Behind The Mask

Behind The Mask
Kesepakatan


__ADS_3

Arthur mengamati Noah dengan  tatapan serius. “Noah, apa maksudmu?” Lalu tatapannya kembali pada sosok wanita cantik yang dilihatnya.


Noah yang memang pada dasarnya sedang fokus pada sesi makan, memilih mengabaikannya terlebih dahulu. Sarapan ia terlebih dahulu habiskan, sebelum fokus pada sang kakek. Memang, Arthur tidak habis pikir dengan kelakuan  cucunya seperti ini. Dengan orangtua saja ia begitu angkuh.


“Kaylee, bawa pergi ini. Kembali ke ruanganmu.” Sambil menunjuk nampan itu setelah Noah meminum sedikit teh hijaunya.


Kaylee menurut saja. Mengambil lalu berlalu. Padahal ia ingin mendengar maksud Noah mengatakan seperti tadi. Ia tidak salah dengar. Terlebih pria tua yang ternyata adalah Arthur Garfield kembali bertanya.


Kaylee merasa sial. Ia tidak ingin  dicap sebagai penggoda kala baru saja menjadi staf. “Ya Tuhan, kenapa alurnya seperti ini?” Kaylee menggerutu setibanya di luar. Wajahnya bingung dan sedikit kesal. Seenak jidat Noah mengatakan ia adalah wanitanya.


Kembali pada tatapan sang kakek yang menyelidik. Berdiri di hadapan Noah yang masih duduk. Ketika sorotan tajam Arthur terpancar, tatapan Noah lebih tajam dan dingin lagi.


“Apa yang kakek lakukan di ruanganku di pagi hari?” Bukan jawaban yang didapatkan Arthur. Melainkan pertanyaan. Arthur merotasikan kedua bola matanya karena itu.


“Tidak peduli alasan kakek ke sini. Kembali pada topik yang membuat kakek terkejut. Siapa wanita tadi?” tanyanya. Arthur bahkan mendekat dan kini duduk di samping Noah yang sedikit menghela napas.


Tatapan Noah mengarah ke depan. “Bukankah kakek ingin segera aku menikah?” Pertanyaan yang tidak dipermasalahkan oleh Arthur. Pria tua itu kembali terkejut lagi. Nyatanya, yang ada dipikiran tuanya memang benar.


“Dia?” Kembali Arthur memastikan.


Dengan cepat, Noah menoleh ke arah Arthur. Tatapan dingin yang diiringi dengan anggukan. “Aku tidak akan menikahi wanita dari kalangan manapun, karena aku hanya ingin Kaylee Mercier.”


Arthur yang mulanya hanya mengira Noah membual atau memberikan sebuah candaan agar dirinya berhenti untuk mendesak, tidak menemukan kebohongan. Noah terlihat serius dengan apa yang diucapkannya.


Arthur memang bahagia jika melihat sang cucu sudah menemukan dambaan hati. Hanya saja, ia sedikit tidak percaya jika Noah begitu cepat menemukannya kala Arthur sudah menyelidiki jika Noah sama sekali tidak memiliki pasangan.


Keduanya beradu mata. Hanya diam. Hingga tidak berselang lama, Arthur menghela napas. Ia akan mengalah dan tidak ingin memperdebat. Mencoba memahami isi hati cucunya yang keras.


“Kalau begitu, perkenalkan dia di mansion utama, di hadapan keluarga besar sebelum kita menentukan hari pernikahan kalian.”


...***...


Kaylee hanya bisa mengentakkan kedua kakinya dengan kesal. Dirinya memiliki pekerjaan yang begitu mendesak, tetapi sang CEO mendesaknya untuk ke ruangannya. Lucunya lagi, Noah meminta hal tersebut ke Oliv. Tentu mereka tidak bisa membantah jika masih ingin bekerja. Walau Kaylee harus mencoba untuk tidak peduli dengan tatapan rekan dan staf lain.


Tentu gunjingan mengenai dirinya sudah menyebar. Penggoda dan mendapatkan posisi karena keahliannya. Terlebih Noah yang memilih langsung posisi staf keuangan. Bukan karena Oliv sebagai Direktur Keuangan dan Giffrey yang posisinya sebagai Direktur Personalia.


“Kau harus sabar, Kaylee! Demi kewarasanmu!” Itu yang Kaylee katakan pada dirinya. Tepat ketika pintu ruangan Noah sudah ada di depan mata. Meraup banyak oksigen terlebih dahulu sebelum dirinya menekan bel.


