Belajar Menjadi Seorang Ibu

Belajar Menjadi Seorang Ibu
2. Yang Mabuk.


__ADS_3

Setelah dilakukan kuretase, aku disarankan beristirahat sejenak sebelum pulang ke rumah. Dokter sempat menjelaskan, aku punya trauma setelah kecelakaan itu menimpaku. Untuk beberapa waktu, aku dikatakan punya emosi yang lebih sensitif dan diharapkan untuk tidak banyak berpikir.


Namun, usai mendengar perkataan anakku kemarin, siapa yang bisa tenang dan lupa seakan ucapan itu hanyalah angin lewat di waktu mendung? Mungkin aku bisa menutupinya, aku bisa menyembunyikan kekecewaanku dengan menyibukkan diri di rumah nanti. Tetapi aku bodoh dalam berbohong, aku sedih mengingat Kalista mengatakan itu padaku.


Kadang, aku berpikir aku cuma membebankan suami. Aku menjadi tanggung jawabnya seumur hidup, aku menjadi salah satu hal yang harus dimaklumi anak-anakku, seakan-akan aku tidak bisa bekerja dengan baik. Aku belum bisa membelikan mereka banyak barang dan belum bisa memasak makanan sesedap keluarga di puluhan iklan televisi.


Hidup sederhana memang dianggap tidak apa-apa dan baik-baik saja bagi sebagian orang, tetapi aku selalu merasa tidak puas melihat anak-anakku cemberut ketika bersamaku di rumah. Entah ketika pulang sekolah, saat aku menyuruhnya makan atau saat dimintai bantuannya. Aku sedih.


"Mama, mau makan apa malam ini?" tanya Fathan yang tiba-tiba mengejutkanku lewat pertanyaannya, dia beranjak mendekati ranjang. "Biar Fathan yang beliin."


Aku tersenyum simpul. "Mama belum mau makan."


Fathan menatapku bertanya-tanya.


"Kalista udah makan?"


Mendengarku balik bertanya, Fathan langsung memperbaiki letak pakaiannya seakan berusaha mengulur waktu untuk mencari jawaban baru atas pertanyaanku.


"Udah, Ma. Dia udah makan di rumah," jawabnya ikut tersenyum. "Mama makan bareng Fathan, ya. Mau bubur atau ...."


Gelengan kepalaku membuat perkataannya berhenti. "Nggak, Mama nggak mau bubur. Mama mau buah aja."


"Emang ada toko buah yang buka malem-malem?" sahut seseorang mendatangi kami, menimpal pembicaraan antara aku dan Fathan. "Nggak usah pilah-pilih, deh. Tinggal makan aja, mau pulang, 'kan? Ada makanan di rumah, makan aja yang ada."


"Kalista," panggil Fathan seakan memperingatkannya.


"Kenapa? Ayah juga selalu bilang begitu, 'kan?" Perempuan itu membalas, lalu menatapku sengit. "Beresin barangnya, mobil udah dibenerin jadi pulangnya naik mobil aja. Gue pulang duluan."


"Kita pulang bareng aja," responsku padanya.


Kalista tampak enggan, tatapannya seakan menyepelekan siapa aku baginya. "Nggak usah, gue ada urusan."

__ADS_1


Namun, saat dia hendak meninggalkan tempat, anak laki-lakiku lantas mencegahnya pergi dengan mencekal lengan adiknya. Kurasa emosi Fathan terpancing, lirikannya lebih tajam dari Fathan yang sebelumnya mengobrol denganku.


"Mau ke mana lagi?"


"Apaan, sih. Kan gue udah bilang, gue ada urusan!"


"Nggak lihat Mama lagi begini?" cetus anak pertamaku yang sempat menarik tangannya mundur, dia membuat emosi Kalista semakin memanas. "Nggak usah ke mana-mana, ikut pulang."


"Bukan urusan lo, lepasin!"


"Gue bilang diem!"


"Fathan, udah, lepasin aja." Aku menyentuh pergelangan anakku, memelas agar dia mau melepas cekalan tangan adiknya.


Aku tidak ingin ada kegaduhan di sini, aku juga tidak mau memaksa Kalista untuk menemaniku sampai di rumah. Meski aku menginginkannya, meski aku sepertinya juga harus meminta maaf karena kegagalan lahirnya Nathan. Tetapi perempuan berpakaian sweter itu sepertinya sedang tidak ingin bersamaku.


