
Semua siswa tak bisa menahan untuk menengokkan kepalanya ke arah sudut belakang kelas yang sedari tadi menimbulkan suara yang membuat mereka merinding tak karuan.
Banyak dari mereka yang berkeringat dingin mendengar suara - suara itu. Sedangkan sang objek yang sedari tadi menyedot perhatian para temannya hanya bersikap acuh dan tak memperdulikannya.
"Yuta, Berhenti dulu , malu sama teman - teman yang lainnya"
"Ngapain malu?? kamu kan sekarang udah jadi pacar aku" ucapnya dengan lantang agar para siswa dikelasnya mendengar pernyataan Yuta.
"Tapi kan..."
"Sssttt... emang kenapa sih?? cuma gombalin kamu aja kok, engga lakuin yang lain"
"*Ia , tapi kata - kata lo itu buat kita merinding Yuta"
"Seorang Yuta, ngegombal?? ke nerakain aja lahhhh"
"OMG ... bebeb Yutaaaa... kenapa gak gombalin gue aja sih???"
"Gue kok gak Rela kalo Chalissa dekat sama bad boy itu*" itulah curahan hati dari para teman - teman yang sedari tadi mendengar ungkapan Yuta.
Dan , lagi, "Isa, kamu tau gak?" Chalissa menatap kembali manik mata biru yang selalu mengambil alih pandangan matanya. Mata coklat terang itu mencoba menyelami apa yang sebenarnya lelaki itu pikirkan.
"Tau apa?"
"Kamu Cantik, dan aku suka" Senyum malu dengan rona merah dipipi membuat Yuta semakin gencar menggoda Chalissa.
"Isa... " tak ada jawaban karena sang pemilik nama kini menutup kedua telinganya agar tak mendengar kembali gombalan yang akan Yuta lontarkan.
"Hey.. lihat sini dong" Chalissa menepis tipis tangan Yuta kemudian menutup kembali telinganya.
"Chalissa ... jangan di tutup,"
"Kenapa??"
"Nanti kamu gak bisa dengar apa yang aku ucapin loh" ucap Yuta seraya menurunkan kedua tangan Chalissa kemudian menggenggamnya erat.
"Emangnya Yuta mau bilang apa lagi,?"
"Aku cinta kamu"
__ADS_1
"aaahhhhhkkk..." jerit para wanita yang sedari tadi tak tahan mendengar apa yang diucapkan Yuta.
Yuta dan Chalissa langsung terkejut saat mendengar teriakan dari para wanita yang membuat Yuta melayangkan tatapan tajamnya .
"Apa?" Ucapnya dengan sorot mata dingin dan membuat semua siswi diam dan shock akan perubahan sikap Yuta yang dengan mudahnya berubah begitu saja.
"Gila , Yuta lo sehat kan??" Ucap Brenda dengan beraninya .
"hm"
"Ck.. tadi aja lo banyak ngomongnya, pake gombal segala, lah sekarang??"
"urusan lo?"
skak mat
Apa yang Yuta lakukan memang tak ada hubungannya dengan mereka, namun bisa dipastikan jika hati para perempuan di kelas ini meleleh saat mendengar gombalan Yuta. Dan Brenda yakin , jika besok para teman temannya akan di diagnosis memiliki penyakit jantung. lebay?? memang!.
"Selamat siang anak anak"
"Siang paaakkk..."
Chalissa yang tak tahu apa - apa langsung bangkit dengan senyum yang terpatri di bibir manisnya. Mata sang guru berbinar dengan senyuman aneh yang membuat para siswi meremang ketakutan.
Semua menatap Chalissa dengan harap harap cemas, adapula yang menatap Yuta seolah meminta bantuan agar Chalissa tak menjadi korban selanjutnya.
*drap
drap
drap*
Langkah kaki itu semakin mendekat , sang guru semakin melebarkan senyumnya karena targetnya kali ini adalah gadis polos yang cantik.
drap, langkah itu terhenti dengan jarak dua langkah di hadapannya . Sang guru melambaikan tangannya menyuruh Chalissa semakin mendekat.
"Mari nak, sini, kita perkenalan terlebih dahulu" Chalissa dengan wajah polosnya berkata , "Maaf pa, kata Yuta, selain sama Yuta , gak boleh ada yang dekat sama Isa"
"Chalissa... nyari mati looo" pekik Brenda dalam hatinya , ia merasa gemas dengan apa yang Chalissa ucapkan. Begitupun dengan siswa lainnya yang ikut berdo'a akan keselamatan Chalissa.
__ADS_1
"Oh.. anak bandel itu?" lirihnya seraya menatap malas ke arah Yuta namun tetap terdengar oleh Chalissa dan siswa yang berada di dekatnya .
"Yuta gak bandel kok pak, Yuta baik sama Isa" Sang guru semakin geram akan apa yang Chalissa ucapkan. Dengan nafas memburu serta wajah memerah padam menahan amarah , si rubah mendekat ke arah Chalissa dengan penggaris di tangannya.
"Hm... baiklah, perkenalkan nama kamu" Ucapnya seraya memutari tubuh Chalissa , namun Chalissa tak mencurigai apapun yang akan dilakukan sang guru.
"Nama saya Chalissa dipanggil Chal, karena Isa panggilan buat Yuta aja"
"Chalissa, perkenalkan, nama bapak Julian dan saya akan memberi kamu soal matematika, jika salah , maka akan ada hukumannya"
"siap pa" ucapnya seraya memberi hormat dengan senyum polos di wajahnya . Beberapa murid laki-laki terpesona akan senyum cantik Chalissa, namun tak bertahan lama saat beberapa angka mulai dicoretkan pada whiteboard dihadapan mereka.
"*ini soal apaan??"
"Gilaaaa... rumus mana nih yang harus dipake??"
"Ini mah bukan se-levelan gue"
"Angkat tangan.!!!!"
"nyerah boskuuuu*"
Begitulah gumaman yang masih terdengar hingga telinga Chalissa dan membuatnya bingung. Chalissa membalikkan badannya menghadap ke arah teman sekelasnya , ah , Bukan!!! melainkan menatap Yuta yang kini memberikan senyumnya pada Chalissa. Dengan percaya diri , Chalissa mengambil alih spidol yang berada di tangan pak Julian.
*tek tek
tek tek
tek tek*
Bunyi decitan spidol dengan whiteboard terdengar jelas karena tak ada suara apapun selain itu. semua hening.
"Selesai" Ucapnya dengan bangga, kemudian Chalissa mulai melangkah menuju bangkunya.
"ah, Chal lupa sesuatu" ucapnya seraya berbalik menatap ke arah sang guru.
"Lain kali , kasih soalnya materi SMA aja ya pak , permisi"
Sang Rubah menatap tak percaya akan jawaban dari Chalissa yang ternyata memang benar. Dengan perasaan malu serta dongkol, ia keluar ruangan kelas begitu saja.
__ADS_1
"Kali ini kamu lolos, kita lihat saja nanti, kamu target selanjutnya "