
Hari awal bekerja belum terlalu sibuk. Mereka masih melakukan pengenalan terhadap sekitar, Oliv pada dasarnya tidak membuat mereka terbebani. Malahan mereka sangat nyaman berada di Diamond Garfield, belum lagi banyak keuntungan yang mereka akan dapatkan. Mengingat, perusahaan tersebut memiliki masa kejayaan tidak ada habisnya hingga kini.
Bagi Thea, Mike dan Peter mereka masih bersantai hari ini. Akan tetapi, tidak berlaku dengan Kaylee yang diberi tugas untuk melaporkan keuangan cabang Korea Selatan ke Noah Garfield oleh Oliv dikarenakan wanita itu harus keluar bersama Sebastian untuk pertemuan penting.
Kaylee tidak bisa menolak. Oleh karena itu, di sinilah ia sembari memegang erat map berisi laporan keuangan terbaru yang dimintanya. Ada keraguan yang muncul, tetapi kembali urung seketika mengingat jika atasannya akan marah.
Alhasil, Kaylee menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan dengan pelan sebelum menekan bel yang tersedia.
“Kau pasti bisa, Kaylee! Tugas pertamamu!”
Tidak berselang lama, suara menginterupsi terdengar bersama udara. Kembali meraup banyak oksigen, hingga Kaylee membuka pintu itu dengan pelan. Dirinya bisa melihat Noah yang sibuk akan kegiatannya berkutat pada laptop. Kedua tangan yang terlihat kekar itu, menari dipapan tombol—sangat menakjubkan. Kaylee tertegun melihat atasannya begitu tampan dan tidak lupa aroma mint yang menguasai penciumannya. Sangat maskulin.
“Apa kau akan terus berdiri di sana?” Noah berujar tanpa melirik, pekerjaannya begitu menumpuk.
Kaylee tersentak, mengumpati dirinya. Dengan cepat menggelengkan kepala setelah ia terus saja menatap atasan begitu lekat. “M-maaf, Tuan.” Lantas, Kaylee bergegas ke arah Noah. Menaruh sebuah laporan yang sejak tadi digenggamnya. “Saya ingin memberikan yang Tuan minta dari Nona Oliv, beliau tidak sempat untuk memberikan secara langsung dan memberikan amanah kepada saya.”
Noah tidak bergeming setelah itu. Pekerjaan yang sebelumnya telah ia lakukan masih menjadi fokusnya. Kaylee tidak berniat berkata ataupun meninggalkan ruangan ini sebelum ada perintah. Itu sekitar lima menit, hingga Noah akhirnya meraih laporan keuangan yang diminta. “Baiklah, kau bisa ke luar.”
Jawaban sejak tadi ia nanti kala terjebak di pusaran sekitar yang mengcekam. Ia bersorak dalam hati, tetapi yang dilakukan tubuhnya mengangguk dengan senyum ramah. “Terima kasih, Tuan. Saya mohon undur diri kalau begitu.”
Kaylee menundukkan kepala sejenak, lalu berbalik. Pergerakan ia lakukan malah harus terhenti kala ia dengan jelas mendengar namanya terpanggil. Noah memanggilnya.
“Ya, Tuan? Apa ada yang harus saya lakukan?” tanyanya setelah kembali berhadapan dengan Noah. Mata mereka beradu. Bagi Noah, Kaylee salah satu orang yang berani menatapnya begitu lekat dan lama.
“Ambilkan sarapanku. Hubungi Sebastian untuk itu.”
Perintah itu, membuat Kaylee tidak mengerti. Dahinya berkerut. “Maksud, Tuan?”
“Apa perlu kuulangi?” Sekali lagi, Kaylee melihat sorotan mata tajam yang angkuh dan arogan.
Kaylee meneguk ludah. Ia menggelengkan kepala. “Akan saya sediakan, Tuan. Mohon menunggu karena saya harus menghubungi Tuan Sebastian dulu.”
Noah hanya memberikan bahasa isyarat melalui jemarinya agar segera meninggalkan tempat ini. Bergegas Kaylee melakukannya dengan senang. Sangat tidak betah di dalam sana.
Namun, Kaylee baru mengingat satu hal. Dirinya sama sekali tidak memiliki nomor ponsel Sebastian. Lantas, bagaimana caranya harus menghubungi pria itu untuk menanyakan sarapan sang atasan? Bayangan soal Noah yang marah, itu terlintas di kepalanya. Kaylee masih mencintai pekerjaan yang baru ditekuninya ini.
Ia menggigiti kukunya yang polos—kebiasaan buruk yang dilakukan kalau sedang cemas. “Apa yang harus kulakukan? Lagipula, belum ada yang kukenal.”
