
Kaylee serasa tidak tenang. Begitu penasaran dengan hasil seleksi yang tidak ada hilal. Mereka tidak mengatakan apapun setelah sesi wawancaranya, hanya kata ‘baik’ dari sang CEO—semuanya berakhir begitu saja.
“Huh, aku sepertinya benar-benar tidak lolos. Terlebih yang melakukan sesi wawancara terdapat 20 orang.” Ia berucap lirih, tidak semangat. Lagipula mau bagaimana lagi? Ia akan mencari pekerjaan lain. Ia akan membuktikan kebangkitannya pada mantan suaminya. Ia akan melakukannya.
“Bagaimana, Nak? Apa hasilnya belum keluar?” tanya Daisy yang duduk di sebelah Kaylee—di atas kasur.
Karena tidak bersemangat, Kaylee menggelengkan kepala. “Ini sudah dua hari, dan belum ada kabar apapun. Apa aku tidak lolos Bibi?” tanyanya.
Daisy tidak tega. Tangan keriputnya memberikan sapaan hangat di punggung Kaylee. “Mereka mungkin belum mengumumkannya, tidak baik menyerah begitu saja. Coba di cek lagi,” ucap Daisy yang membuat Kaylee menghela napas.
Akan tetapi, Kaylee menuruti permintaan sang Bibi. Kaylee kembali memasuki web resmi Perusahaan Diamond Garfield. Betapa terkejutnya ia kala terdapat link yang menyatakan empat orang dari 20 peserta yang lolos.
Daisy dapat melihat ekspresi Kaylee yang membeku, terlebih kala ia membaca sekilas kala mencoba menghapus rasa penasarannya. Daisy tersenyum tipis. “Coba buka, tidak ada yang tahu dan jika tidak membukanya dengan segera, kau pasti akan mati penasaran.”
Perkataan bibinya benar. Hanya saja, Kaylee takut dibuat kecewa lagi, terlebih ia sudah mengerahkan seluruh kemampuannya.
“Bagaimana jika aku tidak lolos?”
“Kita bisa mencobanya lagi, Jihyo. Gagal sekali bukan berarti akhir dari perjalananmu. Kau harus memahaminya,” ucap Daisy, setidaknya membuat Kaylee sedikit mengerti dan ingin membukanya.
Lagipula yang dikatakan bibinya memang benar. Jika gagal, ia bisa mencobanya lagi, semua masih bisa dilakukan. Alhasil, Kaylee kembali berkutat pada ponselnya—mengklik link tersebut dan setelahnya, layar menampilkan deretan kata dan ia bisa melihat empat nama beruntung yang akan mendapatkan posisi baru di Perusahaan Diamond Garfield.
Namun, Kaylee dibuat terkejut kala ia melihat namanya—Kaylee Mercier—yang tercetak dengan jelas di urutan nomor satu. “Bi—bi ... aku ....” Kaylee tidak kuat mengatakannya. Melihat ekspresi yang diberikan keponakannya, membuat Daisy terhenyak. Perlahan, mendekat ke arah ponsel Kaylee lantas membuat kedua matanya membulat sempurna.
“Kaylee! Kau lolos!”
Kaylee pun langsung memeluk bibinya—mencurahkan kebahagiaannya yang tak terbendung lagi. Suatu kebahagiaan yang membuat harinya semakin berwarna dan bersinar. Disela pelukan, Kaylee mengangguk.
“Bibi, aku lolos! Aku—aku akan bekerja lagi!” serunya. Mereka membagi kebahagiaan yang baru saja tercipta.
Daisy terharu. Hatinya benar-benar tersentuh melihat keponakannya bahagia dan akan menemukan jalan hidupnya kembali. Setidaknya, Kaylee tidak akan terjerembab ke dalam pusaran masa lalu yang hanya akan menoreh luka. Namun, Daisy langsung menghentikan air mata yang ingin menetes dengan tawa yang bahagia. Terlebih kala mengingat satu hal.
“Itu berarti Bibi akan ditraktir, bukan?”
Kaylee mengangguk. “Tentu saja, aku akan membelikan apapun yang Bibi minta. Aku sangat bahagia!”
__ADS_1
Lalu keduanya tertawa. Menciptakan kehangatan di tengah malam yang begitu dingin. Akan tetapi, berbanding terbalik dengan seseorang—Erland Davidson yang dibuat pusing setengah mati akan tagihan yang baru saja tampil di layar ponselnya. Tagihan dari kartu debit yang ia berikan untuk ibunya. Rasa-rasanya, kepala Erland ingin pecah didetik itu juga.
