk diri saya dan Tuhan seperti memperlihatkan jalan saat melihat pemberitahuan Perusahaan Diamond Garfield membuka lowongan pekerjaan.” Kaylee menjawabnya begitu lugas dan tanpa rasa takut. Beberapa yang mendengarnya, terkejut jika ternyata Kaylee adalah seorang janda. Namun tidak ada yang menyinggung karena itu adalah ranah privasi.
“Baiklah, berarti jika hal sama akan terjadi di masa depan, kau juga akan melakukan hal yang sama, Nona?” tanya Giffrey, pertanyaan yang sebenarnya terdengar aneh bagi Kaylee tetapi ia mencoba menjawabnya dengan baik.
“Terlebih dahulu, saya akan berpatokan pada masa sekarang, Tuan. Tidak ada yang tahu bagaimana ke depannya, tetapi untuk saat ini, saya hanya fokus untuk kembali mengembangkan karir dan masa depan saya,” ucap Kaylee dengan jujur, tidak sengaja matanya bertabrakan dengan kedua netra cokelat itu. Tatapan dingin yang malah memabukkan.
“Apa yang bisa kau berikan untuk Perusahaanku, Nona Kaylee Mercier?" ucap Noah yang terdengar indah di telinga Kaylee—memberikannya sengatan akan masa lalu dengan teman masa kecilnya yang berputar. Hanya sebentar, karena setelahnya Kaylee kembali fokus pada Noah dengan senyumannya.
“Saya tidak bisa memberikan apapun selain pengabdian dan mengerahkan semua kemampuan saya, Tuan. Jika saya diberi kesempatan untuk menjadi bagian Perusahaan anda, saya akan melakukannya karena Perusahaan anda memberikan saya sesuatu yang berharga untuk saya melanjutkan hidup,” ucap Kaylee dengan jelas dan jujur. Sesuatu yang berharga tentu tidak adalah upah, semua orang tahu akan hal itu.
Kaylee mencoba menjawab sesuai isi hati dan pikirannya. Jika pun ia gagal, berarti kesempatannya ada ditempat lain. Kaylee hanya perlu sabar.
“Baik.” Hanya itu yang dikatakan oleh Noah yang nyatanya menjadi pertanyaan terakhir. Begitu singkat dan membuat Kaylee gelisah saja. Apa pertanda ia tidak akan lolos?
Kaylee tidak tahu, ia hanya bisa berpamitan dan tersenyum lebar sebelum undur diri. Rasanya sangat menyesakkan jika ia tidak lolos.
Namun, setiap hal kecil yang dilakukan oleh Kaylee tidak luput dari pantauan Noah. Pria itu tersenyum kecil sebelum menulis sesuatu di dalam data diri Kaylee Mercier. Entah bagaimana nasib Kaylee nantinya.
__ADS_1