“Masuk!”


Dengan pelan, Kaylee membuka pintu. Di ujung sana, ia melihat Noah yang pasti akan bergelut dengan laptopnya. Lalu ternyata ada Sebastian yang berdiri di samping. Memegang Ipad. Kaylee tidak pernah melihat Ipad berwarna silver dengan logo apel itu lepas dari genggamannya. Sangat profesional.


Perlahan, Kaylee menuntun sepatu hak tingginya untuk mendekat. Berdiri di hadapan Noah. Menjadikan meja kerja Noah sebagai pembatas. Sedikit menundukkan kepala, Kaylee lantas menatap dengan memberikan senyuman manisnya di siang ini.


“Selamat siang, Tuan. Apa ada yang perlu saya lakukan?” Kaylee langsung menanyakan soal dirinya dipanggil.


Awalnya, Kaylee mengira akan diabaikan. Ternyata tidak. Noah langsung menghentikan kegiatannya. Kini berpusat pada Kaylee. Sebastian juga melakukan hal yang sama. Itu berarti sesuatu yang penting akan ia lakukan.


“Ya, ada yang harus kau lakukan. Itu juga melibatkanku,” ucapnya dengan dingin. Kaylee langsung mengingat soal beberapa saat lalu.


Kaylee meringis jika mengingatnya. “Apa soal tadi? Anggap saja itu tidak terjadi, Tuan. Saya akan melupakan dan seolah-olah tidak mendengar apapun.” Dengan sekuat tenaga Kaylee mengatakannya.


Namun, Noah tampak diam dengan ekspresi khasnya. Mendadak, Kaylee berpikir, apakah ia salah bicara? Bukankah tidak ada yang aneh dari ucapannya? Kaylee tidak mengerti.

__ADS_1


“Saya tidak menyuruhmu untuk melupakannya. Saya ingin membuat kesepakatan denganmu.”


Kesepakatan? Kaylee mengerutkan dahi. “Sepertinya saya tidak memerlukan kesepakatan apapun, Tuan. Saya bekerja di Perusahaan anda, saya sudah terikat kontrak kerja dan—“


“Saya bisa membantumu memberikan perhitungan kepada mantan suamimu, Erland Davidson,” ucap Noah santai.


Kaylee melotot tidak percaya. Bagaimana bisa atasannya dengan mudah mengatakan hal itu. Maksudnya, Kaylee hanya memperkenalkan diri sebagai seorang wanita yang telah bercerai. Tidak pernah membeberkan soal membuat perhitungan atau nama mantan suaminya sekali pun. Kaylee sungguh tidak percaya.


“Tuan, saya ....” Kaylee tidak tahu harus berkata apa. Sulit menerka apa yang dimaksud oleh Noah. Terlebih senyum di wajah angkuh itu kini tampak.


“Saya tahu semua  tentangmu, Kaylee Mercier. Mantan suamimu bisa saya hancurkan begitu saja.” Kembali, Noah menghasut Kaylee untuk membuat kesepakatan dengannya.


Kaylee tidak tahu maksud dibalik itu. Bisa jadi Noah menjebaknya bukan? Alhasil, Kaylee menggeleng. “Entah Tuan mengetahui semua tentang saya dari mana, terima kasih karena sudah berkenan. Akan tetapi, saya bisa menyelesaikan masalah saya sendiri, Tuan. Saya tahu diri, saya di sini hanya sebagai bawahan anda,” ucap Kaylee yang mencoba untuk tidak terbawa suasana.


Namun nyatanya, Noah terkekeh. “Apa pendapatmu tentang sosok anak lelaki yang memberikanmu boneka beruang pink?”


Lantas, kedua bola mata Kaylee membesar. “Anda ....”


“Saya tidak perlu menjelaskan lagi jika kau sudah mengingatnya. Senang bertemu denganmu kembali, Little Bear.”


Sapaan itu. Kaylee tentu tidak bisa melupakannya. Ternyata, dugaan yang selama ini dibuat kepalanya memang benar. Noah Garfield—CEO Perusahaan Diamond Garfield adalah teman masa kecilnya.


“Aku memang sudah menduganya! Senang juga bertemu kembali dengan anda." Suara Kaylee terdengar kesal, marah dan bahagia. Ia sulit untuk mengekspresikan diri. Walaupun Noah meninggalkannya begitu saja, ia tetap bahagia karena Noah mengenalinya. Bahkan mencari tahu tentang dirinya. Jangan bilang, Noah memiliki pengaruh soal diterimanya ia di tempat ini.