Aku sedih, tetapi aku tidak akan memaksanya.


Akhirnya, Fathan mengalah yang disambut kepergian adiknya dengan kaki mengentak-entak, membuat tubuhku lemas disertai embusan napas yang lagi-lagi dikeluarkan berat. Sakit rasanya.


"Mama, Mama pulang duluan sama Oma, ya. Fathan mau beli makan buat di rumah, Fathan beliin buah-buahnya."


"Nggak, Fathan pulang sama Mama."


"Ma ... Fathan janji, habis beli buah nanti langsung pulang. Fathan nggak ke mana-mana," katanya terdengar berusaha menenangkan aku, lalu menatap Ibuku di sampingnya. "Oma, aku izin duluan, ya."


"Iya, Sayang. Hati-hati."


Aku menatap sebal pada Ibu, seharusnya dia menolak anakku pergi. Tetapi Fathan meninggalkanku di sini, wajahku seketika murung mengingat Cahyo juga belum menjenguk. Huft, sepertinya suamiku benar-benar marah.


"Ibu, Ibu tau Cahyo di mana?"

__ADS_1


Sayangnya, Ibuku menggeleng. "Dia belum ke sini?"


"Belum ...," jawabku muram.


Seakan mengerti perasaanku, Ibu langsung melekuk tangannya sembari mengantar sinar hangat yang masuk tiba-tiba ke bagian dada. Punggung dan rambutku diusap olehnya secara bergantian, kemudian Ibu mengatakan sesuatu.


"Pasti kamu terpukul karena semua ini, Ibu minta maaf, Laras. Seharusnya Ibu bisa lebih ngertiin kamu, Ibu minta maaf."


Entah seperti apa masalahnya, seberapa banyak pengaruh yang menciptakan masalah pada rumah tangga dan keluarga. Peran ibu akan menjadi posisi yang selalu disalahkan, dipertanyakan, dan selalu dituntut menjadi yang sempurna. Yang lebih hebat dari seorang ayah, yang lebih kuat dari anak-anaknya.


Tuhan, aku meminta maaf, tetapi aku memohon izin untuk jujur di hadapanmu. Aku letih, aku capek selalu menjadi yang harus memaklumi, selalu menjadi tuduhan 'ini semua gara-gara kamu!' dari suamiku. Aku muak mendengarnya.


Aku tidak tahu di mana Cahyo sekarang, yang jelas aku berharap dia bertemu denganku hari ini. Aku membutuhkannya, aku ingin menangis di pelukannya sebelum memukul dadanya karena dia memilih tidak bersamaku di sini.


Aku tidak tahu apa yang sedang dihadapi Cahyo sekarang, aku harap dia baik-baik saja. Kuharap kami bisa bertemu malam ini.


...***...


Purwasari dihujani gerimis yang telah menggenangi beberapa lubang di jalan perumahan, menyambut kedatangan kami dengan dinginnya menuju rumahku yang dalam kondisi penerangan menyala.


Kuharap Cahyo di rumah, tidak apa-apa bila dia dalam kondisi amarah yang memuncak. Karena aku juga berhak marah nantinya, aku bisa mengomelnya kapan saja seperti apa yang dilakukannya padaku. Jika aku berani.


Turun dari mobil, aku berterima kasih pada petugas rumah sakit yang mengantarku dan Ibu pulang ke rumah. Karena miliknya tidak jauh dari sini, akhirnya dia meninggalkan kami setelah mengobrol dan membantu membawakan barang-barangku juga.


Aku mengembuskan napas, mencari titik lega di permukaan lubuk hatiku untuk sabar walau baru saja kena musibah. Pintunya tidak dikunci, kalau Cahyo tahu soal ini pasti aku diteriakinya habis-habisan. Pasti aku disalahkan, siapa yang masuk dan tidak mengunci pintu pada malam hari begini?


Namun, kurasa kejadian itu tidak akan berlangsung malam ini. Tidak akan ada yang mengira bahwa suamiku berada di sana, tergeletak mabuk dengan banyaknya pecahan gelas alkohol di lantai yang berserakan. Dia berantakan dengan kemeja yang kotor bernodakan minuman jahat itu sembari berusaha mengembalikan kesadarannya lagi.


"Cahyo ...."


"DASAR MENANTU YANG SATU INI!"

__ADS_1


"IBU, JANGAN!"


__ADS_2