
Sesuai kesepakatan, Kaylee akan tinggal di mansion pribadi Noah. Bibinya sudah memberikan izin dan restu—walau Kaylee sendiri masih ragu dengan itu. Ia bisa memahami bagaimana khawatirnya sang Bibi dengan dirinya. Secepat itu untuk melepas status janda yang melekat.
Kaylee hanya bisa mengembuskan napas pelan. Mengingat apa yang terjadi membuatnya frustrasi saja. Ia lantas merebahkan tubuhnya di atas kasur yang begitu empuk—kasur yang semalam Ia tiduri—kasur milik Noah.
Ia sendiri bingung kala Noah menyuruhnya untuk berada di dalam kamarnya. Bahkan, Noah entah menggunakan apa telah memindahkan semua barang miliknya dan menyesuaikan dengan milik pria itu di dalam walk-in closet.
Seniat itu. Terlihat aneh. Kaylee mencoba untuk tidak membuatnya dirinya pusing. Hanya saja, ketukan pintu dari luar kamar membuatnya harus membuka matanya yang terpejam. Perlahan, ia bangkit lalu bergegas ke arah pintu. Menemukan seorang wanita dengan pakaian pelayan berwarna hitam dan putih.
“Selamat malam, Nyonya. Maaf mengganggu. Saya hanya ingin memberikan informasi bahwa makan malam sudah siap,” ucapnya begitu ramah. Jika dilihat, wanita itu lebih tua dari dirinya.
Kaylee lantas melihat arloji di pergelangan tangan. Benar saja. Sudah malam dan ia tidak menyadarinya. Kaylee saja belum berganti pakaian. Kaylee terkesiap. “Aku akan turun setelah Tuan Garfield tiba.”
Namun, wanita itu tersenyum tipis. “Tuan Garfield saat ini melakukan perjalanan bisnis, Nyonya. Beliau sudah memberikan pesan agar Nyonya segera makan malam,” balasnya.
Tentu saja Kaylee terkejut. “Perjalanan bisnis? Kapan dia kembali?” tanyanya spontan. Mengingat, Noah tidak mengatakan apapun kepada dirinya. Sial. Kaylee saja tidak memiliki nomor ponsel Noah. Akan tetapi, setidaknya Noah harus melakukannya bukan? Lantas apa yang akan ia lakukan di sini kalau sang tuan rumah tidak ada?
Terlihat pelayan itu mengerutkan dahi. “Untuk itu, saya kurang tahu, Nyonya. Sebelumnya, Tuan Garfield memang jarang pulang. Hanya sekali-kali saja dan biasanya Tuan Sebastian’lah yang lebih sering ke sini. Nona bisa menanyakan hal ini kepada Tuan Sebastian,” ucap pelayan itu panjang lebar lalu menundukkan kepala. “Saya mohon undur diri, Nona. Jika Nyonya membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk menekan tombol yang ada di samping kasur.”
Kaylee langsung melirik ke arah tombol yang di maksud. Benar saja. Terdapat tombol di sana. Ia pun hanya mengangguk saja. Alhasil, menyisakan Kaylee sendiri saja di kamar ini—menyimpan semua kebingungan yang ada di kepala.
Entah apa yang akan ia lakukan setelahnya. Setelah mengecek ponsel, Kaylee tidak menemukan sebuah pesan atau panggilan dari siapapun. Membuatnya bingung saja, tetapi Kaylee mencoba untuk menenangkan diri. Serasa, ia perlu membersihkan diri sebelum ke luar.
Kaylee menuntun dirinya ke kamar mandi. Mengamati sekitar dan ia bisa melihat perlengkapan khusus wanita—Kaylee bisa menebak harga dari setiap benda-benda yang masih baru, itu membuatnya tidak habis pikir.
Awalnya, ia ingin berendam tetapi urung dilakukan. Kaylee harus segera turun ke bawah sehingga ia memilih mandi seperti biasanya. Lalu masuk ke walk-in closet—di mana semua pakaiannya ada di dalam sana.