Itu sangat menjengkelkan jika memang benar. Hanya saja, Kaylee tidak bisa percaya kala dengan mudahnya Noah mengajak dirinya membuat kesepakatan yang entah apa. Ia penasaran juga.


Melihat ekspresi itu, Noah bisa paham kebingungan Kaylee. Masih di posisinya, pria itu memainkan pena. “Kau bisa memikirkannya terlebih dahulu, Kaylee. Kesepakatan yang menguntungkanmu dan juga menguntungkan diriku.”


“Pernikahan. Jadilah Nyonya Garfield.”


Entah berapa kali Noah membuatnya terkejut. “Kesepakatan omong kosong! Jangan bilang anda mengajak saya membuat ikatan pernikahan sakral menjadi ikatan yang penuh akan kepura-puraan.” Kaylee bersungut. Kesal sekali di siang hari ini dibuat seperti ini. Kepalanya panas karena itu.


“Jangan pikirkan itu. Ikatan ini mempermudahmu membalaskan dendam. Kau bisa menggunakan kekuasaan dariku untuk melakukannya, Kaylee. Menyandang Nyonya Garfield membuat semua orang bertekuk lutut di kakimu,” ucap Noah. Untuk pertama kalinya, Noah berkata panjang lebar. Sebastian yang ada di sana membeku setiap percakapan yang ia dengar.


“Kenapa harus saya selagi anda memiliki banyak pilihan? Lagipula, terdapat banyak wanita di samping, Tuan. Tidakkah ada yang membuat Tuan berkesan?” Pertanyaan yang berseliweran di pikirannya. Aneh saja, walaupun mereka teman masa kecil, terdapat batas diantara mereka. Sudah tidak seakrab dulu.


Dengan fokus yang awalnya pada permainan pena, kini mengarah ke Kaylee. Tatapan dingin begitu menusuk netra Kaylee. “Tidak akan ada yang bisa menaklukkan hati Noah Garfield! Wanita hanya seperti racun dan hanya menyusahkan saja!”


Lucu sekali Kaylee mendengarnya. Entah ia salah dengar atau tidak. Namun pada dasarnya, bukankah Noah meminta bantuan kepada seorang wanita? Menggelikan.


“Really, Tuan Garfield? Akan kusebar racunnya kalau begitu.” Hanya saja, Kaylee mengatakannya dalam hati. Noah Garfield seolah menantang dirinya. Hanya saja, ia perlu berpikir jernih. Tidak ingin gegabah.


“Saya akan memikirkannya.”


“Besok pagi.”


Kaylee terkejut. “Cepat sekali! Butuh waktu panjang karena itu menyangkut masa depanku juga!”


“Apa yang kujelaskan kurang?”


Noah menang. Kaylee tidak bisa berdebat. Sehingga ia akan memberikan keputusannya besok. Alhasil, setelah pembicaraan panas itu, Kaylee meninggalkan ruangan Noah. Menyisakan Noah dan Sebastian.


Sebastian yang ingin mengatakan sesuatu, telapak tangan Noah sudah mengudara. “Jangan katakan dan membahas apapun soal ini. Pergilah dan tinggalkan ruangan ini.”

__ADS_1


Benar-benar menjengkelkan. Alhasil, Sebastian memilih menurut daripada suasana hati atasannya kian buruk.


...***...


Sekarang waktunya pulang. Namun, Kaylee sedikit terlambat dari biasanya. Sehingga ia ketinggalan bis. Sial sekali hidupnya setelah dipusingkan soal kesepakatan dan ditambah dengan hal ini.


Kaylee bisa saja menggunakan taksi, tetapi ia merasa harus berhemat setelah banyak dana yang harus ia keluarkan. Alhasil, Kaylee berjalan hingga tiba di halte selanjutnya. Ia melihat diwebsite bis yang sering ia tumpangi akan ada bis menuju daerah rumah bibinya 30 menit lagi. Tidak terlalu jauh, hanya berjalan sekitar 20 menit.


“Kuharap tidak hujan,” ucapnya. Tiba-tiba saja mengatakan hal itu karena bosan berjalan kaki di hari yang tidak lama lagi menjelang malam. Terlebih ia mengenakan sepatu hak tinggi—sudah jelas kakinya pasti memerah.


Kaylee memang menyadari hidupnya yang kian susah dan menyedihkan. Kiranya, setelah melakukan perubahan, kehidupannya juga akan berubah. Ternyata tidak semudah itu.


