Behind The Mask

Behind The Mask
Merasakan Kehangatan


__ADS_3

Noah menarik langkah panjang sembari menggendong seorang wanita di dekapannya ke dalam mansion pribadinya. Para pelayan di mansion itu berjejer di pintu depan—sudah menjadi hal biasa untuk menyambut sang pemilik rumah. Mereka menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Tidak ada yang berniat berujar sebelum diperintahkan.


Namun, mereka tentu melihat sang majikan melakukan hal yang tidak pernah mereka bayangkan sekalipun. Selama ini. Bersentuhan fisik seperti itu dan membawanya ke dalam mansion. Bahkan, mereka terkejut kala sang majikan membawa sang wanita ke kamar pribadinya. Tempat yang bahkan tidak bisa dikunjungi oleh pelayan. Mungkin lebih tepatnya, tempat itu hanya dibersihkan oleh Sebastian saja.


Rasa-rasanya mereka akan mendapatkan sebuah kejutan tidak lama lagi.


Sebastian yang melihat semua pelayan tengah melirik ke arah kepergian Noah pun melotot tajam. “Tundukkan pandangan kalian pada Tuan sebelum kalian mendapatkan akibatnya. Jangan sampai Tuan mendengar berita yang tidak mengenakan. Tutup mulut kalian kalau masih ingin hidup.” Lalu Sebastian kembali menarik langkah. Mereka tentu takut. Ancaman yang bukan hanya sekadar terucap saja, karena mereka benar-benar bertindak.


Alhasil, setelah kepergian Sebastian, mereka kembali pada kesibukan masing-masing. Sementara Noah kini membaringkan tubuh ringan itu ke atas kasur miliknya. Ia bahkan tidak menyadari jika telah melakukannya. Padahal kamar pribadi adalah ranah yang tidak boleh sembarang untuk dimasuki.


Noah terdiam sejenak setelah menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuh Kaylee hingga dada. Tatapan dinginnya masih terpaku di sana hingga kehadiran Sebastian mengalihkannya.


“Bagaimana? Kau sudah menjalankan perintahku?” Noah bertanya tanpa basa-basi.


Sebastian mengangguk. “Saya sudah membereskannya, tidak meninggalkan satu jejak pun. Sesuai yang Tuan minta,” ucapnya. Walau ia masih penasaran karena Noah begitu perhatian dan melindungi sosok wanita yang kini terbaring tidak sadarkan diri.


Persoalan mereka berdua yang tiba-tiba datang menolong, itu karena mereka yang tidak sengaja melihat eksistensi Kaylee yang dilirik nakal oleh para brandalan. Awalnya, Noah hanya menyuruh berhenti di pinggir jalan—menatap setiap pergerakan yang ada sehingga kejadian itu terjadi. Sebastian bahkan tidak bisa berkata-kata kala Noah langsung ke sana dan memberikan pukulan telat.


Sebastian begitu kagum saja. Walau Noah mengatakan tidak akan tertarik dengan seorang wanita, ia merasa Noah akan memakan ucapannya sendiri. Anggap saja, kesepakatan sebagai hal omong kosong karena Noah hanya membutuhkan sosok Kaylee. Mengingat, begitu banyak wanita yang bisa dibilang lebih dari Kaylee, tetapi Noah malah memilih wanita itu.


“Panggilkan Dokter Richard, Sebastian!” Perintah yang Noah keluarkan membuat lamunan Sebastian buyar.


Ia mengerjapkan mata. “Baik, Tuan.” Lalu Sebastian merogoh ponselnya. Melakukan perintah sang atasan untuk memanggil dokter pribadi Noah selama ini. Sedangkan Noah memilih ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Terlebih terdapat percikkan darah di kemeja dan beberapa tubuhnya. Membuatnya tidak nyaman. Butuh beberapa menit ia di dalam lantas keluar dengan balutan handuk yang bertengger di pinggang.


Noah melirik sekilas, Kaylee belum sadarkan diri. Di sana terdapat Sebastian yang menunduk ke arahnya. “Dokter Richard akan segera ke sini, Tuan.”


Noah mengangguk. “Tunggu dokter Richard di luar dan bawa ke kamarku jika ia sudah tiba.” Kemudian Noah langsung masuk  ke dalam walk-in closet untuk berganti pakaian. Kaos hitam dengan celana santai senada kini terpasang di tubuh atletisnya.


