
Noah tidak bohong dengan ucapannya. Pria itu benar-benar mengantar Kaylee ke rumah sang Bibi—tanpa Sebastian yang biasanya menjadi supir dan Noah yang menyetir. Kaylee pun sebenarnya hanya ingin mengutarakan apa yang akan terjadi kepada sang ibu, tetapi dengan kehadiran Noah tentu akan sedikit menyulitkannya.
Bibinya pasti akan semakin bingung. Kaylee mendadak galau setibanya di rumah sang Bibi. Ia sedang merangkai setiap kata yang akan keluar—masih di dalam mobil. Tidak menyadari jika Noah telah berada di luar dan kini membukakan Kaylee pintu.
“Apa yang kau pikirkan, Kaylee!”
Sang empu langsung tersentak. Ia mengerjapkan mata—menatap sekeliling. “Oh, sudah tiba ternyata. Terima kasih.” Lalu Kaylee langsung melenggang masuk begitu saja. Meninggalkan Noah di tempatnya. Pria itu memaku, untuk pertama kalinya, seseorang memperlakukannya seperti ini.
Anehnya, Noah malah enggan untuk memperpanjang. Memilih untuk berjalan dengan santai—menyusul Kaylee telah berjalan masuk terlebih dahulu setelah menekan mobilizer mobil.
Kaylee membuka pintu dan bergegas masuk. Seakan lupa dengan seseorang di belakang kala kini langsung memeluk sang Bibi yang tampak khawatir dengan dirinya. “Kau dari mana saja, hm? Kalau ada kerjaan seharusnya memberi kabar,” ucap Daisy dengan ekspresi khawatirnya.
Kaylee terkekeh dibuatnya. Sembari mengusap leher sebagai pengalihan. “Aku minta maaf, Bibi. Tidak akan kuulangi lagi dan Bibi ....” Ia langsung menjeda ucapannya kala melihat ekspresi sang Bibi yang fokus pada seseorang di belakangnya dan Kaylee memang mendengar suara derap pantofel yang melangkah.
Sekejap, Kaylee membulatkan mata. Menyadari satu hal. Noah—atasannya. Sontak, Kaylee menoleh ke belakang. Mendapati Noah dengan tatapan dingin begitu menusuk—auranya bahkan terasa begitu terasa.
“Tuan!” Noah mengabaikannya. Pria itu memilih untuk menarik langkah semakin mendekat. Lantas memperhatikan seorang wanita yang masih terlihat fresh yang diusianya sudah tidak muda lagi.
“Maaf jika tidak membuat janji temu, Bibi. Aku Noah Garfield,” ucapnya memperkenalkan diri yang membuat Kaylee menggigiti bibir dan Daisy yang semakin bingung.
Namun, Daisy tentu memberikan balasan. Siapa yang tidak mengenal seorang Garfield? Keluarga makmur dengan kekayaan dan kekuasaan terkuat di Las Vegas. Bekerja di pemerintahan—walau di bagian catatan sipil, Daisy mengetahui jika keluarga Garfield telah memberikan begitu banyak kepada pemerintah—mengingat Garfield penyetor pajak yang banyak dan tidak pernah absen untuk melakukannya.
__ADS_1
Daisy menghormati sosok yang ada di depannya itu. Sembari tersenyum, menundukkan kepala. “Terima kasih atas kunjungannya, Tuan Garfield. Apa ada hal yang anda butuhkan? Saya sama sekali tidak mengerti.” Sambil mengamati Noah dan Kaylee secara bergantian.
Tanpa mengganti ekspresi wajahnya, Noah mengangguk. “Restu. Saya butuh itu untuk menikahi keponakan anda.”
Daisy tersentak. Jantungnya serasa ingin copot. Bahkan, Kaylee juga ikut terkejut dibuatnya. Noah mengatakan hal itu tanpa sepengetahuan Kaylee sama sekali. Lagipula, Kaylee tidak menduga jika Noah akan mengatakannya.
Sontak, Daisy mengamati Kaylee untuk memberikan penjelasan. Dengan senyum canggung atas tatapan meminta penjelasan itu, Kaylee menganggukkan kepala. “Kami berniat untuk mengambil langkah serius dalam hubungan ini, Bibi.”
...***...
Kaylee dan Daisy kini berhadapan—hanya berdua saja. Membiarkan Noah untuk sementara waktu berada di ruang tamu dengan beberapa suguhan yang ada. Daisy tidak memikirkan itu, masih ingin menuntut penjelasan pada Kaylee setelah mereka meminta waktu berdua di belakang saja.