Ia menghembuskan napas. Sontak kesepakatan itu melintas di kepalanya. Ia tiba-tiba saja berpikir. Apakah hidupnya akan bahagia setelah menerima kesepakatan itu? Noah berjanji akan membantunya membalas dendam. Menjadi Nyonya Garfield berarti seluruh kebutuhannya juga terpenuhi. Hanya saja, Kaylee merasa tidak yakin saja. Itu berarti ia kapan saja harus terluka ketika tidak ada cinta dalam hubungan.


Kaylee masih terkejut ternyata Noah memang benar-benar teman masa kecilnya. Hanya saja, pria itu tidak memberikan alasan kenapa menghilang begitu saja.


“Dia tiba-tiba datang dan langsung membuat kesepakatan!” ucapnya dengan  kesal.


Kaylee masih terus melangkah. Tidak lama lagi ia akan tiba di halte yang terasa sepi itu. Namun, mana tahu, ia harus kembali mengalami hal sial kala terdapat tiga pria berbadan gemuk dengan tato di beberapa tubuhnya yang nampak di sampingnya kala ia lewat. Mereka tersenyum miring ke arahnya.


“Tetap tenang, Kaylee!” Dengan sekuat tenaga menahan diri untuk tidak berlari. Mencoba santai, tetapi tanpa ia sadari kala pria itu mendekat dan memegang tangan Kaylee untuk menghentikannya.


“Bajingan!” Kaylee berteriak kala dirinya tersentak. Kini berhadapan dengan ketiga pria itu.


“Wih, cantik dan seksi sekali!”


“Bukankah kita beruntung malam ini?”


“Ayo, bawa ke markas.”


Itulah kalimat-kalimat yang didengarnya, membuat Kaylee merinding. Susah payah ia kembali tenang lalu mengambil ancang untuk berlari. Sialnya, mereka langsung menahan pergerakan tubuh Kaylee.


Kaylee berteriak. Tetapi salah satu di antara mereka langsung menyumpal dengan sapu tangan yang mereka bawa.


“Ayo segera bawa ke gang sana dulu! Trotoar ini hampir ramai,” sahut salah satu di antara mereka. Kaylee dapat melihat dari kejauhan segerombolan pekerja yang baru saja kembali dari lembur. Ingin rasanya meminta pertolongan. Ini bukanlah akhir dari takdirnya. Kaylee sudah menderita begitu banyak. Ia tidak bisa membiarkan hidupnya seperti ini.


Kaylee menggeleng. Berharap siapapun itu datang untuk menolong. Walau sepertinya tidak mungkin. Mereka membawa Kaylee masuk ke gang sepi, gelap dan buntu.


“Tuhan, apa aku akan berakhir seperti ini?” tanyanya dalam hari. Tangis sejak tadi keluar. Tenaganya tidak bisa membuatnya melakukan apapun untuk terbebas. Bahkan, pria itu mendorong Kaylee sangat keras—membentur dinding. Kaylee merasakan begitu pening. Tubuhnya ambruk, seluruh tubuhnya sangat sakit.


“Kita akan berpesta di sini saja!”


Mereka menatap Kaylee dengan tatapan siap menyantap. Akan tetapi, Kaylee tidak bisa berbuat apapun selain menangis. Seluruh tubuhnya luruh dan sepertinya ia sudah pasrah akan apa yang terjadi kala salah satu di antara mereka memberikan tamparan begitu keras di pipi Kaylee. Terasa panas karena Kaylee hendak memberontak. Alhasil, pria itu bisa melanjutkan aksi dengan membuka kemeja Kaylee.


“Tuhan, bantu aku ....” Sambil memejam mata. Terus memohon dengan isakannya.


Entah ia bermimpi atau tidak. Kaylee mendengar teriakan dan ringisan kesakitan. Perlahan, ia membuka mata. Menemukan pertengkaran antara ketiga pria itu dengan Noah yang bersama Sebastian. Kaylee melihatnya dengan jelas.


Mereka tidak membutuhkan waktu banyak untuk membuat ketiga pria itu tumbang. Dengan tenaga yang tersisa, Kaylee bisa melihat sosok Noah yang mendekat, membuka jasnya lalu mengenakan jas itu ketubuhnya.


Pria itu masih dengan tatapan dingin. “Dasar bodoh!” Hanya kata itu yang didengarnya. Karena selebihnya, Kaylee telah direnggut oleh alam bawah sadarnya.


 

__ADS_1


__ADS_2