
Pembahasan mengenai staf yang melakukan penggelapan dana itu menjadi buah bibir hangat dan harus di bahas pada pertemuan kali ini. Di meja panjang berbentuk oval, jajaran petinggi dan pemegang saham turut hadir dengan banyak spekulasi yang memenuhi isi kepala.
Hanya saja, mereka belum membuka rapat dikarenakan Sang CEO—Noah Garfield belum hadir di antara mereka. Dari sini, mereka mulai mengeluh akan keterlambatan Noah yang belum menampakkan diri.
Seorang pria paruh baya bernama Giffrey Garfield—Paman dari Noah yang memiliki jabatan sebagai Direktur Personalia. Ia berdecak karena itu. “Kenapa CEO Diamond Garfield belum hadir dan membuat menunggu—“
“Ini juga belum waktu rapat yang diagendakan. Waktuku begitu berharga untuk datang lebih awal,” ucap Noah yang langsung saja berada di antara mereka, melesat ke tempat duduknya. Alhasil, membuat Giffrey mengepalkan tangan.
‘Sial, Anak itu selalu saja membuatku tersudut!’
Semua hadirin langsung berdiri dan memberikan penghormatan bagi Noah yang langsung duduk tidak bergeming. Serempak, mereka kembali duduk di tempatnya, menantikan Noah untuk mengeluarkan sepatah kata.
“Pertemuan ini untuk membahas masalah keuangan yang keluar tanpa jejak. Terendus setelah perusahaan harus rugi sebesar 134.000 US Dollar. Jumlahnya memang tidak seberapa, tetapi tikus bedebah pada harusnya dimusnahkan. Aku sudah melakukan seharusnya, memenjarakan sekaligus menyita seluruh asetnya. Aku sama sekali tidak peduli tentangnya ataupun nasib keluarganya, karena pengkhianat pasti akan kuhancurkan dengan perlahan,” ucap Noah sebagai sapaan sekaligus pembuka. Tatapan Noah setelah itu beralih pada Giffrey. Noah tahu, Pamannya itu tidak suka akan kehadirannya karena mengambil posisinya.
Bukan. Posisi Noah awalnya berasal dari Damian Giffrey—ayahnya yang telah wafat sewaktu dirinya berusia 14 tahun dan Perusahaan diambil alih oleh Arthur Garfield sebelum Noah layak berada di posisi itu. Noah memulai peradabannya pada usia 20 tahun.
“Tetapi itu menjadi kesalahan akibat kurangnya pengawasan. Bahkan bisa terjadi lebih besar lagi.” Giffrey menyahut.
Noah lantas tersenyum licik seraya menganggukkan kepala. “Tenang saja, aku tahu apa yang akan kulakukan dan pertemuan yang kalian usulkan untuk membahas perkara ini, sudah selesai, bukan?” ucap Noah, tidak memberikan siapapun celah untuk mengusiknya.
“Apa ada pertanyaan? Terkait kerugian, akan di sampaikan secara sederhana oleh Sekretarisku.” Noah menambahi. Semuanya masih bungkam. Tidak ada yang berani menyenggol Noah—mereka tidak memiliki celah untuk melakukannya.
Alhasil, Noah langsung bangkit meninggalkan area rapat. Semua orang tahu bagaimana angkuh dan arogannya Noah selama menjadi CEO. Bagi pemegang saham dan beberapa petinggi, mereka tidak mempermasalahkannya karena melihat kinerja Noah yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Perusahaan Diamond Garfield semakin mengepakkan sayap di dunia bisnis.
Oleh karena itu, Sebastian’lah yang mengambil alih untuk memberikan beberapa poin penting. Lalu Noah, akan kembali ke ruangannya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan lain sembari menantikan agenda lain yang akan dilakukannya dari Sebastian.
...***...
Hari ini, Kaylee mengenakan kemeja berwarna biru langit yang dipadukan dengan rok span berwarna biru tua dan rambut cokelatnya yang dibiarkan terurai. Polesan riasan mempercantik Kaylee yang kini sangat anggun dan siap untuk melakukan ujian.
Sedikit berbeda dari seleksi penerimaan staf dari Perusahan lain. Akan tetapi, Kaylee bisa mengambil keputusan mengenai alasan pihak Diamond Garfield karena staf keuangan mereka baru saja melakukan penggelapan dana. Sudah jelas penerimaannya akan begitu ketat. Kaylee berharap tidak ada calo ataupun kecurangan lain. Mengingat ia dan yang lainnya juga telah mengusahakannya dengan kemampuan mereka sendiri.
Sepatu hak tinggi yang senada dengan kemejanya melangkah pelan setelah keluar dari bis—kendaraan yang sering ia gunakan untuk bepergian karena menghemat pengeluarannya. Perjalanan dari rumah bibinya ke Perusahaan Diamond Garfield memakan waktu 10 menit. Waktu yang Kaylee pergunakan untuk menahan diri kala beberapa penumpang bis terus saja mencuri perhatian, memberikan gombalan maut dan bahkan meminta ponselnya. Sekalipun Kaylee mengatakan ia seorang janda, tetap tidak membuahkan hasil.