Kaylee menggeleng pelan dengan bathrobe yang ia kenakan. “Gila! Semuanya sudah lengkap di sini. Bahkan, terdapat beberapa pakaian dengan brand ternama.” Ia tentu tidak bisa membohongi diri dengan itu. Walaupun Kaylee dulunya sangat jarang memperhatikan diri, ia tetap paham akan brand-brand kelas atas.
__ADS_1
Tidak berselang lama. Kaylee menjatuhkan pilihan pada gaun sederhana berwarna merah muda dengan motif bunga sakura—terasa begitu pas ia kenakan. Kemudian, ia melangkah menuju meja rias yang telah tersedia akan barang-barang riasan yang ia kenakan—lengkap.
Matanya kontan menyipit. “Apa ini? Sungguh sangat detail sekali!” Akan tetapi, Kaylee mencoba untuk tidak peduli. Mulai merias wajahnya dengan riasan natural setelah melakukan beberapa perawatan sederhana yang mulai rutin ia lakukan.
Dirasa sudah sempurna. Langkah kakinya mulai menggema—keluar dari kamar Noah yang begitu luas—tiga kali lipat dari luas kamarnya. Saat di luar pun, Kaylee seperti orang bodoh—mulut dan matanya menganga secara bersamaan. Setiap interior yang tertata begitu indah dan terlihat sangat mewah. Kaylee sudah bisa menebak banyak uang yang dikeluarkan oleh Noah dalam hal ini.
Kedua kakinya yang berbalut sandal rumah terus melangkah, hingga tanpa ia sadari kini berjalan di antara para pelayan yang berjejer—menunduk menatap lantai kala ia ingin ke ruang makan.
Kaylee bingung. Sontak mengusap lehernya. “Kalian tidak perlu seperti ini. Bersikaplah seperti biasa saja.”
Lantas, seorang wanita berpakaian yang sama—wajahnya terlihat keriput tersenyum ramah pada Kaylee. “Maafkan kami, Nyonya. Ini sudah menjadi kebiasaan kami. Dan saya adalah Bella, Kepala Pelayan.”
Kaylee terkekeh dibuatnya. “Heh, jangan panggil Nyonya, namaku Kaylee Mercier. Tidak perlu seformal itu juga,” ucap Kaylee yang berusaha menghilangkan kecanggungan yang tercipta.
Sekali lagi, Bella tersenyum akan keluguan dari Nyonya Garfield. “Tetapi ini sudah menjadi tugas kami, Nyonya. Tuan Noah memperkenalkan anda sebagai Nyonya rumah ini dan sudah seharusnya kami menghormati Nyonya. Silakan Nyonya, makan malamnya sudah siap.” Lalu Bella memberikan arahan.
Baiklah. Kaylee merasa kalah. Ia memang tidak bisa berdebat, hingga akhirnya menurut saja. Walau ia merasa begitu cepat. Noah bahkan tidak berkata apapun. Apakah Kaylee harus menghubungi pria itu?
Ia hanya menghela napas. “Kau tetap harus menjaga pola makan, Kaylee! Ingat, badanmu cepat sekali melebar!” gumamnya lalu menuju meja makan yang tersedia.
Hanya saja, makanan yang tersaji begitu banyak. Lalu lucunya, ia hanya seorang diri di meja makan. Alhasil, Kaylee menoleh ke arah Bella. “Bella, bisakah kau dan yang lainnya duduk di sini untuk menemaniku makan?”
Kaylee bisa melihat raut wajah Bella dan yang lainnya terkejut. “Tetapi, Nyonya—“
“Temani saja dan makan juga. Ini terlalu banyak dan jika kali takut dengan Tuan Garfield, biar itu menjadi urusanku. Oke?” ucap Kaylee dengan gamblang. Serasa ingin menertawai diri sendiri, seolah-olah ia memiliki begitu banyak keberanian untuk menghadapi Noah. Tentu saja, tidak.
Terlihat, Bella melirik ke arah rekannya—sedikit menimbangi beberapa hal lalu mengangguk setuju untuk menemani Nyonya rumah ini. Nyatanya, Bella merasa Kaylee begitu rendah hati dan ramah—kebalikan dari sang Tuan rumah.