Kedua kakinya melangkah begitu cepat kala memasuki rumah. Ia bisa melihat istri dan ibunya yang tengah bersantai di ruang utama. Semakin membuat Erland frustrasi kala terdapat begitu banyak tas belanjaan di atas meja—membuatnya kepanasan.
“Apa yang kalian lakukan? Bisakah untuk tidak terus saja belanja? Uang akan menipis—“
“Ck! Apa maksudmu Erland? Tentu saja akan terus belanja, terlebih anakmu tidak lama lagi akan lahir bukan? Kau jadi kepala keluarga seharusnya tidak boleh pelit kepada ibu dan istrimu,” ucap Gea yang tidak bisa Erland harapkan lebih. Ibunya memang seperti itu—sudah mendarah daging. Hanya saja, Erland tidak heran dengan istrinya yang ikut-ikutan dengan ibunya yang boros.
“Bukan seperti itu, Ibu. Kalian juga harus belajar hemat.” Erland tentu saja membela diri.
Kembali lagi, Gea adalah ibu yang keras kepala—sulit untuk memahami pikiran anaknya karena ia yang memiliki pikiran tersendiri yang menurutnya baik. Lihat saja kala Gea menggelengkan kepala. “Makanya kau harus bekerja lebih keras lagi. Terlebih akan anggota baru lagi!” ucap Gea sembari mengusap perut buncit Liliana.
Erland tidak berkutik. Ia mencoba mengontrol dirinya sendiri kala melihat perut Liliana yang kian membuncit—ada manusia kecil di dalam sana—darah dagingnya. Ditambah lagi melihat wajah teduh Liliana, ia menahan amarahnya.
“Baiklah, aku lelah berdebat. Aku akan mandi dan Sayang, siapkan makan malam untukku!” Perintah yang membuat Liliana tersenyum kecil.
“Sayang, aku sedang hamil, kau bisa melihatnya’kan? Pembantu akan menyiapkannya untukmu. Pergilah mandi dan aku masih melihat-melihat dengan ibu,” ucap Liliana yang kembali fokus bersama dengan ibu mertuanya.
Erland kesal mendengarnya. Ia juga baru tersadar akan satu hal. Semenjak mengusir dan berpisah dengan Kaylee, ibunya menggunakan pembantu. Kedua wanita itu tidak pernah sekalipun mengerjakan pekerjaan rumah. Hal itu membuat suasana hati Erland buruk.
...***...
Staf Keuangan Perusahaan Diamond Garfield. Kaylee mengamati kartu identitas yang menggantung di lehernya. Begitu indah, sesuai dengan pakaian yang saat ini ia kenakan untuk hari pertamanya bekerja. Dalaman kemeja warna putih yang dibalut oleh blazer berwarna silver. Rok span dan Stiletto yang senada dengan blazer menambah kesan elegan dari Kaylee.
Kaylee langsung menjadi pusat perhatian. Riasan yang natural yang ia kenakan, mampu membius kaum adam yang berseliweran di kantor. Selebihnya, kaum hawa merasa panas, terdapat wanita cantik yang akan menjadi populer dan saingan mereka. Kaylee bisa melihat dan memahami arti tatapan itu, tetapi ia mencoba acuh dan menantikan kehadiran Direktur Keuangan—Olivia Khole di bagian resepsionis bersama dengan tiga yang lainnya. Akan tetapi, tidak ada yang berujar di antara mereka karena mungkin masih gugup dengan keadaan.
Hingga, tidak berselang lama, semua orang langsung terpusat pada seseorang yang baru saja muncul. Semua staf yang ada menundukkan pandangan kala CEO Diamond Garfield memasuki kantor. Kaylee tidak melakukannya, ia mengamati pahatan wajah yang begitu seksi dan tampan itu. Akan bertahan lama jika saja seorang rekannya tidak menundukkan paksa kepalanya.
“Jangan menatapnya seperti itu, Nona Kaylee atau kedua matamu akan hilang nanti,” ucap seorang wanita dengan pakaian kerja modis—cantik dengan rambut model top knot—cepol rambut ala Korea ini hampir selalu muncul di drakor.
Kaylee ingin protes karena itu sakit, tetapi dia urungkan kala sepatu pantofel yang dilihatnya waktu itu berhenti di antara ia dan wanita itu.
