Behind The Mask

Behind The Mask
Believe Me


__ADS_3

Sekolah begitu gempar akan apa yang terjadi pada istirahat pagi tadi. Semua siswa bahkan guru tak hentinya membicarakan bagaimana kejamnya Yuta saat menghajar korbannya. Namun semua itu tak menjadi masalah baginya, ia merasa siswa itu memang pantas mendapatkan pukulan andalannya. Omongan yang masuk ketelinganya bahkan ia abaikan bak angin yang debu yang tertiup angin.


Lain lagi dengan suasana di UKS kini, keduanya nampak terdiam tanpa mengeluarkan suara. Tangan itu dengan telatennya mengoleskan salep pada pergelangan kaki gadis manis yang kini tengah terduduk di brankar UKS.


"Mana lagi yang sakitnya?"


"eh.. em.. kalo yang ini kayaknya nanti aja deh di rumah"


"udah sini sama aku aja"


"Enggak Yuta, ini harus di rumah"


"Kenapa sih?? kamu gak percaya sama aku?" Tanya Yuta dengan tatapan mata menyiratkan kekecewaannya.


"Yuta... yang sakit itu... itu...em..."


"Apa Isa?? sini biar aku obatin ya..."


"Yuta... Please.. kamu gak mungkin obatin ini"


"Jadi kamu gak percaya sama aku?"


"Bukan gitu... " Chalissa mencoba menahan rasa malunya saat ditatap begitu intens oleh Yuta . Bayangkan saja, mata birunya itu tak pernah lepas dari tatapan lembut Chalissa sedetikpun membuat gadis itu terpesona.


"Terus....?"


"Itu.. em.. Pantat aku sakit..." lirihan kecil yang keluar dari bibir Chalissa masih terdengar oleh Yuta membuat lelaki itu langsung memalingkan wajahnya yang kini tengah memerah.


"Astaga... " betapa malunya dia saat ini , Chalissa mencoba mengambil selimut kemudian menutup seluruh tubuhnya demi menyembunyikan rasa malu yang ia dapatkan kali ini.


"Isa.." Panggilan itu bak melody yang begitu indah membuat sang pendengar ikut hanyut dalam suaranya.

__ADS_1


Deg deg deg.... jantungnya berdetak tak karuan, dengan perlahan ia menurunkan selimutnya sedikit demi sedikit.


"Aahhh...." Pekiknya terkaget seraya melemparkan selimut itu tepat dihadapan wajah Yuta.


"hahaha.. kamu kenapa sih??? kok kaget gitu?"


"Ya lagian, kamu sih, siapa yang gak kaget coba , kalau muka kamunya deket banget sama muka ku" gerutuan kecil yang keluar dari mulut Chalissa membuat Yuta terkekeh geli.


Pipi itu mengembung lucu dengan bibir yang dimanyunkan karena merasa kesal akan reaksi lelaki di hadapannya ini.


"Yuta nyebelin!!!"


"Hahaha... kamu lucu, aku suka" Pipi nya kembali merah merona , dengan segera ia menekuk kedua kakinya dan menenggelamkan kepalanya disana.


"Ihhh.. Yutaaaa , Isa malu..."


"Hahahha.. dasar, Isa, Angkat kepala kamu" Yuta mencoba membujuk Chalissa agar ia bisa menatap wajah gadis dihadapannya ini.


"Gapapa, sini deh.. liat aku" dengan keberaniannya ia mendongakkan kepala menatap tepat pada manik mata biru yang mulai hari ini menjadi kesukaannya .


"Kamu harus percaya sama aku kalau aku bakal lindungi kamu" Chalissa merespon dengan anggukkan kepalanya .


"Kamu harus percaya sama aku kalau aku akan setia sama kamu" Lagi , ia menganggukkan kepala dan berkata "Isa percaya sama Yuta."


Tanpa bisa dicegah oleh Chalissa, Yuta kini telah membawa gadis itu dalam dekapannya. Sesekali , tangan besarnya itu mengelus surai panjang milik Chalissa.


"Yuta.." panggilnya seraya menarik kecil seragam belakang Yuta.


"Hm..."


"Tangan Yuta juga harus di obati, Isa obatin ya?"

__ADS_1


"Okey" Akhirnya , dengan berat hatipun Yuta melepas pelukannya dengan Chalisaa .


〰〰〰〰〰


Suasana nampak kacau, semakin bertambahnya jam pelajaran membuat kelas ini semakin ramai dan tak kenal lelah. Suara teriakan, bahkan benda yang dipukul hanya untuk mengeluarkan nada demi pengiring lagu yang dinyanyikan Baron. Semuanya nampak nyaman dengan kegiatan mereka masing-masing , it's free.


"Brenda, lo tau kan masalah istirahat pagi tadi?"


"Hm.. gue tau, kenapa?" ucap Brenda dengan membalikkan pertanyaannya pada Tiara.


"Ini Yuta loh Brenda... si raja jotos. Padahal kan dia baru kenal sama Chalissa"


"Hm.. gue sih gak masalah, toh emang tuh anak cantik, pasti banyak yang klepek - klepek"


"emang lo gak merasa tersaingi Brend?"


"gak tuh.. selow aja kali" acuhnya sembari mingibas kecil tangannya dengan mata yang masih terfokus pada layar pipih di hadapannya.


Brakkkkk


Pintu itu terbuka hingga menimbulkan bunyi yang begitu kerasnya dari luar kelas, hal itu membuat seluruh siswa yang sedari tadi berisik dan berlari - larian di dalamnya langsung terhenti begitu saja. Semua menatap ke arah pintu , tak ada tanda - tanda seseorang memasuki kelas mereka.


Mereka semua saling bertatapan dengan pandangan tanya . Akhirnya , dengan modal tekad , Leon melangkah maju mendekati arah pintu. Perlahan namun pasti , kini ia berada tepat dihadapan pintu yang masih tertutup rapat itu.


Tangannya terulur memberanikan diri untuk membukanya. Namun, pergerakannya terhenti , saat pintu itu kembali terbuka dari arah luar.


Ceklek


"SOMAAAAD" Pekikan dari semua anak kelas .


"hehehe.. Sorry , habisnya, gue kebelet"

__ADS_1


__ADS_2