__ADS_1
...***...
Selama dua hari, Kaylee tidak mendapati kabar dari pria yang akan menjadi suaminya itu. Ia heran sendiri. Akan tetapi, Kaylee merasa sedikit beruntung karena ia tidak perlu melakukan beberapa hal. Hanya fokus pada pekerjaannya yang mulai banyak—mengingat ia berada di tim keuangan bagian pusat. Tentu saja, bagian keuangan dari Diamond Garfield cabang yang lainnya pasti akan mengirimkan perihal keuangan untuk ditinjau dan diobservasi.
Karena pekerjaan yang mulai menyita waktunya, Kaylee jadi tidak terlalu memikirkan Noah yang begitu memuakkan. Hanya saja, jika tiba di mansion ia akan kembali bertanya-tanya pada dirinya sendiri dan enggan untuk mencari tahu pada Sebastian. Lagipula, Noah sendiri tidak memiliki inisiatif apapun.
Dengan cepat, Kaylee menghalau semua pikiran yang ingin membludak dibenaknya. Kembali fokus pada susunan laporan keuangan yang harus diperiksa dengan catatan transaksi yang ada. Ia melakukannya bersama dengan Thea.
“Kaylee, bagaimana dengan peninjauan yang sedang kau lakukan? Apa sudah balances?” tanya Thea sembari membuka beberapa dokumen-dokumen transaksi.
Kaylee yang fokus lantas melirik ke bagian bawah aplikasi keuangan yang dirancang khusus oleh Diamond Garfield. “Belum, sepertinya masih ada yang terlewatkan. Coba periksa lagi. Apakah ada yang dokumen lain?” pintanya.
Bergegas, Thea melakukan perintah Kaylee. Mencoba untuk menemukan sesuatu. Namun diwaktu bersamaan, Kaylee merasakan ponselnya bergetar—seseorang mengirimkan pesan dan itu adalah Sebastian.
Sejenak, Kaylee memusatkan kedua matanya pada layar ponsel untuk melihat pesan yang sepertinya penting. Mengingat, selama dua hari ini tidak ada pesan atau panggilan apapun.
[Tuan Sebastian ]: Maaf Nona. Tuan Garfield menyuruh anda untuk bersiap nanti malam. Katanya, gunakan gaun yang akan disiapkan oleh Pelayan nanti, karena nanti malam Tuan Garfield akan menjemput untuk menghadiri makan malam di mansion utama keluarga Garfield.
Kaylee membaca pesan tersebut dengan seksama. Lalu sontak membuatnya membeku—kedua bibirnya kelu untuk mengatakan sepatah kata pun.
“Ma—makan malam di mansion utama keluarga Garfield?” Ia semakin kalut. Itu berarti, Kaylee harus bertemu dengan keluarga besar Noah dan parahnya! Kaylee belum siap dan tidak akan pernah siap.
“Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan?” Kaylee kembali bergumam dalam hati. Fokus pada pemikirannya dan mengabaikan Thea yang sejak tadi memanggil.
Thea yang bingung dengan perubahan rekan kerjanya, lantas memegangi lengan Kaylee. Alhasil, Kaylee tersentak dengan raut wajah kebingungan.
“Kau baik-baik saja?”
__ADS_1
Kaylee langsung mengangguk. “Aku baik-baik saja. Memangnya kenapa?” Lalu Kaylee bisa melihat Thea yang memegang beberapa dokumen transaksi. Ia baru mengingat jika saat ini bekerja. Oleh karena itu, Kaylee langsung mengambilnya. “Aku—aku akan mulai menginputnya!”
Kaylee melakukannya tanpa melihat bagaimana ekspresi Thea yang seperti kebingungan. Memang Thea bingung, tetapi wanita itu mencoba untuk berpikir rasional dan tidak mengambil pusing. Lagipula, banyak hal yang harus ia pikirkan—pekerjaannya dan cara mendapatkan banyak uang