Belajar Menjadi Seorang Ibu

Belajar Menjadi Seorang Ibu
21. Aku Benci Ayah!


__ADS_3

"Assalamualaikum."


Cahyo pulang dari tempatnya bekerja, masih dengan tentengan tas hitam yang dibawanya pergi kini pulang ke tempat peraduannya. Dia kembali lebih cepat karena hari ini hanya menggantikan posisi rekannya yang mengambil cuti, kebetulan sebagian pekerjaan juga sudah dikerjakan oleh temannya di rumah.


Sembari melepas sepatu pantofel hitamnya, pria itu melirik jarum jam yang terkurung di dalam jam tangan. Biasanya setelah mengucap salam akan ada seorang wanita yang menyambutnya, menyemburkan pertanyaan bertubi-tubi, dan menawarkan.


"Mau kopi atau teh, Yah?"


Namun, yang diharapkan tidak juga menghampiri. Cahyo mengembuskan napas, perasaannya agak sedih sekarang. Meskipun ini baru jam sebelas siang, tetapi dia berharap bisa bertemu dengan istrinya sekarang. Karena Cahyo benar-benar capek.


"Laras!"


Selangkah memasuki rumah, yang ditemuinya justru anak pertama yang sedang merenung di ruang tamu. Cahyo menatapnya tanpa ekspresi, sedangkan Fathan justru terkejut melihatnya pulang secepat ini. Mimik wajahnya seperti alarm kebakaran yang menyala, dia panik tetapi tidak bisa berbuat banyak hal.


Tumben. Biasanya ketika wanita itu tidak bisa menyambutnya pulang, dia akan terlihat di ruang tamu sambil melipat pakaian atau dapur dengan punggung yang membelakangi karena sedang memasak. Apa dia di kamar mandi atau pergi tanpa memberi tahu?


"Ibu lo di mana?" tanya Cahyo persis menagih utang.


Fathan tidak tenang setelah percakapan antara Ibu dan adiknya terdengar sampai ke luar ruangan. Paham dengan situasi, pria itu berdecak dan langsung melempar tasnya ke sofa. Baru saja pulang sudah disuguhkan suasana yang kapalnya pecah belah.


"Seharusnya kamu nggak perlu main tangan sama orang lain, apalagi Natasya juga orang kaya. Kita cuma yang seadanya, orang-orang pasti bakal tunduk sama yang punya kekuasaan."


Pintu dibuka pelan, memperlihatkan istrinya yang duduk di ranjang anak terakhir sembari menatapnya serius. Mereka tampak penuh dengan statistik emosi masing-masing, buktinya Laras sampai tidak sadar pintu itu terbuka yang menghadirkan kehadiran suaminya di sana.

__ADS_1


"Oh, jadi Mama lebih mentingin rasa malu meskipun harga diri Mama turun?" balas anaknya terkesan menantang. "Kalau pun iya, aku nggak bakal semudah itu buat tunduk sama Natasya. Natasya itu nggak ada apa-apanya, lagian kita bukan orang susah. Aku nggak mentingin ekonomi keluarga ini, aku cuma ngelakuin apa yang seharusnya aku lakuin."


"Mukul orang?"


Kalista tampak muak mendengarnya, dia melirik Ibunya sejenak dengan kening yang mengerut. "Iya, aku tau apa yang aku lakuin salah. Tapi Mama nggak harus nyari pembelaan buat Natasya terus-terusan, 'kan? Seakan-akan apa yang aku lakuin salah banget."


"Emang salah!"


"Ayah juga begitu ke Mama!"


Pria itu mengerjap mendengar perkataan terakhir anaknya. Baik pengucap, pendengar, maupun penonton sama-sama terdiam sampai mereka saling mengalihkan perhatian. Anaknya ini seperti tidak diajarkan sopan santun, seperti hidup di kubangan lumpur yang ditelantarkan oleh orang tuanya. Apa dia tidak tahu diuntung?


Begitulah isi pikiran Cahyo. Yang baru saja pulang mengharapkan secangkir kopi justru diberi yang lebih pahit dari minumannya, yakni kenyataan. Genggaman pria itu pada kenop pintu semakin keras, napasnya juga tidak beratur sampai kedua pasang mata antara suami dan istri dipertemukan.