Daisy terlihat mengamati Kaylee dengan tidak percaya. “Kaylee, apa maksud semua ini? Jangan bilang ini termasuk dalam pembalasan dendam—“
Daisy meresapi perkataan Kaylee. Mencoba mengingat suatu hal dan ia pun dibuat terkejut. “Anak yang sering kamu sebut namanya itu? Noah yang itu?”
Dengan pelan, Kaylee menganggukkan kepala. “Iya. Aku baru tahu saat menjadi staf di sana—“
“Lalu, kau menerimanya begitu saja? Apa kau sadar dengan itu? Kalian baru bertemu lagi bukan? dan Kaylee, kau baru saja mengalami hal buruk soal pernikahan,” ucap Daisy yang mengeluarkan unek-uneknya setelah menjadi pendengar.
Kaylee mendengar. Ia diam seribu bahasa. Agak bingung untuk memberikan balasan. Ia pada dasarnya mengerti kekhawatiran bibinya, tetapi semuanya terasa tidak berguna lagi. Kembali, Kaylee akan menjadi wanita keras kepala yang akan teguh pada pendiriannya.
__ADS_1
Alhasil, tanpa ragu Kaylee mengangguk lagi. Senyum kecil terbit di bibirnya. “Bibi, aku sudah yakin setelah berpikir matang. Aku menerima kala Noah hendak memiliki hubungan lebih denganku. Setidaknya, dia tidak memiliki pikiran aneh. Terlebih, Noah sudah tahu semua masa laluku yang buruk dan dia tetap ingin melakukannya.”
Rasanya sakit sendiri kala Kaylee melakukan kebohongan. Akan tetapi, ini semua demi kebaikan. Kesepakatan itu, tentu akan mendatangkan hal yang baik. Untuk sementara waktu, Kaylee hanya akan fokus pada itu—tidak memedulikan soal hal buruk yang bisa saja terjadi.
Melihat kesungguhan itu, Daisy kembali bimbang. Seperti yang terjadi pada waktu Kaylee hendak menikah dengan Erland. Rasanya tetap sama, enggan dan beribu rasa khawatir yang menghantui.
“Kaylee ....”
“Bibi, kumohon pahami aku kali ini.” Dan aku minta maaf, Bibi. Hanya saja Kaylee tidak bisa mengatakan hal itu.
Daisy dibuat bungkam. Ia tidak bisa mengatakan tidak—sekali lagi. Jemarinya spontan mengusap pipi tirus itu lalu tersenyum dengan lirih. “Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusanmu, Kaylee. Bibi harap ini menjadi keputusan yang terbaik untukmu di masa depan. Selalu bahagia, Nak.” Lantas, Daisy memeluk Kaylee begitu erat untuk beberapa saat. Sepertinya, tidak lama Kaylee tidak lagi akan dekat dengan dirinya. Pun Kaylee membalas pelukan itu. Rasanya sesak sekali karena harus berbohong.
Mereka berdua melepaskan pelukan setelah merasa sudah lama meninggalkan Noah yang ternyata membelakangi mereka. Noah tengah melakukan panggilan telepon. Bisa Kaylee yakini jika Noah pasti sangat sibuk. Terlebih ini adalah hari kerja. Ia meringis.
“Simpan saja di atas mejaku. Nanti akan kuperiksa!” Lalu Noah menghentikan panggilannya dan berbalik. Ia melihat eksistensi Kaylee dan Daisy—menatapnya begitu lekat.
“Maaf karena membuat Tuan menunggu lama,” ucap Kaylee sembari mendekat ke arah sofa. Mereka duduk di sofa tersebut.
Noah tetap lempeng pada ekspresi, tetapi ia memberikan gelengan sebagai balasan. “Tidak apa-apa. Aku mengerti, setelah ini kau akan tinggal di mansionku untuk mempermudah dalam pengurusan pernikahan kita nantinya,” ucapnya panjang lebar.
Daisy mengerutkan dahi. “Kalian akan tinggal satu atap?” Kaylee lupa mengatakan hal ini. Tatapan Noah yang bingung tentu terpancar, Noah mengira Kaylee sudah mengatakannya.
__ADS_1
“Ya, saya dan Kaylee sudah membahasnya.”
Lalu Kaylee hanya tersenyum kecil kepada bibinya. “Aku lupa mengatakannya dengan Bibi.” Daisy hanya bisa menggelengkan kepala—tidak habis pikir saja. Alhasil, mereka kembali membicarakan beberapa hal sebelum Noah mengajak Kaylee untuk pergi. Mengurus beberapa pekerjaan yang harus dilakukannya.