Kaylee masih baru. Ia merutuki diri kala tidak memintanya dengan sang atasan. Sembari berpikir, ia berjalan ke dapur kantor. Berada di lantai empat. Akan tetapi, ia mengingat soal kafetaria yang ada di lantai dua. “Oh Tuhan! Dia makan apa? Bagaimana caranya menghubungi Tuan Sebastian yang saat ini bersama Nona Oliv ....”
Kaylee langsung menjedanya. Oliv! Ia memiliki nomor kontak wanita itu. Buru-buru, ia merogoh ponsel, mencari nama kontak Oliv lalu meneleponnya. Berdering. Dengan berharap, Kaylee meminta Tuhan agar Oliv menjawab panggilannya.
“Halo, Kaylee. Ada apa?” Suara seberang sana yang membuat Kaylee bernapas lega.
__ADS_1
“Maaf karena menghubungi Nona. Akan tetapi, ini sangat penting. Soal Tuan Garfield dan apakah Nona bersama Tuan Sebastian?” Kaylee langsung memberitahu keperluannya. Tidak ada suara setelah itu, tetapi tidak lama, Kaylee mendengar suara seorang pria. Oliv ternyata langsung memberikan ponselnya dengan Sebastian.
“Ada apa dengan Tuan Garfield?”
Perlahan, Kaylee meraup banyak oksigen sembari melirik ke sekitar. “Tuan Garfield tiba-tiba menyuruh saya memberikan sarapannya. Akan tetapi, saya tidak tahu sarapan beliau. Tuan Noah hanya menyuruh saya untuk bertanya dengan anda.” Lepas sudah semua kegundahannya.
Terdengar helaan napas berat di sana. “Biasanya aku memesankannya di salah satu restoran yang memang terbuka 24 jam. Tidak jauh dari kantor. Akan tetapi, aku tidak memesan hari ini karena restorannya tutup. Akan tetapi, ada bahan di lemari pendingin. Makanannya gampang dibuat. itu adalah Yorkshire pudding dari Inggris.” Sebastian menjelaskan.
“Oh, makanan itu.”
“Kau mengetahuinya, Nona?”
Kaylee mengangguk. Saat menikah, ia sering memasaknya atas permintaan mantan suaminya. “Dulu, aku sering membuatnya.” Mendadak ia mengingat masa lalu yang kelam.
“Kalau begitu buat saja, Nona. Sekalian minuman yang Tuan Garfield minum saat sarapan adalah teh hijau tanpa gula. Tuan Garfield tidak suka dengan yang manis-manis. Kalau begitu saya tutup dulu. Pertemuan segera dilakukan.”
Kaylee sebal. Telepon benar-benar dimatikan sepihak, padahal ia belum membalas. Yorkshire pudding sendiri makanan yang terbuat dari telur, tepung, dan susu. Hidangan ini disajikan dengan bawang bombay, daging sapi, saus, sayuran dan kentang. Namanya hanyalah puding, tetapi bukan puding yang banyak orang ketahui.
Setelah mendapatkan informasi, Kaylee lantas menuju ke dapur kantor yang ternyata begitu luas dengan fasilitas yang lengkap. Bahkan, bahan-bahan makanan dan minuman juga sudah tersedia. Benar-benar menakjubkan. Tidak seperti di kantor sebelumnya. Kalau tahu begini, Kaylee lebih senang memasak untuk dirinya nanti.
Sesuai yang dikatakan Sebastian, Kaylee lalu membuka lemari pendingin. Mencari bahan-bahan yang ia perlukan. Membawanya ke meja dekat kompor. Kaylee mengerahkan seluruh kemampuannya dan kecepatan yang ia memiliki. Membuat adonan lalu menaruhnya dioven. Sembari menanti, ia merebus dan menumis bahan yang sudah di potong dan dibersihkan.
Sekiranya, butuh 20 menit makanan itu tersedia bersama dengan minumannya. Kaylee tidak lupa juga menaruh air mineral. Berjaga ketika Noah tersedak.
“Masuk!”
Dengan pelan ia membuka pintu. Menatap lekat makanan serta minuman di atas nampan. Tatapan yang fokus pada itu, tetapi ia juga fokus untuk berjalan ke arah Noah. Berhenti tetap di hadapannya sembari menghembuskan napas lega.
“Yorkshire pudding dan teh hijau Tuan sudah siap.” Berharap Noah tidak mengabaikannya.
“Taruh di atas meja situ!” Sambil menunjuk meja di depan sofa yang ada di ruangan luas ini. Kaylee menurut, menaruhnya dengan hati, lalu kembali ke hadapan Noah.
“Apa ada yang Tuan inginkan lagi?” Bertanya dengan harapan tidak ada. Untung saja, Noah mendengarkan kata hatinya. Pria itu kembali memberikan bahasa isyarat untuk dirinya pergi. Seolah saja pria itu bisu.