Kalista melihat Ibunya yang dikejutkan oleh sesuatu. Mencoba mencari jawaban, kepalanya menoleh tetapi lebih lambat dari pergerakan Cahyo yang masuk ke dalam ruangan. Menyadari Ayahnya pulang dan mendengar apa yang dikatakannya tadi, Kalista terbelalak saat Cahyo pun menarik tangannya juga.


Tangan kanannya ditarik sehingga tubuh perempuan itu ikut terduduk secara paksa. Laras panik, begitu pun Kalista yang kondisinya beringsut keringat dingin ketika Ayahnya menatap anak terakhirnya sebagai tatapan hewan buas mengejar mangsa.


"FATHAN!"


Betapa terkejutnya saat telinga anak itu ditarik kuat oleh sang Ayah. Tentu saja Kalista menjerit kesakitan, bahkan kedua kakinya berpencar ke sana kemari untuk meminta pertolongan siapa saja. Dia menderita, kupingnya lebih dahulu lebam dan merah sebelum Kakaknya sampai untuk memisahkan mereka.


"AYAH, UDAH!"

__ADS_1


"Lepasin!"


Fathan melepas cengkeraman Ayahnya dari Kalista, membuat pria itu mendengkus kesal lalu menunjuk anak terakhirnya yang langsung dipeluk kuat oleh sang Ibu.


"Awas aja kalau lo berani ngomong kayak begitu lagi!" ancam Cahyo berhasil membuat tangis anaknya deras.


"Mana HP lo? Siniin!"


"Ruang tamu!" pekik anaknya tak peduli.


Masa bodoh dengan apa yang akan dilakukan Ayahnya. Mau ponselnya dibanting, dibuang, atau bahkan dihancurkan sekalian pun Kalista tak akan menggubris. Jika ponsel adalah penyebab Ayahnya selalu mengomel, lebih baik dia kehilangan ponselnya daripada terus-terusan mendapat perlakuan kejam seperti ini.


Kemudian, Cahyo ke luar dari ruangan. Meninggalkan istri dan anak-anaknya yang terperanjat hebat karena kelakuan pria itu. Kalista masih menangis dalam pelukan hangat Ibunya, bercucuran air mata mengingat seberapa kasar sang Ayah yang tiba-tiba memperlakukannya seperti itu tadi.


Kalista tahu, perkataannya memang tidak seharusnya keluar. Tetapi bisakah Ayahnya memberi tahu dengan cara yang baik? Bisakah Kalista dinasihati dan mendapat usapan di rambut yang paling lembut? Dia menunggu Ayahnya melakukan itu selama ini, dia selalu berusaha memahami perasaan Ayahnya juga.


Mungkin, ada banyak pekerjaan yang menumpuk di kantor Cahyo. Mungkin perasaannya memang buruk untuk hari ini, mungkin dia juga ingin waktu sendiri tanpa melibatkan anggota keluarganya. Begitulah isi pikiran Kalista, juga berangan-angan bahwa Ayahnya tidak seburuk itu. Pasti ada banyak faktor eksternal yang membuatnya selalu marah di dalam rumah.


Namun, setelah apa yang terjadi. Sangat sulit membuat perasaannya mengalahkan logika, sulit rasanya mengempas rasa sakit dari fisik dan batin yang dilempar oleh orang tuanya begitu saja. Jika Kalista memang salah dan merupakan anak yang tidak berguna, seharusnya sang Ayah membimbing dan Ibunya juga menuntun.


Kalau memang belum bisa mengatur waktu atau tidak tahu caranya, maka beri anak-anak kebebasan. Kekangan orang tua tidak membuat anak belajar dari kesalahannya, omelan juga tidak membuat anak jera dan meminta maaf. Beri anak-anak pengetahuan, tuntun, dan hormatilah perasaannya.


Laras memeluk erat tubuh Kalista, berharap kejadian tadi tidak membuat anaknya semakin membenci Ayahnya. Laras tahu apa yang dilakukan Cahyo tadi kelewatan, dia harus berbicara dengannya nanti. Tidak seharusnya pria itu bergerak seenaknya, bisa jadi Kalista menjadikan hal itu sebagai trauma yang lukanya sulit untuk sembuh.

__ADS_1


Sembari sesenggukan Kalista melirih, "Aku benci Ayah."


__ADS_2