Behind The Mask

Behind The Mask
Kejamnya Yuta


__ADS_3

Ttrrriinnggg...


Bel tanda istirahat berbunyi begitu nyaring, membuat seluruh siswa di kelas Chalissa dan yang lainnyapun menghela nafas lega. Banyak siswa yang langsung berlari keluar untuk mencari sumber kekuatan mereka, alias kantin . Adapun dari mereka yang langsung membuka ponselnya sekedar stalk idola ataupun bermain game. Kini yang tersisa beberapa siswa saja termasuk Yuta, Chalissa , Brenda dan para sahabatnya.


Yuta tak pernah mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Chalissa. Dengan kepala yang yang ia tumpukan pada kedua lipatan tangannya, ia menatap Chalissa dengan begitu intens. Chalissa yang merasa ditatappun menengokkan kepalanya ke arah Yuta. Dengan posisi yang sama , kini Chalissa membalas tatapan Yuta dengan mata teduh miliknya.


"Ada apa Yuta?" ucapnya dengan lembut dan membuat hati Yuta terasa damai.


"Enggak"


"Bener?? Kok dari tadi lihatin Isa terus?" Tanya Chalissa yang tak melunturkan sedikitpun senyum manisnya itu.


"Kamu cantik " Tangannya terangkat merapikan helaian rambut yang terjuntai menutupi sebelah pipinya.


Pipi itu bersemu tampak malu-malu, Chalissa menahan senyumnya dengan perasaan yang begitu membuncah mendapat pujian dari lelaki disampingnya ini.


"Ihh.. Yuta, Isa malu" ucapnya seraya menangkup kedua pipinya yang diyakini telah memerah karena merona.


"Uhh.. lucu banget sih" gemas Yuta saat melihat Chalissa. Tanpa disadari, tangannya kembali terangkat mengusap lembut puncak kepala gadis itu.


"Kita ke kantin yuk, kamu harus makan, biar gak sakit" Chalissa menganggukkan kepala tanda setuju. Kepalanya terangkat saat melihat telapak tangan yang kini berada tepat di hadapannya.


"Ayo" Tangan Chalissa pun terulur untuk membalas genggaman hangat tangan Yuta. Akhirya mereka berjalan bersama ditengah koridor sekolah tanpa menghiraukan betapa terkejutnya seluruh warga sekolah yang melihat interaksi keduanya.

__ADS_1


Sesekali, Chalissa tertawa begitu lepas saat mendengar cerita konyol dari Yuta. Lelaki itu tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari Chalissa. Suara Yuta selalu menjadi suatu hal yang ditunggu - tunggu oleh para siswi. Walau kata kasar , mereka akan sangat menikmati suara indah milik pria idaman mereka ini karena saking jarangnya ia berbicara.


"Iya, dan lagi .. si Somad tuh ngefans banget sama brenda , makanya kalo tuh anak di comblangin sama cewek pujaan hatinya pasti langsung mimisan. "


"hahahaha Yuta beneran???"


"Iya, beneran deh, tanya aja sama yang lain"


"aahhh.. kalo gitu , Isa mau ..."


Brruggghh


Seseorang dari arah berlawanan berlari begitu cepat tanpa melihat jalan yang ada di hadapannya . Saking kencangnya, Chalissa telah jatuh tersungkur hingga genggaman tangannya terlepas dari Yuta .


"Awwww....." lirih Chalissa saat bagian tubuhnya terasa begitu sakit. Matanya berkaca - kaca , namun dengan sekuat tenaga ia menahan buliran air mata yang hampir jatuh itu .


*Bugghhh


Bughhh


Buggghhh bbugghh*


Pukulan itu ia dapatkan bertubi - tubi tanpa bisa dicegahnya , semua siswa yang berada disana berteriak histeris saat melihat pertarungan sepihak yang pasti di dominasi oleh Yuta. Para wanita menutup mata ketakutan akan aksi brutal Yuta, beberapa siswa berlari menghindari tempat kejadian untuk melapor pada guru.

__ADS_1


Bugghh


"Lo tau apa salah lo hah???"


Bughhh bughhh... kali ini ia melayangkan tendangan pada perut lelaki yang kini telah terkapar lemas dibawahnya .


"Yuta..  udah.. cukup" Chalissa mencoba untuk bangkit dari duduknya , namun tak bisa. Ia terus menatap sendu Yuta yang kini masih menyiksa lelaki yang menabraknya tadi.


"Lo udah nyakitin cewek gue!!!" Pekiknya begitu keras tepat dihadapan wajah sang korban. Yuta mencengkram kerah bajunya dan menatap name tag yang tertera pada seragam lelaki itu.


Andra Satria.


"Cih... lo masuk dalam blacklist gue , Andra" setelah mengucapkan itu, dengan segera ia menghempaskannya kemudian matanya beralih pada Chalissa.


Gadis itu, ketakutan dengan air mata menggenang di pelupuk mata indahnya  .


Tangan hangat penuh bercak darah itu menangkup kedua pipi Chalissa dengan gemetar. Mata biru yang semula menyala bak api yang siap membakar apapun kini tengah meredup . Yang tersisa hanya tatapan penuh akan kekhawatiran yang tersirat dalam mata birunya.


"Jangan takut Isa... maafkan aku" dengan lembutnya Yuta mengangkat Chalissa ala bridestyle menuju UKS tanpa menghiraukan korbannya yang telah terkapar lemah penuh darah.


Chalissa mengalungkan tangannya pada leher Yuta seraya menyembunyikan wajahnya pada dada bidang lelaki itu.


Hangat , ya, dekapan Yuta begitu hangat untuk dirinya. Chalissa mendongakkan kepalanya menatap Yuta yang terfokus pada jalan yang dihadapannya. Raut wajah khawatir tak pernah hilang dari wajah lelaki itu.

__ADS_1


Chalissa tersenyum penuh arti mendapat perhatian yang begitu mengesankan dihari pertama sekolahnya.


Ya, dia menyukai ini.... dan inilah sebenarnya yang ia mau.


__ADS_2