Noah mengira Kaylee akan sadar, tetapi ternyata masih terlelap. Apa wanita itu masih hidup? Noah penasaran. Melangkah pelan untuk mendekat. Ia membiarkan telapak tangannya ke arah hidung Kaylee dan ia merasakan napas wanita itu.


“Berarti dia masih hidup,” ucapnya bersyukur. Tepat diwaktu bersamaan, sosok Sebastian dengan pria berjas putih—lengkap dengan alatnya membuka pintu kamar Noah begitu saja.


Noah terkejut. Ingin marah dengan Sebastian, tetapi urung ia lakukan. Kali ini, kembali ia memberikan maaf.

__ADS_1


“Tuan, Dokter Richard sudah tiba.”


Pria tampan—memiliki kulit begitu pucat itu tersenyum lebar. “Selamat malam, Tuan Garfield. Aku datang setelah mendapatkan panggilan dari Sebastian dan ya, memang benar, seorang wanita ya ...,” kekehnya. Tidak ada rasa takut sama sekali setelah mengatakannya.


“Berhenti mengatakan hal omong kosong! Periksa dia!” ucap Noah dingin.


Richard terpaksa menurut. Ia mengeluarkan stetoskop dari tas kerjanya, hendak membuka selimut tetapi Noah menghentikan pergerakannya. “Periksa saja! Jangan menyentuh apapun!”


Mendengar itu, Richard menampilkan ekspresi wajahnya yang sewot. “Mana bisa  begitu? Lagipula, itu sudah prosedurnya. Aku tidak akan melakukan hal aneh. Aku sudah melakukan sumpah!” Lama-lama, Richard emosi saja. Sebastian hanya meringis melihat perdebatan itu. Bagi Sebastian, Richard sosok yang bisa dan berani menimpali perkataan Noah.


Pada dasarnya, mereka adalah sepupu. Richard adalah putra tunggal dari anak bungsu Arthur Garfield.


Perlahan, Noah memberikan izin. Walau sedikit tidak terima kala Richard menyentuh beberapa tubuh Kaylee—yang memang sesuai prosedur. Hingga, Richard melepas stetoskop miliknya lalu melirik ke arah Noah dengan selidik. Seakan paham maksud tatapan Richard, Noah membalasnya dingin.


“Berhenti membuat spekulasi apapun. Katakan bagaimana kondisinya?”


Pun Richard menghembuskan napas. “Dia hanya pingsan. Seperti dia baru saja mengalami hal buruk. Akan aku resepkan obat dan pipinya—“


“Berikan Sebastian resepnya. Dia yang akan mengurus segala hal termasuk membayar jasamu. Kau bisa pergi.”


Richard tidak tahu apa yang terjadi dengan wanita cantik itu. Meminta penjelasan pada Sebastian pun, bukanlah hal tepat. Mengingat begitu setianya Sebastian pada Noah.


“Membuatku pusing saja karena penasaran.”


Sementara Noah yang masih di dalam kamar, tidak tahu berbuat apa. Kaylee belum juga sadar. Haruskah ia menceburkan Kaylee ke dalam kolam? Tetapi itu tidak mungkin. Kaylee sepertinya akan meninggal ditempat.


Hanya saja, kala kepalanya dibuat berpikir, ia langsung mendengar suara ringisan. Kaylee terbangun. Buru-buru, ia mendekat—duduk di sampingnya.


“Kau baik-baik saja?” Pertanyaan yang spontan keluar. Semua begitu tiba-tiba. Noah saja tidak bisa mengontrol dirinya.


Kaylee yang kini mencoba untuk duduk, menatap Noah dengan aneh—serta sekitarnya yang begitu asing—mewah. Ini bukanlah kamarnya. Kaylee tidak menjawab pertanyaan Noah. Ia terlihat bingung bisa berada di tempat ini. Noah yang menyadari, berdeham—mencoba menahan diri kala pertanyaannya diabaikan—untuk pertama kalinya. Akan tetapi, Noah merasa enggan untuk mempermasalahkan.


“Kau ada di mansionku. Di kamarku.”

__ADS_1


Hal itu mampu membuat Kaylee melototkan mata. Ia tidak menduganya, hingga kejadian beberapa saat lalu yang begitu membekas diingatannya kini kembali melintas. Kaylee ketakutan sekali. Sangat berterima kasih Noah dengan Sebastian datang untuk menolong.