“Se—selamat pagi, Tuan.” Mereka serempak, tetapi Noah enggan membalas dan langsung bergegas pergi setelah melihat Kaylee yang berkilau hari ini. Tepat saat bunyi lift terdengar, mereka menaikkan pandangan mereka.
“Huft, hampir saja. Kau tidak boleh seperti itu lagi, oke?” Wanita itu kembali mengingatkannya.
__ADS_1
Kaylee mengangguk. “Terima kasih.”
Wanita itu tersenyum sebagai balas. “Namaku Thea Athela. Kita akan setim dan senang bisa bertemu denganmu, Kaylee.” Sepertinya Kaylee tidak akan mengenalkan diri lagi. Mengingat Thea mengetahui namanya. Mungkin dapat diingat kala yang terpilih yaitu dua wanita dan dua pria. Akan tetapi, Kaylee tidak memperhatikannya. Dua pria yang berada di samping mereka ia tidak mengenalinya.
Alhasil, mereka kembali pada pemikiran masing-masing hingga sosok yang dinanti kita datang. “Aku minta maaf karena terlambat.” Oliv menyapa dengan senyum karena bersalah.
Namun Kaylee dan yang lainnya tidak mempermasalahkan hal itu. Pun ada, mereka tidak memiliki kuasa karena kedudukan yang dimiliki oleh Oliv.
“Kalian pasti sudah mengenaliku, aku Olivia Khole, Direktur Keuangan kali ini. Untuk lebih lanjut, kita akan membahasnya di ruangan kalian,” ucap Oliv yang menuntun mereka ke dalam lift—mengajak ke tempat yang seharusnya mereka berada saat ini.
Sebuah ruangan bernuansa putih, sangat indah dengan beberapa fasilitas yang sudah tersedia kini ada di depan mata kala Oliv membuka pintu. Terdapat meja staf yang menyatu, sekat kecil menjadi penghalang mereka bekerja karena ini meja ini di desain secara terbuka.
“Selamat datang, teman-teman. Kalian akan ditempatkan di sini. Untuk meja kerja kalian telah diberi nama di ujung meja dan soal komputer, pihak IT akan memasangnya nanti. Semoga kalian betah dan mari bekerja secara suportif,” ucap Oliv yang membuat ke empat staf yang baru menunduk hormat.
“Terima kasih, Nona.” Mereka berujar serempak.
“Jangan kaku sekali. Santai saja dan jika kalian membutuhkan sesuatu, kalian bisa konsultasi denganku. Ruanganku ada di sana.” Sambil menunjuk ruangan lain di ruangan ini. Terdapat pintu di dinding transparan—sangat mudah Oliv mengawasi timnya.
Mereka semua mengangguk saja. Tepat diwaktu yang bersamaan, Oliv menepuk dahinya. “Aku hampir lupa. Di dalam tim terdapat ketua yang akan mengkoordinasikan tim dan memimpin dalam lingkup keuangan Perusahaan. Ketua Tim tersebut lalu mengkoordinasikan lagi kepadaku. Akan tetapi, tenang saja, aku akan tetap mengawasi dan mengontrol tim ini untuk menghindari kejadian kemarin,” jelasnya. Mereka mengangguk paham dan menerka-nerka ketua tim.
“Untuk ketua timnya, selamat kepada Kaylee Mercier yang terpilih.”
Sang empu yang mendengar namanya dipanggil, membulatkan mata tidak percaya. Semua orang bertepuk tangan. Kaylee ingin protes, kenapa harus dia yang belum ada pengalaman menjadi ketua? Akan tetapi, terelakkan kala Oliv harus bergegas mengangkat telepon sehingga menyisakan ia dengan ketiga rekannya.
Thea tersenyum lebar. “Wah, selamat Nona Ketua!”
Lalu seorang pria bertubuh agak berisi dengan kacamata bulatnya mendekat ke arah mereka. Ia mengulurkan tangan kepada Kaylee. “Selamat Nona Kaylee, mohon bimbingannya dan aku Mike Ardinez dan pria itu ....” Sambil menunjuk pria yang berwajah tampan yang melambai dengan senyum. “Aku Peter Rivera!”
Kaylee membalas mereka dengan ramah, pun mereka berbincang sejenak sembari menanti hal yang harus dikerjakan. Mengingat, mereka harus membangun tim yang suportif.
Ya, awal yang baru. Kaylee berharap ia bisa menjadi ketua yang seperti pada umumnya.
‘Ya Tuhan, bantu aku!’ Kaylee membatin.
__ADS_1