__ADS_1
Kaylee tetap mencoba untuk rendah hati dan memperluas rasa sabarnya. Selagi tidak ada hal-hal yang tidak mengenakan, ia tidak akan mempermasalahkannya. Setidaknya ia lebih baik saat ini daripada sebelumnya terus mendapat hinaan dan cacian.
“Sudahlah, Kaylee. Lupakan itu dan ayo segera menuju ke tempat ujiannya!”
Kaylee bergegas, mempercepat langkah untuk memasuki area Perusahaan Diamond Garfield. Di sana, penjaga keamanan langsung mengarahkan mereka untuk ke lantai tiga—tempat seperti aula yang biasanya dipergunakan untuk acara-acara penting. Tentu saja, Kaylee langsung ke sana setelah mengucapkan terima kasih.
Namun, baru saja ia hendak berjalan ke lantai tiga, seseorang langsung memanggilnya, membuat Kaylee menunjuk diri sendiri dengan heran.
Wanita berambut bob dengan kartu identitas yang menandakan dirinya sebagai salah satu staf Perusahaan Diamond Garfield mengangguk. Lagipula, memang hanya Kaylee'lah yang kebetulan lewat. Walau agak bingung, Kaylee mendekat ke arahnya.
“Apa ada yang bisa saya bantu, Nona?” tanya Kaylee kala melihat ada tiga kardus berisi tumpukkan berkas yang Kaylee tidak pahami.
Wanita itu kembali mengangguk. “Bisakah aku meminta bantuanmu? Aku harus segera membawa semua laporan keuangan dan beberapa berkas tentang keuangan Perusahaan Diamond Garfield. Aku bisa saja meminta bantuan rekanku, tetapi mereka sedang sibuk dengan acara yang dilakukan beberapa menit lagi,” ucapnya dengan nada memohon. Peluh tampak di pelipisnya karena khawatir dan lelah mendatanginya.
Sejenak Kaylee mengamati arlojinya. Masih ada 30 menit sebelum ujian dimulai. Ia masih sempat untuk datang kala membantu wanita itu. “Akan kubantu kalau begitu.”
Wanita itu tersenyum lebar mendengarnya. “Terima kasih banyak. Aku akan membawa dua kardus ini dan kau sisanya,” ucapnya sembari langsung mengangkat dua kardus yang ia tumpukan, lalu Kaylee mengikuti dan berjalan beriringan dengan wanita itu.
“Huft, untung kau mau membantu. Sangat penting sekali! Aku harus segera melakukannya.” Wanita itu membuka suara seraya mereka memasuki lift. Kaylee bisa melihat wanita itu menekan tombol angka lima, lalu ia meletakkan kardus itu di bawah sejenak.
Buru-buru Kaylee membalas uluran tangan tersebut dengan kikuk. “Kaylee, namaku Kaylee Mercier. Senang bisa berkenalan dengan Nona.”
“Aku juga senang bisa berkenalan denganmu, Kaylee. Dan oh iya, kau hendak mengikuti seleksi ujian ya?” tanyanya kala mereka mengurai jabatan itu.
Kaylee mengangguk. “Iya, saya mencoba melakukan peruntungan.”
“Itu bagus, aku suka tekadmu! Seleksi nanti itu tidak rumit, dan jika kau bisa lolos, kita akan bertemu nanti di sesi wawancara. Kuharap bisa melihatmu dan bergabung di timku nantinya.” Oliv mengatakannya panjang lebar. Kaylee hendak membalas tetapi pintu lift terbuka hingga mereka segera ke tujuan. Kaylee memilih mengekori Oliv yang berjalan di depannya hingga mereka kini tiba di sebuah ruangan.
CEO Secretary Room. Kaylee dapat melihatnya. Seketika ia mengerutkan dahi. Apa Oliv memiliki jabatan yang tinggi?
Namun, pikirannya buyar kala mendengar suara seorang pria tampan—sangat tampan malah.
“Kenapa baru tiba? Aku harus segera menyelesaikan ini sebelum memberikan laporannya ke Tuan Garfield,” ucap pria itu yang menatap kesal ke arah Oliv hanya membalasnya dengan dengusan.
__ADS_1
“Berhenti memarahiku. Kau hanya bisa memarahiku. Untung saja ada Kaylee yang membantuku!” Sembari Oliv menaruh kardus itu di meja yang diikuti oleh Kaylee.
Sontak pria yang tak lain adalah Sebastian melirik ke arah Kaylee dengan tatapan intimidasi. Ingin rasanya Oliv melempar kardus itu ke wajah Sebastian yang membuat kenalan barunya gugup.
