Behind The Mask

Behind The Mask
Hasil Kesepakatan


__ADS_3

Kaylee mendadak bingung, bagaimana bisa Noah mengetahui ukuran pakaiannya—bahkan d*l*mannya? Ia tidak menduga bisa sedetail itu. Jangan pikir lagi bagaimana gugupnya Kaylee kala keluar dari kamar mandi. Ya, ia menyukai gaun di atas lutut berwarna peach yang terasa begitu pas di tubuhnya. Hanya saja, bukankah tidak perlu membelikannya hingga bagian terdalam?


Mulanya, Kaylee menganggap Noah melakukan hal aneh. Ternyata tidak ada. Pakaiannya masih lengkap—sudah lebih baik dari sebelumnya kala ia hampir dilecehkan. Sepertinya, ia hanya akan mencoba untuk berterima kasih dan meminta maaf—tidak akan menyinggung soal hal yang bersifat pribadi.


Kedua kaki kecilnya melangkah keluar dari kamar mandi. Hanya saja, kala melirik kanan-kiri, tak kunjung ia menemukan keberadaan Noah. “Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan?” Jika ia mencari dengan menelisik lebih jauh mansion ini, bukankah tidak sopan?


Kaylee jadi bingung sendiri. Alhasil, ia masih berada di depan pintu kamar mandiri sembari memeluk paperbag yang berisi pakaiannya.


“Aku—“


“Kau mau membicarakannya di sini atau di ruang kerjaku?”


Demi Tuhan, Kaylee terkejut—ia berteriak dengan mata melotot. Noah malah ikutan terkejut karena. “Kau kenapa?” Pertanyaan yang membuat Kaylee sebal. Tentu saja kaget.


Namun, Kaylee malah menggelengkan kepala. “Aku—aku tidak apa-apa.”


Noah pun terdiam sesaat, sebelum duduk di sofa yang ada dalam kamarnya. Kaylee memperhatikan itu, tetapi belum enggan untuk pergi dari tempatnya berdiri. Kembali, Noah menghembuskan napas pelan—tanpa menoleh ke arah Kaylee. “Apa kau akan terus berdiri di sana?”


Kaylee pun tersentak. Ia bingung, tetapi sorot mata Noah yang menunjuk sofa di samping, langsung membuat Kaylee mengerti. Dengan cepat ia berjalan ke sofa tersebut dan duduk dengan pelan.


Belum ada suara yang keluar dari bibir tebal Noah. Pria itu masih menatap Kaylee begitu lekat. Membuat Kaylee tidak nyaman, tetapi merasa tidak enak untuk mengutarakan maksudnya. Hatinya hanya berharap, Noah segera mengatakan apa yang ia inginkan. Kaylee sudah tidak tahan berlama-lama di tempat ini.


“Kaylee.”


Sang empu mendongak. Kini membalas tatapan Noah—mengingat sebelumnya Kaylee menunduk sembari meremas ujung gaun yang ia kenakan.


“Iya, Tuan.”


Tatapan dan ekspresi Noah masih sama—seperti tidak bosan akan memandang wajah Kaylee. “Apa keputusanmu?”


Benar saja. Kaylee sudah menduga hal ini pasti dibahas. Padahal ia belum memikirkan  lebih matang—mengingat hal itu menimpanya, membuat dirinya terguncang. Hanya saja, Kaylee juga tidak bisa melupakan kala Noah datang membantu dirinya yang hampir dilecehkan. Seolah-olah memang Noah datang untuk melindungi dan menyelamatkannya. Seperti saat itu.

__ADS_1


Matanya yang agak besar menatap bola mata Noah begitu lekat—mencari sebuah keraguan atau perangkap—bisa jadi semua ini hanyalah bualan dari seorang Noah Garfield. Akan tetapi, tidak ada. Matanya tidak menemukan  apapun.


“A—Apa yang saya dapat ketika menyetujui kesepakatan itu?” tanya Kaylee yang membuat senyum tipis terbit di bibir Noah.


“Hakmu sebagai Nyonya Garfield. Aku akan memberikan kehormatan, kekuasaan dan perlindungan yang bisa kau gunakan untuk menginjak orang-orang yang melukaimu,” ucap Noah santai.


Keuntungan itu, membuat Kaylee gelisah. Ia senang mendengarnya, tetapi ia agak ragu juga. “Bagaimana bisa kau membuat kesepakatan menikah dengan orang yang kau tidak cintai, Tuan?” Tiba-tiba pertanyaan itu mengalir begitu saja.


Noah masih pada ekspresinya. “Bisa saja. Cinta tidak terlalu kupikirkan saat ini. Kau tidak perlu khawatir soal dirimu yang mungkin akan merasa kekurangan, karena kau akan tetap mendapatkan hakmu sebagai seorang istri. Begitu pun dengan diriku yang tetap mendapatkan hakku!” ucap Noah yang membuat Kaylee mengerutkan dahi. Hak?


“Itu terdengar sangat memaksa dalam hubungan, Tuan.” Sambil menyipitkan mata. Entah datang dari mana keberanian itu.  


Noah malah terkekeh mendengar itu, membuat Kaylee sebal saja. “Itulah namanya kesepakatan, setidaknya kau mendapatkan banyak keuntungan yang tidak akan datang dua kali, bukan?”