‘Tidak ada rasa terima kasih!’ Kaylee jengkel dalam hati. Ia meninggalkan Noah dengan segudang pekerjaannya.
Namun, hanya bertahan lima menit. Aroma sarapannya begitu memabukkan kali ini. Alhasil, membuatnya tidak fokus bekerja dan segera ke sumber aroma itu berasal.
Sarapannya terlihat seperti biasanya. Hanya aromanya yang sedikit berbeda dan terdapat air mineral. Dahinya berkerut, tetapi ia tidak peduli. Noah memang terbiasa sarapan dengan makanan seperti ini untuk menambah energinya. Ia yang pada umumnya telah lapar sejak tadi atas keterlambatan Sebastian akan memberikan sarapan miliknya langsung memakan sarapan itu.
Hanya saja, suapan pertama. Rasanya berbeda dengan sebelumnya. Bukan tidak enak, lebih enak dari kemarin. Bahkan terasa gurih. Menerka-nerka, di mana Kaylee mendapatkannya?
Ini membuat dirinya berselera untuk menghabiskan sarapan itu. Namun, rasa penasarannya begitu besar sehingga terlebih dahulu mengirimkan Sebastian pesan soal sarapannya. Mengingat, Kaylee pasti mendapat rekomendasi dari Sebastian.
__ADS_1
Tentu, Noah tidak bisa membohongi dirinya. Ia ingin memakan sarapan ini setiap harinya.
...***...
Mereka belum sibuk hari ini. Menghabiskan waktu bersantai dan berkeliling adalah hal yang dilakukan. Tentu berbeda dengan Kaylee yang mewakili Oliv yang tidak ada di kantor. Banyak hal yang ia lakukan. Beruntung, waktu sudah menunjukkan pukul angka empat di sore hari. Semua aktivitas selesai. Akan dilanjutkan esok hari.
Kaylee senang dengan hal itu. Membereskan semua barang bawaannya lalu ia meninggalkan ruangan. Setelah yang lain sudah terlebih dahulu pergi. Mengingat ia memegang kunci.
Kantor perlahan sepi. Sisa beberapa staf yang belum pulang dan bagian keamanan yang berjaga. Untuk itu, Kaylee segera mempercepat langkah untuk masuk ke lift. Ia takut ketinggalan bis.
Namun tanpa ia sadari, lift yang saat ini ia masuki bersamaan akan eksistensi Noah yang sibuk dengan ponsel digenggamannya.
Kaylee ingin keluar. Tetapi itu sangat aneh bukan? Tentu saja, ia memutuskan tetap berada di dalam sana. Tidak lupa memperlihatkan rasa hormat dan senyumannya.
“Selamat sore, Tuan.”
Sialnya, sang atasan tidak membalas. Hanya diam saja. ‘Sombong sekali!’ tetapi ia hanya bisa membatin.
Mendadak suasana sangat canggung. Mengingat, hanya ada mereka berdua di dalam lift dan Kaylee tidak suka berbasa-basi dengan Noah yang selalu mengabaikannya.
Perlu beberapa waktu, lift terbuka. Kaylee terlebih dahulu berpamitan dengan Noah. “Saya izin pulang, Tuan. Bis yang saya tumpangi akan segera—“
“Kau ikuti aku!”
Tiga kalimat yang membuat Kaylee tidak mengerti. “Bisa Tuan menjabarkannya lebih jelas?” Karena ia sama sekali tidak mengerti.
Mereka masih ada di dalam lift. Tatapan Noah yang tajam, mengamati kedua mata Kaylee yang begitu teduh. Terdapat kenyamanan di dalam sana. “Aku akan mengantarmu pulang.”
Hal yang membuat mulut Kaylee menganga lebar. “Mengantar saya?”
Noah yang masih menatap Kaylee, tidak memberikan jawaban apapun selain beranjak dari sana. Berbeda dengan Kaylee yang masih pada posisinya. Itu membuat Noah merotasikan bola matanya dengan malas.
“Aku tidak suka mengatakan sesuatu berkali-kali, Nona!” Tanpa berbalik ke arah Kaylee. Tetapi Noah menghentikan langkah. Kaylee yang mendengar suara yang seketika terdengar menyeramkan itu, langsung keluar dari area lift. Mulai mengekori sang atasan walau ia mencebikkan kedua bibirnya karena kesal.
‘Dasar pemaksa dan tidak jelas!’ Sekali lagi, Kaylee hanya bisa menyampaikannya dalam hati. Jika terlepas, Kaylee bisa membayangkan Noah akan menendangnya keluar.
Hanya saja, Kaylee tidak mengerti maksud dari sang atasan yang tiba-tiba ingin mengantarnya pulang. Ayolah! Mereka tidak seakrab itu.
__ADS_1