Dengan pelan, Kaylee menoleh ke arah Noah. Matanya berair. Kedua bibirnya bergetar. “Terima kasih karena sudah menolongku. Terima kasih.” Lalu ia menangis.


Noah tidak tahu harus melakukan apa untuk menenangkan. Lingkungannya yang keras, membuat hatinya juga ikut keras. Hal-hal seperti ini terlihat aneh. Noah baru pertama kali harus menenangkan jika seseorang sedang menangis. Terakhir kali, kala ibunya menangis dan Kaylee kecil waktu itu.


Hembusan napas pelan langsung lolos begitu saja. Sedikit keraguan timbul kala perlakuan untuk menenangkan seseorang yang menangis mencuat—sewaktu bersama Kaylee kecil. Dengan perlahan, Noah mengusap bahu Kaylee yang bergetar. “Tenangkan dirimu.”


Kaylee yang merasakan itu, tersengat akan kehangatan. Ia seketika mengingat kala Noah pada waktu itu menenangkan setelah dikerjai oleh anak-anak nakal. Mungkin terlihat murahan kala Kaylee langsung menyandarkan kepalanya pada dada bidang Noah—ada rasa yang mengejutkan Noah tetapi tidak ia buat pusing.


“Kau sudah aman, Kaylee. Tidak ada yang akan melukaimu lagi.” Kembali Noah mengeluarkan kata-kata yang menenangkan hati Kaylee.


Seketika Kaylee mengingat soal kesepakatan. Apakah jika ia menerima kesepakatan itu, Noah akan melindungi dan menjamin keselamatannya?


Entahlah, Kaylee merasa akan mempertimbangkan soal kesepakatan itu. Bukan soal dapat membalaskan dendam. Ini soal Kaylee yang kembali memperoleh kehangatan yang selama ini hilang. Pun ia hanya menemukannya kala bersama Noah. Mungkin terasa sangat cepat.


...***...


Kaylee terbangun dengan badannya yang terasa lebih segar dan nyaman. Padahal ia tidak melakukan apapun. Ia pun hanya mengingat sesaat Noah mencoba menenangkannya dan ya ... ia tidur. Semburat merah langsung mencuat di pipi tirusnya.  “A-apa aku menghabiskan malam dengan tidur di dekapannya?” Jika benar, Kaylee tidak tahu harus bertingkah seperti apa setelah ini.


“Ya, kau tertidur sangat pulas di dalam dekapanku. Senyaman itu. Bahkan saat aku mengompres pipimu, kau tidak terganggu sama sekali.” Noah berujar setelah keluar dari walk-in closet dengan pakaian rapinya yang siap untuk ke kantor.  Tunggu dulu, pukul berapa sekarang?


Buru-buru Kaylee bangkit dari duduknya. Walau terasa perih yang membuat Noah tengah memasang arloji mengerutkan dahi. “Kau mau kemana?”


Kaylee gelagapan. “Aku—aku, terima kasih sebelumnya atas semua bantuannya, Tuan. Akan tetapi, aku harus segera kembali. Tidak lama lagi, aku harus bekerja—“


“Tidak perlu. Aku sudah mengatakannya pada Oliv bahwa kau ada urusan penting denganku,” ucap Noah yang memangkas perkataan Kaylee yang membuat Kaylee terkejut.


“Tapi, Tuan ....”


Noah menggeleng dengan tatapan dingin. “Kau pergilah membersihkan dirimu. Di paperbag itu terdapat pakaian yang entah sesuai dengan tubuhmu. Lalu kita akan berbicara lagi soal kesepakatan kemarin.”


Kaylee kembali terkejut. Kesepakatan itu, Kaylee belum memikirkan apapun. Dirinya bingung untuk mengatakan apa nantinya. Noah yang melihat Kaylee masih terdiam, sedikit berpikir, apakah Kaylee masih merasa kesakitan?

__ADS_1


“Apa kau bisa melakukannya atau kau memerlukan bantuanku—“


“Aku bisa, Tuan!” Lalu Kaylee langsung mengambil paperbag itu dan melangkah begitu saja ke kamar mandi. Melihat tingkah Kaylee, Noah malah tersenyum kecil. Bukankah terasa aneh? Noah bahkan merasakan perubahan itu pada dirinya.


__ADS_2