“Kenalan baru, namanya Kaylee Mercier. Hari ini dia mengikuti seleksi ujian untuk posisi staf keuangan—“
“Kau membawa orang asing ke lantai utama, Oliv? Apa kau ingin dimarahi Tuan Garfield? Cepat suruh kenalanmu ke lantai tiga. Tidak lama lagi ujiannya akan dilaksanakan dan tidak baik berkeliaran tanpa kartu identitas. Tuan Garfield akan memberikan hukuman tahu,” ucap Sebastian panjang lebar. Ia semakin frustrasi akan apa yang ada di hadapannya.
Kaylee yang mendengar itu, tentu saja takut. Ia tidak ingin menciptakan pengaruh buruk untuk dirinya sehingga memilih untuk undur diri. “Sebelumnya, maaf karena lancang. Aku akan segera ke lantai bawah dan terima kasih,” ucap Kaylee pamit. Oliv mendadak tidak enak hati kala Kaylee telah keluar dari ruangan Sebastian membuat Sebastian mendapatkan senggolan.
“Kau jahat sekali!”
“Wanita itu dan kau akan bahaya jika ia bertemu dengan Tuan Garfield, Oliv!”
Namun, Kaylee benar-benar pergi. Ia mendadak takut setelah mendengar ucapan pria itu kepadanya. Lagipula, ujiannya tidak akan lama lagi kala ia mengamati arloji. Akan tetapi, Kaylee yang terburu-buru dan tidak memperhatikan jalan, tidak sengaja menabrak tubuh yang tinggi dari dirinya, membuat Kaylee meringis kesakitan.
Kaylee memegangi kepalanya sembari menunduk. Ia dapat melihat sepasang pantofel hitam begitu mengkilap hingga dengan pelan Kaylee mengangkat kepalanya.
“Saya minta maaf—“
“Apa yang kau lakukan dengan berlari seperti itu? Ini bukanlah lapangan,” ucap pria itu, begitu tampan. Kaylee secara melihat pangeran dari dunia dongeng yang baru saja keluar dari ceritanya. Rahang yang kokoh, mata tajam seperti elang dan alis yang tebal, memberikan kesan seksi. Kaylee tidak bisa memalingkan wajah begitu saja ketika melihat tubuh proporsional pria itu. Matanya tidak berkedip, ia bisa menebak, pria itu pasti rajin berolahraga karena otot-otot yang bahkan tercetak dibalik setelan jas itu.
“Tundukkan pandanganmu dariku! Siapa kau yang berani melanggar peraturan yang kubuat dengan tidak mengenakan kartu identitas?” Suaranya terdengar mengcekam bak hendak menerkam. Seperti auman Singa sang raja hutan.
Lantas, Kaylee menundukkan kepalanya seraya memilin ujung kemejanya. Badannya gemetar karena takut. Pertanyaan itu, membuat Kaylee menduga, pria di depannya ini adalah Noah Garfield—CEO yang diagungkan.
“Saya minta maaf, Tuan. Saya bukan staf di sini, saya hanya membantu Nona Olivia membawa beberapa barang. Saya lekas pergi setelah membantu. Saya tidak berniat melakukan hal buruk apapun. Tolong maafkan saya atas kelancangan yang saya lakukan,” ucap Kaylee. Ia mengatakannya sembari menatap mata cokelat itu—begitu lekat, tidak ada kebohongan yang ditangkap Noah.
Bahkan, tepat disaat Noah ingin mengintimidasi, Oliv berjalan ke arah mereka. Oliv memberikan salam hormat dengan menundukkan kepala sejenak.
“Tuan, mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Ini salah saya meminta bantuan kepada Nona Kaylee Mercier untuk mengangkat kardus,” ucap Oliv dengan pelan sembari meraup banyak napas. Ia berharap atasannya tidak marah.
Noah lantas mengamati keduanya secara bergantian, sebelum menghela napas. “Ini adalah peringatan terakhir, Oliv dan kau ....” Kalimat akhir Noah yang mengarah pada Kaylee yang perlahan mendongak. “Pergilah ke aula sekarang!” ucapnya dengan dingin.
__ADS_1
Walau agak bingung kala Noah memberikan perintah untuk menyuruhnya ke aula, Kaylee memilih untuk menurut dan berpamitan sebelum undur diri. Oliv juga melakukan hal yang sama, ia memiliki pekerjaan lain. Nyatanya, Noah melihat map berwarna gold yang menyembul dari tas selempang wanita itu yang mana menjadi kartu untuk mengikuti seleksi dan berisi data diri, sehingga ia bisa memberikan perintah tersebut. Beruntung, Noah tidak dalam suasana yang buruk sehingga ia tidak mempermasalahkannya.
Akan tetapi, Noah saat ini masih berada di tempatnya dengan pikiran yang berkelana ke mana-mana. Nama itu. Membuatnya teringat akan seseorang. “Kaylee Mercier?”