Dengan spontan, Kaylee mengangguk. Itu memang benar. “Sampai kapan jangka waktunya?”


Mendadak raut wajah Noah menjadi begitu dingin. Seperti jika ia salah mengatakan sesuatu. Akan tetapi, Kaylee sama sekali merasa tidak mengatakan hal aneh. Pertanyaannya bahkan sangat wajar sekali.


“Tu—Tuan—“


Kaylee jadi bimbang sendiri. Ia takut keputusannya akan membawa ke jalan yang nyatanya menjadi bencana untuk dirinya sendiri. Hanya saja, kala menilik lagi, Kaylee seperti mendapat dukungan dan perlindungan dari Noah.


Perlahan, ia memejamkan mata—seraya menggenggam erat gaunnya sebelum membukanya dengan pelan. Lalu, Kaylee mengangguk dengan amatan yang fokus pada Noah.


“Aku setuju. Mari membuat kesepakatan itu.”


...***...


Mana tahu, keputusan yang Kaylee buat langsung mengubah kehidupannya. Maksudnya, setelah Kaylee mengatakan setuju, Noah langsung menyuruh Kaylee untuk tinggal di mansion miliknya —sebelum memperkenalkan pada keluarga Garfield di mansion utama. Sangat cepat sekali dan itu membuat Kaylee gelisah tidak karuan.


Adapun kesepakatan yang mereka buat pun berdasar pada surat perjanjian yang telah mereka tandatangani—di depan Sebastian sebagai saksi. Isi surat tersebut sangat sederhana tetapi dibubuhi materai yang memperkuat hukum. Nyatanya, Kaylee tidak menyadari kala Noah menambahkan poin jangka waktu yang membuatnya terkejut—tidak bisa berkata-kata lagi atas kecerobohannya.

__ADS_1


Mereka tidak akan selesai tanpa persetujuan pihak pertama—yang tak lain adalah Noah.


Kaylee hanya berharap poin itu nantinya tidak membuat ia kesulitan dan kesakitan sendiri.


Kini, Kaylee berada di meja makan untuk sarapan. Akan tetapi, bukan juga, karena waktu sarapa n yang sudah lewat dari jam sarapan pada umumnya. Hal itu terjadi karena mereka terlebih dahulu menyelesaikan soal kesepakatan. Kaylee yang memang lapar tidak terlalu peduli lagi—mungkin nanti.


Sarapan kali ini seperti yang dimakan Noah sebelumnya. Hanya saja, bukan Kaylee yang menyiapkan sarapan karena tubuhnya yang masih lemah akibat serangan semalam. Namun, Kaylee yang memakan sepotong kentang itu langsung tersentak kala mengingat sesuatu.


“Tunggu dulu, Tuan. Apakah setelah menikah nanti saya akan menyiapkan segalanya?” tanya Kaylee dengan pelan. Noah tentu paham dengan itu. Sebastian yang ada di sana juga baru memikirkannya. Itu berarti tugasnya akan semakin berkurang.


Tanpa membuang fokus pada sarapannya, Noah mengangguk. “Tentu, sebagai istri sudah menjadi kewajibanmu.”


Pun Kaylee sudah menduganya. Mengingat mereka sudah membahas soal hak satu sama lain. Itu juga pasti memiliki maksud dalam hubungan suami istri di atas ranjang. Sial. Kaylee bersemu merah melihatnya. Noah dapat melihat itu dari ekor matanya—walau sekilas saja. Noah pun tidak berniat untuk mengeluarkan sepatah kata—ia terlalu menikmati sarapannya.


Namun, ia harus kembali menghentikan sejenak kala suara Kaylee kembali terdengar.


“Apa aku masih bisa bekerja?” Menurutnya ia harus tetap bekerja untuk pegangannya sendiri. Tidak tahu kapan Noah akan membuang dirinya setelah itu.


Noah tentu langsung melirik ke arah Kaylee dengan sedikit bingung. “Kau masih ingin tetap bekerja?”


Dengan mantap, Kaylee mengangguk. “Apa itu menjadi masalah?”


Noah diam sejenak. Hingga pria itu kembali pada makanannya. “Tidak, kau bisa melakukannya.”


Huft. Kaylee lega setelah mendengar itu. Walaupun akan menjadi istri dari Noah Garfield, ia tidak akan mengubah dirinya yang mungkin banyak orang lakukan  jika menikah dengan  konglomerat seperti Noah. Terlebih lagi jika itu seperti dirinya yang tidak punya apa-apa selain dirinya sendiri.


Kaylee kembali pada sesi makannya, tetapi Kaylee sekali lagi menoleh ke arah Noah, hendak mengatakan  sesuatu tetapi Noah keburu membalas tatapannya dengan menaikkan sebelah alis.


“Ada apa lagi?”


Kaylee meringis mendengar itu. “Hm, bisakah aku bertemu dengan bibiku dulu. Aku harus menjelaskan beberapa hal kepadanya,” ucapnya dengan memohon.

__ADS_1


Tanpa membiarkan Kaylee menanti lama jawabannya, ia menganggukkan kepala. “Aku akan menemanimu.”


Ingin menolak, tetapi urung Kaylee lakukan. Tatapan itu seakan memakannya bulat-bulat. Sehingga Kaylee tidak mengatakan  ataupun  bertanya lagi. Ia kini hanya fokus pada makanan yang sedikit lagi habis.


__ADS_2